Ojo Gelo nang Banyutibo

gussur.com – Salah satu agenda mudik kemarin adalah survey daerah tujuan wisata yang akan dikunjungi si sulung sama teman2nya. Saya kalau sendirian atau ngajak anak2 hampir gak pernah tahu kondisi tujuan plesiran kami. Kejutan menjadi bagian dari plesiran itu.

Masalahnya, ini melibatkan anak2 orang. Meski mereka sudah akrab, jangan sampai jauh2 datang ke tempat wisata yang ada hanya kecewa (gelo).

Selain itu, Instagram tak seindah kasunyatan (kenyataan). Banyak syarat dan ketentuan menempel dalam foto2 di Instagram.

Banyu tibo (air jatuh) menjadi salah satu tujuan si sulung. Googling deh. Pasti banyak kita temukan pemandangan indah dan syantik seputar wisata ini.

Tapi apa yang kami temui?

Memakai jurus panduan GMaps, ada POI Banyu tibo. Tapi setelah saya susuri ternyata berhenti di Pantai Siung. Di pertigaan arah Pantai Siung dari jalan utama memang ada plang petunjuk Banyu tibo masih lurus.

Oke, kami ke Pantai Siung dulu. Tanya2 Buk Ibuk penjual nasi bisa ke Banyutibo dari Pantai Siung. Tapi jalan melintasi dua bukit. Jangan tanya soal jarak. Cuma 1 km kata si Ibuk.

Saya iyakan dan kami menikmati Pantai Siung dulu.

pantai siung
Pantai Siung.

Puas menjelajah pantai kami beringsut keluar menuju Banyutibo. Pas bayar parkir, ternyata petugas minta 10rb. Diminta karcis kebingungan, akhirnya berdamai dengan separo harga.

Persimpangan Banyutibo tak seberapa jauh dari persimpangan Pantai Siung. Arah ke timur, ke Pantai Wediombo. Hanya saja jalan ke lokasi bukan aspal tapi beton. Di petunjuk arah tertulis Banyutibo 5 km.

Jalan beton ini cukup satu mobil. Kebayang kalau papasan harus nyari tempat lapang.

Sekitar 3 km, plang petunjuk Banyutibo mengarah ke kiri, arah jalan setapak! Waduh… jalan kaki sisanya.

Ketika sedang kebingungan, seorang pemuda menunjukkan tempat lapang pinggir jalan sebagai tempat parkir mobil.

“Mau ngojek Pak?” sapa dia ketika saya sudah turun mobil. Biaya ngojek 15rb rupiah. Dia nawari lepas kunci kalau mau. Anak2 mau jalan kaki saja.

Baiklah… Saya tentu lebih suka jalan kaki. Ada sepenggal masa kecil jalan kaki di wilayah pegunungan seribu ini. Jadi, ya nggak masalah.

Jalan setapak tadi sedikit menanjak sebelum akhirnya melandai. Tak seberapa lama menikung dengan plang peringatan yang membuatku tergelitik bertanya-tanya. Intinya suruh membunyikan klakson.

Ketika kami sudah menikung baru ngeh peringatan tadi. Selepas tikungan tadi, jalan setapak tak selebar sebelumnya. Jadi memang harus memberi sinyal ke kendaraan dari arah “dalam” supaya mereka tahu kita mau lewat.

Jalan setapak kemudian menanjak dengan beton yang sudah digarit2 layaknya tempe goreng garit. Maksudnya tentu biar tidak licin jika basah kena air hujan. Tanjakan cukup menguras tenaga.

Tak ada tanjakan yang tak berpuncak. Begitu juga dengan tanjakan beton bergarit ini. Turunan beton bergarit ini melintasi ladang dan kandang sapi. Jadi jangan kaget jika mencium bau tak sedap. Sedap di sini tentu tak nyaman buat hidung. Kalau nyaman, bisa runyam industri parfum.

Plang petunjuk.

Selepas ini jalan setapak beralaskan tanah telanjang. Di musim kemarau seperti ini, jalanan seperti ini bikin debu mengepul dan kaki plus sendal jadi kotor. Kanan kiri ladang ditanami ketela, tanaman tahan banting yang dulu di masa kecil sering kami – saya dan teman2 tentunya – jahili dengan mengambil ketelanya tanpa mencabut pohonnya.

“Kok mboten beto kreta?” seorang ibu-ibu menyapa kami. Kreta di sini maksudnya motor. (Setelah sampai di lokasi baru ngeh ternyata hampir semua pengunjung membawa motor.)

Jalur setapak ini berakhir di sebuah tanah lapang tempat parkir motor2 pengunjung. La, terus mana Banyutibo?

Ternyata plang penunjuk masih mengarahkan untuk belok kiri sebelum tempat parkir tadi. Jalan ke kiri ini turun berundak, yang tidak memungkinkan motor lewat. Jadi, perjalanan seterusnya dilanjutkan dengan jalan kaki.

Turunan berundak dan berkelak-kelok itu menuntun kami ke pinggiran kali yang airnya mengalir bersembunyi di sela-sela bebatuan yang beragam besarnya. Di beberapa tempat air menggenang di sebuah cekungan. Saya pun sudah menebak bahwa tak ada air terjun kali ini di Banyutibo.

Benarlah dugaanku. Seorang bapak-bapak yang sedang memperbaiki tempat selfie bercerita kalau di Banyutibo sudah beberapa minggu tidak diguyur hujan. Jadi, air terjun yang jadi keunikan tempat ini untuk sementara absen dulu. Sembunyi menyimpan energi untuk beraksi saat musim hujan mengguyur.

Tapi, Banyutibo tak sekadar air terjun. Di sini menjadi titik pemancingan yang menurut bapak-bapak tadi sering didatangi orang yang kurang kerjaan. “La mancing berhari-hari di sana,” katanya sambil menunjuk sebuah bukit yang menjorok di lepas laut.

Tak jauh dari Banyutibo ada Bukit Pengilon, sebuah bukit yang dijadikan tempat berkemah dengan pemandangan laut lepas. Dari atas hamparan rumput di bukit ini kita bisa melihat segalanya. Ke arah barat terlihat keindahan Pantai Siung. Sedangkan ke arah timur kita bisa menikmati keindahan Pantai Wedi Ombo dan Pantai Watu Lumbung.

Semua keindahan itu akan maksimal jika berkunjung di musim hujan. Rumput menghijau dan Banyutibo tak ingkar janji, menerjunkan air dengan deras.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s