Perjalanan Penuh Warna ke Ujung Peradaban (4)

Hujan turun menemani santap siang kami. Wah, apakah berperahu sambil hujan-hujanan? “Perahunya ada ruangan tertutup kok,” kata Ibu penjaga penginapan. Ah, seperti bisa membaca keraguanku.

Untung saja di sisa-sisa suapan terakhir hujan mulai mereda. Bau tanah basah mengiringi suara-suara kekenyangan perut kami semua. Omega langsung segera ke dermaga untuk menemui tukang perahunya. Sementara yang lain sibuk menyelesaikan makan serta merapikan perbekalan.

Sesampai di dermaga perahu sudah menunggu. Lumayan besar. Cukup untuk menampung 20-an orang. Saat mau ke dermaga kebetulan ada perahu yang sedang berusaha menyandar. Katanya dari keliling di pulau-pulau seputar Ujungkulon. Mereka pada terheran-heran melihat kami yang menurunkan sepeda dari dermaga yang cukup tinggi itu.

Selain di buritan, sepeda ditaruh di sisi kapal dan bagian depan. Kami pun menyebar duduknya. Ada yang di depan, di belakang, atau langsung tidur di ruangan belakang kemudi. Di situ terhampar tikar. Meski sirkulasi kurang bagus, namun ada juga yang langsung tidur. Bisa jadi karena semalam tidurnya kurang.

Menyusuri pantai menuju Sumur terlihat beberapa perahu yang disandarkan dan diberi bangunan semacam rumah untuk mencari ikan. Sempat berpapasan dengan konstruksi semacam itu yang sedang ditandu ke tengah laut. Sementara di kejauhan sana terlihat jalan pinggir pantai tempat kami tadi mengayuh. Ah, jika ada perahu ngapain susah-susah gowes?

Sesuai rencana kami mampir ke Pulau Umang. Saat mau bersandar sedang ada perahu yang mau buang sauh. Terpaksa menunggu karena dermaga cuma satu. Agak kerepotan “sopir” perahu menyandarkan perahunya. Sementara di atas dermaga sudah menunggu satpam wanita.

Begitu kami naik ke dermaga ternyata baru tahu bahwa untuk masuk ke Pulau Umang harus ada izin terlebih dahulu. Lagi pula naiknya dari Sumur dengan perahu yang sudah jelas. Tidak seperti perahu kami yang butut. Makanya sebelum menyandar satpam sudah berjaga-jaga. “Mau ada penyusup nig!” begitu pikirnya.

Buyar sudah untuk berfoto-foto di depan bangunan umang Pulau Umang. Terpaksa langsung berangkat lagi dan bergegas menuju Sumur.

Masalah belum selesai sebab begitu sampai Sumur tidak ada dermaga seperti di Tamanjaya. Jadi mencari perahu yang lebih kecil sebagai ojek untuk membawa ke tepi. Angkut-angkut sepeda lagi. Perahu kecil ini pun tidak bisa menepi ke pasir pantai. Terpaksa mengangkat sepeda di atas kecipak gelombang laut.

Begitu sampai di pertigaan Sumur tempat tadi pagi kami berkumpul, sebuah truk sudah menunggu. Ternyata sembari memberi kabar bahwa Pak Djoko dan Pak Rusdi sudah berangkat terlebih dahulu.

“Tadi menyetop mobil patroli. Belum lama kok,” kata sopir truk.

Melihat truk yang akan dipakai sepertinya Pak Djoko sadar bahwa untuk mengangkut semua sepeda plus orang kurang. Ternyata memang benar. Fami yang jago menata sepeda pun bilang kalau tambah dua sepeda lagi orangnya duduk di atas sepeda. Dengan pengaturan yang maksimal saja, Mas AH rela duduk di boncengan salah satu sepeda. Jadi di depan mendampingi sopir dua orang, di atas boncengan satu orang, dan di ruang kosong selebar bak x sekitar 1 m ditempati lima orang. Nah, bayangkan jika ditambah dua sepeda dan dua orangnya.

Mas AH yang duduk di atas boncengan dekat ruang kemudi ternyata menjadi penghubung penumpang di belakang jika jalannya truk terlalu kencang. Soalnya jalanan tidaklah mulus sehingga jika jalan kencang dan terkena lubang membuat kami terguncang-guncang.

Perjalanan bertambah seru karena di tengah perjalanan turun hujan. Terpaksa berhenti sejenak untuk mengambil jas hujan. Kami tidak mengantisipasi hal ini karena dari Sumur cuaca cerah. Beruntung hujan tak deras, namun cukup membasahkan badan.

Mendekati Rangkas kami berembug lagi. Soalnya untuk mengejar kereta sudah terlalu mepet. Akhirnya disepakati untuk menyewa truk langsung ke Jakarta. Masalahnya akan melewati jalan tol. Jika ketahuan mengangkut orang bisa dapat masalah. Akhirnya dipasanglah terpal. Sepeda-sepeda juga diatur lagi dan ternyata memperoleh ruang yang lebih lapang untuk enam orang di belakang.

Sepanjang perjalanan kami mulai tidur. Kecapekan dan juga tak ada lagi yang bisa dilihat. Malam sudah dari tadi memeluk kami. Semua terdiam dan pasrah sesuai arah truk.

Selepas tengah malam sampai juga di Jakarta. Setelah beberes dan merakit kembali sepeda, semua berpencar pulang ke rumah masing-masing.

Terima kasih kepada semua teman. Sungguh perjalanan yang sangat membekas di hati.

Peserta: Pak Djoko, Pak Rusdi, Gussur, AH, Omega, Yanto, Ketut, Ari DJ, Dimas, Fami

*** selesai ***

DSCN1241 DSCN1243 DSCN1244

DSCN1245 DSCN1250 DSCN1254

DSCN1256 DSCN1257 DSCN1259

DSCN1261 DSCN1267 DSCN1271

DSCN1272 DSCN1275 DSCN1278

DSCN1289 DSCN1290 DSCN1293

DSCN1300 DSCN1301 DSCN1302

DSCN1304 DSCN1311 DSCN1312

DSCN1313 DSCN1316 DSCN1314

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s