Lari 10K Pertamaku

Akhirnya, setelah bimbang ikut atau tidak, lari 10K pertamaku berlalu dengan sukses. Ya, setelah mencoba mendaftar di beberapa event lari 10K di Jakarta gagal semua akibat sudah telat, kesempatan itu datang dari event Halo Fit Run. Meski harus ke Bandung. Awalnya sekalian berlibur, ternyata anak sulung punya acara lain pada tanggal yang sama. Terpaksa berangkat sendiri.

Ada waktu efektif sebulan sebelum hari H. Latihan pun segera dimaksimalkan. Saya memang rutin menggowes dan sesekali bersepeda jarak jauh. Namun lari sangat berbeda dengan bersepeda. Lari lebih high impact, alias lebih keras menyiksa tubuh dibandingkan dengan bersepeda. Terutama persendian. Juga daya tahan tubuh.

Bersepeda bisa beristirahat mengayuh namun jarak tetap berjalan. Selain itu persendian, khususnya dengkul, tidak terlalu menerima beban. Kecuali saat menanjak. Berbeda dengan berlari. Anda diam, maka jarak berhenti juga hitungannya. Jadi untuk tetap jalan kilometernya harus berlari terus atau berjalan kaki. Itu tetap memberi beban pada dengkul.

Memang, saya dulu sempat menekuni lari di masa kecil. Juga hiking. Jarak sekitar 20 km hampir setiap bulan saya lakoni dari rumah orangtua di Imogiri ke rumah nenek Giriasih, Gunungkidul. Berangkat selepas subuh sampai rumah nenek sekitar pukul 15.00. Sementara lari baru ketika menginjak SMP. Itu pun tidak rutin.

***

Saya pun mulai memanaskan dengkul dengan treadmill. Kebetulan di kantor ada treadmill. Kali pertama mencoba di atas treadmill selama 30 menit. Gabungan lari dan jalan cepat. Total jarak yang tertulis 3,4 km. Dua hari kemudian masih dengan menu yang sama. Naik menjadi 4,1 km. Dua minggu dua kali latihan akhirnya minggu ketiga mencoba jarak 5 km dengan berlari berapa menit. Yang pertama waktunya 37 menit. Dua hari kemudian turun menjadi 34 menit.

Di antara latihan itu saya mencoba lari di jalan raya pas Hari Bebas Kendaraan Bermotor. Jarak yang saya tempuh sekitar 15 km dengan gabungan lari dan jalan kaki. Waktu yang tercatat sekitar 1 jam 40-an menit.

Seminggu sebelum hari H saya mencoba untuk simulasi. Latihan lari nonstop di GBK. Maunya pagi hari biar agak adem. Enggak tahunya susah sekali bangun pagi hehe… Kagak niat kayaknya.

Toh harus simulasi. Makanya, Selasa tanggal 25 Juni 2013 sekitar pukul 8.30 saya pun tiba di GBK. Matahari sudah agak menyengat, namun masih ada beberapa orang yang berolahraga. Target kali ini adalah lari nonstop selama 30 menit. Bangunan stadion utama yang menjulang itu memberi dua sisi: terkena sinar matahari dan terlindung sinar matahari. Menuju kilometer ke-2 kaki terasa berat. Padahal saya sudah melakukan pemanasan dengan jalan kaki memutari satu puataran lingkaran luar GBK.

Sesekali melihat kecepatan, bervariasi antara 6 kpj sampai yang tercepat 14 kpj. Saat treadmill saya mengeset di angka 10 untuk speed. Meski kaki terasa lelah, namun saya mencoba untuk tetap mengayuh kaki. Mencari kecepatan yang nyaman, meski ketika terkena sinar matahari – dan juga tiupan angin – terasa sekali badan down. Di sinilah saya menemukan kesamaan antara lari dan bersepeda di jalan nanjak. Mental lebih berperan dibandingkan kelelahan badan.

Sampai akhirnya 30 menit lari nonstop usai jarak yang tertera di GPS adalah 6,4 km. Menuju ke km 3 terasa sekali berat. Mungkin pemanasan kurang jika hanya jalan kaki. Kudu lari-lari kecil. Menuju ke km 5 kaki mulai adaptasi. Selepas itu sudah terasa nyaman. Hanya saja target cuma 30 menit dan saya kudu minum karena terasa dehidrasi.

Dua hari kemudian saya datang ke GBK lagi. Kali ini malam hari. Soalnya – sekali lagi – tidak bisa (tepatnya malas sih haha … ) bangun pagi. Alhasil, karena sudah diniatkan untuk simulasi lari 10 km, saya pun sore hari sebelum matahari angslup Bumi pun menuju ke GBK. Sore hari tentu udara lebih adem meski angin terasa kencang juga.

Masih sama seperti dua hari sebelumnya, kilometer awal masih terasa berat. Namun pelan tapi pasti saya mencoba terus berlari. Benar juga, selepas 5 km badan sudah adaptasi. Hanya mental saja yang sekarang berperan. Sempat ada seorang pelari yang membuntuti jejakku. Ini menambah semangat saya sehingga menambah kecepatan lari. Namun satu putaran berlalu pembuntut tadi mulai menjauh.

Akhirnya 10 km tercatat dalam waktu satu jam lebih sekian detik. Sebuah bekal untuk langsung terjun ke Halo Fit Run 10K di Bandung.

***

Setelah mengambil race pack Sabtu 29 Juni 2013, maka hari Minggu pukul 06.00 saya sudah sampai di Gasibu. Sudah ramai, terutama dengan pedagang kaki lima. Sampai susah mencari parkir. Beruntung masih ada slot kosong di depan Hotel Bumi Asih.

Clingak-clinguk ternyata enggak ada yang kenal satu pun para peserta hehe … Ya sudah, melakukan pemanasan dengan berjalan kaki mondar-mandir di sisi Barat Gasibu. Udara masih terasa sejuk. Terlihat beberapa pelari dari Afrika – entah Kenya atau Ethiopia – juga melakukan pemanasan. Terlihat pula rombongan calon atlet, para pelari cilik yang dibimbing pelatihnya.

Tepat 6.45 lomba lari untuk 10 K dimulai. Rute yang diambil adalah Gasibu menuju jalan layang pasopati, memutar sebelum perempatan dengan Jalan Dago lalu menuju ke Jalan Dipatiukur. Beberapa ratus meter sebelum perempatan Jln. Dipatiukura – Jln. Dago ada feeding minuman.

Rute berlanjut menyusuri Jln. Tamansari sampai ke Balubur dan belok kiri menyusuri bawah Layang Pasopati, untuk belok ke kanan masuk Jalan Dago terus ke Jalan Merdeka.  Belok kiri ke arah Jln. Riau lalu masuk ke Masjid Al-Istiqomah untuk selanjutnya ke Jln. Diponegoro dan finish di titik start.

Sayang, jalur tak semuanya bersih dari angkutan umum dan kerumunan orang di hari Minggu. Bahkan menjelang finish harus berjibaku menerobos kerumunan orang dan lapak PKL karena Jalan Diponegoro tak jauh dari Gasibu menjadi pasar tumpah.

Sempat kaget melihat catatan waktu yang kurang dari 50 menit. Wah, memecahkan rekor di GBK dong. Eh, setelah ngobrol dengan beberapa peserta, ternyata jarak total kurang dari 10 K. Bisik-bisik jalur dipotong karena menghindari gangguan angkutan dan kerumunan orang. Alhasil, total jarak sekitar 8,6 km. Yah, 10 K masih sejam juga nih haha….

Bagaimanapun saya sudah mencoba dan merasakan aura perlombaan lari 10K. Semoga bisa ikut di ajang yang sama di lain kesempatan.
IMAG1258

IMAG1257

IMAG1255

IMAG1254

IMAG1253

Advertisements

2 thoughts on “Lari 10K Pertamaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s