Ramai-ramai ‘Menyiksa Diri’ di Atas Sadel Sepeda

Mereka menamakan dirinya “kesatria malam” karena saat menggowes selalu berakhir di malam hari. Aktivitas yang sepertinya menyiksa tubuh ini dilakoni dengan kegembiraan karena berbagai alasan.

Malam sudah turun memeluk perkampungan Desa Jambearum, Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Orang-orang sudah masuk rumah. Ada yang menonton TV, ada yang bercengkerama di teras rumah, beberapa mengaji di masjid atau musala setempat. Namun sekelompok orang justru sedang memburu waktu di atas sadel sepeda mereka. Jelas saja kehadiran mereka menimbulkan tanda tanya penduduk meski tidak ada yang menghentikan dan bertanya mau ke mana mereka.

Para pesepeda itu sedang menuju ke Senduro, sebuah kecamatan persinggahan dalam jalur objek wisata ke Puncak B29, Bromo. Mereka terbagi dalam beberapa rombongan karena kecepatan kayuhnya berbeda-beda. Ade Anwar (41) termasuk rombongan yang belakang, bersama tiga temannya, mengejar waktu yang terbuang karena beberapa hal. “Ada yang mengalami masalah rem. Ada yang mengambil jalur lain tanpa memberi tahu temannya,” kata Ade yang menggagas kegiatan Songo-G, bersepeda gunung menjelajah sembilan gunung di wilayah Malang dan sekitarnya. Event ini diikuti oleh 23 pesepeda, tiga di antaranya dari mancanegara (dua dari Singapura dan satu dari Swis).

Malam itu merupakan hari ketiga kegiatan mereka. Sudah dua hari mereka meninggalkan Malang. Hari pertama menuju Batu, dilanjutkan ke Waduk Karangkates, lalu Senduro. Dari Senduro mereka akan menuju Bromo sebelum akhirnya kembali lagi ke Malang. Event yang disokong oleh Focus Bikes (industri sepeda asal Jerman yang didirikan oleh Mike Kluge, juara dunia cyclocross tiga kali) ini direncanakan menempuh jarak sekitar 400 km dengan total elevasi 13.000 m. Sebagai perbandingan, Puncak Everest sebagai titik tertinggi di muka Bumi ini sekitar 8.850 m. 

Jangan membayangkan bahwa jalur yang mereka lalui aspal datar dan perkampungan. Mereka mencoba mengeksplorasi wilayah yang cocok dengan habitat sepeda yang mereka naiki: sepeda gunung! Jadi, jalurnya tidak biasa. Seperti hari pertama dari Malang ke Batu. Jika mengikuti jalur aspal, maka jaraknya paling sekitar 20-an km. Meski menanjak, ditempuh dengan sepeda gunung hanya butuh waktu sekitar 5 jam.

“Kami mencoba menghindari jalan aspal dan Indomaret,” seloroh Ade. Alhasil, Malang – Batu pun harus ditempuh dengan jalur memutar. Menyisir lereng Gunung Arjuno, Gunung Kembar 1 dan 2, serta Welirang. Jaraknya pun menjadi melar, lebih dari 100 km. Sampai di Batu pun waktu sudah beranjak malam.

Dorong sampai panggul dilakukan.

Nyasar hal biasa

Gowes sampai malam memang menjadi ciri khas Ade dan kawan-kawan. Tak berlebihan jika mereka kemudian menamakan diri K-Night. Ada beberapa interpretasi dari K-Night itu. Jika dibaca langsung bisa menjadi knight alias kesatria. Tapi mereka lebih suka memanjangkan k di situ adalah sebagai kalong. Atau ya kesatria saja. Jadilah kesatria malam atau kalong malam. Malam bagi mereka tak terbatas pada pukul 22.00 atau 23.00. Tak jarang mereka masih mengayuh pedal ketika detak jam menggulirkan penanggalan ke angka yang baru.

“Waktu ke Senduro itu kami tiba jam setengah dua dini hari,” kata Ade. Lamanya waktu tempuh selain karena kontur jalan yang penuh tanjakan juga saling menunggu, terutama ketika malam sudah tiba. Melewati Desa Jambearum tadi mereka harus melintasi beberapa jalan rolling (kontur jalan naik turun).

“Kalau mendekati malam kami biasanya regrouping,” kata Iwan Wahyu Priyawan (42) yang di kalangan teman-temannya dipanggil Om Big karena badannya memang besar. (Di kalangan pesepeda panggilan untuk laki-laki adalah Om dan untuk wanita Tante atau Nte.)

Penyebab gowes sampai malam lainnya adalah nyasar! Dari sinilah kemudian muncul istilah ‘es potong’. Maksudnya mencari jalan pintas agar kembali ke jalur semula. Jalur pintas ini bisa berupa aspal mulus, jalan setapak, jalur berbatu, atau menerabas ilalang. Kalau ‘es potong’ terakhir yang diambil, konsekuensinya ya siap-siap harus menggotong atau mengangkat sepeda.

Kejadian menggotong atau mengangkat sepeda itu terjadi pada hari kedua Batu – Karangkates. Selepas menyusuri jalan beraspal menuju objek wisata Songgoriti, trek kemudian masuk ke perkampungan dengan penunjuk ke Coban Rondo. Nah, ketika asyik merayapi jalan setapak yang sedikit becek itu, tiba-tiba jalan buntu.

Off track nih. Harusnya di sebelah sana,” kata Iwan menunjuk ke atas bukit. O ya, trek yang akan dilintasi sudah disimulasikan ke dalam sebuah file berekstension gpx. File ini lalu di unggah ke alat navigasi masing-masing peserta, yang kebanyakan bermerek Garmin. Nah, kita tinggal mengikuti jalur yang sudah ditandai itu. Atau suruh alat navigasi menunjukkan arah.

Setelah bertanya kepada seorang bapak tua yang sedang mencari rumput buat ternak mereka, diputuskan untuk memotong jalur, menerabas rerumputan. Lamat-lamat ada jalan setapak yang sudah lama tak dilintasi sehingga rerumputan pun “menguburnya”. Sedikit repot tentunya mendorong sepeda menerabas rerumputan. Terkadang harus menaiki tebing kecil. Ada yang akhirnya memanggul sepedanya.

Berteman kabut.

Merasakan penderitaan sang anak

Bapak tadi seakan heran melihat kelakuan para pesepeda itu yang repot-repot mendorong dan memanggul sepedanya. Sama herannya dengan seorang pengendara motor yang saya tanya apa melihat para pesepeda turun? “Iya, tadi ada yang turun, tapi terus belok kiri di situ. Padahal itu jalan buntu. Yang bener ya jalan terus saja ikutin jalur ini, nanti ketemu kampung.” Ketika saya mencoba menyusul, benar saja. Jalanan buntu dan kembali angkat-angkat sepeda.

Sejatinya, apa yang mereka cari? Dengan total elevasi sebegitu banyak, pastilah tanjakan demi tanjakan harus dilewati. Tak jarang harus dengan berzig-zag agar bisa sampai ke puncak tanjakan. Belum lagi didera hujan seperti di hari pertama. “Ya, sudah hobi sih,” kata salah seorang peserta. Yang lain menimpali, “Rasanya puas bisa ‘menyiksa tubuh’ demi suatu tujuan.”

Ade Anwar memiliki jawaban lain. “Saya ingin merasakan penderitaan anak saya,” katanya. Karyawan perusahaan minyak ini lalu bercerita soal anak bungsunya yang menderita tuli berat akibat saraf dengarnya rusak. Agar bisa mendengar, maka harus diimplant saraf dengarnya itu. “Operasinya sampai empat kali dan waktu operasinya masing-masing sepuluh jam.”

Nah, untuk menghilangkan stres memikirkan buah hatinya yang kala itu masih berusia tiga tahun, Ade yang sebelumnya antiolahraga itu mencoba menekuni sepeda. “Saya lalu bersepeda yang menguras tenaga demi merasakan perjuangan anak saya. Itu pun belum seberapa dibandingkan apa yang dirasakan anak saya.”

Bagi Ade, Songo-G bukanlah event pertama “menziarahi perjuangan anaknya” itu. Ada 7G pada tahun 2016 di Jateng, gowes menyusuri tujuh gunung (G. Ungaran, G. Telomoyo, G. Sindoro, G. Sumbing, G. Merapi, G. Merbabu, dan Dieng Plateau). Lalu 4G pada 2015, yang mengambil lokasi di Jawa Barat (G. Galunggung, G. Talagabdas, G. Cikuray, G. Satria). Juga mengelilingi Taman Nasional Gunung Halimun , Gunung Ciremai di Kuningan, Jawa Barat, dll.

Dari semua “penziarahan” itu, gowes dari Bogor ke Tasik menjadi momen yang berkesan baginya. Hari pertama dari Bogor ke Kawah Putih di Ciwidey Jabar ditempuh dalam waktu hampir 27 jam. Hari berikutnya, berdua bersama temannya, mencoba menuju Puncak Papandayan namun tidak sampai karena sudah kemalaman. “Terpaksa menginap di gubuk petani di ketinggian 1.900 mdpl. Ada dua petani bersama kami waktu itu yang baru kami kenal. Was-was juga kalau di-apa-apain sama petani itu,” tutur Ade yang ternyata kekhawatirannya tak beralasan.

‘Menyiksa dengkul’ sampai lebih dari 20 jam kemudian menjadi hal yang biasa bagi Ade dan kawan-kawannya. Bogor – Sawarna misalnya, ditempuh setelah menggowes selama 26 jam. Lalu memutari Gunung Gede Pangrango dalam waktu 22 jam. “Puas saja kalau badan sampai letih begitu,” katanya.

Mengenang dalam frame.

Capek, ya istirahat

Kepuasan yang sama juga dirasakan oleh Iwan. Gowes berjam-jam sampai matahari berganti bulan membuatnya bisa lepas dari beban pekerjaan. “Saya fun-fun saja kok. Atau dibuat fun. Di sisi lain saya mencoba untuk selalu raise my bar,” jawabnya saat ditanya apa yang dicari dari aktivitasnya yang tidak biasa itu.

Bahkan sebelum ikut Songo-G, Iwan yang bersepeda semenjak lututnya cedera karena olahraga basket itu ikut kegiatan Bromo 100K. Ini adalah kegiatan yang diselenggarakan sebuah media di Jawa Timur dengan bersepeda dari Surabaya menuju ke Bromo.

Iwan tidak memaksa dalam setiap kayuhannya. “Kalau sudah di luar kapasitas dan memaksa itu menyiksa tubuh namanya. Kalau sudah capek ya istirahat,” kata Iwan. Seperti di hari pertama saat harus melintasi tanjakan di Cangar, kawasan Taman Hutan Rakyat Soeryo, Malang, malam hari, ia tidak memaksa harus mengayuh pedal untuk sampai puncak tanjakan. Jika sudah tidak kuat ya turun dan menuntun sepedanya.

Ada beberapa alasan mengapa Iwan memilih bersepeda. “Olahraga yang menyehatkan. Bisa dijadikan alat untuk berpiknik, menikmati alam. Serta menjalin pertemanan,” katanya.

Pertemanan itulah yang saya rasakan saat ikut Songo-G membuat aktivitas berjam-jam menggowes tidak terasa melelahkan. Setiap berhenti untuk menunggu teman yang masih ada di belakang, selalu saja ada guyonan atau obrolan yang membuat gelak tawa. Alhasil, setiap gowesan yang dilakoni Iwan selalu berkesan. Meski saat menjalaninya harus merasakan sengatan matahari, kondisi jalan rusak, tanjakan yang seperti tak berkesudahan, atau harus menggotong sepedanya.

Seperti yang dikatakan oleh Cesare Pavese, penulis puisi asal Italia, “we do not remember days, we remember moments”. Ya, momen itu yang akan mengendap di pikiran para “kesatria malam”, termasuk malam-malam melintasi perkampungan di Desa Jambearum, menuju Kecamatan Senduro.

Risiko bersepeda.

Waspadai Overtraining

Berolahraga keras boleh-boleh saja. Namun, dr. Michael Triangto, Sp.KO mewanti-wanti, jangan sampai kita overtraining. Ketika produktivitas kerja menurun, merasa cepat lelah, memiliki masalah kesehatan, lebih cepat mengantuk, lebih cepat capek, sakit kepala, konsentrasi menurun, penurunan respon denyut jantung, hingga warna urine semakin keruh, kita mesti waspada. Pasalnya, tidak hanya membuat badan sakit, latihan berlebih juga rentan melahirkan cedera.

Olahraga berlebihan memang memiliki efek buruk pada sistem kekebalan tubuh. Penelitian menunjukkan, kerusakan sel yang terjadi akibat olahraga berlebih dapat mengubah aktivitas sel pembunuh kuman alami dan meningkatkan aktivitas limfosit darah perifer.

Jika hal itu diteruskan, tak hanya mengundang cedera, tubuh kita akan rentan terserang infeksi saluran pernapasan, seperti pilek, flu, dan amandel. Pada keadaan seperti ini kita perlu istirahat untuk memulihkan kebugaran tubuh.

Jika intensitas latihan berbanding waktu dibuat grafik, kurva yang muncul mirip sebuah lonceng. Ketika sudah mencapai puncak, kurvanya akan menurun ketika intensitas latihannya tidak dijaga. “Jika kurva mulai menurun, harus dilakukan upaya jangan sampai meluncur terus ke bawah. Paling tidak dibuat stabil atau naik sedikit-demi sedikit untuk kemudian kembali naik lagi,” jelas Michael.

Menghindari dampak buruk olahraga berlebihan, kita mesti membuat program latihan yang seimbang dan masa istirahat yang cukup. Selain itu, kita juga wajib meninggalkan kebiasaan meningkatkan intensitas olahraga saat merasa enak ketika berlatih. Ingat, meningkatkan intensitas latihan ada tata caranya. Prinsip dasarnya, tidak boleh menaikkan porsi latihan lebih dari 10% setiap minggunya. Sebaiknya, selingi juga hari-hari/minggu-minggu latihan berat dengan latihan ringan.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s