Gunung Batu Jonggol Ride, Punahnya Triple Crankset?

gussur.com – Jika diperhatikan, dengan munculnya casette 12 sp, banyak MTB rakitan sekarang mulai meninggalkan crank bertumpuk tiga. Sebagai gantinya dua atau malahan satu. Simpel dan bisa memenuhi segala medan.

Aku merasakan betapa ribetnya menggunakan MTB jadul ketika waktu ngoprek mepet. Ribet karena gak piawai setting sepeda sih hehe… Nyari alasan saja.

Begini ceritanya. Niat main MTB tiba-tiba menyelinap di pikiran. Meski tak lagi ada sepeda gunung di rumah, tapi ada sepeda inventaris pedalku.com yang bisa dimanfaatkan. Mengontak Fami, dapatlah sepeda MTB. Ambil Jumat tapi baru dicek Sabtu malam.

Ternyata ada masalah di shifting. Setel FD dan RD lumayan membaik. Tapi sudah jam 12 malam. Padahal besok subuh dah harus bangun.

Bertemu dengan teman-teman di depan Perumahan Mahogany Cibubur. Ada Om Yopi dan Om Alloy yang sedang menunggu Om Debe yang tinggal di Mahogany. Melihat penampilan mereka, aku langsung keder. Anggota aktif KNight, weekend warrior goweser, dan sepeda MTB kekinian.

Apa tuh MTB kekinian?

Cassette sudah mengadopsi 12 speed dan crankset single atau double menjadi ciri khas MTB kekinian. Daftar bisa ditambah dengan diameter roda 27,5″ atau 29″ dan bahan frame karbon!

Menjejerkan Thrill yang aku naiki dengan MTB kekinian sepintas tidak jauh berbeda. Tapi kalau ditelisik ya beda jauh. Bannya saja yang kekinian, 27.5″.

Cassette kekinian yang siap buat main tanjakan.

Pukul 04.00 bangun. Mempersiapkan peralatan gowes, mandi, sejam kemudian sudah menembus udara Condet menuju Cibubur. Shifting sepeda masih aman. Pergeserannya mulus tanpa hentakan tenaga.

Perjalanan Cibubur – Citra Indah Jonggol menjadi pemanasan dengkul yang benar-benar memacu seluruh tenaga. Absen begitu lama dari menggowes dan memang tunggangan juga kalah segala-galanya membuat aku menghemat tenaga. Kecepatan 30 kpj hanya bisa memandang ketiganya bak bintang di langit.

Ini adalah petualangan pertama bersepeda ke Gunung Batu. Persinggungan terakhir sekitar 3 tahun silam saat gowes Jambore KGC ke Cipanas. Aku lewat Sentul-Ciherang-Cipamingkis-Cipanas. Nah, di Cipamingkis ini aku melihat Gunung Batu dari kejauhan.

Dari Citra Indah Jonggol yang sudah banyak berubah sejak sekitar 1999 aku mengantar adikku ngajar di sini, rute diawali. Menuju ke belakang perumahan yang sudahpenuh dengan cluster perumahan, kami kemudian keluar perumahan melewati pintu butulan. Langsung menanjak dan langsung ilfil.

Shifting RD dan FD gak mulus. Alhasil tanjakan pemanasan itu kulalui dengan TTB.

Jalur Gunung Batu didominasi dengan makadam. Bisa divariasikan dengan jalan makadam, jalan tanah, serta aspal “jaga jarak” alias berlobang-lobang. Kontur jalan tanjakan pendek-pendek. Maklum banyak gunung lancip di sini.

Sebelum ke Gunung Batu mampir dulu ke Gunung Batutapak. Namanya asal saja kayaknya nih. Gara- gara melewati prasasti yang ada tapak sebagai pengenal diri.

(Di seputaran Bogor banyak kita jumpai prasasti dengan tapak manusia sebagai tanda tangan.)

Bisa dibayangkan dengan kondisi shifting yang amburadul harus mengejar MTB kekinian. Bahkan di sebuah tanjakan panjang makadam kabel shifter RD sempat loss. Pantas saja aku tekan-tekan tombol shifter kok kayuhan tak segera meringan. Malah terasa berat.

Setelah aku perbaiki malah gak bisa menjangkau cassette paling besar. Mentok di nomer tiga dari kombinasi 8 speed milik Thrill. Alhasil aku harus memaksimalkan chainring dengan menggunakan ring paling kecil. Otomatis harus berhenti dulu. Tekan shifter kiri, dorong pulley RD ke.depan, dan posisikan rantai ke ring kecil.

Benar seperti yang dikatakan Om Debe. “Praktis. Gak pusing banyak gir,” ketika ditanya soal plus minus menggunakan single chainring. Kelebihan lain adalah bersihnya setang terutama sisi kiri dan mulusnya kaki bawah seat tube.

Hanya saja, harus mempertimbangkan mau masang “gigi” berapa di chainring. Buat pemula, Om Debe menyarankan menggunakan 32T. Enteng? Ya latihan cadence sekalian kan?

Dari segi biaya juga bisa menghemat. Harga segelondong RD dan shifternya lumayan lo. Terlebih di zaman pandemi yang harga-harga komponen sepeda seperti nggak masuk akal bagi kaum proletar. Berat sepeda pun berkurang.

Bagaimana menurut teman-teman? Apakah single chainring akan menjadi tren MTB kekinian? (Dan aku pun harus mengubah atau jadi makhluk asing di kerumunan.)

(Foto-foto: Gsr, Om Jo Susilo, Om Debe)

2 Comments

  1. Wah mas ini lewat depan kompleks ku di Cibubur dan Citra Indah…. Saya aja paling jauh cuma sampai Citra Indah. Mantap euy gowes nya jauh, semoga bisa nyusul gowes juga kapan kapan

Leave a Reply to gussur Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s