Audax Medal

Dipanggang Panas 40 Derajat demi Brevet

gussur.comAudax Yogya kali ini memadukan pantai dan gunung dalam sekali kayuh.

“Sepedanya bagus.” Sebuah suara memecah keheningan di tengah panas di kawasan wisata Parangtritis.

Saya menoleh sambil tersenyum. Dia lalu memperkenalkan diri sebagai Kaye Chong. Kami lalu sedikit mengobrol di tengah kayuhan menuju Jalan Imogiri Timur, untuk seterusnya ke Jejeran, tempat istirahat makan siang.

Saat itu kami sedang mengikuti Yogyakarta Audax Randonneurs Indonesia (YARI) 2014. Bagi saya, audax di Yogyakarta ini merupakan pengalaman pertama kali saya ikut audax. Bersepeda jarak jauh dalam sehari. Sementara Chong sudah beberapa kali. Begitu juga bersepeda dengan sepeda khusus jalan raya sudah terbiasa bagi dia. Sementara saya tidak banyak pengalaman dengan sepeda jalan raya. Namun saat itu posisi saya ada di depan sehingga ketika kami memacu laju sepeda, saya tetap berada di depan dan dia mengekor saya.

Dalam bersepeda, mengekor memiliki keuntungan, yakni tidak banyak mengeluarkan tenaga untuk mengayuh karena hempasan angin dari depan berkurang. Rolling atau jalan naik turun sepanjang Kretek ke Imogiri kami lahap berdua. Beberapa peserta kami susul. Sebagian mengekor juga namun tertinggal ketika jalanan menanjak.

Ketika kayuhan saya mulai melambat, Chong lalu menyalip sambil memberi aba-aba untuk gantian saya yang mengekor. Saya sungguh terkejut dengan tawarannya itu. Sebelumnya, di wilayah perbatasan Kulonprogo dan Bantul, saat menuju ke kawasan Pantai Baru, saya dibuntuti pula seorang peserta lokal.

Namun ketika tenaga saya mulai melemah dia justru menyalip saya tanpa basa-basi dan melesat ke depan.

Chong memberi arti baru sebuah Audax, persaudaraan.

***

Sehabis makan siang saya butuh waktu istirahat yang lebih. Beberapa peserta, termasuk Chong sudah berangkat menuju check point berikutnya. Jarak sekitar 120 km bagi saya sudah terlalu jauh untuk melepaskan penat, terutama pada pundak dan punggung. Sepeda jalan raya memang harus membungkuk untuk mengayuhnya.

Start di Benteng Vredeburg tak jauh dari Km 0 Yogyakarta di ujung jalan Malioboro dan baru melewati check point pertama di km sekitar 50-an praktis tak memberikan banyak kesempatan untuk meregangkan otot-otot tubuh. Sebelum check point pertama saya mencoba mengayuh nonstop dan berhenti hanya ketika lampu lalu lintas merah. Namun sudah 50 km lewat ternyata check point belum terlihat. Akhirnya menepi di warung membeli minuman dan kudapan.

Jika rute sebelum check point pertama masih nyaman untuk mengayuh karena jalanan datar dan mulus serta matahari belum tinggi, berbeda dengan rute setelahnya. Memasuki pinggiran Laut Selatan mulai dari Pantai Baru di perbatasan Kulonprogo – Bantul sampai Pantai Samas untuk kemudian menuju Ganjuran dan lanjut ke Pantai Depok – Parangtritis, panas dan angin menjadi “musuh” peserta. Seorang peserta menyebut suhu mencapai 40 derajat sesuai pengukuran GPS di sepedanya.

Padahal, pemandangan di jalur ini sangat bagus. Lambaian cemara udang (Casuarina equisetifolia Linn) yang berderet di pinggir pantai seakan mengajak saya untuk berhenti sejenak. Saya seketika teringat dengann deretan cemara udang di Pantai Lombang Sumenep. Saya pun berhenti sejenak di rerimbunan cemara udang dan berfoto-foto.

Deretan pantai di ujung barat Kabupaten Bantul ini mulai menggeliat. Ada tiga pantai di sini, Pantai Baru, Pantai Kuwaru, dan Pantai Goa Cemara. Kondisi ketiga pantai mirip. Cenderung berombak dan tidak cocok untuk bermain air. Motornya adalah Pantai Kuwaru. Di sini ada beragam permainan seperti kendaraan ATV atau kolam renang buat bermain air.

Menyusuri jalan ke arah timur saya terpaku dengan papan petunjuk menuju ke Pantai Gua Cemara. Ada gua di pinggir pantai? Namun saya melihat tak ada tebing atau semacamnya yang memungkinkan untuk “menyimpan” sebuah gua. Apa gua itu ada di bawah timbunan pasir.

Rasa penasaran menuntunku untuk mencari lebih tahu keberadaan pantai itu. Namun sepi membuatku ragu-ragu untuk masuk lebih dalam. Begitu ada orang saya pun bertanya soal gua. Ternyata yang dimaksud gua cemara itu adalah lorong jalan yang terbentuk oleh naungan pohon cemara udang yang memang tumbuh subur di kawasan pantai itu.

Awalnya penduduk sekitar pantai sering melewati pohon cemara dan membabat sebagian batang dan rantingnya sebagai jalan lewat. Bekas tebasan mereka menghasilkan lubang yang jika diperhatikan menyerupai gua. Maka semenjak itu Pantai Gua Cemara disematkan sebagai nama resminya setelah resmi dibuka pada tahun 2010 untuk para wisatawan. Jadi, bukan karena ada gua di pantai tersebut. Ah, untung belum mengeksplorasi lebih dalam.

Pantai selanjutnya yang dilewati rute YARI adalah Pantai Depok, sebelah barat Pantai Parangtritis. Pantai ini sebenarnya sejajar dengan Pantai Gua Cemara dan Pantai Samas di ujung deretan pantai selatan

Kabupaten Bantul sisi barat. Hanya saja tidak ada jalan lurus karena teralang Sungai Oya. Sehingga harus melambung ke arah Ganjuran baru menyusuri jalan poros Yogyakarta – Parangtritis.

Dari Pantai Gua Cemara menuju Pantai Samas jalan aspal mulus lurus seharusnya bisa digunakan untuk memacu adrenalin. Ya, sensasi menggowes sepeda balap adalah kecepatan. Ada sekitar tiga kilometeran jalan lurus beraspal mulus itu. Kanan kiri relatif tak ada pepohonan tinggi atau pemukiman penduduk.

Sekiranya ada pesawat mendarat darurat, jalur ini bisa dijadikan alternatif landasan.

Angin berhembus begitu kencang dan laju sepeda menantang angin. Belum panas. Saya tak berani melihat ke depan. Hanya sesekali saja untuk meluruskan laju sepeda. Selebihnya menunduk untuk mendapatkan efek streamline. Saya perkirakan laju sepeda hanya berada di kisaran 10 – 15 km per jam.

Ada sedikit masalah ketika melintasi Ganjuran. Rute yang sudah direncanakan tak bisa dilewati karena digunakan hajatan perkawinan. Terpaksa mengambil rute memutar melewati perkampungan. “Tapi justru malah menarik masuk ke perkampungan,” kata Anto yang sudah ikut audax beberapa kali.

Melintasi Sungai Oya peserta diarahkan ke Pantai Depok. Pantai ini oleh Pemkab Bantul diarahkan untuk menjadi pusat wisata kuliner makanan laut. Mirip dengan daerah Muarakarang di Jakarta. Sejumlah warung tradisional berderet tak jauh dari bibir pantai. Ikan yang dimasak berasal dari Tempat Pelelangan Ikan yang berlokasi di Pantai Depok.

Sebelum kedatangan nelayan dari Cilacap yang mendarat di Pantai Depok dan menjadikannya sebagai tempat pendaratan perahu, penduduk setempat merupakan petani lahan pasir. Sepintas masih bisa dilihat tanah garapan penduduk setempat.

Tak jauh dari Pantai Depok ada pemandangan yang menakjubkan. Itulah gumuk pasir, yang merupakan satu-satunya di kawasan Asia Tenggara dan sebuah fenomena yang jarang ditemui di wilayah tropis.

Hamparan pasir luas bergunung-gunung mirip seperti di sebuah gurun. Untuk menjaga kelestarian gumuk pasir ini, didirikanlah Laboratorium Geospasial Pesisir.

Lokasi yang unik itu menjadi buruan para penikmat fotografi. Bahkan siang itu ada yang rela berpanas-panas ria untuk berpotret-potret di tengah hamparan gurun pasir.

Fisik saya sudah drop ketika check point kedua sekaligus tempat makan siang tinggal beberapa kilometer lagi. Makanya Chong saya persilakan duluan. Saya mengayuh dengan santai, sekaligus sebagai recovery untuk istirahat agak lama.

Makan siang di Jejeran yang terkenal dengan sate klathak aku gunakan untuk beristirahat total. Lepas sepatu, cuci muka, cuci kaki dan bersantai sembari menyantap sate klathak. Sate ini termasuk sate khas.

Potongan dagingnya besar dan miskin bumbu. Hanya garam dan ketumbar. Uniknya lagi, tusukan sate tidak menggunakan bambu tapi jeruji sepeda. Penggunaan jeruji ini didasarkan pada sifat jeruji yang menghantarkan panas. Jadinya daging bisa matang sempurna.

Chong melambaikan tangan ingin melanjutkan perjalanan. Rute kali ini mengarah ke Candi Prambanan.

Saya hanya membalas lambaian tanpa beranjak dari tempat duduk. Rasanya nikmat juga untuk memejamkan mata sejenak seiring perut yang mulai kekenyangan.

Sehabis makan siang saya perhatikan sudah mulai terseleksi mana yang ketahanan menggowesnya mumpuni dengan yang di bawah rata-rata. Sudah jarang saya temukan pesepeda yang bergerombol.

Ketika mulai mengayuh lagi dari Jejeran sampai check point ketiga di daerah Cangkringan, saya hanya menyalip seorang peserta. Praktis lebih banyak gowes sendirian. Tidak sepanas sebelumnya. Begitu juga dengan cuaca mulai terasa adem. Kiri kanan jalan mulai banyak pohon peneduh. Terlebih selepas dari kawasan Candi Prambanan. Masuk ke jalan perkampungan, hawa dingin kawasan Kaliurang mulai terasa.

Di wilayah Cangkringan jalanan mulai rolling. Naik turun meski ketinggiannya tidak terlalu ekstrem.

Sayang saat itu cuaca agak mendung. Bahkan tetes air mulai terasa. Jika cuaca cerah pucuk Gunung Merapi bisa terlihat dengan jelas.

Masuk Kecamatan Turi, Sleman yang dikenal sebagai sentra salak pondok hujan sepertinya sudah purnatugas. Tinggal gerimis yang tak perlu dilawan dengan mantol. Cukup diakrabi sebagai pendingin tubuh yang panas akibat aktivitas menggowes.

Ketika berhenti di lampu merah di pertigaan Jalan Magelang, saya sempat gamang. Akan meneruskan 300 km – yang berarti belok kanan menuju Magelang – atau belok kiri ikut nomor 200 km. Ketika lampu menyala hijau saya pun mengambil keputusan untuk tetap mencoba yang 300 km.

Sekitar 10 km dari pertigaan tadi tubuh saya mengirimkan sinyal kebimbangan. Badan sudah terasa capai, plus jalanan sore itu yang macet. Mengayuh sepeda menjadi tidak nikmat lagi. Namun kembali juga bukan pilihan yang menyenangkan. Jalan balik pun macet. Melihat penjual kelapa bakar saya pun menepikan sepeda.

Saya rebahan sebentar di kursi kayu penjual kelapa bakar tadi. Sembari menunggu pembakaran kelapa muda. Ini sudah menjadi prestasi tersendiri bagi saya. Sudah hampir 200 km saya mengayuh pedal. Dalam beberapa turing sepeda, biasanya jarak paling jauh tak lebih dari 160 km.

Ketika sedang menikmati kelapa muda bakar, seorang peserta bule melintas. Terlihat wajahnya masih segar. Bergegas saya menghabiskan kelapa muda bakar dan langsung menggowes. Jalanan masih macet sampai tiba di check point keempat, sebuah rumah makan dengan menu masakan Padang. Ketika tiba di sini saya melihat Chong sudah selesai makan.

Perjalanan berikutnya pasti akan berteman malam. Meski sudah membawa lampu, namun panitia menyediakan marshal bermotor yang akan memandu peserta sampai finish. Karena jumlah marshal terbatas maka peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Chong yang sudah siap sekelompok dengan bule yang tadi melintas saat saya minum kelapa muda bakar. Saya harus menunggu satu peserta lain yang sedang dalam perjalanan menuju check point keempat.

Teman saya itu menggunakan sepeda lipat. Wah, saya salut dan pasti ketahanan fisiknya jempolan.

Beriringan kami menerabas sore menjelang malam, menuju ke kawasan Sekolah Taruna Nusantara, Borobudur, lanjut Kalibawang. Jalanan benar-benar gelap. Saya konsentrasi melihat jalanan sehingga tertinggal cukup jauh dengan teman yang berseli tadi. Namun ketika sudah beradaptasi saya bisa menyalipnya dan meninggalkan dia cukup jauh. Saya terus mengayuh mengikuti motor yang memiliki penerangan lebih bagus.

Menjelang kawasan Candi Borobudur saya kaget ketika teman yang berseli tadi muncul dari sebuah pertigaan. Hal yang sama kembali terulang ketika dari check point kelima menuju titik finish. Sempat menyalip, namun ia tiba lebih dulu di finish tanpa menyalip saya. Rute dari Magelang ke Yogya via Kalibawang memang kondisi jalanan sangat gelap. Papan petunjuk tidak terbaca dengan baik.

Saya sempat minta marshal mengambil jalan pintas di daerah Godean. Saya agak hapal daerah ini sehingga ketika ia mengambil jalan memutar saya sempat berpikir untuk ambil jalan pintas.Namun saya kasihan nanti marshal bingung mencari saya. Jadi saya pun mengikuti  dia namun dengan kecepatan yang sudah drop. Sesekali marshal berhenti menunggu saya.

Tenaga saya mulai terdongkrak ketika roda sepeda menapak Jalan Wates. Memang, masih beberapa kilometer lagi tapi serasa sudah sampai finish. Saya baru merasa lega setelah sekitar pukul 21.50 sampai di finish. Lebih dari 300 km saya mengayuh sepeda dalam rentang waktu sekitar 16 jam. Sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.

*)tulisan ini sudah dimuat di NG Traveller
**)terima kasih Mas Pur yang meminjamkan sepedanya 🙂

10689763_10205254003336567_7317303578140779993_n 1779837_10205247552335296_6097154330215761962_n 1965072_10205247561375522_817708985032753523_n

10419012_10205247588456199_764168149323433991_n 10698530_10205247590296245_4932933475124815844_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s