Jembatan gantung pathuk

Bersama Merida Mencumbu Klaten – Sri Gethuk via Nglanggeran

gussur.com – Reuni alumni Jelajah Sepeda Kompas Sabang – Padang (JSSP) akhirnya terlaksana juga. Ini reuni kedua, alias setiap tahun alumni JSSP bertemu dan kembali gowes bareng-bareng ke suatu tempat. Yang pertama diadakan di Jakarta dengan rute Depok – Sentul. Yang kedua mengambil tempat di Klaten. Kebetulan salah satu alumnus bertempat tinggal di Klaten, Jawa Tengah.

Acara dua hari pun dirancang dengan menu gowes full tanjakan. Entah mengapa kok gowes harus nyari tanjakan. Sepertinya kalau gowes datar-datar saja kurang menguras isi “otak bawah” alias dengkul. Rute tanjakan pun dimaknai sebagai sebuah tantangan. Jarak tak perlu jauh tapi tenaga pasti terkuras.

Jadilah menu hari pertama Klaten – Sri Gethuk Playen Gunungkidul. Hari kedua Klaten – Deles, lereng Merapi. Karena ke Deles sudah pernah saya coba, maka saya pun memilih acara lain. Kebetulan ada acara lari Candi ke Candi (jadi ingat Seli dari Candi ke Candi) dengan start/finish di Candi Prambanan.

***

Awalnya saya gojag-gajeg antara ikut reuni atau Jakarta Ultra 100. Kebetulan waktunya bersamaan. Lamaaa … memikirkan sampai terpikir untuk tidak ikut dua-duanya. Lalu pas ikut Borobudur Half Marathon bertemu dengan Bagus yang ngasih tahu bakal ada lari dari candi ke candi pada tanggal 29 November 2015. Bandul keputusan tiba-tiba condong ke reuni.

Toh saya belum memastikan ikut reuni atau tidak. Namun kalau yang lari langsung mendaftar. Pingin merasakan suasana yang berbeda saja. Di menit terakhir pengiriman sepeda akhirnya saya memutuskan ikut. Belum niat betul sehingga saya pun membawa seli ke kantor dan … langsung lipat dan lindungi seperlunya terus berderet mengantri diangkut truk ke Klaten.

Lalu, dua tragedi pun menemui saya. Pertama saya kebablasen waktu naik kereta mau turun di Stasiun Klaten. Duduk di gerbong 6 sebelum memasuki stasiun sudah ada pengumuman bahwa kereta sebentar lagi akan masuk Stasiun Klaten. Lalu kereta berhenti. Saya melihat keluar gelap sekali. Ah, saya pikir menunggu masuk giliran stasiun. Maklum stasiun kecil. Ketika kereta beranjak jalan, saya segera bersiap-siap turun. Eh … la kok malah makin cepat dan selintas saya membaca plang nama: Stasiun Klaten.

Blaik …!! Akhirnya turun di Stasiun Purwosari Solo dan kembali ke Klaten naik bus.

Tragedi kedua, dapat kabar truk pengangkut sepeda terguling di daerah Ajibarang! Langsung kepikir dengan seli Merida-ku yang terangkut secara lawaran. Tak ada kardus yang menahannya ketika terbanting. Ketika sampai di Klaten dan mengecek si seli, crank peyang dan tiang rak bengkok. Atas bantuan Yusri lumayan lurus lagi crank. Jika sebelumnya rantai akan lepas ketika dipindah ke crank besar, setelah diketok2 oleh Yusri tidak lagi.

Mas Pur sedari awal sudah mengingatkan untuk tidak membawa sepeda balap atau sepeda lipat. Medan jalan yang dilalui sebagian kurang cocok. Tapi karena ada mobil evakuasi ya saya sih simpel saja mikirnya. Kalau tidak bisa dilewati dengan seli ya numpang di mobil evak.

***

Setelah menjajal jalur Klaten – Sri Gethuk via Wedi-Gantiwarno-Nganggeran, jalurnya masih bisa digowes dengan sepeda lipat. Tanjakanya memang butuh strategi jika menggunakan seli. Apalagi dengan standard cranck (yang kecil aku copot) plus 8 speed. Pada tanjakan aspal selepas km 16 dari pusat kota Klaten masih leluasa digowes. Namun ketika di tanjakan beton, dengkul tidak kuat sekali gowes untuk merayapi tanjakan. Jadilah berhenti dua atau tiga kali.

Lewat jalur ini sangat menyenangkan karena relatif sepi dan bebas polusi. Memang, sebagian jalan makadam. Terutama di turunan tajam sebelum ketemu jembatan gantung. Jembatan gantung? Ya, di sinilah nilai plus jalur ini. Jembatan yang mengingatkan dengan jembatan sejenis di Selopaimoro Imogiri.

Menggunakan sepeda lipat membuat saya teringat dengan turunan tajam tak jauh dari Sawarna. Saat itu ban belakang meletus akibat terlalu lama direm. Panas yang timbul tak mampu dibuang pelek kecil sehingga ban dalam memuai dan …. duer. Jadi, saya pun realistis dengan menuntunnya. Sebenarnya kalau jalan mulus saya masih berani karena tidak terlalu curam dan panjang seperti di Sawarna.

Selepas jembatan gantung masih ada dua tanjakan sadis. Jika sebelumnya tanjakan masih beraspal, kini tanjakan dibeton di dua sisi. Jalur ini kemudian akan lewat Kawasan Gunung Purba Nglanggeran. Siang itu terlihat banyak pengunjung dari luar daerah. Bukan waktu yang tepat sebenarnya berkunjung siang hari di sini. Akan lebih pas jika sore hari ketika matahari akan tenggelam.

***

Selepas Nglanggeran maka rute mengikuti jalur umum Yogya – Wonosari. Masih ada beberapa tanjakan yang menguras tenaga. Lawannya selain panas juga kendaraan umum, terutama bus dan truk.

Pertigaan Playen belok kanan sampai mentok pertigaan. Ambil kanan dan ikuti jalan saja sampai menemukan petunjuk arah Srigethuk belok kanan. Saat itu beberapa ruas jalan sedang diperbaiki. Air terjun Srigethuk ini terletak di kawasan hutan kayu putih milik PT Perhutani. Jadi sepanjang jalan akan melihat batang-batang pohon kayu putih yang dipotong setinggi sekitar 2 m agar memudahkan untuk memanen daun kayu putih yang akan disuling dan menjadi minyak kayu putih salah satunya.

Begitu sampai lokasi wisata di Desa Wisata Bleberan, ada dua alternatif menuju lokasi air terjun. Menyusuri persawahan di sisi kanan sungai atau naik rakit yang terbuat dari drum bekas dan dilengkapi mesin. Berangkat saya menggunakan rakit bertarif Rp10ribu pp itu. Sementara baliknya mencoba melewati jalan darat. Ternyata ada tangga cukup curam tak jauh dari air terjun.

Dari cerita pemandu, asal muasal nama Air Terjun Sri Gethuk. Berdasarkan cerita yang dipercayai masyarakat, air terjun tersebut merupakan tempat penyimpanan kethuk yang merupakan salah satu instrumen gamelan milik Jin Anggo Meduro. Oleh karena itu disebut dengan nama Air Terjun Sri Gethuk. Konon, pada saat-saat tertentu masyarakat Dukuh Menggoran masih sering mendengar suara gamelan mengalun dari arah air terjun.

Selain menikmati pijatan air yang turun dari ketinggian sekitar 10 m, aktivitas yang bisa dilakukan adalah terjun dari sisi tebing ke Sungai Oya. Tidak bisa berenang? Tenang saja, ada penyewaan baju pelampung.

Peta Lokasi Air Terjun Sri Gethuk
Playen, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia (lihat peta)
Koordinat GPS: -7.94333333333333, 110.489166666667

elevasi klaten srigethuk plus info

P_20151128_064647

P_20151128_084527

 

P_20151128_085359_BF

P_20151128_090056

P_20151128_090322

P_20151128_090339

P_20151128_094843

P_20151128_102207

P_20151128_105407

P_20151128_132922

P_20151128_133028

P_20151128_134007

P_20151128_134120_PN

P_20151128_161943

P_20151128_163124

Advertisements

2 thoughts on “Bersama Merida Mencumbu Klaten – Sri Gethuk via Nglanggeran

    • terima kasih pak mau mampir masih punya keinginan gowes nyusuri pantai selatan gunung kidul gsr  Melewati kesulitan kita akan jaya. (Evelyn – Pearl Harbor) gussur.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s