Anud4x300K, Audax 300K Rasa ANU

gussur.com – “Masih ada aja grup ini …” Pesan di grup WA lawas di 1 Februari 2021itu bikin kaget saja. Kekagetan mereda ketika disambung postingan kedua, dengan judul “Iklan” yang ditebalkan. Apa yang bikin kaget? Postingan terakhir di grup ini tertanggal 24 Juli 2020. Selepas itu pemberitahuan beberapa anggota keluar dari grup alias left.

Di postingan kedua, om Iman Permadi yang di kalangan terdekat dipanggil Sir Iman meworo-woro bakal ada event tahunan Anudax. Audax yang digagas oleh Team ANU. Sementara Team ANU sendiri merupakan bagian komunitas pesepeda jarak jauh dari Rombongan Bekasi, salah satu wilayah komunitas B2W Indonesia yang termasuk solid dan eksis hingga kini.

Postingan itu lantas dibuntuti oleh komentar tentang Anudax sebelumnya dan harapan mereka di Anudax tahun ini. Waktu sudah diputuskan 27 Februari, rute mirip dengan sebelumnya. Anggota grup yang berminat pun mengisi daftar peserta yang akhirnya memanjang dan berpindah ke grup baru, khusus membahas ANUd4x. Angka 4 menandakan gelaran ini sudah yang keempat kali. Dari tiga kegiatan sebelumnya saya ikut dua kali, meski bukan “anggota” Robek. Salah satu cerita ada di sini.

Jika sebelumnya menggunakan sepeda lipat Urbano 20 inchi, kemudian sepeda Federal yang kuubah menjadi sepeda gravel, Anudax kali ini aku ingin menjajal kekuatan Chromoly sepeda lipat Element Troy. Jelas ada beban berat karena dengan ban 20″ saja jarak 300 km ditempuh dalam 20 jam. Bagaimana dengan ban 16″?

Toh berbekal perjalanan Troy ikut Bandung Urban Cycling Challenge 200K, sebuah event audax dari Audax Randonneur Indonesia namun kondisi jalan campuran antara aspal dan jalan tanah (makadam) serta Yogya Audax 200 K, aku yakin bisa melewati Anudax ini setidaknya pas 20 jam, sesuai waktu yang dipersyaratkan (COT).

Yak… negatif! Silakan gowes.

Sayangnya, sekitar 10 hari sebelum hari-H, aku malah terkena vertigo. Kaget juga karena serangan vertigo terakhir sudah lama sekali. Hampir 15 tahun silam.

Seminggu lebih vertigo menginap di tubuhku. Membuat latihan fisik terganggu. Toh aku sempat memanaskan hub Troy tiga hari sebelum Anudax dimulai. Lumayan juga jaraknya, 72 km dari target 50 km.

Akan tetapi, bukan kekhawatiran soal fisik sebenarnya yang membuatku was-was. Tapi hub belakang Troy! Setelah disiksa di audax gravel Bandung tadi, hubnya bermasalah. Terkadang pas dikayuh loss. Kayuhan pedal tak membuat roda belakang ikut berputar. Masalah ini ternyata dialami Troy temanku juga.

Setelah kubongkar, mekanisme penguncinya memang bermasalah. Aku coba bersihkan dan kasih gemuk lagi, sudah membaik. Hanya ada satu pengunci yang gak berfungsi sehingga pas digowes, ketika sepeda melaju dan posisi kaki diam ada bunyi gesekan di hub itu.

Ketika kupakai Audax Yogya 200K yang aspal semua rutenya, hub tadi tak bermasalah.

Foto keluarga Tikum 2.

Dibanding dua event sebelumnya, Anudax kali ini jauh lebih bagus dari banyak sisi. Lebh tertata, dan aturan pun jelas. Gimmick-gimmick bertebaran. Sponsor bersliweran. Sehingga konsep event gratisan tetap berjalan, namun kemasannya jauh dari kata event murahan. Bahkan panitia memberikan tantangan gratis umroh dari sponsor jika mampu menyelesaikan event ini dalam waktu 12 jam.

Yang bikin ngedab-edabi, para pesertanya! Nama-nama besar kebuters ada di daftar peserta Anudax kali ini. Nama-nama yang sudah terbiasa ngeroad dan ngeloop di enclave seputaran Jakarta seperti Kota Wisata Cibubur atau dalam kota loop. Dari tuan rumah ada duo Dirman dan Tutus yang penamat Audax Yogya 1000K di bawah batas waktu. Bisa dibayangkan betapa “brutalnya” nanti selepas start.

Karena berlangsung di era pandemi, protokol ketat dijalankan panitia. Peserta harus bisa menunjukkan hasil negatif tes Covid-19. Bagi yang tidak bisa menunjukkan siap-siap dites di lokasi. Titik start juga disebar di lima lokasi di seputaran Mal Summarecon Bekasi untuk menghindari kerumunan karena pesertanya sekitar 80-an orang.

Dari obrolan di grup WA khusus event ini, start di tiap tikum berbeda-beda. Namun di rentang antara pukul 06.00 – 06.30. Benar saja, begitu start dimulai, sepengamatanku langsung terjadi sodok-menyodok. Bahkan ada yang sudah mulai merasa panas. Begitu disalip peserta lain langsung buru-buru mengamankan posisi.

Kok tahu itu peserta? Karena dari tikum ke CP1 di sekitar km31 peserta wajib memakai jersey pembagian panitia.

Kefoto juga ….

Seperti biasa, aku tak begitu ngoyo mengejar waktu. Toh masih ada 300 km di depan. Menikmati geliat masyarakat seputar Summarecon. Dibanding event sebelumnya, sedikit sepi kali ini. Bisa jadi karena efek Pandemi.

Edisi nyasar seperti kawan setia di Anudax. Aku kembali nyasar di tempat sama seperti sebelumnya. Hanya saja kali ini tak terlalu jauh. Soalnya ada mobil pengawal peserta yang ngetem di dekat pertigaan itu. Dulu sempat jauh kesasarnya.

Di awal-awal ini aku mengikuti rombongan belakang. Namun tetap menjaga jarak dan masih setia memakai masker. Hanya beberapa saja yang aku kenal di rombongan ini. Setelah edisi nyasar tadi mulai terpencar.

Di CP1 masih bertemu banyak peserta. Anudax kali ini dibagi dalam 10 CP atau check point. Kemajuan yang sangat berbeda dan membuat event ini berkelas adalah digunakannya aplikasi check in bikinan PT Cipta Teknologi Kreatif. Dengan apps ini peserta tinggal memindai QR Code yang ditempel di tempat-tempat yang telah ditentukan. Biasanya minimarket, sekalian bisa untuk hidrasi atau ganjal perut.

Mulai dari CP1 ini pemandangan sudah berubah dari pemukiman ke persawahan. Di beberapa tempat sisa-sisa banjir masih terlihat. Titik-titik genangan di sawah membuat persawahan berubah menjadi rawa. Karena mengejar waktu aku tak banyak berfoto. Agak ribet mengeluarkan ponsel. Sementara kamera saku yang biasa menemaniku lupa dipersiapkan.

Selepas CP1 aku praktis gowes solo. Beberapa kali disalip rombongan ban besar. Menyusuri jalanan beton dengan sisi kiri saluran irigasi yang mengairi hektaran sawah di salah satu lumbung padi di Jawa Barat ini. Cuaca mulai cerah, badan mulai gerah. Sesekali gowes menunduk untuk memperoleh efek aerodinamis sehingga kayuhan tak berat.

Sempat terhenti pergerakan gara-gara ada kecelakaan. Sepertinya tabrakan motor. Sekilas aku melihat ada seorang bapak-bapak tergeletak telentang di pinggir jalan dengan darah merah menghiasi hampir seluruh mukanya. Seseorang meminumkan air ke mulut si bapak. Mau berhenti dan bilang untuk mengganjal kepalanya takut air bikin tersedak, tapi melihat darah di muka gak mentolo. Biasanya aku langsung berkunang-kunang melihat darah segar seperti itu.

Anudax 2019

Sebelum sampai CP2 ketemu Eyang Widhi, dengan jersey Audax 600 Solonya. Ngobrol sebentar berjejeran, kami akhirnya beriringan menuju CP2. Di sini selain hidrasi dan migrasi (baca: kencing, memindahkan air di tubuh ke toilet hehe… ) aku pun membuka celana. Pas berangkat pakai BIB trus aku dobel dengan celana trekking karena ingin memanfaatkan saku celana buat nyimpen dompet dan ponsel. Tapi lama kelamaan kok gerah dan gak nyaman di pantat karena celana trekking tidak lekat menempel pantat sehingga ketika mengayuh ada bagian yang bergeser-geser membuat pantat sakit. Terpaksa dompet ditaruh di saku BIB di bagian punggung dan ponsel di saku jersey.

Tadinya diajak Fitri selepas CP2, tapi karena masih beberes memasukkan celana trekking ke frontbag, jadi kusuruh jalan dulu. Aku benar-benar gowes sendirian dari CP2 ke CP3. Di CP3 ketemu dengan Om Endot dan kawan-kawannya. Aku pun kemudian bareng mereka karena Om Endot dan temannya pakai Brompton. Setidaknya bisa mengimbangi kayuhan mereka.

Nah, sampai akhirnya tergiur dengan promo ikan etong bakar di grup WA Anud4x. Kebetulan Om Endot cs juga melipir ke sini. Cuma karena pas jam makan siang, rumah makan ini ramai. Sepertinya emang enak masakan yang aku malah lupa nama warungnya. Lokasi di Blanakan, Subang. Sambil menunggu makanan aku sempat rebahan sebentar. Saat etong tersaji, lupa moto karena ponsle diisi ulang batereinya, baunya sangat menggoda perut yang kelaparan. Tandas juga etong yang sebenarnya lebih dari cukup untuk berdua ini.

Sepertinya tepat aku memilih kawan sekayuh. Sampai CP4 melintasi jalanan yang beberapa di antaranya rusak parah untuk kategori ban cilik, aku masih bisa mengintili Om Endot cs. Selain itu tak perlu lihat ponsel mengecek rute karena Om Endot membekali diri dengan Garmin di setang Bromptonnya.

CP4 (dan CP3) titiknya bergeser tidak seperti rencana semula. Di grup WA panitia sudah menginformasikan hal ini. Toh beberapa peserta gak menemukan titik ini. CP3 bergeser menjadi sebelum titik semula. Jaraknya gak terlalu jauh. Nah, CP4 bergesernya jauh bener. Untung saja kata kunci Yomart menyelamatkanku menemukan CP4. Meski plang Yomart di kanan jalan namun mencolok mata bagi goweser yang kalau mengayuh mata jelalatan hehe …. Enggak banyak menunduk atau menggunakan kaca mata kuda.

Aku agak lupa kok selepas CP4 di belakangku hanya ada Eyang Widhi dan Om Imam. Aku memang langsung berangkat ketika rombongan bersiap mau meninggalkan CP4. Di rute ini menuju CP5 kita akan melintasi saluran irigasi lagi dengan salah satu segmennya jalan rusak. Panitia mengalihkan rutenya dengan memutar. Namun “diperbolehkan” juga lurus menikmati jalan rusak. Tak mau ambil risiko, aku ikut jalan memutar bersama Om Imam. Di sepanjang rute ini sebenarnya di beberapa titik laju Troy terhambat.

Sore sudah beranjak lingsir ketika sampai CP5, km 156. Sudah jam 5 sore, artinya sudah 11 jam perjalanan. COT 20 jam sudah terbang melayang. Sulit untuk mengejar sisa jarak dengan waktu tinggal 9 jam. Belum makan malam. Aku pikir waktu terbuang banyak saat makan siang demi etong bakar tadi. Dari data di apps Anudax, waktu antar-CP paling banyak memang di segmen CP3 – CP4, tempat etong bakar bersemayam. Butuh sekitar 4 jam, sementara yang lain sekitar separonya.

Di CP5, tahu ada yang mau evak jadi tergiur juga. Untung ada Om Imam yang mau diajak sampai finish. Soal gowes malam Om Imam dah teruji. Menuju ke CP6 memperoleh teman Om Elang dengan minivelo Javanya. Dari keterangan dia, jalur shortcut di pinggir kali benar-benar ancur. Dia saja putar balik dan kembali ke jalur memutar. Ah, jadi beruntung gak memutuskan lewat jalur itu tadi.

Menuju CP6 sudah harus menyiapkan lampu. Padahal suasana di sini meneduhkan kalau dilewati pas sore menjelang. Melewati hutan jati sebelum masuk kota Subang. Di beberapa tempat ada warung yang sayang kalau enggak disambangi. Apalagi kalau mengobrol sama penjaga warung. Bakal banyak cerita yang bisa kita dapat.

Sebelum sampai CP6, berhenti di minimarket. Om Elang ternyata mau tidur sebentar. Tapi nyatanya tak menolong kantuknya juga sehingga kontak ke tim evak. Ketika aku, Om Imam, dan Eyang Widhi mau lanjut, Om Endot cs datang. Mengira minimarket yang kami datangi adalah CP6. Padahal CP6 masih jauh dan melewati rolling yang menguras tenaga.

Di CP6 godaan evak masih juga menari-nari melihat kolbak evak nongkrong di pojokan. Nanya Om Imam masih terus maka aku memutuskan lanjut. Gak perlu lama di CP6 sebelum pikiran evak menjerat benak. Istirahat nanti sekalian makan malam.

Jalur rolling membuka kelemahan racikan grupset Troyku. Standar pabrik adalah sprocket 10 speed 11-28. Namun selama pemakaian awal rantai sering enggak akur dengan cassete bagian tertentu. Jika diset anteng di kecil, di cassete besar berantem. Rantai loncat-loncat. Ogah dipeluk cassete. Sebaliknya jika diubah. RD bawaan adalah Sensah.

Lalu aku ubah dengan 9 speed milik MTB, 11 – 36. RD ganti Claris. Rantai anteng di semua posisi. Dapat cassete mumpuni buat nanjak. Tapi perpindahan gigi terlalu melompat sehingga banyak tenaga terbuang. Tapi bisa jadi belum menemukan irama kayuhan yang tepat. Atau karena gak pakai cleat? Baru kali ini Troy melewati kontur naik turun seperti ini.

CP9, CP keramat nih.

Sempat mengalami masalah dengan seatpost di rute ini. Seatpost yang merangkap pompa ini sudah rusak sebenarnya. Selang pompanya sudah putus. Nah sepertinya batangan pompa turun dan menyentuh tutup pompa sehingga copot akibat jalan turunan yang gak selalu mulus. Alhasil pipa pompa menyentuh aspal yang sempat bikin kaget dengar bebunyian dari bawah frame. Terpaksa diganjel plastik dan tak bermasalah sampai finish.

Jalur Purwakarta sampai pintu tol Cikampek menjadi arena pembalasan jalan keriting. Selain jalan mulus dan lebar, juga kontur cenderung turun. Tak ada CP yang harus dipelototin. Cikampek menuju CP8 di Dawuan juga masih bisa “ngebut” sebelum ketemu jalan keriting selang-seling. Di jalur ini sewaktu memakai Federal aku disapa pengendara motor dan disuruh mampir ngopi ke rumahnya yang kebetulan tak jauh dari jalan besar. Ternyata ia anggota Federalis juga.

Sampai CP9 sudah lewat tengah malam dan finish sesuai batas waktu sudah musykil tercapai. Jadi istirahat agak lama. Satpam Bank Bukopin memberi tahu kalau ada kopi dan makanan di belakang kantor. Mencoba makan pisang rebus dan kopi untuk menghilangkan kantuk. Mencoba rebahan sebentar ternyata diganggu nyamuk. Jadi ya lanjut saja. Sisa kayuhan tinggal 30-an km.

Efek kopi nyatanya enggak menghilangkan kantuk. Terlebih ketika sudah melewati Karawang menuju Cibitung. Entah berapa kali mengalami microsleep. Bersyukur pantat mulai panas. Duduk tidak lagi nyaman. Alhasil, hampir tiap kilometer angkat pantat dari sadel memberi waktu pantat bebas dari tekanan.

Sempat berhenti di SPBU untuk kencing sekaligus cuci muka. Cukup membantu dan ketika sampai Pasar Tambun segala kantuk dan lelah berubah jadi semangat untuk menyudahi Anudax ini.

Sampai di CP10 agak bingung nyari QRCodenya. Soalnya minimarket sudah tutup dan halamannya dihalangi rantai. Biasanya QRCode ditempel di tiang plang nama minimarket. Nyatanya QRCode ditempel di tiang listrik di trotoar.

Begitu selarik cahaya memindai QRCode tadi, data langsung terekam. “CP10 – Indomaret Cut Meutia 99 / 300 Km / 28-02-2021 04:04:19”. Jika mengacu ke waktu pindaian di CP0 yang 27-02-2021 06:12:58, berarti hampir 22 jam perjalanan Anudax kali ini. Overall tangguh juga Troy ini. Tangan dan pantatku saja yang enggak tangguh ternyata. (*)

CP10, yang penting finish!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s