Nanjak Deles, Badan Klebes

Ketika yang lain gowes dari candi ke candi dalam perjalanan Klaten – Jogja, saya dan dua teman KGCers – Fami dan Omega, justru mencari rute baru: Deles!

Deles merupakan tempat tetirah yang setara dengan Kaliurang, meski tidak sepopuler Kaliurang karena berbagai kendala. Salah satunya air bersih. Akses jalan juga kecil. Wisata ini dikembangkan dalam nama Objek Wisata Deles Indah.

Niat yang sebenarnya sih karena ke Deles nanjak saja. 🙂 Jalan nanjak memang memberikan sensasi tersendiri bagi saya, dan beberapa teman. Ada kekuatan, kepasrahan, dan efek psikologis. Mencumbu tanjakan berarti menyelami kepribadian sendiri.

The reward for riding up hill, is the fun of riding down them.”
— Barry McCarty

Nah, kalau kata2 Barry tadi itu bonus namanya!

***

Begitulah, pagi-pagi saat anak-anak sekolah bersepeda ke sekolah dan para pekerja bersepeda ke kantor, kami bersepeda menuju ke Deles. Klaten pagi itu masih menyisakan sedikit kabut di persawahan pinggir kota. Saya tidak menyusuri perkotaan karena memang menghindari kesibukan hiruk pikuk perkotaan.

Dari malam sudah saya track jalurnya di GPS Garmin Vista Cx. Mencoba menghindari jalan raya, ternyata sempat terbentur jalan buntu ketika masuk perkampungan. Kuburan! Terpaksa bertanya ke salah seorang penduduk yang sedang menyapu halaman. Ah, jadi teringat masa kecil dulu. Harus menyapu halaman yang luas tiap pagi sebelum berangkat sekolah. Alasan orangtua, sekalian olahraga. Memang benar juga sih. Soalnya jika langsung mandi betapa dinginnya air sumur.

Keluar dari perkampungan akhirnya masuk ke persawahan sebelum ketemu dengan jalan aspal. Arah pasti belok kanan alias ke atas. Dari sini jalan menanjak mulai terasa. Sempat melihat sumber air minum yang digunakan oleh PDAM Klaten. Berada di bawah naungan pohon beringin. Kata penduduk sekitar, di situ ada mata airnya.

Sempat potret-potret di dekat sumber air PAM Klaten itu di pagi yang masih sepi. Narsis pokoknya. Masing-masing dari kami mengeluarkan kamera dan menggunakan ganjalan lalu mengeset timer dan lari seperti anak kecil memperoleh layangan ke dekat objek yang dimaui sambil menghitung mundur. Begitu lampu depan kamera berkedip tanda kamera mau memotret dalam beberapa detik langsung pasang gaya seunik mungkin.

Namun, terkadang hal-hal lucu terjadi pada saat seperti itu. Seperti yang kami alami. Begitu sudah bergaya, tiba-tiba ada kendaraan roda dua melintas di jalanan. Padahal kamera ada di seberang satunya. Alhasil, begitu dicek yang tertangkap kamera justru objek pengendara tadi. Kenarsisan kami pun tertutup.

Menlanjutkan perjalanan kami menyusuri persawahan. Sebagian sudah menguning. Mentari bersinar dari sisi kanan kami. Hangat. Jalanan sepi. Selepas persawahan, kami masuk ke perkampungan lagi. Kali ini kami dinaungi pepohonan yang rapat. Bahkan terkadang kami memasuki hutan bambu.

Jalur ini akhirnya bertemu dengan jalur utama di daerah Kanoman. Sekarang jalurnya mulai ramai. Kanan kiri bertebaran usaha pemecahan batu. Suara mesin pemecah dan deru truk pengangkut batu begitu bising. Harus hati-hati.

Jalan menanjak halus. Beberapa ruas jalan berlubang. Rusak. Bahkan ada yang selebar jalan rusaknya sehingga harus bermanuver.

Belum seberapa lama menanjak saya terpaksa berhenti untuk sarapan. Bubur ala orang Jawa, plus teh manis hangat.

***

Rute menanjak halus itu akhirnya sampai ke gerbang masuk Objek Wisata Deles Indah. Sebelum gerbang ini rintik hujan mulai turun dan membesar sehingga saya cepat2 mencari tempat teduh. Kebetulan gerbang itu memiliki atap sehingga bisa berteduh di bawahnya. Namun ketika tetes hujan tak bisa diajak kompromi terpaksa ngabur ke halaman rumah yang tak jauh dari gerbang itu.

Hujan tak reda dan perjalanan harus berlanjut. Terpaksa membungkus pannier dan mengeluarkan mantol hujan. Ke depan tanjakan bakal lebih curam. Omega sudah duluan. Aku dan Fami masih ribet dengan urusan melindungi barang bawaan dari terpaan hujan.

Ketinggian sudah menapaki 800-an mdpl. Hujan mulai berhenti, berganti dengan sinar matahari yang mulai garang. Terpaksa menepi untuk berhenti dan mencopot jas hujan. Badan kuyup tak hanya karena air hujan, tapi juga keringat yang terperangkap ketika dengkul bekerja memutar roda.

Jalanan masih basah.  Beberapa motor lalu lalang. Namun sepertinya banyak yang turun. Menapaki ketinggian 1000 mdpl, rumah penduduk sudah mulai jarang. Sebuah backhoe terparkir di pinggir jalan. Kendaraan berat itu sedang digunakan untuk membuat saluran air di pinggir jalan. Pada sebuah tikungan, tanjakan begitu menguji dengkul.

Sisi kiri mulai terlihat pohon2 pinus. Sudah masuk kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Seperti yang tertulis di sebuah papan berlatar belakang kuning yang dipakukan ke sebuah pohon pinus di pinggir jalan. “Kawasan Hutan Taman Nasional G. Merapi”. Sebuah pemberitahuan yang tak ramah pohon sebab menempelkannya menggunakan paku.

Kami terus mendaki meski jalan mulai bopeng-bopeng. Saat sedang menuju ke gardu pandang, saya terkejut melihat pemandangan sepasang “merpati” yang sedang memadu kasih di pagi hari. Tanpa menyadari kehadiran saya, mereka berciuman dengan hangat sebelum kaget karena saya mendehem. Mereka lalu berkemas-kemas dan berpura-pura mengobrol santai. Uhh… kenapa tidak saya potret saja tadi ya? Tapi jalanan terjal dan rusak membuat saya konsentrasi ke jalanan.

Tak jauh dari sini ada jurang yang dalam. Seharusnya Puncak Merapi terlihat. Sayang, hujan gerimis dan kabut menyembunyikan keagungan Merapi. Pinus mulai tergantikan oleh tanaman semacam lamtoro yang mulai bersemu. Dulu sepertinya kawasan ini habis terserang “wedhus gembel”. Kini, tanaman mulai tumbuh tinggi, hampir mendekati 10 m.

Kami mencoba naik sebisa mungkin. Tujuannya adalah akhir jalan aspal. Sayangnya, jalan semakin rusak. Aspal mulai banyak yang terkelupas, menampakkan bebatuan yang menjadi pondasi. Agak susah bermanuver menghindari bebatuan yang masih basah. Kasihan juga dengan Omega yang Heist-nya menggunakan ban jalan raya yang sempit.

Akhirnya, di ketinggian kurang lebih 1.280 m dari permukaan laut kami berhenti dan kembali ke Prambanan bergabung dengan teman-teman yang sudah menunggu di sana. Gowes ke Deles menjadi napak tilas saat letusan beberapa waktu lalu saya ke sini untuk membuat suatu liputan.

Jika dulu pas liputan ke Deles tanpa basah kuyub, kini badan klebes alias basah karena hujan dan keringat.

***

Klaten – Deles – Prambanan @everytrail

DSCN0797

Melintasi persawahan di Klaten.

DSCN0800

Narsis di dekat sumber air PDAM Klaten.

DSCN0804

Gerbang “Objek Wisata Deles Indah”

DSCN0809

Masuk kawasan Taman Nasional G Merapi.

DSCN0813

Akhirnya berhenti di sini …

Advertisements

2 thoughts on “Nanjak Deles, Badan Klebes

  1. Pingback: Bersama Merida Mencumbu Klaten – Sri Gethuk via Nglanggeran | Gussur Ngeblog

  2. Pingback: Goat Run Series#2 Merapi: Nyasar, Nyungsep, Nyeprint … – Gussur Ngeblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s