Nanjak Ke Kebun Teh Cianten

Cianten, sebuah wilayah di selatan Bogor, memiliki kenangan tersendiri dalam bersepeda. Tempatnya sejuk, sepi, melewati perkampungan yang masih asli, persawahan, sungai yang jernih berlatar belakang sawah yang tentu amat indah kala sudah menguning. Serta turunan saluran air untuk menggerakkan turbin PLN Karacak.

Dua kali melakukan offroad di sini, saya selalu berangan-angan untuk bersepeda onroad dari PLN Karacak ke Kebun Teh Cianten. PLN Karacak merupakan tempat menaruh kendaraan bagi mereka yang mau offroad. Dari sini lalu menyewa angkutan umum untuk membawa sepeda dan orang ke pinggiran Kebun Teh Cianten. Ya, mirip dengan ke Rindu Alam. Bahkan di tempat bermula offroad pun ada sebuah warung untuk mengisi perut. Warung Mang Ujang namanya.

Angan2 itu akhirnya terwujud juga. Awalnya Fredy ngajak gowes setelah lama dia tidak mengayuh pedal. Aku lalu milih rute Bogor – Cianten. Aku bilang onroad. Awalnya cuma berdua, namun di detik terakhir Bli Nengah Tamat dari Cijantung Cycling Comunity tertarik juga. Karena malas gowes Jakarta – Bogor maka rute ini di-skip saja hehe…

Tgl 26 Mei 2012 kami bertiga start dari Botani Square, sekitar pukul 08.00 beranjak menuju ke Dramaga. Pagi itu lalu lintas Bogor sudah menggeliat. Terlebih di pertigaan Tugu Kujang yang senantiasa ramai. Memutari separo Kebun Raya Bogor rute mengarah ke Jembatan Merah. Di seputaran pagar Kebun Raya Bogor tak jauh dari gerbang utama sudah banyak orang-orang yang memberi makanan ke rusa kebun raya. Entah sejak kapan kegiatan ini mulai berlangsung.

Selepas Jembatan Merah jalanan menurun sebelum disambut tanjakan. Ini pemanasan kedua setelah sebelumnya menanjak di samping Kebun Raya. Melemaskan otot, mengatur napas, dan menikmati setiap kayuhan. Meter demi meter. Memandang ke sekeliling untuk menghilangkan kejenuhan melihat jalan menanjak.

Menuju Dramaga jalanan macet. Entah sejak kapan pula jalanan di sini macet begini. Dari dua arah lagi. Penyebabnya sepertinya terminal dan angkot, serta tak disiplinnya para pemakai jalan. Kondisi jalan menyempit turut memperparah. Beruntung bersepeda, bisa nyelap sana-sini dan kalau terpaksa diangkat melintasi gundukan untuk naik ke trotoar.

Selepas Dramaga jalanan relatif lancar. Melewati beberapa pertigaan yang sering mengacaukan ingatan karena sudah lama tak merambah jalur ini. Sampai ke pertigaan yang belok kiri menuju PLN Karacak. Untuk memastikan rutenya benar saya harus bertanya ke tukang ojek yang banyak mangkal di pertigaan. Entah sejak kapan ojek selalu hadir di setiap pertigaan. Saya membayangkan jika ada partai yang beranggotakan tukang ojek pasti sudah cukup untuk mendudukkan salah satu atau dua wakilnya di DPR.

Jalanan mulai menanjak. Terkadang harus menunggu Fredy yang tertinggal jauh. Kasihan jika tidak bisa melihat punggung kami sebab membuatnya tambah capai.

Dulu saat naik angkot menuju kebun teh, perasaan jalan masih bagus sehingga waktu tempuh tidak begitu lama. Kemarin, semenjak PLN Karacak jalan masih bisa dikatakan mulus. Namun tak seberapa lama jalanan mulai terlihat hancur.

Mendekati kebun teh jalan bisa dikatakan hancur sama sekali. Yang ada kumpulan bebatuan. Menanjak di atas bebatuan seperti itu membuat keseimbangan dan kelenturan tubuh harus dimaksimalkan.

Beruntung rindangnya pohon dan sambutan anak-anak yang saya temui cukup menyejukkan hari yang terik. Beberapa kali berhenti sebelum akhirnya sampai juga di Mang Ujang. Langsung makan dan minum. Entah berapa gelas teh manis ludes.

Kesampaian juga impian berbulan-bulan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s