Ke Gunung Bunder (Lagi)

“Stay committed to your decisions, but stay flexible in your approach.” Tom Robbins (born 1936); Novelist, Short Story Writer, Essayist

Menjaga komitmen memang seperti menjaga bara saat tiba2 ada keperluan mendadak. Namun, sekali sudah berkomitmen, jangan pernah mencoba untuk mengingkari. Jadi, sebisa mungkin dijalani.

Begitulah, saat sudah mengiyakan, yang berarti sudah mengikatkan diri pada janji, untuk ikut gowes bareng KGC ke Gn Bunder, tiba2 saja teringat jadwal ambil rapot anak. Akhirnya kompromi deh, meski ke Gunung Bunder sudah ketiga kalinya namun berhubung sudah merasa ber-komitmen tadi ya akhirnya ambil rapot lalu ngabur ke Botani Square.

Apa enaknya sih nyepeda di jalan nanjak? Bagi saya untuk mengukur keteguhan hati. Seberapa kuat bisa gowes terus. Seberapa teguh hati ini untuk tidak berhenti dan menuntun sepeda. Itu saja sih. Jika kali ini membawa seli atau sepeda lipat, lebih karena praktis saja. Jika menggunakan sepeda MTB butuh waktu lebih lama untuk merakitnya. Bawa sepeda lipat tinggal diturunkan, buka lipatan, atur ketinggian sadel, sudah deh.

Sampai di pertigaan Rancabungur tempat regrouping sekitar 10.30. Ternyata rombongan BSD belum sampai. Cek ponsel ada misscalled dari Bli Tamat. Aku pikir dia gak jadi ikut. Tapi pas aku telepon dia ternyata sudah sampai di lokasi yang sama cuma agak ke depan. Di mi campur. Ya sudah, aku pun gabung dan kebetulan belum sarapan.

Satu per satu rombongan BSD bermunculan. Karena kelamaan menunggu beberapa berinisiatif duluan. Aku pun ikut karena sudah lama menunggu juga dan pakai seli yang masih single crank.

Jika gobar dulu jadi sweeper, maka kali ini saya mencoba jadi leader. Maksudnya sih ingin menjajal waktu tempuh pakai seli jika menggowes terus. Makakanya ketika rombongan depan mulai ada yang berangkat saya pun gabung.

Tanjakan halus mulai menyapa begitu roda menapak aspal. Jalanan selebar sekitar 5 meter itu aspalnya masih mulus. Beberapa motor dan mobil melintas jalanan ini.

Udara cukup sejuk karena di kanan kiri pepohonan masih rindang. Matahari juga tertutup awan sesekali. Namun lahan yang agak kosong masih jarang. Lahan kosong? Ya, niat yang lain saya berangkat duluan adalah untuk kencing. Pas di warung makan mi campur tadi tidak ada toilet. Ditunjukkan toilet umum namun dikunci pagarnya. Alhasil saya harus menahan kencing.

Beruntung sekitar 2 km saya menemukan ladang singkong di kanan jalan. Saya ngebut biar nanti tidak ketinggalan dengan rombongan depan.

Sambil kencing yang ngocor dengan deras dan lama, saya melihat beberapa orang lewat. Ternyata banyak juga yang mulai menggowes dari pertigaan tadi.

Satu per satu anggota rombongan saya lewati. Saya harus menjaga kayuhan karena hanya berbekal single crank. Pada beberapa tanjakan harus mengeluarkan tenaga yang kuat agar tak kehilangan momentum.

Rombongan depan ada Omega, Bli Tamat, dan Pipin. Fami ternyata ikut-ikutan kencing jadi tercecer di belakang.

Hampir melewati separo perjalanan saya merasakan kehausan yang sangat. Maka, meski berada di tengah tanjakan saya memutuskan berhenti di sebuah warung di kanan jalan. Bli Tamat pun ikut. Namun ketika Omega dan Pipin lewat ia pun melanjutkan perjalanan.

Saya memesan teh manis hangat sambil menghabiskan pulpy maid tersisa. Menunggu teh yang panas mendingin, saya pun menuangkan teh ke botol bekas pulpy maid dan menambahkan air putih.

Sebelum melanjutkan Fami ternyata ikut menepi. Terpaksa saya tinggalkan karena target saya tadi. Butuh tenaga ekstra untuk meneruskan perjalanan. Tanjakan cukup terjal sehingga harus zigzag dulu sebelum mantap menanjak. Pelan demi pelan Urbanoku yang sudah lama tidak jalan jauh mulai menapak jalan yang cukup mulus. Sayang, di beberapa tempat ada polisi tidur yang begitu terasa di seli.

Saya jadi teringat dengan perjalanan yang pernah aku lakukan bersama Urbano. Aku membeli pertama waktu mau sepeda dari candi ke candi dari Borobudur ke Prambanan. Setelah itu Urbano melintasi Purwokerto menuju Cilacap sambil tak lupa ke Pasir Putih Nusa Kambangan. Lalu Jakarta – Bandung via Subang, Jakarta – Bogor dua kali. Namun habis itu agak terbengkelai karena ada sepeda lain untuk turing.

Nanjak ke Gunung Bunder mengingatkan Urbano akan Subang – Tangkubanparahu meski tak terlalu ekstrem. Masih dengan single crank bawaan dan 8 speed, Gunung Bunder bisa ditaklukan Urbano tanpa perlu ngesot kayak di tanjakan Subang – Tangkubanparahu.

Setelah menyusul rombongan depan yang ternyata berhenti karena ada yang kerepotan mau kencing – akhirnya turun ke selokan – Urbano disalip oleh rombongan evakuasi hehe… Wah, kali ini masih ada yang evakuasi juga.

Tak perlu zigzag untuk sampai di depan gerbang Gunung Bunder.

DSCN0006 DSCN0007 DSCN0008 DSCN0011 DSCN0013 DSCN0015 DSCN0016 DSCN0017 DSCN0018 DSCN0019 DSCN0020 DSCN0021 DSCN0022 DSCN0024 DSCN0025 DSCN0028 DSCN0029 DSCN0030 DSCN0031 DSCN0033 DSCN0034 DSCN0035 DSCN0036 DSCN0038 DSCN0039 DSCN0040 DSCN0041 DSCN0044 DSCN0047 DSCN0048 DSCN0049 DSCN0050 DSCN0053 DSCN0054 DSCN0056 DSCN0058 DSCN0059 DSCN0061 DSCN0062 DSCN0064 DSCN0065 DSCN0068 DSCN0069 DSCN0072 DSCN0074 DSCN0078 DSCN0079 DSCN0080 DSCN0082

One thought on “Ke Gunung Bunder (Lagi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s