Ke Gunung Geulis Tak Bersua Neng Geulis

Sentul – Gunung Geulis menawarkan tantangan dan hiburan yang berbeda dibandingkan dengan jalur Bojongkoneng. Terlebih ini pertama kali bagi kami – tim KGC – menyusuri jalur ini. Berkumpul di rumah salah satu anggota KGC di kawasan Sentul City, kami berenam – Yusri, Supri, Fredy, Paulus, Gussur, AH – berangkat dari kawasan perumahan Sentul City pukul 8.30. Sudah kesiangan memang, tapi ya masak agenda dibatalkan gara-gara kesiangan padahal tim sudah berkumpul? Melewati jalur nanjak Bojongkoneng, track Sentul – Gunung Geulis berbelok ke kanan begitu terlihat plang Rainbow Hills Golf. Namun sebelum sampai sini, Mas Supri sudah keteteran. Maklum, ia anggota yang paling sepuh dalam rombongan. Beristirahat di warung sebelum tanjakan panjang yang berakhir di Rainbow Hills Mas Supri berjibaku melawan kelelahan dengkul. Kombinasi tuntun dan genjot akhirnya tanjakan etape pertama bisa ditaklukkan.

Melewati gerbang Rainbow Hills, suasana adem akibat naungan pohon trembesi tak kuasa menyembunyikan tanjakan yang kedua. Jalur ini ternyata menjadi jalur favorit para biker yang menuju ke kawasan Puncak. Terbukti pada hari Minggu itu terlihat beberapa rombongan biker yang sedang melakukan touring menuju kawasan Puncak. Mas Supri kembali berjibaku menyelamatkan dengkulnya. Tawaran naik ojek tak digubris. Salut buat tekadnya yang membara. Puncak tanjakan adalah pintu gerbang menuju ke kawasan golf dan hotel yang terbengkelai akibat kerusuhan Mei 1998. Menata degup jantung dan mendinginkan engsel dengkul yang bekerja keras, perjalanan dilanjutkan ke Gunung Geulis. Sebelumnya kami bertanya soal jalur ke Bogor via Gunung Geulis tanpa melewati Gadog.

Turunan menyambut kami, sembari meninggalkan pesan: ingat akan hukum keseimbangan. Ada hitam ada putih, ada siang ada malam, ada turunan pasti ada tanjakan hehe… Begitulah, turunan tajam dan curam ini berakhir di sebuah jembatan yang kemudian jalan berbelok ke arah kanan. Tanjakan tersembunyi sudah menanti!

Tanjakan kali ini begitu panjang, sebanding dengan turunan tadi. Jalanan berkelak-kelok dengan pemandangan di sisi kanan yang amat menarik. Padang golf dan Bogor serta Sentul di kejauhan amat meneduhkan mata. Namun, tanjakan tak memberi kesempatan untuk menikmatinya. Terlebih udara mulai panas. Berhenti hanya akan membuat gowesan semakin sulit. Jalan berkelok menanjak juga butuh kewaspadaan tinggi. Terbukti hampir saja dua motor berlawanan arah bertabrakan, karena dari atas kencang sedangkan dari bawah juga gas poll.

Puncak dari tanjakan ini adalah pertigaan yang menuju ke tempat meditasi vipassana. Jalur selanjutnya relatif datar. Kalaupun ada tanjakan tak separah sebelumnya, sampai bertemu pertigaan yang mengarah ke Gadog (belok kiri) dan Gunung Geulis Golf Resort (belok kanan). Kami ambil yang ke kanan dan menyusuri jalan aspal relatif mulus sampai ke gerbang Gn Geulis Golf Resort.

Karena bingung, sebab kalau lurus pasti ke padang golf, sementara ada jalan sempit belok kiri, kami pun bertanya ke beberapa ABG yang sedang berkumpul di pertigaan. Dari mereka diperoleh informasi bahwa jalan kecil ini bisa menuju ke Bogor. Andai jalanan mulus, jalur ini boleh dibilang bonus. Malah ada yang bilang gratifikasi hahaha… Sayang, aspalnya sudah terkelupas di sana sini. Banyakan yang terkelupas dibanding yang mulus.

Kami kembali bingung sebab jalurnya kembali bercabang. Satu masih beraspal terkelupas, satunya jalanan batu berumput. Mana yang kami pilih? Tentu saja yang jalana batu berumput. Sedari tadi ber-onroad ria, lalu ada sajian offroad mengapa harus ditolak? Meski Yusri sudah memberi tahu bahwa jalan yang beraspal itu bisa ke Bogor juga. Tapi ya itu tadi, membawa sepeda MTB masak mengaspal terus? Sekali-kali membatu atau mentanah to?

Begitulah, kami kemudian masuk ke jalan batu meski di pertengahan kemudian aku menyesal. Yah, turunan makadam jahanam! Jadi ingat dengan Cianten! Fullsus … oh fullsus! Hahaha … terpaksa kembali melatih otot paha menahan beban tubuh. Juga otot tangan menahan getaran. Melewati dua peternakan ayam potong, jalur ini menuju ke sawah dan kebun ketela sebelum akhirnya masuk ke perkampungan. Selap-selip di antara rumah penduduk yang bersahaja, sampailah kami di jalan aspal yang kemudian baru kami sadari: Gerbang Tol Ciawi.

Menyisir jalan di tepian luar jalan tol membawa kami ke perumahan Griya Pajajaran kawasan Bantarkemang. Selanjutnya bertemu dengan Jalan Pajajaran, Baranangsiang, dan Istana Bogor. Sudah terbayang makan siang di Soto Karak (Mas AH kebetulan ada acara reuni di sana) dan segelas minuman dingin. Apa daya … kami harus tersesat dulu.

Petunjuk yang diberikan oleh teman Mas AH ternyata disalahmengerti oleh tukang becak yang ditanyai. Kami bertanya Museum Peta, tukang becak menjawab Museum Perjuangan di depan Pusat Grosir Bogor (PGB). Satu di sana sementara yang kami maksud di arah sebaliknya. Tambah lapar deh. Setelah muter dan balik ke titik awal kami pun menuju ke Soto Karak, soto khas Salatiga. Makan sepuasnya. Minum sekenyangnya. Eh, nanti balik ke Sentul bagaimana?

Perjalanan menuju Sentul ternyata memberi keasyikan tersendiri. Setelah menyusuri jalan tol, kami berkesempatan melalui jembatan besi yang hanya bisa dilalui satu motor yang kontruksinya nempel di badan jembatan tol. Terbayang kalau ada yang berhenti di bahu jalan tol lalu membuang kotoran ke kali atau bekas muntahan, bakalan terkena kami. Jembatan ini tembus ke Belanova.

Akhirnya, jarak sekitar 50 km itu kami tempuh dengan waktu sekitar 6,5 jam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s