Jakarta Marathon 2015: FM Ke-2

gussur.com – Selang dua bulan setelah Bali Marathon 30 Agustus 2015, saya kembali mencoba Full Marathon. Sebuah kenekatan (bagi saya tentunya ….) karena dapat slot sekitar sebulan sebelum acara. Mirip ketika ditawari menjajal BTS Ultra 100 kategori 70 km. Langsung samber saja.

Praktis tersisa sebulan buat persiapan. Beruntungnya ya pernah menjajal FM. Tapi tetap waswas juga sehingga aku pun mulai memanaskan dengkul. Sayang waktu gak berpihak. Selalu ada pagi yang kosong. Jadilah mencuri-curi waktu. Sampai pernah ditegus Satpam kantor karena treadmill melebihi jam operasionalnya. Nah, soal ini saya baru tahu kalau ternyata ada pembatasan waktu pakai treadmill di pagi hari.

Bosan treadmill mencoba lari di parkiran kendaraan di kantor. Sudah dibikinkan jogging track tapi cuma 400 m sekali jalan. Mencoba 10 km berarti melintasi track yang sama 25 kali. Bosan? Iya juga sih. Tapi mau gimana lagi? Belum semakin siang kendaraan karyawan mulai berdatangan.

Ketika hari lomba, fokus pada saltstick membuat lupa menyiapkan kaos kaki. Alhasil asal samber saja menemukan kaos kaki super pendek. Buru-buru langsung menggeber skutik menuju Monas.

***

Sudah banyak peserta yang bersiap-siap di garis start. Sempat bertemu dengan Abah Ush yang ternyata ikut HM. Jiah … kirain ikut FM. Jadinya dari KGP cuma aku dan Sulthon yang ikut FM.

Meski start jam 5, tapi hari cepat terang. Apalagi bulan-bulan ini matahari sudah bergeser ke arah Selatan. Jadilah di Harmoni sudah terang tanah. Lalu terbayang, nanti sekitar jam 11 seperti apa hawanya.

O ya, secara garis besar rute FM kali ini mirip tahun lalu. Start dari Monas lalu ke Budi Kemuliaan – Harmoni – Kawasan Kota Tua – balik ke Monas tapi dilewatkan ke Pasar Baru – Katedral – Istiqlal – Istana Negara. Lalu arah HI – Jln. Imam Bonjol – Jln. HR Rasuna Said (Kuningan). Belok kanan masuk Jln. Gatot Subroto arah Semanggi – Jln. Gerbang Pemuda – putar balik sebelum Jln. Asia Afrika – kembali jalur yang sama tapi di seberangnya.

Terbayang sudah, panas-panas akan merayapi jalan layang Jln. Gerbang Pemuda dan Jln. Kuningan tak jauh dari patung 66. Tapi panas sudah terasa ketika menuju Jln. Kuningan. Baru menyadari kaos yang kupakai sudah lepek sejak km 17. Kuyub badan.

Meski persiapan kurang, saya merasa lebih fit dibandingkan Bali Marathon. Bisa jadi karena jalurnya lebih banyak datarnya. Lalu sudah persiapan saltstick. Makanya, bisa enjoy lari sampai menjelang km 30.

Petaka mulai datang setelah jalan layang Gerbang Pemuda. Jika Bali Marathon mengalami blister di jari kaki, sekarang blister di telapak kaki. Perih mulai terasa. Lari pun mulai pincang. Alhasil, 12 km terakhir ditempuh dalam waktu 2 jam 20 menit. Padahal 30 km pertama sudah mendekati target untuk bisa sub 5 kali ini, yakni 3 jam 17 menit. Nah, dengan pace yang sudah mulai melambat saya berharap 12 km terakhir bisalah 1 jam 30 menit.

Apa daya, 12 km terakhir pace tidak karu-karuan. Banyak jalannya. Tapi mulai dari Semanggi sampai finish sangat terhibur dengan banyaknya komunitas yang membuka water station di beberapa tempat. Seperti Grup Indika yang membuka WS di depan kantornya. Ada buah, air mineral, es krim.

***

Jika di Bali Marathon semarak dengan sambutan masyarakat yang gegap gempita, Jakarta Marathon adem-adem saja. Bahkan cenderung cuek. Terlebih di jalan yang harus berbagi dengan pengendara. Di perempatan Kuningan – Gatot Subroto, banyak pemotor gak sabar dan nyelonong memotong jalur. Padahal ada beberapa pelari yang sedang melintas. Akibatnya seorang polisi menendang motornya. Sempat terjadi cekcok.

Toh di Jakmar masih ada hiburan dari komunitas-komunitas lari yang rela membuka WS di beberapa titik. Saya sendiri sangat terbantu dengan keberadaan WS komunitas ini. Buahnya jadi beragam. Tak melulu pisang. Ada semangka, melon, anggur, kurma. Begitu juga dengan minumannya. Ada kopi, bir, minuman bersoda, susu, jus, selain air mineral.

Beberapa komunitas juga memberi semangat dengan kostum-kostum uniknya. Bahkan di km 39 ada yang membawa cermin besar untuk berkaca. “Ayo, ngaca dulu biar finishnya gak meringis,” celetuk salah satu penggembira.

Satu hal yang bisa saya bagi di sini, banyak peserta yang sepertinya asal ikut saja. Tanpa persiapan berarti. Sepertinya salah mengartikan kalimat “42,195 km hanyalah sekadar angka”. Ketika saya melintas di km 36-an, masih melihat peserta yang melintas di jalur seberang. Mereka sudah berjalan kaki. Padahal itu sekitar km 23-am. Masih separo lagi. Saat itu sudah hampir jam 10.

Setelah melawan panas, telapak kaki perih, tumit kanan juga ikut-ikutan memerih (tadinya saya pikir digigit semut atau serangga lainnya, tapi setelah saya lihat ternyata kaos kaki yang saya pakai melorot – karena memang jenis yang super pendek, sehingga tumit jadi telanjang), Jakmar pun berakhir dengan catatan waktu 5 jam 32 menit. Yah, lebih cepat 4 menit dibandingkan Bali Marathon hehe …

Kapan bisa sub 5 kalau begini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s