Tanjakan Monteng, Sensasi Nanjak dengan Ban Depan Terangkat

Dari semua tanjakan yang pernah saya lewati, inilah tanjakan yang paling curam. Untuk jarak sekitar 200 m butuh empat kali berhenti! Dan tidak bisa langsung gowes lurus lagi, kecuali 10 m terakhir. Tanjakan Monteng memang tidak enteng untuk dilalui.

Tanjakan Monteng yang legendaris (foto: dimas)

Ide datang ke Jambore dengan gowes terlintas begitu saja. Awalnya mau langsung dari Jakarta dengan stop di Bandung. Cuma kudu cuti dan agak susah meninggalkan pekerjaan. Akhirnya bersama beberapa teman sepakat untuk start dari Bandung pada Sabtu pagi. Bersamaan dengan rombongan besar yang berangkat dari Jakarta.

Awalnya ada 10 orang yang mau ikut. Namun dua orang mundur diri, yakni Adrian dan Goro. Jadilah kami ber-8: aku, Didi, Alfa, Fredy, Dimas, Mas Pung, Mas Nug, dan Ari Dj.

Sebelum hari H sempat ada “teror” soal rencana rute Bandung – Garut via Majalaya. Bermula dari Dimas yang mengirimkan gambar-gambar dan video jalur yang akan dilalui dan sebuah tanjakan yang motor saja ngeden saat melintas tanjakan itu. Bahkan ada yang sampai tidak kuat. Intinya minta ditinjau ulang dan menawarkan jalur klasik lewat Nagrek. Lalu, dua hari sebelum hari H saya dikirimi SMS yang mengabarkan bahwa jalur yang akan dilalui rusak. “Batu lepas.” Begitu info yang disampaikan. Sempat saya terpikir untuk mengalihkan rute tapi bahwa jalur itu dilalui angkot membuat aku keukeuh. Beruntung, semua kembali ke rel awal.

Begitulah, pada Jumat 8/4 kami berdelapan berangkat ke Bandung menggunakan travel dengan jam keberangkatan yang berbeda-beda. Ada empat kloter: Ari Dj berangkat dari Kalimalang menggunakan Cipaganti Travel; Dimas, Alfa, dan Mas Pung menggunakan Day Trans dengan jam keberangkatan pukul 18.30; aku, Didi, Fredy dengan Day Trans juga tapi berangkat pukul 19.30; dan Mas Nug berangkat paling akhir 20.30 dengan Day Trans. Selain Ari yang datang paling awal, rombongan Day Trans sampai di titik akhir di Simpang Dago hampir berbarengan. Akhirnya kami mencegat angkot Dago – Kelapa menuju ke Gedung Grha Kompas di Jln. Riau. Kami mengecek sepeda kami sebentar sebelum menuju ke Wisma PU tempat kami menginap.

Rerata pukul 01.00 kami baru bisa tidur. Makanya, jadwal berangkat pukul 05.00 jelas tak tercapai. Kita baru siap sekitar pukul 06.00 dan melakukan pemanasan dengan jalan kaki dari Wisma PU ke Grha Kompas yang berjarak sekitar 500 m. Langsung kami mempersiapkan dulu dan meluncur ke GOR Saparua buat makan pagi. Sejam kemudian kami pun berangkat menuju Kamojang.

Titik start: Grha Kompas Bandung, Jln. Riau

Sabtu pagi Bandung masih dingin. Menyusuri jalan hawa dingin terasa menerobos jerseyku. Dari GOR Saparua menyusuri Jln. Aceh lalu tembus ke Taman Pramuka untuk selanjutnya mengarah ke Buah Batu. Sempat tersendar di Pasar Ciwastra yang pagi itu begitu kisruh lalu lintasnya. Selepas itu jalan mulai lengang. Beberapa ruas jalan rusak sehingga harus hati-hati. Terutama saya membawa pannier yang ternyata tidak pas dudukannya. Jadi harus hati-hati agar tidak lepas.

Sengaja saya memilih jalan yang agak kecil supaya tidak bertemu dengan angkutan umum yang besar seperti bus dan truk. Memang, agak sedikit lambat jalannya tapi udara lebih segar. Melewati jalan kampung dan persawahan ditambah dengan cuaca yang agak mendung memang mengasyikan. Sementara di sisi selatan sana berdiri deretan gunung yang salah satunya akan kami daki.

Numpang Kencing di Alfamart

Pitstop pertama di Alfamart di daerah Tegalluar karena Alfa kebelet kencing. Entah kebetulan atau tidak Alfa memilih kencing di Alfamart. Jangan2 punyanya Alfa sebab untuk kencing harus melewati pintu bertuliskan “Hanya Karyawan yang Boleh Masuk”. Saya lupa mereset odometer di GPS sehingga tanya ke Alfa sudah berapa kilometer sampai di pitstop ini. “17,4 km,” jawab Alfa.

Jalanan sudah memasuki ke persawahan. Pemandangan begitu menawan. Di sisi kanan dan kiri terhampar padi yang hijau dan beberapa sudah menguning. Udara begitu segar. Tiba-tiba saja Dimas menyalip saya dan berkata, “Pelan-pelan Sur, saya mau motret!” Alhasil, dia ngibrit dan pada titik tertentu berhenti untuk mengambil gambar kami-kami yang santai menggowes.

SPBU mini di Ibun

Mendekati Ibun barulah kami waspada. Jalan miring sudah mengintip. Ternyata ini baru pemanasan sebab semakin jauh jalannya semakin “kurang ajar”. Akhirnya saya terpaksa berhenti saat jalan mulai mendatar dan juga tertarik dengan pompa bensin pinggir jalan yang minimalis. Hanya ada satu dispenser, tak ada atap yang wah. Tulisan eh, lopo P dari Pertaminan hanya menempel di tubuh dispenser. Ternyata di sepanjang jalan banyak SPBU seperti ini. Bahkan ada yang berada di teras sebuah rumah. Entah di mana bunker minyaknya.

Satu per satu anggota rombongan mulai menampakkan batang sepedanya. Didi ternyata menjadi yang terakhir. Setelah semua berlalu saya pun mengakhiri obrolan dengan abang tukang pom bensin. Jalan datar hanya sesaat sebab di balik kelokan ternyata sudah menanti tanjakan landai. Di akhir tanjakan terlihat Mas Nug sudah mulai berdiri pertanda kayuhan mulai berat. Dengan sistem gerak sepeda model balap memang butuh tenaga ekstra untuk menaklukan tanjakan di Ibun ini.

Sepertinya mulai dari Ibun inilah karakteristik tanjakan terjal tersaji. Di setiap kelokan tersimpan tanjakan maut yang membuat napas dan jantung bekerja dengan ekstra. Butuh istirahat yang cukup di tempat datar sebelum melanjutkan gowesan. Di sini anggota rombongan mulai tercecer di beberapa tempat. Saya pun menunggu di awal tanjakan yang saya kira Tanjakan Monteng karena bentuknya mirip huruf S. Soalnya mirip dengan di video-video yang beredar di Youtube.

Tanjakan menikung sudah lewat tapi pas menanjak lurus ternyata ada truk dari atas yang ngedim-ngedim terus. Jalanan memang sempit dan saya tidak bisa gowes lurus. Akhirnya berhenti menunggu truk lewat. Sayangnya, untuk mulai menggowes lagi sudah berat. Beruntung tak jauh dari situ ada rumah kosong dengan tanah sedikit datar di depan gerbangnya. Jadilah tempat ini sebagai landasan pacu. Dan hoop … akhirnya pendakian dimulai lagi.

Tanjakan benar-benar panjang dan sedikit terjal. Pelan tapi pasti sambil mengatur napas kakiku mengayuh pedal. Menikmati setiap detik berlalu sambil menundukkan kepala. Otot paha mulai meregang, sementara cleat sudah tak lepas. Selalu menjadi dilema, padahal saat nanjak begini cleat amat membantu. Sayangnya, entah mengapa cleat sebelah kanan jadi terasa susah dibuka. Akhirnya sampai jalan datar dan ada warung. Langsung menepi dan pesan teh manis hangat. Sekalian menunggu rombongan yang masih di belakang. Pukul 10.09 di GPS etrex Hcx. Tiga jam lebih sedikit dihitung dari GOR Saparua selepas makan pagi. Total jarak sekitar 37 km.

Mas Nug, satu-satunya yang pake group set balap.

Hampir satu jam aku menunggu di sini. Yang pertama datang Alfa, sekitar 30 menit kemudian. Lalu Ari DJ dikawal Mas Nug dan Fredy yang TTB. Disusul Dimas, Mas Pung, dan Didi. Mas Pung istirahat sebentar dan langsung melanjutkan perjalanan. Alfa membuntutinya. Aku mencoba membetulkan RD sepeda Fredy yang bermasalah. Ternyata masih belum bisa dan hanya bisa menggeser dua sprocket. Yah lumayan, bisa dapat gir yang ke-7. Saya menjadi sweeper setelah pitstop ini.

Di warung tadi saya sempat bertanya apakah Tanjakan Monteng masih jauh. Dijawab tidak seberapa jauh. Benar saja, tanda-tanda tanjakan sudah terpampang di peta. Perbedaan warna ketinggian yang rapat sudah menjelaskan bahwa di depan akan ada lompatan ketinggian yang “gilani”. Satu per satu rombongan yang sudah duluan terlewati sampai akhirnya terlihat Mas Pung dan Alfa yang berhenti. Aku pun berhenti mengatur napas. Degup jantung terasa sekali. Iseng aku ukur dengan Instant Heart Rate yang aku unduh dari Market. Angka yang tertera membuatku kaget: 187/80!

Alfa dan Mas Pung berangkat dahulu sementara saya menurunkan denyut jantung dulu. Setelah terasa stabil kembali menggowes. Mendahului Mas Pung yang masih menuntun akhirnya baru tahu di balik belokan tersimpan tanjakan aduhai. Hup hup … satu dua satu dua. Aku merapal jurus tangtun (maju terus pantang nuntun) mendaki jalan aspal yang ternyata jauh dari isu yang disebarkan lewat SMS: batu2 pada lepas. Tiba-tiba sebuah motor matik menyalip dan oh la la … tiba-tiba saja berhenti karena tidak kuat menanjak. Padahal tinggal beberapa meter lagi tanjakan berakhir. Pemboncengnya turun dan aku grogi sebab ternyata cleat masih terpasang. Setelah terlepas dan memulai gowesan lagi ternyata berat banget. Terpaksa TTB sampai akhir tanjakan yang ternyata sebuah jembatan.

Di atas jembatan sebelum Tanjakan Monteng

Sampai di atas jembatan sudah menunggu Alfa. Asap langsung keluar dari tubuhku. Maklum, saat itu sudah berada di atas ketinggian sekitar 1200 mdpl. Dengan kerja keras tubuh yang membuatnya panas lalu berhenti disergap hawa dingin, laksana knalpot yang disiram air dingin. Tak seberapa lama Mas Pung datang dan setiap dengan TTB-nya. Disusul Ari DJ. Kami pun ngobrol dengan biker yang sedang istirahat di atas jembatan itu. Tanjakan Monteng sudah di depan mata ternyata. Meminta tolong biker tadi, kami pun berfoto narsis.

Ari DJ melaju duluan sementara aku, Alfa, dan Mas Pung masih ngeriung di jembatan sambil melihat beberapa motor terhenti tidak kuat menaklukan Monteng, atau yang menyiasati dengan jalan zigzag. Setelah agak lama, Alfa mulai pemanasan menanjak. Setengah tanjakan aku menyusulnya dan ternyata memang uhuy Tanjakan Monteng. Aku berhenti tidak kuat lagi mengayunkan pedal. Istirahat sebentar, lalu gowes dengan serong. Masih belum berakhir juga tanjakannya. Berhenti lagi dan serong lagi. Tinggal sekitar 5 m tapi otot paha sudah berteriak2 kesakitan. Terpaksa berhenti di sisi kanan jalan. Beruntung tidak ada kendaraan dari atas. Dengan tenaga tersisa, akhir tanjakan pun tercapai dan aku melampiaskan dengan teriak sekencang2nya. Hujan pun turun dan aku berteduh di Halte Monteng. Ari DJ sudah gowes lagi. Bisa jadi nekat menerobos hujan.

Dorong yuk ... dorong

Di Halte Monteng akhirnya berkumpul aku, Alfa, Mas Pung, menyusul Didi, Mas Nug, Dimas, dan Fredy. Cukup lama menunggu hujan agak reda. Jalan aspal mulai basah2 licin. Terbukti ada dua pick up yang selip saat ingin melibas di tanjakan kedua. Terpaksa jadi “Pak Ogah” dadakan karena lalu lintas cukup ramai dan jalan agak licin. Terbukti ada pick up yang gak kuat nanjak dan di belakangnya nyodok pick up lain. Padahal sudah dikasih aba2 untuk menunggu dulu. Bahkan motor CBR pun salah strategi dan hampir jatuh gara-gara tak kuat nanjak.

Setengah jam lebih berteduh akhirnya kami semua melanjutkan perjalanan menuju Kamojang. Tanjakan kedua Monteng bisa aku taklukkan dengan sekali berhenti tanpa zigzag lagi. Berhubung gerimis berhenti, ketika jalan sudah agak datar aku berhenti dan mencopot mantel yang bikin gerah. Masih ada beberapa tanjakan tapi tak begitu “gila”. Akhirnya sampai juga di Sumur Kamojang nomer sekian-sekian hehe… Berfoto2 narsis dulu sebelum lanjut menyusuri pipa uap bertekanan tinggi. Di beberapa tempat tekanan dicek dengan membuat bebunyian. Deg … deg … blub! Bunyi itu berulang2 terus. Terkadang “blub”nya terdengar keras.

Jalan menurun ternyata masih menyisakan tanjakan yang membuat beberapa rombongan TTB lagi. Di ujung tanjakan ada kantor PLTU Kamojang. Uap dan air terlihat di dinding2 pembangkit ini. Kembali foto2 narsis di depan PLTU ini. Berhubung sudah agak siang maka segera berangkat ke titik kumpul. Telepun ke Kang Deny yang jadi kuncen Garut katanya tinggal dekat dan turun. Cuma pas tanya ke seorang yang kebetulan melintas di jalanan, gerbang kawah Kamojang yang biasa dikunjungi wisatawan ada di atas. Masih nanjak.

Narsis dg latar belakang G Papandayan

Ya wis, pelan-pelan kembali merangkak. Cuma masih saja tanda tanya di kepala. Telepon lagi dan memang benar, salah informasi. Terpaksa turun lagi dan menuju ke Arboretum yang ada di bawah. Meski sudah terburu waktu toh masih sempat berfoto-foto dengan latar belakang Gunung Papandayan (2.262 m). (Ternyata salah, yang benar G. Cikuray kata Kang Yana van Garut) Menebak saja saya sebab selain Papandayan, Garut dikelilingi Gunung Guntur (2.249 m) dan Gunung Cikuray (2.821 m). Sempat terlihat bangunan yang kami yakini sebagai Arboretum tapi terpana oleh jalan menuju ke sana: melewati cekungan!

Alhasil, begitu turun dan bertemu dengan jembatan, langsung pada turun untuk TTB. Di depan langsung tersaji tanjakan yang aduhai. Benar saja, di akhir tanjakan rombongan onroad masih setia menunggu kami. Sayang, makanan kotak yang sudah dipersiapkan terbawa bus sehingga kami pun hanya menemani rombongan onroad sampai di Warung Nasi Laksana. Hanya Fredy yang ikut tim on road karena ia sudah jauh di depan sementara untuk balik kudu nanjak lagi.

Tak salah kami berhenti di Warnas Laksana sebab sajian gulai kambingnya sangat mak nyus. Semaknyus Tanjakan Monteng yang sudah kami taklukkan dengan berbagai gaya dan cara!

Trek bisa dilihat di sini.

Advertisements

8 thoughts on “Tanjakan Monteng, Sensasi Nanjak dengan Ban Depan Terangkat

  1. Komunitas MAWADAH dari Ckp tgl 15 mrt 15 dg 10 org anggota yg ikut
    Telah merasakan betapa nikmatnya menaklukan tanjakan monteng, bukan goweser klo blm menaklukan tanjakan monteng, dahsyat nya…………………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s