#JSSP: Aceh, Bekas Tsunami dan Pantai Indah

gussur.wordpress.com – Memasuki Aceh, peserta jelajah diarahkan ke Museum Tsunami Aceh. Melihat replika dan mencoba membayangkan keganasan tsunami yang melanda Aceh pada Desember 2004.

Ada dua tempat yang membuat saya begidik. Yakni sebuah lorong yang disebut space of fear.

Lorong Tsunami merupakan akses awal pengunjung untuk memasuki Museum Tsunami. Memiliki panjang 30 m dan tinggi mencapai 19-23 m melambangkan tingginya gelombang tsunami yang terjadi pada tahun 2004 silam.  Air mengalir di kedua sisi dinding museum, suara gemuruh air, cahaya yang remang dan gelap, lorong yang sempit dan lembab, mendeskripsikan ketakutan masyarakat Aceh pada saat tsunami terjadi, atau disebut space of fear. (sumber)

Yang kedua adalah ruang sumur doa (chamber of blessing). Sebuah ruang yang berisi nama-nama korban tsunami dengan tulisan “Allah” di atap sumur.

Ruangan berbentuk silinder dengan cahaya remang dan ketinggian 30 meter ini memiliki kurang lebih 2.000 nama-nama koban tsunami yang tertera disetiap dindingnya. Ruangan ini difilosofikan sebagai kuburan massal tsunami dan pengunjung yang memasuki ruanga ini dianjurkan untuk mendoakan para korban menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
Ruangan ini juga menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablumminallah) yang dilambangkan dengan tulisan kaligrafi Allah yang tertera di atas cerobong dengan cahaya yang mengarah ke atas dan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Ini melambangkan bahwa setiap manusia pasti akan kembali kepada Allah (penciptanya). (Sumber)
Dari Museum Tsunami rombongan kemudian menginap di Hotel Grand Nanggroe.  Dari sinilah peserta jelajah akan memasuki bagian kedua dari Jelajah Sepeda Sabang Padang. Menelusuri jalur pantai barat Aceh.
***
Menyusuri sisi barat Aceh dari atas sepeda seperti menyibak kejayaan Aceh masa lalu melalui jalan yang mulus.

Sejak kapan sebenarnya pantai barat Sumatera berperan besar dalam gerak ekonomi Nusantara? Gusti Asnan, doktor lulusan Universitas Bremen, Jerman, mencatat bahwa kejatuhan Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 menjadi awal bangkitnya kehidupan perdagangan dan pelayaran di pantai barat Sumatera. Kerajaan Aceh mengalihkan pusat perdagangan Asia Tenggara dari Selat Malaka ke pantai barat Sumatera.

Masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) merupakan puncak kejayaan Aceh. Di bawah pemerintahannya, Aceh menguasai hampir semua daerah di pantai barat Sumatera, seperti Singkel, Barus, Tiku, Pariaman, Padang, dan beberapa kota pantai lainnya. Fasilitas dan akses yang disediakannya membuat kota-kota tersebut menjadi sangat aktif. (Sumber)

Apakah masih ada jejak-jejak kota itu? Ekspedisi Jejak Peradaban Sabang – Merauke yang dilakukan harian Kompas memotret kota-kota itu. Selain kalah bersaing dengan wilayah pantai Timur setelah moncernya Singapura, tsunami 2004 semakin membenamkan pamor kota-kota itu, khususnya yang berada di wilayah utara. Sewaktu melewati Singkil, sekilas kota ini sepi.

Dengan akses jalan yang sudah bagus harusnya wilayah ini mulai bangun kembali. Terlebih potensi wisata pantai begitu kentara. Teluk-teluk yang tersembunyi dengan airnya yang cukup tenang juga sangat eksotis.

Sekitar 65 km dari Bandaaceh kita akan bertemu dengan Bukit Geurutee.  Bukit yang menjorok ke laut. Konon, di sinilah tempat terbaik melihat matahari terbenam. Warung-warung berjejer di sisi jalan, menjadi tempat nongkrong menunggu terbenamnya matahari. Sepanjang perjalanan akan dengan mudah dijumpai penjual ikan asin.

National Geographic menobatkan Aceh sebagai salah satu penghasil ikan asin terbaik di dunia. Jadi, tidak heran jika sebagian besar warga menggantungkan nasib kepada ikan asin yang digantung-gantung di pinggir jalan. (sumber)

Jalanan yang menyisir bukit ini memang berkelak-kelok dan pengemudi kendaraan harus waspada. Lengah sedikit laut menanti. Jadi, ada baiknya berhenti dulu di beberapa warung sambil menikmati keindahan pantai dan laut Aceh Jaya.

Di sepanjang jalan menuju Calang kita masih bisa melihat bekas jejak tsunami. Calang merupakan kota yang hancur berat akibat tsunami. Hampir seluruh wilayah kota kecil ini tersapu tsunami.  Bahkan sampai dianggap kota mati. Namun, saat ngobrol dengan tukang warung mi aceh, kini Calang mulai menggeliat. Anak-anak sudah bermain seperti biasa. Tragedi memilukan itu seolah sudah tertelan keseharian para bocah.

Pantai yang indah bisa pula ditemui di Tapaktuan. Di sini kita bisa melihat hamparan pantai dengan pasir putih yang tak kalah indahnya dengan pantai-pantai di Bali atau Lombok. Bahkan di sini kita bisa menemukan legenda soal naga.

Legenda kota Tapak Tuan memang terdengar angker. Seantero sudut kotanya pun penuh dengan duplikat naga dalam ukuran bervariasi. Memasuki pusat kota setelah Kantor Bupati Aceh Selatan kita dihadapkan dengan  persimpangan yang ditengahnya terdapat prasasti telur naga yang berwarna kuning keemasan buram. [TAPAK TUAN SI KOTA NAGA]

Di Tapaktuan ini sempatkanlah melihat tapak Tuan (ulama) di pinggir laut. Harus berhati-hati sebab lokasinya di karang pinggir pantai. Jika ombak sedang tinggi maka sulit untuk sampai di pinggir tapak. Ketika saya ke sana ombak sedang tinggi. Waktu itu sore sudah hampir tutup buku. Untuk menuju ke tapak kita harus meniti karang yang naik turun. Nah, di karang yang turun itu ketika ombak besar menghantam karang kita tak bisa melewatinya. Jika nekat bisa tersapu ombak balik.

“Belum lama ada beberapa orang yang nekat turun. Dua dari mereka tersapu ombak dan hilang,” kata tukang ojek yang mengantar saya. Ah, jadi bikin deg-degan saja.

Tak hanya wisata pantai, wisata kuliner pun dapat menjadi penarik wisatawan. Mi aceh, mi kepiting, kopi aceh harus menjadi buruan di setiap tempat. Bumbu yang khas memang menjadi kunci kelezatan masakan Aceh. Tak heran ketika seorang teman memesan indomie rebus karena mi aceh sudah habis terkejut. Betapa indomie rebus yang biasa-biasa saja di Jakarta menjadi lezat ketika ia menikmati di Blang Pidie.

“Itu pakai bumbu mi aceh,” kata pemilik warung.

Jika beruntung kita dapat memperoleh menu spesial. Seperti yang kami alami saat makan di warung tak jauh dari penginapan di Calang. Ketika asyik menyantap mi kepiting, pemilik warung bercerita soal daging rusa. Ya sudah, sekalian saja kami pesan.

Dari wisata kuliner itu kita pun dapat menyusuri jejak peradaban wilayah itu. Seperti Subulussalam yang terletak di dekat perbatasan Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatra Utara. Kuliner di sini sudah mulai beragam karena memang daerah ini merupakan daerah pertemuan berbagai suku.
pantai barat banda aceh calang 3 [virzazanur.com]

Pucuk pohon yang tersapu tsunami. (foto: http://virzazanur.com)

pantai barat banda aceh calang [virzazanur.com]

Pemandangan laut dari salah satu warung di Bukit Gereutee. (foto: http://virzazanur.com)

crop DSCN2195

Keindahan pantai yang membius sampai dari atas sepeda pun tak kuasa untuk tak membingkainya dalam frame.

crop DSCN2122

Jalan mulus.

pantai barat banda aceh calang sunset [buahrumbia.blogspot.com]

Matahari terbenam di cakrawala. (foto: buahrimba.blogspot.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s