Ke Sawarna (Lagi): Deja Vu Monteng di Cikidang – 1

gussur.com – Sawarna kembali memanggilku. Awalnya ajakan Joy untuk turing dua tiga hari. Lalu melihat kalender di bulan Mei banyak tanggal merah menjepit tanggal hitam, ya sudah saya menawarkan turing ke Sawarna via Pelabuhan Ratu. Rute ini sudah pernah saya lewati, hanya saja menggunakan kendaraan roda empat.

Turing bersepeda ke Sawarna sendiri sudah pernah saya lakukan. Namun melalui Rangkasbitung. Jalannya lumayan hancur. Nah, saat via Pelabuhan Ratu saya melihat jalannya lebih mulus. Memang, ada Bukit Habibie yang menanti.

Bermula dari dua tiga orang yang berencana ternyata membesar menjadi 13 peserta akhirnya. Rencananya mau ngecamp di CItarik dengan perkiraan di sini sudah sore. Sudah memberi weworo ke teman2 untuk menyiapkan diri jika akhirnya harus nenda.

Akhirnya tanggal 24 Mei perjalanan dimulai. Peserta yang ikut dari KGC adalah Joy, AH, Mas Tjahjo, Omega, Tisno, Didi, Daus, Pro, Intan, dan saya tentunya. Ada peserta tambahan dari non-KGC, yakni Aristi, Adi Onthel, dan Donald. Jadilah kami ber-13. Angka sial? Hmmm … simpulkan sendiri setelah membaca tuntas cerita saya ini.

***

Titik start adalah Rodalink Bogor. Sejak pukul 05.30 sudah datang peserta turing, Tisno. Menyusul beberapa peserta lain seperti Pro dan Intan, Didi, lalu Donald, Omega, dan Daus. Saya sendiri berangkat dari Sentul, bersama mas AH, Joy, dan Mas Tjahjo. Awalnya mau dari Jakarta, tapi semalamnya kurang persiapan sehingga membawa sepeda lipat saja.

Setelah semua kumpul, kami berangkat dari Rodalink sekitar pukul 08.00. Rute melalui Ciawi, Rancamaya, lanjut terus jalan utama menuju Sukabumi. Saya sempat meliontarkan wacana melalui jalur alternatif untuk menghindari kemacetan. Namun teringat jalur ini begitu menyiksa hehe …

Kemacetan mulai terasa di perempatan Ciawi arah Sukabumi. Pasar di pojokan itu memang sudah tak bisa menampung aktivitas jual beli. Terlebih banyak pengguna jalan yang tak disiplin. Di dekat perumahan Rancamaya juga sedang dikerjakan pembetonan jalan sehingga lajur menyempit. Untungnya sepeda bisa nyelap-nyelip.

Tak banyak halangan berarti di jalur ini. Beberapa rolling bisa dilalui dengan mulus. Rombongan memang tercerai berai namun masih dalam kontrol. Hanya Intan saja yang woles banget hehe …

Kemacetan di Pasar Cicurug membuat peserta mencari celah sendiri-sendiri. Ada yang lewat sisi kanan kemacetan, selap-selip di sisi kiri, bahkan sampai naik trotoar. Omega sempat menabrak pedagang di trotoar. Untung tak menimbulkan banyak kerugian. Kotaknya juga ternyata kosong. Tidak terisi dagangan.

Regrouping di pertigaan menuju Cikidang. Waktu masih 11.35. Jadi besar kemungkinan perjalanan bisa sampai Pelabuhan Ratu. Setelah terkumpul semua maka perjalanan dimulai lagi. Kali ini jalanan lebih sepi. Begitu melihat warung makan yang separo buka separo tutup saya pun berhenti. Setelah dapat konfirmasi siap menyediakan makanan untuk sekitar 13 orang rombongan pun merapat.

Meski dari luar penampakan Warung Ananda ini kurang meyakinkan, namun masakannya patut diacungi jempol. Banyak peserta yang muji masakan di sini. Meski gelas minumnya berukuran mini, yang membuat kami berlega hati setelah selesai makan pemilik warung memberi kami sebotol minuman yang sudah diberi oksigen, katanya.

Jalur Cikidang sudah menanti. Rolling-rolling kecil di tengah kebun sawit menjadi aktivitas kami. Saya teringat ketika lewat sini kala pohon sawit masih kecil. Saya bisa melihat jalan naik turun berkelak-kelok. Kini sudah tidak bisa lagi. Tertutup oleh tingginya pohon sawit. Sebagai gantinya sekarang bisa melihat buah kelapa sawit yang habis dipanen.

Sebelum Citarik regrouping kembali untuk menunggu rombongan terakhir: Intan, Mas AH, dan Mas Tjahjo. Tunggu punya tunggu ternyata Intan dengan cepat menyalip kami yang asyik ngopi di warung. Ia menyapa kami dari dalam … angkot!

Setelah semua berkumpul pengaspalan “dilanjutkan” kembali. Masih rolling dan terkadang masih melewati perkebunan sawit. Beberapa tanjakan cukup menguras tenaga. Namun diberi bonus turunan yang tajam dan panjang juga. Saya malah justru takut karena belum begitu pede melibas turunan dengan seli.

Apalagi ada turunan panjang berkelak-kelok dengan beberapa batu bertebaran di jalan. Sempat ngepot ban belakang membuat saya tambah degdegan. Begitu juga dengan turunan tajam dan berbelok tajam juga. Saya sempat berhenti di dekat turunan tajam ini. Maunya ingin memotret teman-teman saat turun. Namun ditunggu agak lama gak muncul-muncul dan malah didatangi orang gak waras, ya sudah kabur saja hehe…

Kami berhenti kembali di Kantor Kepala Desa Cikidang, tak jauh dari titik akhir arung jeram S Citarik. Menunggu Intan yang susah dihubungi. Soalnya angkot yang dicarternya hanya sampai Terminal Cikidang katanya. Sementara terminal sudah jauh di belakang tapi tak tampak Intan dan sepedanya.

Enggak tahunya Intan sudah menunggu di dekat jembatan tak jauh dari Arus Liar.

***

Waktu menunjukkan pukul 15.00. Masih ada sekitar 15 km untuk sampai Pelabuhan Ratu. Kata tukang sate tempat kami ngopi, tinggal satu tanjakan lagi. Ada yang percaya, ada yang ketawa-ketawa. Bagi mereka yang tidak familiar dengan bersepeda, menyebut tanjakan berarti sangat terjal bagi penggowes. Jadi, masih ada tanjakan-tanjakan biasa.

Yang saya ingat memang masih ada tanjakan terjal dan berbelok. Untuk seterusnya tinggal turunan.

Benar saja, tak sampai 5 km pergerakan peserta mulai tersendat-sendat. Tanjakan kecil sudah menanti. Terpaksa pada berhenti kembali di sebuah warung. Saya pun ikut berhenti dan melihat ada kelapa muda tergiru untuk memesannya.

Kembali ada yang bertanya ke penjaga warung soal tanjakan. Jawabannya sedikit menyejukkan. “Tinggal dua tanjakan kok. Yang itu kelihatan dari sini. Lalu nanti ada tanjakan lagi. Habis itu turunan,” kata penjaga warung sembari menunjuk tanjakan di kejauhan.

Benar saja. Setelah tanjakan pemanasan tersua tanjakan berbelok patah. Saya jadi teringat dengan Monteng. Saya terpaksa berhenti di sudut patahan karena terus terang tidak kuat melanjutkan gowes. Sambil berdiri di atas pagar pengaman saya mencoba memotret panorama tanjakan itu.

Setelah puas memotret langsung melahap sisa tanjakan. Mumpung jalan sepi. Ternyata tak lebih dari 200 meter tanjakan berakhir. Di sana sudah menunggu teman2 yang tadi duluan. Bahkan trangia sudah berfungsi sebagaimana mestinya haha… Secangkir kopi hangat pun menyegarkan kaki yang mulai kecapean.

Benar saja. Habis tanjakan tadi yang ada turunan panjang. Sampai pantai? Ternyata tidak hehe… Sekitar 6 km sebelum pantai masih ada rolling dan jalan rusak. Namun karena sudah dekat maka ya dibawa senang saja. Apalagi di beberapa puncak gundukan, hamparan laut sudah milai terlihat. Sayang, hari mulai gelap.

Begitu menyentuh Jalan Raya Citepus, etape pertama pun usai. Tinggal mencari penginapan. Tak jauh dari situ ada Hotel Karang Sari. Namun akhirnya mencoba mencari yang agak jauhan. Mendekat ke arah etape selanjutnya.

Berhubung malam itu ada final Champions, maka kriteria pertama penginapan adalah ada TV. Di Tenjo Resmi ternyata tidak ada TV. Akhirnya bergerak ke arah barat dan menemukan Mahessa Indah. Ada TV!

***

Setelah selesai mandi, kami mencari rumah makan buat mengisi perut. Atas rekomendasi orang penginapan diarahkan ke RM Muara. Katanya ada nobar di sana. Lumayan jauh jaraknya, sekitar 300 m.

Nyatanya tidak ada tanda2 nobar. Habis itu pelayanannya amat buruk. Sepertinya sudah tutup tapi memaksa buka melihat pengunjungnya banyak hehe … Daftar menu oke-oke. Beberapa pesan sop iga, lainnya ikan bakar.

Tunggu punya tunggu kok lama sekali. Bahkan untuk minuman yang es teh, teh manis, atau es teh manis pun lama banget. Sampai perlu disusul ke dapur. Itu pun baru keluar minuman dan sering ketuker-tuker dapatnya. Pesan es teh tawar yang keluar teh manis hangat. Pesan jeruk hangat yang diberikan teh tawar.

Konyolnya lagi, ketika pesanan Mas AH lama sekali dan terlihat seorang karyawan buru-buru keluar kawasan rumah makan menggunakan motor lalu kemudian balik sembari membawa jinjingan tas plastik. Masih terburu-buru juga karena motornya tidak sempat dimatikan. Semua berprasangka bahwa karyawan itu mencari ikan pesanan mas AH.

Benar saja, pesanan ikan bakar mas AH berbeda dengan ikan bakarnya mas Tjahjo yang sama-sama pesan menu sama. Sebenarnya sewaktu pesanan ikan bakar datang mau dimakan mas AH. Namun menghormati yang tua (hehe… senioritas kayaknya), maka mas Tjahjo yang mendapat giliran. Tapi enggak tahu sih sebenarnya apa kok mas AH ngasih ke mas Tjahjo.

Ternyata pesanan ikan bakar itu tidak seperti yang diharapkan mas AH. Akhirnya hanya sedikit yang termakan. Apakah gara-gara ini mas AH mengalami kejadian tak mengenakkan di etape berikutnya, Pelabuhan Ratu – Sawarna?

Oh ya, ngomong2 soal TV tadi. Ketika Mas AH mencoba mengeset channel tak bisa-bisa, ternyata mas Tjahjo bisa. Akhirnya dapat SCTV. Eh bener ya SCTV yang menyiarkan langsung Final Liga Champions? Setelah diatur waktu nyalanya sekitar pukul 02.00 kami semua mencoba terlelap.

Tak bisa lelap sih karena suara dangdut yang memekakan telinga sampai kaca jendela bergetar. Ternyata di penginapan sebelah ada pertunjukan dangdut.

Ketika waktunya tiba, ternyata layar teve hanya menampakkan bintik2 hitam. Baru sadar kalau siaran TV yang ada melalui teve langganan. Jadi diacak. Saya juga sempat melihat mas Tjahjo mencoba menyalakan TV sekitar pukul 02.00. Sepertinya kecewa juga.

Akhirnya tak kesampaian juga menonton Real Madrid melawan Atletico Madrid. Yang jelas jagoan saya menang!

=bersambung=

Foto-foto:

DSCN4245

 Menuju Ciawi
DSCN4248

Berhenti mengisi napas.

DSCN4250

Melintas perkebunan sawit menuju Cikidang.

DSCN4252

Em … kasih caption apa ya?

DSCN4253

Ayo, kamu masih bisa ….

DSCN4255

Turunan curam dan berbelok patah. Perhatikan lelaki di sisi kiri frame. Gara-gara lelaki yang ternyata gila ini aku langsung ngacir haha …

DSCN4257

Mengoreksi standar.

DSCN4259

ttb

DSCN4262

Tebak siapa sosok ini?

DSCN4263

Jalanan mulus berkelak-kelok.

DSCN4267

Serasa melihat Tikungan Monteng kembali.

DSCN4272

Akhirnya, sampai penginapan juga.

Advertisements

One thought on “Ke Sawarna (Lagi): Deja Vu Monteng di Cikidang – 1

  1. Pingback: Ke Sawarna (Lagi) – Begini Rasanya Merayapi Bukit Habibie – 2 | Blognya Gussur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s