Menduduki “Neng” Seli Sejauh 300 Km Selama Hampir 20 Jam

gussur.com – Awalnya adalah ajakan teman sekantor untuk ikut acara gowes ala Audax sejauh 300 km: Anudax 300. Gabungan dari ANU dan Audax. ANU merupakan komunitas peturing dari Rombongan Bekasi (maaf kalau salah persepsi ya ….). Awalnya tak pikir ANU itu semacam “anu” gitu. Ternyata itu singkatan dari Ascending Nuts Undisputable.

Soal apa itu Audax bisa dibaca di bawah ini.

Audax berawal sekitar akhir abad ke-19, ketika di Italia populer dengan olahraga menantang sepanjang hari. Peserta bertujuan menempuh jarak sejauh mungkin dan membuktikan dirinya audax (= berani). Kegiatan audax di bidang sepeda yang pertama kali tercatat adalah tanggal 12 Juni 1897 ketika 12 pedalis Italia berusaha menaklukkan jarak Roma ke Naples (sekitar 230 km) selama sehari. …. (Sumber)

Lantas terbersit untuk mengetes Polygon Urbano keluaran awal (beli sekitar tahun 2009) yang kala itu merek Dahon menjadi buah bibir. Sekarang sudah punya Dahon juga, tapi buah bibirnya sudah berbeda: Brompton. Bener gak sih??

Bukan tanpa alasan pingin njajal Urbano. Pertama, sudah lama tidak dipakai untuk gowes jarak jauh. Selama ini dipakai untuk keliling kampung saja. Kedua, dapat limbah FD dan dual chainring dari teman yang batal dipasang ke selinya.

Sebelumnya sudah dicoba dari Stasiun Cibadak Sukabumi menuju Riam Jeram, Warung Kiara, Sukabumi. Menuju tempat penginapan Riam Jeram jalan berkelak-kelok turun (dan naik ketika pulang) sudah menjadi pemanasan bagi Urbano.

***

Akhirnya, Sabtu 3 Maret 2018 pukul 04.00 saya pun beberes. Sepeda dan perlengkapan aku masukkan bagasi mobil. Makan dua telor rebus dan setangkup roti tawar, setengah jam kemudian saya sudah keluar rumah. Saya perkirakan dari Condet menuju Masjid Al Azhar Sumarecon Bekasi tak butuh waktu lama. Dengan jarak tak sampai 30 km dan lewat tol di dini hari, maka 20 menit adalah waktu yang masuk akal.

Namun apa daya. Awalnya terbersit untuk lewat jalur Kalimalang saja. Toh masih dini hari tentu jalanan masih lengang. Tergoda lewat tol, saya pun sigap masuk tol Jakarta Cikampek dari pintu Halim-Cawang. Tapi baru sampai Pondokgede, lalu lintas langsung macet.

WhatsApp Image 2018-03-03 at 05.00.20
Macet dini hari tol Japek.

Waktu berjalan sementara diriku diam terpaku saja. Memandang di kejauhan mencoba mencari tahu sumber kemacetan. Memang saya sudah tahu ada pengerjaan tol layang di jalur ini. Tapi masak bisa macet separah ini, bahkan sebelum pintu tol Bekasi Barat.

Saya pun memutuskan untuk keluar pintu tol Jatibening, sehingga ketika arus kendaraan mulai bergerak saya menggoyangkan diri ke kiri. Soalnya posisi saat itu ada di lajur paling kanan. Lewat dari waktu yang ditentukan, saya pun sudah mengangkat bendera putih. Siap-siap ditinggal.

Keluar Jatibening dan melewati pertigaan Caman, saya kembali terantuk kemacetan di depan Masjid Al Azhar Pondokkelapa. Tak sempat untuk menyelinap masuk komplek perumahan dan menghindari kemacetan. Sampai akhirnya tiba di titik start sekitar pukul 06.30.

anudax telat hehe
Sudah sepi peserta ANUDAX.

Saya langsung beres2, tapi karena terburu-buru ada barang yang ketinggalan dipasang. Apa itu? Ah, sudahlah ….

anudax peserta minus saya
Peserta Anudax 300. Untung saya tidak ikut foto bareng. Terlihat aneh sendiri ntar.

Awalnya saya langsung mau gowes, tapi Elbir (elang biru, kolbak yang mengiringi peserta Anudax dan berfungsi sebagai ‘sarang’ logistik dan evakuasi) menawarkan untuk mengejar rombongan. Tapi jalanan pagi itu sudah cukup ramai sehingga sebenarnya malah tidak lebih cepat jika menggowes saja.

Ketika ada peserta tercecer karena ban bocor dan ikut sampai menemukan tukang tambal ban, saya pun turun dari Elbir dan gowes menyusul rombongan depan.

Saat berhenti membetulkan tas setang, tiba2 muncul Om Dirman dan temannya yang ternyata juga telat start. Tapi mereka pakai erbeh (roadbike) sehingga langsung melesat. Saya pun kembali sendirian. Menikmati pagi hari yang sudah disibukkan lalu lalang kendaraan roda dua dan empat.

anudax nyasar DSCN8905
Sepengal jalan yang dilewati Anudax.

Terbuai oleh obrolan dengan seorang penggowes juga, dan ternyata arah yang saya ambil juga benar (saya jelaskan mau ke Rengasdengklok, dan diarahkan lurus ke Tambelang, trus nanti nanya lagi) saya pun mempercepat kayuhan. Sayang di beberapa ruas jalanan rusak sehingga kecepatan Urbano berkurang.

Rute ini sepertinya menjadi jalur mobilitas penggowes juga. Terbukti saya berpapasan dengan beberapa goweser. Saling sapa meski belum kenal. Sampai kemudian saya berpapasan dengan seorang goweser yang saya kenal.

“Salah jalan!” teriaknya yang ternyata Om Afri. Masih agak ragu2, tapi saya tetap harus bertemu dengan Om Afri karena masih terhitung saudara dari istri hehe…. Setelah salaman dan basa-basi sejenak, saya pun ngikut balik. Harusnya setelah jembatan belok kiri menyusuri sungai menuju Pakisjaya. Di peta nama jalannya Jalan CBL. Googling di Internet, CBL ini singkatan dari Cikarang Bekasi Laut.

Selain itu, dia menambahkan Jalan Raya CBL diakuinya sebagai jalan utama yang menjadi urat nadi aktivitas warga Kabupaten Bekasi. Selain sebagai Jalan penghubung wilayah utara Kabupaten Bekasi dengan Wilayah Cikarang, Jalan tersebut juga merupakan jalan alternatif warga untuk menuju ke pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi selain melalui jalur utama Tambun atau Kalimalang yang kerap mengalami kemacetan. (Sumber.)

Seperti diberitakan oleh Warta Kota tadi, jalan ini memang sudah dibeton. Meski di beberapa lokasi sudah berlubang. Bisa dibayangkan bagaimana jalan beton berlubang. Om Afri sudah tidak terlihat. Jadi saya sendirian lagi. Makin lama jalannya makin halus.

Pas di pertigaan Pasar Muara, saya bertanya ke seorang pengatur jalan.

“Tadi yang bersepeda lewat mana Bang?”

“Lurus!”

Saya pun mengayuh kembali. Tanpa mengecek rute, kayuhan saya percepat sampai sadar. Kok arahnya seperti ke utara ya. Harusnya kan ke Timur. Buka ponsel dan cek rute. Eh, kok benar sih? Tapi tetap ragu2. Bertanyalah kepada seorang ibu2 yang sedang menunggu warung.

Mungkin karena lagi bete menjawa warung yang belum ada pembeli di sepagi itu, jawaban ibu2 agak sengak juga ketika saya tanya2 rute alternatif. Maksudku aku tidak perlu balik ke pertigaan Pasar Muara tadi.

“Bisa saja lurus. Ntar naik eretan nyebrang!” kata2 terakhir yang aku dengar karena aku buru2 berucap terima kasih dan langsung putar balik.

Saya baru sadar dengan omongan pengatur jalanan di pertigaan Pasar Muara tadi bahwa rombongan pesepeda yang lurus itu adalah rombongan pesepeda yang akan mancing. Saya sempat mendahului mereka di sebuah persimpangan jalan.

anudax 2018-03-05
Untung nyasarnya belum terlalu jauh. Cuma jalannya di sini cukup jelek.

***

Setelah nyasar kedua ini saya jadi down. Apalagi jalur yang dilalui mulai terasa panas. Tapi, selepas Pasar Muara, kita akan melihat seberapa dahsyatnya “gudang beras” Karawang. Hamparan padi yang menghijau dengan irigasinya yang sudah tertata menjadi pemandangan di kanan kiri rute sebelum akhirnya masuk jalan Pantura di daerah Pamanukan.

Ketika ngecek grup WA, saya tahu sudah tertinggal sekitar 50 km dari rombongan depan. Sementara ada dua peserta yang tercecer ada di depan saya. Tapi itu pun terpaut 20-an km. Alias sejam lebih gowes dengan Urbano.

Ketika yang lain pit stop makan siang di Ma’Pinah, saya sedang mengejar Om Afri dan Om Tono. Kebetulan saya makan siangnya agak maju di Pedes, di sebuah pertigaan sebelum mengarah ke Cilamaya. Rute yang panas sebenarnya tak menimbulkan rasa lapar, tapi haus yang teramat sangat. Entah sudah berapa kali berhenti mampir Alfamart atau Indomart.

Sewaktu makan siang, saya sempat memergoki ban belakang Urbano ada yang “aneh”. Ya, lama gak dibelai jadi kurang diperhatikan.

anudax ban urbano
Menggembung di tengah, mengintip kawatnya.

Makanya pas ngejar rombongan depan agak was2 juga. Beruntung sebagian besar jalan sudah beton. Pas kehausan di wilayah Turi dan minum es buah, saya buka WA lagi. Om Afri dan Om Tono menunggu di Alfamart Blanakan 2. Sekitar 17 km di depan kalau aku lihat di Google Maps. Segera aku membayar dan mengayuh Urbano lagi.

Sayang, mungkin kelamaan menunggu, mereka sudah bergerak maju lagi. “Sekitar sepuluh menit yang lalu,” kata seorang bapak yang habis belanja di Alfamart.

Yah! batinku, yang kemudian menggenjot lagi.

Akhirnya, dengan peluh perjuangan bisa juga bertemu dengan Om Afri dan Om Tono di Alfamart daerah Muara, tak seberapa jauh dari jalur Pantura, Ciasem.

Uhh …

***

Melewati jalur Pantura mengingatkan diriku saat Gowes Waisak. Banyak kejadian menarik saat itu. Mau tahu apa saja yang menarik itu? Baca di sini: Jakarta – Jogja Empat Hari. Bagian Pertama. Bagian Kedua. Bagian Ketiga. Bagian Keempat.

Ternyata Elbir mengepak sayapnya dengan begitu kuatnya. Saya mencari posisi duduk yang enak dan mulai memejamkan mata. Buff kututupkan ke sekujur muka. Om Afri masih mengajak bicara. Tapi aku sudah berada dalam dua dunia hehe …

Bangun2 aku sudah merasakan di ruas jalan menuju Subang. Kami belok kanan di Patrol, menuju arah Subang. Di CP12 di sekitar daerah Cadasngampar kami pun berhenti.

Istirahat sejenak, aku langsung mengayuh pedal lagi. Jalanan aspal mulus dan sepertinya habis hujan deras. Di kejauhan terdengar guntur menggelegar. Masih hujan atau sudah mau menyelesaikan hujannya ya? Meski tak masalah dengan hujan, namun gowes di kondisi kering tentu lebih nyaman.

Melintasi Tol Cipali yang sore itu terlihat sepi, jalanan mulai menanjak alus. Baru sekali ini saya lewat jalur ini. Sementara tenaga juga bisa dibilang masih segar. Jadi wajar saja jika kemudian aku menyalip salah seorang peserta yang merayap jalan miring ke atas dengan pelan2.

Di salah satu segmen perjalanan ini saya jadi teringat dengan kampung halaman saat melihat kuburan di sisi kiri jalan arah perjalananku. Lansekap kuburan dan juga pepohonannya menerbangkan anganku di masa kecil ketika bersama teman2 belajar di sore hari di bawah pohon kamboja.

Ada satu hal yang selalu saya ingat, mesti lupa detailnya: cari bunga kamboja yang kelopaknya ganjil (3 atau 5 ya) dan selipkan di buku tulis. Pasti pelajaran di buku tulis itu akan dengan mudah kita kuasai. Kalau tidak menemukan bunga kamboja dengan kelopak ganjil?

Gampang …. cabut saja satu kelopaknya! (Padahal pasti ketahuan juga karena meninggalkan bekas). Duh, jadi melankolis ….

CP 13 tak jauh dari pintu masuk PT Dahana Subang akhirnya terjejak. Elbir yang tadi menyalipku sudah menunggu di sana. Di sini saya bertemu dengan Wiko, yang mengajak saya ikut Anudax ini. Beberapa peserta mengerubungi Elbir untuk mengambil buah atau minuman. Juga menyiapkan lampu untuk menemani malam yang akan segera turun.

Saya mengisi bidon dengan es jeruk yang suangat uenakk. Pas banget komposisinya.

Jalanan menuju Kalijati masih mulus. Saya jadi teringat ketika Urbano dari arah yang berlawanan menuju ke Subang kota. Waktu itu KGC sedang mengadakan turing Jakarta – Bandung via Subang. Dalam kondisi gelap juga saya melintasi wilayah Kalijati ke kota Subang menuju rumah Kang Gun. Di Subang kami menginap semalam sebelum esoknya melanjutkan ke Bandung via Tangkubanparahu.

Berbeda dengan Urbano saat Jakarta – Bandung via Subang yang masih culun, kali ini Urbano sudah memakai doube crank dan sprocket 8. Plus pedal cleat. Jadinya tanjakan sudah gak ngap2 lagi. Juga pede saja sambil berdiri tanpa was2 sepatu kepleset.

Tiba di CP14 masih masuk dalam rombongan depan. Jadi punya waktu banyak untuk istirahat. Bahkan sempat tertidur dan ketika pesanan sop buntutku kutanyakan ke petugas rumah makan ternyata sudah diambil orang yang juga pesan. Beruntung Om Iwan Big yang memesan sop ikan ternyata menunya cukup untuk berdua. Kebetulan pula masih ada sisa nasi di bakul.

Selalu ada jalan keluar ….

Hujan akhirnya turun juga. Ketika rombongan siap2 melanjutkan perjalanan dari CP14 ini. Beruntung pakai seli yang sudah ber-fender. Tidak khawatir dengan cipratan air dari roda depan dan belakang.

anudax WhatsApp Image 2018-03-04 at 01.35.59
Parkir di CP14 tempat makan malam.

Meski masih menyisakan 6 CP lagi, gowes malam tak semeletihkan gowes siang hari. Apalagi ditambah dengan rintik hujan sehingga kudu terus bergerak.

Berhubung sudah malam dan banyak yang terlihat sudah kelelahan, maka RC memutuskan untuk lewat jalur biasa saja. Seharusnya kalau ikut GPX yang dibagikan, dari jalur utama Subang – Cikampek belok kanan menuju Kebun Cikumpay PTP VIII (daerah Cibatu) dan melintasi Tol Cipali. Tembusnya di daerah Cikopo, tak jauh dari ujung Jalan Ir. H. Juanda.

Hanya rombongan depan yang lewat jalur itu. Menurut mereka yang lewat jalan ini, kondisinya rusak. Dan melewati tanjakan juga.

Lewat jalur utama memang jalanan mulus dan terang. Menanjak alus sampai ke pintuk keluar tol Jakarta – Cikampek.

Saat RC memutuskan untuk regrouping di dekat pintu keluar tol Jakarta – Cikampek, saya mendahului dengan jalan pelan. Takut kelamaan berhenti jadi dingin badan. Hujan sudah berhenti. Jersey mulai mengering.

Menyusuri Karawang – Bekasi jadi teringat dengan puisi Chairil Anwar.

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

(Karawang Bekasi, Chairil Anwar)

Aku hanya bisa bicara dengan diri sendiri. Terlebih selepas Tambun (CP 20) karena ternyata tak ada peserta yang kembali ke Masjid Al Azhar Sumarecon Bekasi.

anudax WhatsApp Image 2018-03-04 at 02.02.37
Check point terakhir … dan masih 10-an km lagi.

Sudah malas membuka GMaps, saya pun bertanya2 ke setiap orang yang kusua jalan menuju Sumarecon. Bayangan saya akan masuk lewat pintu depan yang ada jembatannya itu. Setidaknya ingin berswafoto di sini. Nyatanya jalan yang kulalui tembus dari bagian belakang Sumarecon. Mirip dengan keberangkatan di pagi hari.

Ada tiga peserta yang ternyata barusan sampai juga, tapi lewat jalur lain. Saya segera membenahi sepeda, memasukkan ke mobil, dan menenggak es jeruk sisa di bidon. Lewat tengah hari, pikirku. Meski tidak bulat mengayuh mengikuti rute, namun jarak tempuh mendekati 300 km.

Terima kasih kepada tim Robek atas kesempatan ini.

(Foto2: Nte Olla)

https://connect.garmin.com/modern/activity/embed/2535458792

*) Agar lebih nyaman, setang menunduk (dropbar) wajib untuk turing jarak jauh begini. Terasa banget pas di jalanan beton mulus, lurus, sepi, dan panjang tapi menantang angin. Mencoba membungkuk dengan menekuk siku dan meletakkan lengan tangan bawah di setang hanya bertahan beberapa kilometer saja.

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s