Ngudax Jakarta di Sabtu Pagi

gussur.com – Sudah lama pingin ngideri Jakarta di Sabtu pagi sampai tembus 100 km. Beberapa kali berusaha tapi gagal terus. Mentok di 50-an km. Kurang pagi soalnya. Jadi masalah bangun pagi di hari Sabtu, lalu beraktivitas.

Sabtu 16 Januari kemarin sebenarnya aras2en untuk bangun. Padahal alarm bunyi dua kali. Pukul 04.30 dan 05.00. Alarm harian untuk membangunkan anak2. Antara niat dan malas, bangun juga pukul 05.30. Pup lalu ganti jersey dan langsung beres-beres sepeda.

Dari kawasan Condet saya rencana mau sampai Grogol dan menuju kawasan Kota Tua, lalu Ancol dan Kelapa Gading. Namun di MT Haryono disapa roadies yang melaju sendirian.

“Pagi Pak!” katanya sambil ‘ngebut’.

Merasa ada teman saya pun membuntuti dia. Sebelum jalan layang Kuningan bertemu dengan dua bule yang juga menyapa, “Pagi Pak!” Sayang dia lewat bawah sementara saya mencoba jalan layang baru.

Arah semula ke Grogol gagal karena orang yang saya buntuti masuk ke Jalan Sudirman. Ya sudah, langsung mengubah arah ke Kawasan Kota Tua.

***

Awalnya tak mau berhenti di kawasan Kota Tua. Namun saat melintas Toko Merah tak jauh dari Museum Fatahillah, terbersit keinginan untuk berfoto. Ya, ada mobil kuno di depannya. Sama-sama jadulnya dengan sepeda yang saya pakai. Namun mau balik malas, jadi ya lanjutkan saja. Ntar aja balik lagi, batinku.

Saya pun memasuki halaman depan Museum Fatahillah yang penuh bola-bola batu. Sepagi itu sudah banyak aktivitas wisatawan menikmati pagi. Beberapa mencoba sepeda ontel. Yang lain pemburu foto pagi di Fatahillah. Kamera DSLR dengan moncong panjang bergelantungan di pundak mereka.

Saya pun asyik dengan foto-foto BJ (Blue Johnson – sepeda balap jadul merek Johnson warna biru). Mendekati teras museum, beberapa pemuda bertato masih pulas membungkus mimpi-mimpi mereka sebelum Matahari merenggutnya.

“Wah, isinya sampah Ma!” teriakan seorang gadis kecil yang melongok isi meriam di sisi kanan museum. Saya yang sedang memotret meriam + BJ dengan latar belakang museum pun penasaran juga dengan celotehan gadis kecil tadi.

Benar saja, sampah plastik mengumpul di ujung lubang meriam. Heran dengan perilaku masyarakat kita yang gampang menyembunyikan sampah. Padahal, setelah memandang sekeliling, banyak tempat sampah bertebaran.

Tak lama di Museum Fatahillah saya pun kembali ke Toko Merah. Foto-foto lalu mutar kembali ke Stasiun Kota dan mengarah ke Thamrin. Sempat galau apakah lanjut ke Blok M atau langsung ke Grogol. Tapi karena memikir jarak nanti kurang banyak saya memutuskan terus sampai putaran Blok M Plaza.

Meski pagi itu relatif sepi, namun tidak nyaman menyusuri koridor tertua transportasi massal Bus Transjakarta ini. Ya, apalagi kalau bukan sedang dibangun infrastruktur MRT Lebak Bulus – Kota.

Mencoba berhenti di km 50 untuk sarapan, ternyata pas memutar di Grogol depan Universitas Trisakti km menunjuk 49,8. Ya sudah, mumpung ada bubur di pinggir jalan ya langsung menepi.

***

Hari semakin siang, lalu lintas mulai ramai. Kenyamanan terganggu. Itu terasa ketika mulai menggowes lagi dari Grogol ke arah Semanggi. Makanya, segera terlintas menghabiskan sisa kilometer menuju 100 di GBK saja. Masih ada kira-kira 40 km. Berarti 40 putaran. Wah … bosan enggak?

GBK pagi itu lumayan ramai. Alamat tidak bisa maksimal menggowes. Ada sekitar tiga kelompok yang melakukan aktivitas di putaran GBK. Seleksi Satpam yang melibatkan sekitar 100-an orang. Anak-anak sekolah yang berolahraga, sekitar 50 anak. Serta komunitas lari sekitar 30-an orang. Selebihnya individu-individu yang berolahraga memanfaatkan libur akhir pekan.

Benar saja. Setelah 10 km pertama ternyata bosan juga. Bukan karena putarannya, tetapi lebih karena harus hati-hati dan tidak bisa maksimal. Saya pun memutuskan cukup 20 putaran dan sisanya sembari pulang.

Makanya, tadi berencana pulang lewat Semanggi – Pancoran – Cawang Kompor – Dewi Sartika – Condet. Karena perkiraan cuma 10 km, saya pun melambung pulangnya. Lewat Blok M – Antasari – TB Simatupang – Pasar Rebo – Kramatjati – Condet.

Sampai Pasar Rebo relatif lengang. Baru di depan Pasar Induk Kramatjati terkena macet yang benar-benar berhenti. Penyebabnya selain aktivitas keluar masuk mobil angkutan buah dan sayur, juga pedagang durian yang memarkir mobil bak terbuka berisi durian di pinggir jalan.

Mendekati rumah jaraknya masuk ke Grand Fondonya Strava: 102 km! Hmmm … lumayan juga pengalaman ngudak2 Jakarta di Sabtu pagi. Sepertinya lain kali berangkat lebih pagi, atau mencoba rute Condet – BSD pp.

Rute di Strava
https://www.strava.com/activities/471211393/embed/5c54a6ffd7a7041310e7f21d285b2cc8c7b988ee

P_20160116_071716

P_20160116_072116_HDR edit

P_20160116_072255_HDR edit

P_20160116_072856

P_20160116_073026 edit

P_20160116_074216_BF edit

P_20160116_074854 edit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s