Dari Sengkan ke Sukuh: Sebuah Pertarungan Batin

Sengkan merupakan sebuah pedukuhan yang berada di Kelurahan Condongcatur , Sleman, DI Yogyakarta. Lokasinya tak jauh dari Ringroad, sekitar 5 km ke arah Kaliurang. Pedukuhan ini kental dengan aura agama Katolik. Makanya, jangan heran dengan nama-nama jalan yang menggunakan nama-nama kota di dalam sejarah agama Katolik. Misalnya Jalan Nazareth, Jalan Betlehem, Jalan Yerusalem, dll.

Sedangkan Sukuh, adalah sebuah nama desa di Karanganyar, Jawa Tengah. Nama ini lebih terkenal dengan nama candi peninggalan Hindu. Ya, Candi Sukuh, sebuah candi unik yang terletak di lereng sisi barat Gunung Lawu. Unik karena bentuk candi seperti piramida terpancung, tidak seperti bentuk umum candi di kawasan Indonesia.

Nah, dari dua titik itulah aku mencoba menyatukannya dalam sebuah jejak kayuhan sepeda.

Sebenarnya titik akhir yang kuinginkan adalah Candi Cetho. Lokasinya tak jauh dari Candi Sukuh.  Candi Cetho juga memiliki keunikan dari bentuknya. Lokasi candi di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar dengan ketinggian sekitar 1.400 m dpl. Ketinggian ini yang membuat candi ini begitu mistis menurutku. Saat siang hari beranjak, kabut mulai menyelimuti kawasan candi. Terkadang disertai rintik hujan.

Sudah tiga kali aku ke Candi Ceto, selalu saja ada yang tertinggal. Menyepi di salah satu terasnya membuat diri ini begitu kerdil. Berdiam di depan patung Dewi Saraswati begitu menentramkan. Membasuh muka di mata air tak jauh dari patung begitu menyejukkan.

Mengayuh sepeda ke Candi Ceto selalu mengetuk-ketuk ruang imajinasiku.

***

Pukul 05.00 alarm sudah membangunkanku. Alam Sengkan yang masih berupa pedesaan menyajikan suasana yang berbeda dibandingkan dengan Jakarta. Gelap sudah tersibak oleh semburat cahaya bias dari Matahari. Hawa dingin masih menyisakan kelembutannya. Segera saya bersiap-siap. Mengecek semua peralatan. Mengepak semua bawaan.

Selepas Kampung Sengkan saya langsung masuk ke Jalan Kaliurang dan turun ke Ringroad. Masih sepi dari lalu lalang kendaraan. Ringroad yang merupakan jalan lingkar luar kota Yogyakarta memiliki jalur khusus untuk kendaraan roda dua, terpisahkan oleh separator. Lumayan membantu karena “musuhnya” hanya motor atau sesekali mobil yang akan masuk atau keluar jalur cepat.

Saat asyik menggowes, 3 road bikers melesat tanpa sapa. Ini untuk kesekian kali mengalami hal seperti ini. Tidak seperti penggowes lainnya yang membunyikan bel atau bertegur sapa semacam “Say Hello!”. Niat hati mau menguntit, apa daya harus mampir ke Indomaret untuk isi BBM dan membeli minuman.

Perut sudah terisi dan persediaan minuman sudah lebih dari cukup, Suzuki pun mulai melaju kembali. Belok kiri menyusuri Jalan Laksda Adi Sucipto menuju ke Klaten, pagi itu masih sepi dari lalu lalang kendaraan. Toh tetap harus waspada sebab di jalan ini sudah tidak ada lagi pembatas antara roda empat dan roda dua. Semua bercampur menjadi satu.

Menggowes ke arah Klaten di pagi hari dari Jogja adalah mengayuh pedal sambil menatap Matahari. Meski belum menyengat, namun terkadang menyulitkan mata untuk melihat. Sudah tentu tubuh berpeluh keringat. Gegara tak bisa melihat dengan leluasa itu, saya menjadi kelewatan saat melewati kawasan Bogem. Niatnya mau berpotret sebentar mengenang masa kecil yang sunat di situ hehe …

Tahu-tahu saja sudah mendekati pertigaan yang mengarah ke tempat pergelaran Sendratari Ramayana. Galau mau berhenti dan berbalik atau terus saja, saya pun memutuskan lanjut. Kayuhan sedang enak-enaknya sehingga roda pun terpacu di angka 25 – 30 kpj. Kayuhan sempat tersendat saat terjebak di Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Klaten. Masyarakat yang tumpah ruah dengan segala aktivitas membuat saya terkadang harus berhenti dan mencari celah untuk maju.

Ketika melewati Pabrik Gula Gondanglegi saya berhenti sejenak dan potret-potret di depan gerbangnya. Jika ada waktu tentu masuk ke museumnya. Banyak yang bisa dilihat di sini. Terlebih saat itu lagi musim giling tebu. Pagi itu ada dua truk membawa tebu yang masuk ke kawasan pabrik. Sayang, saya harus mengejar waktu.

Jadi, begitulah. Berhenti untuk minum, kencing, atau memotret di objek yang menurut saya menarik. Seperti saat melintas di komplek Kopassus Kandangmenjangan. Meski ada di seberang, saya pun berhenti dan potret-potret narsis.

Sampai di depan Loji Gandrung atau rumah dinas Walikota Solo sekitar pukul 09.30. Etape pertama sudah selesai. Rehat sebentar menikmati kemeriahan HBKB Kota Solo yang berpusat di Jalan Slamet Riyadi. Hanya saja, di sini saya tinggal menemukan sisa-sisa kemeriahan saja. Beberapa lapak mulai membongkar tempat jualannya. Namun beberapa anak-anak masih main bola atau sepeda.

***

Masih menggumpal antusias ke Cetho. Saya pun mengayuh kembali menyusuri Jln. Slamet Riyadi menuju Palur. Di depan Pasar Gede berhenti. Pas di pertigaan tak jauh dari Palur Plaza agak tercekat. Candi Cetho masih 37 km lagi! Saya pun mulai berhitung waktu. Terlebih selepas kota Karanganyar jalan mulai menanjak halus.

Saya mencoba melalui jalur alternatif, yang berada di sisi jalur utama. Lebih sempit namun sepi. Gerimis mulai menetes dan saya melihat ke arah lereng G Lawu mulai gelap. Pertanda hujan deras. Sementara itu waktu sudah hampir menunjuk ke angka 12. Mau tak mau saya harus makan siang jika tak mau terlilit masalah. Kembali ke jalur utama yang ternyata tembus ke Terminal Karangpandan.

Hujan semakin deras dan saya pun meneduh ke sebuah warung.

“Mau jalan ke mana sih Nak? Kok hujan-hujan begini masih nekat. Mbok tunggu dulu sampai reda,” kata penjual warung sate tempat aku makan ketika akhirnya memutuskan menerabas hujan. Ibu itu wajib heran sebab di saat pengendara motor banyak yang berteduh – termasuk di warung Ibu itu – saya justru menerabas hujan sambil menggowes. Namun berhubung sudah niat, ya nikmati saja.

Tak jauh dari warung itu aku mengambil arah yang ke kiri, meninggalkan jalur utama Solo – Tawangmangu. Sebuah gapura bertuliskan “Kawasan Wisata Sukuh – Cetho” menjadi latar belakang foto narsis sepedaku. Melewati gerbang ini akan disambut turunan dan … jembatan menanti.

Tanjakan terjal mulai menyapa. Sempat berhenti sebentar, pedal kukayuh mengejar waktu. Begitu menjumpai pertigaan, saya berhenti dan bertanya ke mana ke Candi Sukuh. Saya sudah lempar handuk untuk ke Cetho. Terlalu memaksa dan entah mengapa, kondisi tubuh tidak fit. Apakah efek begadang semalam plus berteguk-teguk anggur merah dan putih? Entahlah.

Dari keterangan pemuda yang kutanya bahwa kedua jalan itu menuju ke satu titik, saya mengambil yang lurus saja. Turunan tapi terus menanjak angkuh. Basah aspal membuat tanjakan itu seperti menyeringai.

Hujan seperti mempermainkan emosiku. Berhenti cukup lama yang membuat aku memutuskan menanggalkan mantol. Meski ritsleting dibuka penuh, namun panas dari tubuh yang beraktivitas dan terjebak di tangan dan punggung membuat badan tidak nyaman. Namun begitu dilepas, beberapa ratus meter kemudian gerimis turun. Terkadang tak aku acuhkan. Ketika sudah deras baru berhenti dan memakai mantol lagi.

Sedikit senang begitu melihat loket restribusi. Berhenti sejenak dan mulai ciut nyali ketika hujan tambah deras. Plang petunjuk Air Terjun Jumog yang sekitar 1,5 km menggoda untuk membelokkan niat. Terlebih petugas loket memberitahu bahwa tanjakan sebelum Candi Sukuh sangat terjal. Waktu sudah lewat dari angka 1 siang. Harus bertemu di GOR Manahan pukul 16.00.

Bisakah?

***

Oke, target Jumog. Lihat waktu apakah masih cukup atau enggak. Kembali menapak pelan, yang penting roda berputar. Jalanan sepi. Sesekali kendaraan roda empat menggerung menyalip. Seakan mengejek dengkul yang sudah gemetar.

Susah payah akhirnya sampai di pertigaan arah Air Terjun Jumog. Ternyata waktu tak berkurang banyak. Meski pemandangan di depan sana tanjakan seolah tak berujung, saya mantap untuk meneruskan sampai Candi Sukuh. Ambil napas, minum air, dan hup … melesat membelah hujan.

Kali ini saya harus mengeluarkan jurus zigzag. Beruntung jalan sepi sehingga bisa mengambil seluruh lebar jalan. Kayuhan menjadi agak enteng. Seorang Ibu-ibu tua menyapa yang membuat saya berhenti.

“Yang rombongan terjun payung ya Nak?” Saya langsung mengerti maksud Ibu itu adalah peterjun paralayang yang kemarin dan tadi pagi mengadakan lomba di Perkebunan Teh Kemuning tak jauh dari Candi Cetho.

Napas memburu dan saya hanya membalasnya dengan tersenyum.

“Yang lainnya pada kemana, Nak?” Waduh, terpaksa saya asal menjawab untuk menyudahi basa-basi ini. “Sudah pada pulang Bu.” Saya merasa berdosa membalas keramahan hati Ibu tadi dengan perasaan dongkol.

Kembali zigzag dan sekitar 200 m seorang nenek giliran bertanya. “Mau kemana Nak?”

Kali ini aku berhenti dan dengan tersenyum menjawab pertanyaan itu. “Ke Candi Sukuh Nek. Masih jauh ya?”

“Hati-hati saja. Jalanan licin. Masih jauh di atas sana!”

Duh, kesalahan fatal nih. Beruntung ada GPS. Segera saya cari Candi Sukuh dan sudah terlihat di layar. Saya perkirakan jarak masih 600 m lagi. Waktu sudah hampir pukul 14.00.  Target pukul 14.30 harus sampai. Kalau tidak ya turun. Untuk turun sampai Solo saya memperkirakan 1,5 jam. Asumsi, turun bisa ambil kecepatan 40 kpj.

Jarak 600-an m itu kutempuh dengan tiga kali berhenti. Sekali kencing, dua kali sisanya memang sudah drop hehe… Pada akhirnya, perang batin antara balik dan terus berkesudahan. Meleset dari jadwal namun masih dalam batas toleransi. Ya, sampai di pelataran Candi Sukuh waktu menunjukkan angka 1:36:10.

Dalam hujan deras itu aku berfoto2 narsis. Tak mempedulikan pandangan pengunjung yang membatin ada “orang gila” ke Sukuh.

***

Turun bukan berarti tanpa masalah. Seatpost harusnya diturunkan karena turunan begitu terjal dan brakepad sudah tipis. Bunyi mencicit memiriskan hati. Menciutkan nyali.

Karena susah membongkar pannier untuk mengambil kunci L, maka aku pun duduk di toptube saat turun. Selain untuk menjaga kestabilan juga untuk memberi rem cadangan. Ya, apalagi kalau bukan dengan rem kaki.

Lumayan membantu juga ide saya itu. Hanya saja pas berhenti dan melihat ke bawah, saya terkejut. Di bawah sol sepatu beberapa cacing menggeliat2 dengan badan yang hampir putus. Tanpa sadar sewaktu turun dan kaki ikut mengerem, beberapa cacing yang keluar saat hujan ikut tergerus. Hiii ….

Selepas turunan terjal saya baru berani duduk di sadel lagi. Hujan pun mulai berangsur reda. Namun mantol tetap aku pakai. Selain untuk menahan hawa dingin, juga malas mengerem untuk berhenti dan membereskan mantol.

Sampai Kota Karanganyar relatif tak banyak tenaga aku keluarkan. Masuk Solo langsung mengabarkan teman bahwa sebentar lagi sampai di titik pertemuan.

Usai sudah perjalanan yang awalnya begitu optimis terselesaikan ternyata menjadi sebuah perang batin antara gengsi, harga diri, nurani, dan kondisi badan.

***

DSCN1447

Pabrik gula Gondanglegi Klaten.

DSCN1448

Suzuki, pagar, dan Merapi.

DSCN1455

Aktivitas warga di Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Kota Klaten.

DSCN1458

Pasar Gede Solo

DSCN1467

Tanjakan awal selepas Gerbang Wisata Sukuh – Cetho.

DSCN1471

Loket retribusi.

DSCN1472

Beruntung jalanan sepi.

DSCN1473_renamed_31933

Plang kebimbangan. Di sisi kanan ada jalan menuju ke Air Terjun Jumog.

DSCN1474

Mulai zigzag menuju Sukuh.

DSCN1478

Rehat melihat bentang alam.

DSCN1479

Tikungan terakhir. Candi Sukuh tinggal selemparan batu.

DSCN1483

Sampai juga akhirnya.

gowes2sukuh

Advertisements

4 thoughts on “Dari Sengkan ke Sukuh: Sebuah Pertarungan Batin

  1. Pingback: 2 Kali Nyasar di Lawu Trail Run – Gussur Ngeblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s