Jakarta – Jogja Empat Hari (1)

Bisa jadi inilah touring terberat selama ini. Namun penuh kenangan dan kebersamaan yang tak terlupakan. Sebuah kegilaan yang menurut saya kadang hadir dalam fragmen kehidupan seseorang. Gowes sampai malam hari, menembus hujan lebat berpuluh-puluh kilometer, menginap di SPBU, serta menikmati dawet hitam yang paling enak selama ini. Bahkan, baru hampir setahun setelah touring itu usai, aku baru sempat menuliskan perjalanan itu.

Semua berawal dari ajakan Didi dari NGI yang mau bikin acara gowes memeriahkan Hari Waisak. Akhirnya diputuskan gowes dari Jakarta ke Borobudur. Niatnya cuma beberapa peserta, tapi ternyata membengkak menjadi 10 peserta sebelum akhirnya satu peserta mundur beberapa saat sebelum hari-H.

Ada sembilan KGCers yang mau bergabung. Selain aku dan Didi ada Yusri dan Paulus dari Sirkulasi, Ketut dari GPU, Tisno, Herry Gaos, dan Joy dari Kompas, serta Alfa dari Tabloid Rumah. Sehari sebelum berangkat Didi kena musibah. Saat makan-makan Kamisan, tanpa sadar ia memakan tulang kepala ayam. Tulang itu akhirnya tersangkut di kerongkongan dan tak bisa didorong dengan nasi. Alhasil paginya ia harus masuk ruang operasi di RS THT Proklamasi.

Rencana sempat tertunda. Tapi akhirnya jalan terus dengan konsekuensi Didi nyusul di Cikampek untuk memperoleh masa recovery yang panjang akibat pengaruh obat bius.

Menuju Cikampek sendiri butuh perjuangan yang berat. Melawan angin dan sinar matahari. Juga ban bocor dan menerobos kemacetan di daerah Kalimalang, Tambun, Cikarang. Saat di Cikarang, Paulus dehidrasi karena ternyata dari Palmerah masih menggunakan jaket. Padahal kami berangkat sudah agak siang, sekitar pukul 07.00. Matahari juga menang terhadap mendung sehingga ia berkuasa penuh di pagi itu. Setelah istirahat dan melepaskan jaketnya, Paulus bisa melanjutkan. Terbersit niatan untuk undur dari touring ini.

Rombongan depan sudah jauh entah ke mana. Insiden “jaket Paulus” berlanjut dengan ban bocor sebelum masuk Cikampek. Terpaksa berhenti lagi. Tak lama gantian ban sepeda Ketut juga bocor. Salat Jumat dilakukan tak jauh dari pabrik pupuk Kujang Cikampek. Sekaligus makan siang di sebuh warteg.

Melawan angin dan terik matahari. Itulah yang kami alami saat menggowes menuju Simpang Jomin. Di sana Didi sudah menanti. Alfa yang tadinya jadi RC berpindah ke tengah karena merasa capai. Aku masih menjadi sweeper mengiringi Paulus.

Berkumpul kembali dengan Didi di warung tak jauh dari Simpang Jomin sekaligus regrouping. Jalanan ke depan adalah jalur Pantura yang dikenal dengan jalur tengkorak. Makanya perlu ekstra hati-hati.

Semakin menjauh Jakarta, matahari semakin ramah. Namun angin berhembus kencang terutama saat melintasi persawahan. Sebelum daerah Ciasem, ban sepeda Alfa kembali bocor. Terpaksa berhenti di gubuk pinggir sawah. Mengganti ban bocor saat sepeda penuh muatan tentu bukan pekerjaan mudah. Membongkar bisa memakan waktu lama, tak membongkar juga ribet. Beruntung ide cemerlang berkelebat: gantungkan saja di salah satu penopang gubug. Alhasil proses penggantian ban tak ribet lagi dan bisa dikerjakan dengan lebih singkat.

Menjelang malam Indramayu belum terlewati. Cirebon sebagai target jelas seperti gemintang yang menghiasi langit malam itu. Bisa dilihat tapi sulit dijangkau. Beberapa peserta sudah kecapaian: ada yang kram, ada yang sakit. Di malam-malam gelap itu, ban sepeda Alfa kembali bermasalah.

Rombongan terpisah menjadi dua. Begitu juga dengan pendapat apakah evakuasi sampai Cirebon, atau bermalam di hotel terdekat. Agar lebih demokratis, maka rembugan pun dilakukan setelah regrouping. Belum ada kata sepakat meski sejam sudah lewat. Waktu sudah hampir menyentuh angka 8 ketika kami sepakat mencari penginapan terdekat.

Apa yang kami dapat? Sebuah kejutan. Tapi tubuh sudah lelah sehingga kejutan itu sudah kehilangan daya kejut.

Kami menginap di Hotel Bunga Indah, Losarang Indramayu. Bangunan hotel cukup bagus. Malam itu musik hidup berdentum di bangunan tak jauh dari bangunan utama. Beberapa motor mulai menurunkan penumpangnya, gadis-gadis berpakaian minimalis. Tapi waktu sudah merangkak ke angka 11.

Ada kejadian yang membuat kami menahan tawa. Seorang Bapak setengah baya berbadan subur yang menggandeng istrinya kebetulan mau menginap di situ juga. Dalam obrolannya dia sedang mengurus bisnisnya di daerah Indramayu. Bukan soal bisnis yang membuat kami tertawa dalam hati.

“Dulu saya juga sering bersepeda Dik. Pernah saya dari Surabaya ke Jakarta,” dia bercerita setelah melihat kami gowes dari Jakarta.

“Berapa lama Pak waktu itu?” spontan saya bertanya.

“Wah, saya jalannya pelan Dik. Empat hari lamanya,” ujarnya datar tanpa curiga kami yang saling berpandangan satu sama lain.

Bagi saya itu tawa pemanasan sebab tawa yang sesungguhnya meledak saat masuk ke dalam kamar dan melihat pintu kamar mandi dalam pada daun pintunya dipasang kaca persegi memanjang ke bawah dengan ukuran sekitat 10 x 40 cm. Penginapan macam apa ya ini? Aktivitas mandi kita bisa diintip jika menginapnya tidak sendirian.

***

Advertisements

2 thoughts on “Jakarta – Jogja Empat Hari (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s