“Fun Bike” Jakarta Bandung via Subang

Fun di sini tidak ngoyo. Makanya perjalanan dibagi dalam dua etape: Jakarta – Subang dan Subang – Bandung. Meski fun, tetap saja “aura” kebut2an meruap. Alhasil, belum sampai Cikarang coret sudah dua peserta tumbang!

Narsis sebelum berangkat

Tak disangka, peserta KGC Touring yang mengambil rute Jakarta – Bandung singgah di Subang begitu banyak. Sembilan belas orang plus 4 peserta tambahan non-KGC (dari Mandiri Cycling 2 orang, THCC 1 orang, Bikepacker Indonesia 1 orang). Total 23 orang! Kali terakhir touring dengan jumlah besar adalah Jakarta – Bogor, sekitar 20-an orang. Tapi itu cuma ke Bogor. La ini ke Bandung je! Lewat Subang lagi! Terbayang deh, dulu waktu Jambore KGC ke Bandung dengan pemanasan bersepeda Tangkubanprahu – Bandung saja bus yang membawa rombongan terengah-engah menjelang sampai Tangkubanprahu. Apalagi ini dengan menggowes. Namun, namanya juga fun bike. Pokoknya bike tapi dibikin fun. Gitu lah.

Persiapan pun disegerakan mengingat waktu yang dipilih adalah tanggal kejepit. Biasanya pesen penginapan di Bandung susah. Toh setelah jungkir balik diperoleh juga penginapan yang langsung full begitu KGC pesan.

Kamis 3 Februari 2011 berkumpullah sekitar 20-an peserta KGC Tour Jakarta – Bandung di Palmerah. Setelah melakukan pemanasan dan foto keluarga akhirnya rombongan berangkat menuju ke Subang. Di Tebet bergabung RC Jakarta Subang Alfa dan Adrian. Sedangkan di Kalimalang bergabung Ari Dj.

Iring2an pesepeda ini tak pelak mengundang pengguna jalan lain untuk menoleh, bahkan bertanya mau ke mana. Selepas Metropolitan Mall ada sedikit masalah. Ban depan sepedanya Didi kempes dan ternyata bocor bagian pentilnya. Khas ban dalam 700c tapak kecil. Ya sudah, rombongan terhenti buat nambal (awalnya) yang urung karna ternyata ada yang bawa cadangan.

Menghindari jalan rusak di sepanjang Kalimalang di wilayah Cikarang, RC membawa rombongan untuk “melompat” ke atas menuju jalur utama jalan Bekasi – Cikampek. Jalan lebar tapi panas dan banyak musuhnya. Entah dorongan apa RC membawa rombongan begitu kencang. Agak tercerai berai saat memasuki Tambun karena aktivitas pasarnya.

Di perbatasan Karawang Timur Fami balik kanan. Awalnya dia mau menemani sampai Cikarang, tapi ternyata rutenya lewat Kota Karawang. Alhasil dia terbawa arus rombongan dan menyerah di perbatasan Karawang Timur.

Panas dan perut sudah lapar membuat rombongan berhenti untuk regrouping di Indomaret tak jauh dari lokasi pabrik Pupuk Kujang Cikampek. Sebelumnya sudah ada dua anggota rombongan yang naik mobil evakuasi. Roti, minuman ringan, jus, sampai gorengan pun berpindah tempat. Mengejar makan siang di Sate Maranggi rombongan belok kanan masuk ke kawasan Bukit Indah City. Lumayan adem karena banyak pohon rindang di sepanjang jalan. Perut lapar setidaknya tidak protes karena cuaca panas.

Sate Maranggi akhirya menjadi pelampiasan anggota rombongan untuk memanjakan perut dan kaki. Subang tinggal sebentar lagi kalau melihat jarak. Namun karena konturnya yang mulai naik bisa jadi waktu tempuhnya lebih lama. Terlebih tenaga sudah habis meski diintervensi oleh sate.

Bakar Sate @Sate Maranggi

Jalanan rindang sebenarnya. Garis marka yang agak royal membuat bahu jalan itu lebar sehingga leluasa untuk digunakan mengayuh sepeda. Tentu sesekali dan berbagi dengan motor yang melaju cukup kencang. Tiba-tiba saja hujan membasahi jalanan. Beberapa orang langsung minggir mengambil jas hujan.

Hujan tak berlangsung lama. Ada yang berhenti lagi melipat jas hujannya ada yang langsung geber. Saya termasuk yang berhenti ambil jas hujan. Ternyata hujan tak begitu deras dan setelah berbelok ke arah Kalijati, Subang hujan praktis berhenti.  Ternyata waktu untuk melepas dan melipat kembali jas hujan telah membuat aku jadi orang yang ada di barisan belakang rombongan terdepan. Jalan memang banyak menurun saat itu.

Tertinggal rombongan memang berat karena harus mengejar. Dengan tenaga ekstra toh akhirnya terlihat juga buntut rombongan. Sampai akhirnya berhenti di Kalijati Subang. Rombongan memang berhenti di sini untuk regrouping karena yang di belakang tercecer jauh. Saking jauhnya sampai ada yang dievakuasi. Alhasil, mobil evakuasi sudah penuh sekarang.

Akhirnya dari Kalijati rombongan berarak ke Kota Subang, tepatnya Rumah Gun (Tjahja Gunawan, redaksi Kompas). Sore menjelang sehingga sampai Subang sudah lewat petang. Gelap. Masuk Kota Subang formasi sudah acakkadut. Ada yang datang cepat, ada yang lambat. Toh semua akhirnya sampai meski harus dipandu melalui telepon.

Setelah mandi dan makan malam, sebagian besar peserta langsung tidur. Menyusun kembali tenaga yang terkuras agar besok bisa fit kembali. Maklum, jalur Subang – Bandung separonya tanjakan. Terutama sampai ke Tangkubanprahu.

Narsis sebelum Nanjak ke Tangkubanprahu

Setelah beristirahat di rumah Kang Gun di Subang, esok harinya perjalanan menuju Bandung. Medan yang ditempuh kali ini amat aduhai: 20-an km jalan miring! Dari Subang miring ke atas. Tapi kalau dari Tangkubanperahu ya miring ke bawah. Inilah ajang pembuktian apakah si Urbano mampu melibas tanjakan panjang yang akan menjadi tempat digelarnya PR Cup ini.

Belum sampai sekilo dari rumah Kang Gun tanjakan sudah menyapa. Sebagai sweeper ya terpaksa paling buncit mendaki. Namun karena si Urbano hanya memiliki satu chain ring ya mau tak mau harus main power. Makanya, kudu nyalip dan secepat mungkin melibas tanjakan. Setelah sampai tempat datar baru menunggu yang tercecer.

Begitulah rutinitas jadi sweeper. Toh sebagian besar sudah pada ngebut meninggalkan barisan alon2 waton klakon. Satu dua peserta tumbang dan berpindah ke mobil evakuasi. Praktis tinggal mengawal Mas Pung yang masuk roki alias rombongan aki2.

Pas melewati penjual nanas, Mas Pung malah ngajak beli. “Beli satu kita makan berdua. Kalau sendiri gak mampu aku,” begitu alasannya. Hmmm … pasti ada udang di balik batu. Setelah melewati tanjakan panjang di tengah kebun teh emang enak kalau istirahat sambil menikmati nanas. Nanas madu tepatnya.

Ternyata manis dan banyak airnya nanas madu. Cocok buat pengganti keringat yang keluar saat gowes. Jadi teringat dengan cerita waktu di Papua. Katanya jika makan nanas dalam perjalanan akan menghilangkan rasa capai. Semoga saja gowesnya nanti tidak capai.

Nanas Madu nan Menggoda

Selesai makan nanas maka perjalanan dilanjutkan dengan meniti tanjakan menuju Ciater. Sebelum gerbang masuk Sari Ater Raya, si Urbano sudah ngos2an napasnya. Eh, saya ya yang ngos2an. Paha sudah mulai terasa kehilangan tenaga untuk menekan pedal. Sudah tidak bisa mengharapkan lagi ke gir yang enteng. Terpaksa jalan zig-zag sambil menengok ke belakang mengantisipasi mobil yang akan lewat.

Istirahat sejenak di gerbang Sariater sambil menunggi Aki Ipung. Masih ada satu tanjakan sebelum berhenti di Masjid Al Mukmin untuk melaksanakan sholat Jumat. Tanjakan ini terasa berat sebab sudah habis tenaga. Si Urbano pun sudah seperti protes karena rindu turunan. Padahal, sebelum sampai Tangkubanperahu tak akan ada turunan. Kecuali balik kanan kembali ke Subang.

Awalnya mau makan siang di Lembang. Mimpi kali ye… Wong sholat Jumat saja masih di Ciater mau makan siang di Lembang. Lebay deh.

Akhirnya makan siang diputuskan tak jauh dari Masjid ini. Kabut mulai turun. Hiii…. dingin. Eh, brrrr….

Selesai makan, siap2 untuk tanjakan part-3. Kayaknya Subang – Tangkubanprahu bisa dibagi 3 nih tanjakannya: Subang – Jalan Cagak (penjual nanas); Jalan Cagak – Ciater; dan Ciater – Tangkubanprahu. Nah, part-3 inilah yang menguras tenaga dan nafas. Selain memang tanjakannya terjal dan panjang. Tak usah pakai GPS segala. Kondisi di jalan sudah berbicara yakni untuk naik diberi dua lajur dan turun cukup satu lajur. Artinya apa? Ya artinya kalau untuk nanjak ada dua lajur hehe…

Maksudnya sih biar truk – jalur ini sering dilewati truk dan kendaraan besar macam bus – pas nanjak tidak mengganggu kendaraan kecil yang enteng untuk nanjak. Ternyata dimaksudkan pula untuk penggowes seli agar bisa zig-zag sehingga tidak perlu TTB.

Ya, di etape ini banyak yang TTB alias menuntun sepedanya karena sudah tidak kuat memutar roda dengan dengkulnya. Sampai tidak kuatnya ada peserta yang sudah mau sampai Tangkubanprahu berniat memanggil mobil evakuasi. Padahal tinggal satu kelokan saja.

Akhirnya semua peserta sampai juga di Tangkubanprahu. Nah, saat menuju ke Bandung, langsung pada ngacir. Saya sebagai sweeper masih tetap di belakang. Bahkan Yusri yang berangkat paling akhir tiba2 saja wesssss … mendahuluiku. Pingin ngebut juga tapi si Urbano memelas. Kampas rem sudah tinggal menghitung hari, sementara jalanan yang basar membuat ban sedikit goyang dombret biar tidak kedinginan.

Toh bisa nyalip juga di Tanjakan Emen. Eh, bukan nyalip karena harus berhenti sebab ada yang mengalami masalah. Rantainya putus. Setelah diperbaiki, belum juga tanjakan habis di HT ada suara meminta tolong. Gantian rantainya Mas Pung yang patah. Berhubung malas untuk turun membongkar tools lagi, maka sepeda Mas Pung dievakuasi saja. Nanti di Lembang dibetulkan.

Tangkuban – Lembang tidak turun 100% sebab ada tiga tanjakan sebagai bonus. Maka “peserta evakuasi” masih menikmati empuknya jok mobil penyapu ranjau. Baru setelah sampai Lembang, peserta kembalu full team. Lembang – Bandung pun disikat ramai. Menjelang Terminal Ledeng dan sepanjang Jln. Setaibudi deretan mobil berhenti karena tidak bergerak. Eh, ya sama aja ya berhenti dan tidak bergerak. Rombongan pun meliak-liuk di kepadatan mobil yang mirip dengan situasi di Jakarta.

Sampai penginapan di Wisma Nova pun secepat kilat. Soalnya hujan pun tak dihiraukan. Cuma, sampai di sana baru pada bingung. Soalnya, baju2 mereka ada di mobil evakuasi yang tertahan karena kemacetan. Beruntunglah Kompas Bandung menyumbangkan jersey sebagai pengganti baju sementara. Lumayanlah.

Akhirnya fun bike Jakarta – Subang – Bandung pun usai.

Habis Makan Siang

Advertisements

2 thoughts on ““Fun Bike” Jakarta Bandung via Subang

  1. mdh2an informasi ini bermanfaat.
    Jika nanti perlu untuk merental sepeda untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan/ event-event tertentu, kami berharap bisa menghubungi My Bike yang khusus merentalkan sepeda. My Bike ada di bandung di jln. jalaprang, no. 3 sukaluyu surapati bandung. untuk lebih jelasnya, klik aja website my bike di : http://www.rentalsepeda.com
    thx ya, Arnold
    0817 230 8338

  2. Pingback: Touring Dengan Seli, Mengapa Tidak? | gsr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s