Tips Dan Cara Memilih Sepatu Lari Yang Baik dan Benar

gussur.com – Lari adalah olahraga yang sederhana. Hanya butuh sepatu dan niat. 

Namun, memilih sepatu bukan perkara sederhana. Hal itu disadari produsen dengan mengeluarkan banyak jenis sepatu lari.

Banyaknya model kadang malah bikin bingung.  Saya pribadi waktu mau mencari sepatu lari di sebuah toko ritel besar dan ternama malah tidak menemukan model dan ukuran yang cocok. Justru di tempat semacam FO malah ketemu yang pas ukurannya.

Berikut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih dan menggunakan sepatu lari. Saya peroleh dari mengorek-orek Google karena saya sendiri juga butuh panduan seperti ini. 

Silakan tanggapi jika ada yang perlu dilengkapi.

  1. Medan berlari
    Di mana kita akan lari menentukan jenis sepatu. Untuk balap (sprint) tentu berbeda dengan sepatu untuk lintas alam (trail). Sepatu lari yang baik memiliki pola yang lebar di alas dasarnya. Hal ini untuk mencegah selip atau terpeleset saat melewati medan sulit. Sementara sepatu untuk balap lari didesain lebih ringan dari sepatu lari pada umumnya. Sepatu balap biasanya juga dilengkapi penyerap benturan yang meminimalisir terjadinya tekanan berlebihan pada kaki. Sepatu lari yang baik juga menyisakan ruang jarak kosong sekitar satu inci antara ibu jari dan ujung sepatu.
  2. Pahami pronasi
    Lari merupakan proses biomekanik yang rumit. Secara umum, ketika berlari, bagian kaki yang pertama kali menghantam tanah adalah sisi luar tumit. Kemudian kaki bergulir ke bawah dan sedikit ke dalam ketika bertemu dengan tanah. Selanjutnya tumit meninggalkan tanah dan diikuti dengan dorongan yang diberikan tubuh pada bola-bola depan kaki untuk tinggal landas dan bergerak maju.Yang dimaksud dengan pronasi adalah rotasi kaki ke arah dalam ketika mendarat di tanah. Proses pronasi ini alamiah dan normal pada setiap orang, dan sangat membantu kaki dalam menyerap dampak guncangan.

    Tes basah.

    Basahi kaki dan buatlah jejak pada permukaan kering yang datar.

    • Kiri: kaki datar, Anda cenderung overpronate.
    • Tengah: kaki normal, pronasi Anda normal.
    • Kanan: Kaki berlengkung tinggi, Anda cenderung underpronate.
    Namun, tingkat pronasi pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang melakukannya secara berlebihan (overpronate), dalam hal ini kaki pelari bergulir terlalu jauh ke dalam. Ada juga yang pronasinya kurang (underpronate); kaki hanya bergulir sedikit ke dalam setelah kontak dengan tanah. Overpronate banyak dijumpai pada beberapa pelari dan bisa menimbulkan cidera, khususnya di tungkai bawah dan lutut. Underpronate pun bisa menyebabkan cedera karena kurang baiknya dalam penyerapan guncangan.

    Langkah 3: Kenalilah jenis kaki Anda. Dengan memeriksa ketinggian lengkungan (arch) kaki, bisa ditentukan dalam golongan manakah pronasi Anda. Bila kaki ceper, berkecenderungan untuk overpronate. Kaki yang berlengkung tinggi, sangat mungkin untuk melakukan pronasi yang kurang (underpronate). Bagi yang memiliki lengkung normal, pronasi yang dilakukan sudah tepat dan betul. Menurut penelitian John W. Pagliano, D.P.M., ahli kaki di Long Beach, Kalifornia, 50% pelari mempunyai lengkung kaki normal, 25% berlengkung tinggi, dan sisanya berlengkung rendah.

    Untuk mengetahui ketinggian lengkung kaki, lakukan “tes basah” (wet test). Basahi telapak kaki dan buatlah jejak pada permukaan yang rata dan kering.

  3. Waktu tepat membeli sepatu
    Sore atau malam hari menjadi waktu yang tepat untuk memilih sepatu lari. Karena pada waktu-waktu tersebut, ukuran kaki menjadi lebih besar. Setelah seharian digunakan untuk beraktivitas, kaki terkadang menjadi sedikit bengkak. Hal ini untuk mengantisipasi agar kaki tidak terasa sakit saat kaki membesar ketika berlari. Kenakan kaus kaki tebal saat mencoba sepatu dan coba kenyamanannya dengan berkeliling atau berjalan-jalan sebentar di sekitar toko.
  4. Tali sepatu
    Tali sepatu harus diikat dengan simpul kuat yang tidak mudah terlepas. Tapi usahakan ikatannya tidak terlalu kencang atau ketat hingga membuat kaki terasa sempit. Hal ini bisa mengacaukan keseimbangan dan stabilitas kaki maupun tubuh. Untuk menghindari ikatan lepas atau terurai, setelah terikat lidah tali sepati itu bisa diselipkan di tali sepatu yang “mengikat” sepatu.
  5. Saat mengganti sepatu
    Jika sepatu rutin digunakan setiap hari, sebaiknya ganti setelah pemakaian 400 mil (sekitar 643 km), atau sekitar lima bulan sekali. Jika sol sepatu sudah menipis, pecah di bagian tengah, atau bagian ujung atau belakang sepatu sudah robek itu tandanya sepatu sudah harus diganti. Sepatu lari yang rusak tidak bisa menopang tubuh dan kaki dengan sempurna lagi.

Selamat memilih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s