gerbang embrio

Nanjak Ke Embrio

Embrio yang dimaksud di sini adalah Balai Embrio Ternak (BET) di Cipelang Bogor. Ini sebuah lembaga unit pelaksana teknis dari Direktorat Jenderal Peternakan yang sejak tahun 1994 mempunyai tugas pokok untuk melakukan produksi, penyimpanan, dan pendistribusian embrio ternak serta aplikasi transfer embrio ternak untuk pengembangan peternakan di Indonesia. Sampai saat ini telah dilakukan kegiatan produksi embrio sampai kepada aplikasi teknologi transfer embrio pada sapi perah dan sapi potong (http://www.betcipelang.info).

gerbang embrio

Akh ... lega akhirnya sampai di gerbang

Di kalangan pesepeda, khususnya penyuka jalan nanjak, Embrio adalah medan yang menantang untuk dilalui. Jalan menuju ke sana membentuk sudut yang ekstrem. Meski kondisi jalan banyak berlubang tak mengurangi minat goweser untuk menyentuh gerbang BET.

Saya mendengar nama Embrio sudah setahunan, semenjak memantau milis 1PDN. Ini sebuah komunitas yang terdiri atas para penggowes yang demen jalan nanjak. Mereka sih tidak menyebutnya nanjak, tapi miring. Saya sendiri juga suka menyusuri jalan nanjak sebab di situ ada dialog dengan tubuh. Mampukah terus menggenjot sampai titik akhir tanjakan? Istirahat? TTB (istilah buat nuntun sepeda)? Atau jurus zig-zag? Napas bawah atau napas atas? Lihat ke atas atau menunduk? Bersyukur atau mengumpat?

Hanya satu yang dirasakan begitu sampai di titik akhir tanjakan: bersyukur! Termasuk mensyukuri (nyukurin maksudnya) dengkul yang gemetaran dan paha yang panas akibat otot2 ketarik. Hahaha….

Setelah tertunda beberapa kali, akhirnya pas libur Mauludan 15-2-2011 kemarin kesampaian juga merasakan miringnya jalan ke Embrio. Bersama teman-teman dari KGC yang satu per satu mengundurkan diri hingga akhirnya cuma berdua dengan Alfa. Sebenarnya sudah mau batal tapi berhubung sudah dapat izin dari si kecil ya sudah. Hanya saja niatnya mau gowes dari Jakarta ke Bogor batal karena hari sudah siang. Pagi hari memang hujan cukup deras di daerah Condet.

Setelah ngrakit sepeda di Botani Square akhirnya aku dan Alfa jalan merayapi Jln. Pajajaran yang masih terasa sepi. Di GPS menunjuk pukul 8.28. Pajajaran menuju Ekalokasari menjadi pemanasan. Menanjak landai sebelum akhirnya turun ke Lawang Gintung, belok kiri menuju ke Stasiun Batutulis.

Ada pertigaan saya sok yakin ambil yang lurus. Namun baru beberapa puluh meter jadi sangsi. Kok arahnya seperti menjauh malahan. Sebelumnya ada kejadian yang bikin keki. GPS saya ketlingsut dan pinjam GPS teman saya ternyata rusak. Ndilalah kok pagi2 nemu GPS saya. Ya sudah, bawa saja meski track Embrio yang aku unduh dari everytrail.combelum sempat aku masukkan ke handset. Makanya, jadi salah jalan.

Setelah mencari Tower Polri yang ada di POI, akhirnya kami pun balik arah dan menyusuri jalan yang agak menurun menuju jembatan. Jembatan! Ya, saya jadi ingat dengan perkataan Joy KGC bahwa jika ada jembatan pasti setelahnya ada tanjakan.

Benar saja! Tanjakannya langsung ngehe. Tidak panjang tapi curam dan berbelok. Wah, ini bukan pemanasan lagi.

Saya seperti familiar dengan jalan ini dan mengingat-ingat apakah pernah lewat sini? Aha! Ya, saya pernah lewat jalan ini sewaktu pulang dari Ujunggenteng Sukabumi. Ini merupakan jalur alternatif menghindari Ciawi yan macet. Cuma dulu jalan ini agak jelek. Berlubang di sana-sini. Sekarang sudah mulus dan bagian yang rusak sudah dibeton.

Selepas tanjakan tadi masih ada tanjakan panjang. Sekali menurun, tanjakan lagi. Sampai akhirnya tiba di Warso Farm. Sebelum Warso Farm saya sempat berhenti membeli minuman botol. Haus membuat tubuh pingin diguyur air.

Dari Warso Farm jalan menurun dan pas tikungan saya ambil ke kanan. Ada plang penunjuk arah ke Balai Embrio Ternak, dengan angka yang menyejukkan dada: 4 km. Hanya saja, langsung menanjak landai dengan jalan sempit tapi mulus.

Sempat berhenti sebentar melihat penduduk desa yang bergotong royong membikin mushola. Estafet adukan semen melintang di jalan sehingga harus pelan2 gowesnya.

Ketemu dengan pertigaan. Jalan mulus lurus, tapi papan petunjuk ke BET menunjuk ke kiri melewati jembatan. Ya sudah, belok kiri dan terdengar suara truk turun dari arah berlawanan.

Degh!

Sehabis jembatan sudah terpampang tanjakan dengan aspal terkelupas. Yang bikin kecut miringnya kagak karuan. Pelan tapi pasti roda merayapi aspal bopeng itu. Ketemu jalan datar sebelum akhirnya menanjak lagi. Perjuangan sebenarnya mulai di sini.

Kanan kiri ladang penduduk menjadi hiburan kala menanjak. Jalan berkelok menanjak dan berkelok lagi tanpa kita tahu apakah jalanan datar atau menanjak. Turun jelas tidak mungkin.

Toh akhirnya gerbang BET sudah terlihat setelah berbelok kanan. Cuma, ya gitu deh. Sebelum gerbang jalan menanjak lurus. Beruntung aspalnya mulus. Wush … dengan tenaga sisa langsung aku geber. Penduduk yang turun membawa kayu bakar sampai keheranan.

Lega sudah hati ini begitu sampai gerbang BET. Angka waktu di GPS menunjuk ke 10.10.

Setelah Alfa sampai, aku mencoba mengayuh ke atas. Pengennya ke Tower Polri ternyata tak jauh dari gerbang BET ada portal yang dijaga. Plang bertuliskan “Dilarang Memasuki Kawasan Ini Tanpa Izin” dengan logo overboden dan tulisan “Biosecurity”. Petugasnya juga bilang tidak boleh lewat portal.

Ya sudah, turun lagi. Saat menekan tuas rem depan, fork sempat terayun-ayun. Hmmm… nikmat.

Peta ke Embrio at EveryTrail
http://www.everytrail.com/iframe2.php?trip_id=970406&width=400&height=300EveryTrail – Find hiking trails in California and beyond

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s