Citicyclink Tour de Ubud: Saatnya Gowes

Malam belum bisa menyisakan waktu untuk istirahat. Tugas dari kantor belum sepenuhnya selesai sehingga sehabis merakit sepeda, mandi, lalu menyelesaikan beberapa tugas kantor. Dalam acara gowes ini, saya memperoleh teman kamar Ireng, yang ternyata adiknya Om Mahen, goweser dari Puncak Explorer. Dunia memang sempit? Ya begitulah. Siapa nyana jika Om Mahen itu ternyata saudaranya teman SMP saya.

Sesama goweser yang diobrolkan tentu soal sepeda dan tetek bengeknya. Begitulah, kami mengobrol sampai tak terasa pukul 12.00 lewat. Ergg la ini waktu belum aku set dengan WITeng! Berarti di Bali dah pukul 01.00 lewat. Saya pun pamit tidur.

Pukul 06.00 ada morning call. Aku angkat dan bergegas bangun. Beruntung bahwa dari Sanur ke titik awal penggowesan menggunakan bus. Jadi masih ada waktu untuk menuntaskan kantuk. Jika bisa! Soalnya jarang bisa tidur di bus dalam kondisi pagi seperti ini.

Setelah sarapan roti tawar tangkup bus segera beranjak menuju ke Danau Batur. Ada empat bus masing-masing berkapasitas sekitar 20 orang. Sisa kantuk mulai kucicil dalam perjalanan yang agak macet. Jarak sekitar 60 km dan menanjak ke ketinggian 1200-an m di atas permukaan laut. Lumayan buat menebus kantuk meski akhirnya terbangun di tengah jalan ketika laju bus mulai pelan. Suara mesin menggerung dan ketika melihat ke luar jendela ternyata sudah melewati kawasan Ubud.

Jalanan relatif sempit, namun kanan kiri terlihat pemandangan yang indah. Perkampungan, perkebunan, dan nun jauh di sana puncak Gunung Agung masih tersamar.

Gunung tertinggi di Bali ini (3,142 mdpl) terakhir meletus tahun 1963. Akibat letusan ini banyak penduduk Bali yang berpindah tempat ke luar Bali. Itulah salah satu cikal bakal kampung-kampung Bali di beberapa pulau di Nusantara.

Sekitar pukul 09.00 peserta Citicyclink akhirnya memasuki halaman parkir Museum Gunung Api Batur.

Museum yang diresmikan 10 Mei 2007 ini menjadi bagian dari objek wisata geologi kawasan Batur.  Untuk diketahui saja, Kawasan Danau Batur pada bulan September 2012 ditetapkan sebagai Global Geopark Network atau Taman Bumi oleh UNESCO.

Di salah satu tempat di halaman parkir museum ini berdiri tenda tempat menaruh sepeda yang sebelumnya sudah dirakit di Sanur. Dengan menyerahkan kartu bernomor yang sesuai dengan nomor di sepeda, maka peserta pun boleh mengambil sepeda itu. Pelan tapi pasti jumlah peserta bertambah dengan bergabungnya peserta lokal. Menurut salah satu panitia, total peserta yang ikut Citicyclink ini sekitar 200 peserta.

Akhirnya, pukul 09.30 peserta dilepas oleh VP Marketing and Communication Citilink Indonesia Aristo Kristandyo. Lepas dari gapura Start, peserta disapa tanjakan kecil menuju ke Danau Batur. Beberapa pesepeda yang belum beradaptasi dengan sepeda pinjaman agak sedikit kerepotan. Namun tidak dengan mereka yang menggunakan sepeda sendiri. Beberapa peserta langsung melesat melewati tanjakan.

Selepas tanjakan disambut oleh pemandangan Danau Batur di sisi kanan. Beberapa pesepeda berhenti dan berfoto narsis dengan latar belakang danau dan kawah Gunung Batur. Sempat terjadi insiden ketika road captain (RC) dengan pedenya belok ke kiri turun cukup tajam tak jauh dari jalan datar di sisi danau. Ternyata rutenya salah!

Beruntung saya belum ikut turun karena asyik memotret beberapa peserta. Ada sekitar 5 peserta yang sudah kadung turun. Terpaksa pada nuntun sepedanya ke jalur utama dan menggowes. Muka-muka mereka tambah kecut begitu tahu rute di depan menanjak! Namun setelah tanjakan ini, rute selanjutnya adalah turunan. Memang benar belok ke kiri. Namun masih agak ke depan kirinya hehe…

Terus terang saya agak takut dengan turunan. Jadi begitu belok dan jalan turun, saya yang tadinya di depan tersusul beberapa pesepeda yang bernyali gede. Saya menjaga kecepatan di angka 40 kpj sembari menikmati pemandangan kiri kanan.

Untuk mengatasi kebosanan jalan raya turunan, rute dibelokkan di sekitar km 7,5. Memasuki perkampungan dengan jalan aspal curah yang sudah mengelupas di sana-sini. Hiruk pikuk lalu lintas sedikit tersingkirkan. Yang ada adalah perkebunan jeruk milik penduduk yang menggoda mata. Jika jalanan menanjak dan panas sudah pasti saya berhenti dan membeli jeruk yang sudah menguning. Eh, tapi kok tidak terlihat yang punya ya?

Jalur kemudian kembali ke jalan raya. Lumayan, sekitar 1,7 km masuk perkampungan. Jalan kembali turun sampai kemudian beberapa petugas menghentikan dan mengarahkan peserta untuk menepi ke kanan jalan. Ah, pitstop pertama. Alam Bali agriculture. Begitu papan nama yang ada di pinggir jalan itu. Ini sebuah perkebunan kopi organik.

If you like coffee or tea and would like to go to a real farm for Kopi Luwak coffee, go to Alam Bali Agriculture. It’s on the road between Ubud and Mt Batur. I’ll try to find the address. It’s a serene farm, with free tastings, and beautiful views. (sumber)

Setelah “memarkirkan” sepeda, mata saya tertumbuk oleh pisang ambon yang superbesar. Toh satu saja tidak cukup ternyata. Yah, memang selain sarapan kurang, hawa dingin cukup membuat perut melar. Penganan kecil lain masih muat di perut sembari menikmati kopi bali.

***

Perjalanan dilanjutkan kembali setelah semua peserta lengkap. Sebelum berangkat beberapa peserta menyetel kembali sepeda pinjaman. Memang agak ribet jika meminjam sepeda. Soalnya, sepeda itu sangat personal. Butuh waktu yang lama untuk bisa memperoleh sepeda yang nyaman. (Tapi tidak selalu kok).

Jalanan masih saja turun. Namun kemudian terlihat beberapa petugas mengarahkan untuk berbelok ke kiri. Turunan curam sebelum bertemu jembatan, dan … tanjakan. Yah, jembatan selalu menjadi penengah antara turunan dan tanjakan. Jika menanjak ketemu jembatan, pasti habis itu turunan. Ini kondisi yang jarang kita temui. Yang umum, jembatan ada di titik paling bawah sebuah lembah.

Setelah tanjakan langsung berbelok ke kiri masuk ke persawahan. Beberapa peserta berhenti dan saling berfoto-foto ria. Hamparan tanaman padi yang menghijau memang menjadi latar belakang yang menarik. Apakah sudah masuk Tegalalang yang terkenal dengan terasering persawahan itu? “Belum,” kata RC yang menunggu di ujung pematang.

Masuk ke perkampungan dengan jalan mulus membuat leluasa menikmati suasana kampung. Bangunan khas Bali di sepanjang jalan dengan penjor di kanan kiri jalan sisa perayaan Hari Galungan Kuningan membuat lansekap menjadi sangat khas Bali.

Kawasan Ubud yang masih jauh dari hiruk pikuk perkotaan memang sangat cocok dijelajahi dengan bersepeda. Kita bisa leluasa untuk menyusuri gang-gang di perkampungan. Tak perlu khawatir juga untuk melintas di persawahan. Tak soal bensin langka atau malah habis sama sekali.

Rute ini melewati Pura Gunung Kawi. Sayang, posisinya di tempat yang “salah” menurut saya. Ya, waktu itu jalanan menurun dan saya biarkan sepeda tanpa direm. Begitu di jalan datar, laju sepeda masih kencang. Sementara di depan sana ada tanjakan. Fokus ke tanjakan, tanpa sadar di sisi kanan pas jalan datar tadi terlihat plang Pura Gunung Kawi.

Sisi yang menarik dari pura ini adalah terdapatnya bangunan bekas peninggalan raja-raja asli Bali kuno, termasuk candi yang dipahat langsung di tebing, di sekitar pura. Pahatan dan bangunan-bangunan itu kini ditetapkan sebagai situs purbakala yang harus dilestarikan.

Setidaknya ada dua alasan yang bisa memicu Anda untuk datang ke tempat ini. Pertama karena letaknya berada di lembah bukit, dan kedua karena letaknya dikelilingi oleh candi yang dipahat langsung di dinding. (Kompas.com)

Yah, terlewat sudah. Padahal bisalah untuk narsis sebentar.

Jalanan menanjak namun adem. Kiri kanan banyak pepohonan tinggi. Di sisi jalan mengalir air di selokan. Bening. Berlika-liku. Beberapa pesepeda yang demen turunan memacu sepedanya cepat-cepat. Sensasi terpaan angin di wajah membuat adrenalin semakin membuncah.

Sedikit tanjakan sebagai bumbu menuju ke pitstop ke-2. Di sebuah desa yang terkenal dengan ukiran tentang garuda. Begitu berhenti dan ingin buang air kecil sedikit bingung. Ternyata tidak ada toilet. Ada tapi agak jauh lokasinya. Ya sudah, mencari kerimbunan pohon dan membuang hajat. Lega!

Minuman dan makanan kecil menunggu di bawah dua tenda. Di sebelah pitstop ini ada sawah terasering. Beberapa orang berfoto-foto ria. Saya sendiri tertarik dengan seorang bapak yang sedang membuat patung Garuda Wisnu Kencana dalam bentuk mini.

***

Perjalanan tinggal sedikit lagi. Tujuannya adalah Monkey Forest via Pasar Ubud. Ikut rombongan depan, lagi-lagi salah jalur. Kali ini saya ikut rombongan yang salah jalur itu. Padahal jalanan rolling. Begitu nanjak baru ada teriakan kalau salah jalur. Terpaksa balik kanan dan beruntung belum terlalu jauh. Soalnya ada bule di depan yang bernafsu saat merayapi tanjakan sampai seperti memaksa dan baru belakangan menngetahui rantainya putus.

Rute yang benar adalah melintasi persawahan. Inilah kawasan persawahan Tegalalang yang menjadi objek wisata para turis. Berjalan melintasi pematang sawah bagi bule atau orang kota memang kesempatan yang langka. Namun bagi para peserta yang seperti menemukan “mainan” setelah sebelumnya melahap jalan raya, para turis yang berjalan di pematang itu seperti “mengganggu”. La bagaimana, jika sedang asyik-asyiknya melaju di pematang tahu-tahu ada turis yang sedang berfoto-foto. Terpaksa berhenti deh!

Iring-iringan peserta yang tidak seragam kemampuan menggowes membuat seorang bule yang ada di barisan belakang senewen. Ia tidak bisa memaksimalkan tenaga dan ilmu mengendalikan sepeda di jalur sempit. Alhasil, ia pun berhenti dan membuat yang di belakang bertanya-tanya. Ada apa gerangan sehingga ia berhenti.

“I want ride with full speed!” begitu yang aku dengar. Posisiku ada di belakang dia, terselip dua peserta. Begitu peserta di depan si bule agak jauh, ia pun mengayuh pedalnya dengan penuh semangat. Benar-benar gowes kesetanan sebelum akhirnya berhenti mendadak. Di sebuah tikungan ada dua turis Jepang yang sedang asyik berfoto-foto ria. Hahahaha …

Di perjalanan bertemu pula dengan dua pesepeda – cowok cewek – yang sedang menikmati keindahan persawahan. Yang cowok ikut rombongan, sedangkan yang cewek minggir memberi jalan. Pematang itu memang cukup untuk satu jalur sepeda saja meski agak lebar. Di sepanjang pematang ini terdapat beberapa penginapan yang menjual keindahan lansekap persawahan di sekelilingnya.

Tegalalang, objek wisata persawahan yang terletak  di sebelah utara Ubud kurang lebih 20 menit ditempuh dengan kendaraan bermotor atau mobil . Daerah ini terkenal dengan panorama sawah terasering yang indah. Banyak wisatawan yang berwisata dari dan ke Kintamani singgah di tempat ini untuk menyaksikan keindahan pemandangan sawah berundak yang menghijau atau makan siang di restoran sambil menikmati pemandangan sawah berteras yang indah. Dengan hamparan hijau di depan mata atau menyaksikan para petani yang mulai panen, akan terasa mengesankan selama liburan dan tour di Bali. (balitoursclub)

Keluar dari persawahan rute masuk ke perkampungan dengan jalan tanah sedikit keriting. Ujung jalan berupa turunan tajam dan makadam, untuk kemudian bertemu dengan Jalan Ubud Raya. Kembali bertemu dengan keramaian. Jalan sudah mulai datar, menuju ke Pasar Ubud untuk selanjutnya berakhir di Monkey Forest.

***

Secara resmi, Monkey Forest adalah titik finish dari Citicyclink Tour de Ubud ini. Total jarak dari Museum Gunung Api Batur sekitar 36 km. Namun, acara penyambutan bukan di sini. Takut terganggu monyet-monyet kalau di sini. Tempat penyambutan di Ayung Resort, sekitar 11 km. Kontur jalan menanjak. Oleh karena itu panitia memberi pilihan, bagi yang masih kuat dan mau mengayuh sepeda ke Ayung Resort dipersilakan. Namun bagi yang sudah kehabisan tenaga, disediakan angkutan evakuasi. Peserta menggunakan bus, dan sepeda diangkut mobil bak terbuka.

Terus terang, rute Citicyclink tadi masih kurang menurutku. Jadi, aku pun ikut rombongan yang mengayuh ke Ayung Resort. Ada sekitar 20-an peserta yang ikut mengayuh.

Setelah istirahat sekitar setengah jam di Monkey Forest, peserta pun mulai meninggalkan Monkey Forest. Aku berada di rombongan pertama namun berangkat belakangan. Turun sebentar dari parkiran Monkey Forest, selanjutnya adalah tanjakan halus. Satu per satu peserta mulai keteteran. Saya pun merangsek maju untuk kemudian berada di belakang RC.

Terus terang saya belum tahu arah ke Ayung Resort. Makanya saya tanya ke RC dan memperoleh jawaban untuk lurus saja. Makanya saya langsung menyalip RC dan mengayuh ke depan. Pelan tapi pasti peserta di belakang menjauh. Sampai kemudian ada satu peserta yang berada di belakang saya. Saya memperlambat dan mencoba mengajak bicara.

“Om tahu Ayung Resort?” begitu dia langsung bertanya ke saya.

“Tidak! Tapi katanya lurus saja kok,” jawab saya.

Saya pun mempersilakan dia ke depan. Om Andreas dari Kelapa Gading Bike (KGB), begitu namanya. Kami pun beriringan mengayuh sepeda menuju Ayung Resort.

Ternyata sudah ada petugas yang mengarahkan rombongan. Begitu harus belok kiri, petugas langsung memberi aba-aba. Jalanan kali ini rolling dan Om Andreas mulai kususul. Sampai akhirnya kemudian kami tiba di Ayung Resort sebagai peserta pertama. Di susul seorang teman Om Andreas. Praktis hanya kami bertiga yang sampai duluan.

Sekitar setengah jam kemudian baru berdatangan peserta lain.

The Ayung Resort Ubud is a unique and luxurious blend of natural surroundings, an eclectic art collection and traditional Balinese hospitality excellence, nestled in the lush tropical rain forest along the banks of The Ayung River – Bali’s most sacred and important waterway.

Ubud is the spiritual and bohemian centre of Bali. The Ayung Resort Ubud is set in a dramatic, eight hectare private estate, and is the perfect venue for romantic holidays, special occasions or the stage for a highly memorable corporate event.

The unforgettable setting of The Ayung Resort Ubud is only one aspect of this totally unique property. Our remarkable signature art collection, displayed throughout the resort, is the culmination of one man’s passion and lifetime achievement of collecting dramatic and rare artifacts from Asia and beyond. For those who appreciate such things, our art collection represents a once in a lifetime opportunity to view a number of very special pieces and rare paintings. (Ayung Resort Ubud)

Rimbunan kawasan Ayung Resort membuat badan yang capai langsung segar. Apalagi ada suguhan minuman tradisional. Aku mencoba kunyit plus kuning telor. Sementara di area terbuka di bawah lobby sudah tertata jejeran saung makanan khas Bali. Perut yang lapar langsung berteriak.

Acara penyambutan dilakukan di sebuah amphitheater. Sajian tarian, gamelan, dan puluhan doorprize mewarnai acara penutupan Citicyclink Tour de Ubud. Sebuah perjalanan yang penuh warna meski menurutku agak tanggung pengemasannya. Mengapa tidak dijadikan touring wisata saja sekalian. Pitstop dilakukan di objek2 wisata sambil mengunjungi objek tersebut.

Namun bisa dimaklumi sebab ini baru acara pertama yang dilakukan oleh Citilink. Semoga acara selanjutnya lebih terkemas dengan rapi, seperti yang dijanjikan oleh VP Marketing and Communication Citilink Indonesia, Aristo Kristandyo.

***

 profil citicylink tour de ubud

Profil melintang Citicyclink Tour de Ubud.

Foto-foto bisa dilihat di sini.

Track lintasan bisa dijejak di sini.

Advertisements

2 thoughts on “Citicyclink Tour de Ubud: Saatnya Gowes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s