Catatan Kecil ke Pondok Saladah Papandayan: Omen, Misteri Lampu, dan Mata Perih

gussur.com – Rencana ke Papandayan muncul seketika saja. Pas ngobrol sama Arinta, ternyata dia sama genk-nya mau ke Papandayan. Aku yang memang terniat mendaki gunung sebanyak mungkin di usia lepas 50 langsung menyergap saja rencana itu.

Dipilih hari kerja karena menghindari keramaian di akhir pekan. Apalagi setelah pandemi berlalu berbulan-bulan, niat orang plesiran makin menjadi-jadi. Meski dengan segala protap yang kudu mesti dilaksanakan.

Aku sendiri kebetulan masih belum padat kerjaan. Masih mengumpulkan bahan, mengontak sana-sini, dan membuat janji.

Lebih dari itu, ke gunung adalah momen yang paling tepat untuk merenung. Melepas keseharian. Mengisi batere tubuh. Mengosongkan pikiran.

Lalu … begitulah. Dari Bandung aku nebeng dengan tiga perempuan pejalan. Lisa, Arinta, Mimma. Dua perempuan pertama kenal di grup lelarian. Arinta pernah bertatap muka saat trekking ke Kawah Ratu. Lisa baru bertatap muka saat itu, begitu juga dengan Mimma.

Dari Bandung berangkat sekitar pukul 09.00 dan sampai di parkiran Camp David Taman Wisata Alam Papandayan, selewat tengah hari. Disambut gerimis yang kemudian berubah hujan cukup deras.

Tujuan kami mendaki ke Pondok Saladah di ketinggian sekitar 2.288 mdpl. Mengiringi kami ada Trio, karyawan Lisa yang multitalenta (nyetir, motret, juru bayar) dan sang pemandu jalan.

Siang yang sudah beranjak ke sore itu masih ditaburi hujan cukup deras. “Tunggu sebentar aja, biar hujan berhenti,” kata Mang Asep, pemilik warung tempat kami memyiapkan peralatan pendakian.

Nyatanya hujan tak segera reda. Menyisakan gerimis yang gelisah. Kami pun menyiapkan jaket penahan air. Sekejap kemudian sudah berselimutkan air hujan.

Mendaki Papandayan, kata teman, adalah pendakian rekreasi. Tak menguras tenaga, banyak warung di sepanjang jalan. Jarak dari parkiran ke camping ground Pondok Saladah tak sampai 5 km. Tinggal mau lewat mana. Selepas Pos I yang ada gardu pandangnha, ada dua jalur ke Pondok Saladah. Ke kiri lewat hutan mati, dan ke kanan ke Pos 2 (Hoberhuut).

Kami memilih lewat Hutan Mati. Disebut Hutan Mati karena kawasan ini sebelumnya hutan yang rimbun dengan pohon cantigi. Lalu letusan 2002 menghanguskan kawasan ini menyisakan batang-batang pohon menghitam.

Sore itu kabut mulai menyelimuti kawasan ini. Membuat suasana menjadi mistis. Namun, bagi tiga perempuan pejalan tadi, suasana itu malah menjadi sebuah studio foto raksasa. Aku pun jadi ikut-ikutan bergerak di setiap ruang. Lebih karena biar tidak kedinginan menunggu mereka berfoto-foto.

Puas menghabiskan beratus-ratus MB penyimpanan ponsel masing-masing, kami melanjutkan perjalanan menyusuri kerimbunan hutan pohon cantigi. Keluar hutan langsung tersua hamparan tanah lapang. Itulah Pondok Saladah. Tenda kami sudah terpasang, tak jauh dari patok penanda lokasi. Langsung saja kami beberes. Utamanya ganti baju.

Misting dibuka, kompor dinyalakan. Air dituangkan. Rencana mau ngopi dan ngemi. Tapi, nyala kompor tak bisa berkobar-kobar sehingga diputuskan pesan mi di warung saja.

Warung! Ya, di seputaran camping ground berjejer warung-warung. Saat itu yang buka dua warung. Salah satunya kenalan si pemandu. Kami pun meriunggu menunggu air mendidih untuk membuat minuman teh tarik. Nggak jadi ngopi.

Dari obrolan itu, aku mengira-kira kenapa dinamakan Pondok Saladah. Ternyata di seputaran camping ground ini banyak tumbuh selada air. “Cocok dicampurkan ke mi kita,” sebuah usul menyeruak.

Meski sudah dibilang selada air, ketika mi tersaji bersama sayuran hijau tadi, masih saja disangsikan keseladaan air itu.

“Kok kayak kangkung ya? Tapi batangnya tak bolong.”

“Bukan, kayak pakcoy. Atau semacam baby kailan.”

Toh, apalah arti sebuah nama. Kangkung, selada air, atau pakcoy. Pada kenyataan isi di mangkuk-mangkuk kami tandas. Justru kuning telur yang tersisa di salah satu mangkuk.

Sore beranjak ke malam dan hawa makin dingin. Musim hujan harusnya membawa hawa cukup hangat. Namun angin yang rajin berhembus membuat tubuh kami kewalahan juga.

Kami berpindah ngobrol ke warung yang membuat api unggun di berandanya. Dari obrolan itu, kami baru tahu belakangan ada serangan babi hutan di malam hari. “Babi hanya mengincar makanan saja. Orangnya tidak diganggu. Makanya, kalau ada makanan d dalam tenda dikeluarkan. Simpan di pohon. Atau bisa dititipkan di sini,” kata penjaga warung.

Kami pun beberes mengumpulkan semua bahan makanan dan cemilan, juga misting. Setelah terkumpul ditaruh di warung. Malam sudah turun, dan benar saja. Pemandu kami menyorot sosok di kejauhan yang bergerak-gerak. “Tuh, babinya.”

Berbeda dengan babi hutan kebanyakan, babi yang bernama Omen ini berkulit putih. Jadi pas disorot lampu jelas terlihat. Pas dikasih tahu betapa tajam penciuman si Omen, tak hanya makanan saja yang membuatnya datang ke kemah. Tapi juga wewangan, macam sabun, pasta gigi, serta minyak kayu putih.

Waduh! Aku lantas balik ke tenda mengeluarkan peralatan mandi dan menaruhnya di warung.

Malam seperti lambat merangkak. Obrolan ngalor ngidul mesti disudahi karena kami harus istirahat. Jadi kami kembali ke tenda masing-masing. Angin masih berhembus membuat malam makin dingin. Bahkan membuat tenda bergoyang-goyang. Sleeping bag tak mampu menahan dinginnya malam itu. Terlebih aku lupa membawa kaos kaki cadangan.

Menjelang tengah malam, perut terasa lapar dan pingin kencing. Setelah dari toilet aku pun mampir ke warung. Sambil ngemil di warung, aku melihat Omen masih berkeliaran di seputar tenda kami. Sesekali ketika mau mendekat, pemandu kami mengusirnya. Setelah perut terisi, aku kembali ke tenda.

Belum lama terlelap, tiba-tiba saja badanku digencet barang lunak seperti karung. Tendaku cuma untuk dua oramg dan aku tidur menjauh dari pintu tenda. Otomatis tubuhku bersinggungan langsung dengan tanah lapang tempat Omen berkeliaran.

Belum sempat hilang kaget, gantian kepala yang tersenggol. Lamat terdengar dengusan napas. Duh, Omen ini! aku membatin. Hanya bisa diam sambil siap-siap membuka ritsleting tenda. Untung kemudian gangguan itu tak terulang lagi. Aku mendengar suara pemandu mengusir Omen.

Habis itu tidurku tidak tenang sampai aku bangun sekitar pukul 5.30. Aku pingin lihat sun rise di tempat yang enggak jauh dari camping ground. Semburat cahaya sudah muncul di timur. Sementara di atas langit masih menggantung bulan sabit.

Sarapan pagi dengan nasi goreng dan dua telor ceplok plus taburan selada. Kali ini rasa penasaran tentang selada air terlampiaskan karena yang punya warung menunjukkan sosok selada. Tandas juga sarapan kali ini, kecuali kuning telur yang teronggok di piring rotan.

Pagi cerah, perut terisi, kami pun bergegas menuju ke Tegalalun. Ini padang ilalang dengan gerumbulan edelweis di sana-sini. Arahnya dari Hutan Mati menyusuri jalan setapak menanjak di antara kerimbunan pohon cantigi. Jarak yang dekat sebenarnya, tapi menjadi lama karena kembali membuka studio foto di hutan mati. Berbeda dengan kemarin, kali ini hutan mati bermandikan sinar matahari. Meski awan berarak, namun langit cerah. Di timur jauh sana menjulang puncak gunung. Menurut pemandu Gunung Slamet di Jawa Tengah.

Cukup lama aku menunggu sampai mati gaya melihat tiga perempuan pejalan mengeluarkan kostumnya dan menghabiskan entah berapa ratus MB di penyimpanan ponsel mereka. Terbersit untuk pinjam kostum. Tapi kok kurang lengkap ya …

Menuju Tegalalun ada segmen yang mengingatkan pada tanjakan setan dari Kandang Badak ke Puncak Gn Gede di Bogor. Perjuangan yang cukup melelahkan sebelum akhirnya menemukan padang luas dengan gerumbul-gerumbul pohon edelweis di sana-sini. Hampir sebagian besar pohon edelweis sudah mengering pohonnya.

Cukup lama juga d sini meski tidak sampai mengeluarkan kostum lagi.

Turun menuju ke parkiran TWA Papandayan kami mampir sebentar ke kawah baru. Dari Pos I, kita turun menuju ke kawah yang mengepulkan asap dengan setia setiap waktu. Menuruni jalur ini kita akan melintasi beberapa sungai kecil dengan warna-warni air dan suhu yang berbeda-beda. Ada yang berair putih, bening, dan hitam. Ada yang dingin dan ada yang panas.

Salah satu aliran ini ada yang membawa belerang dalam jumlah banyak. Belerang ini ada yang mengendap di bebatuan. Ketika Mimma mengoleskan larutan belerang ke mukanya, mirip tradisi tanaka di Myanmar, kami bertiga pun mengikutinya.

Kembali kami, tepatnya tiga perempuan pejalan tadi, berfoto-foto di sekitaran kawah baru. Selepas tengah hari kami pun turun ke parkiran. Namun, perjalanan pulang ini menyisakan kisah sedih. Kami semua mengalami mata perih. Ada yang sembuh sampai parkiran, namun ada yang sampai rumah masih terasa perihnya. Bahkan ada yang sampai bengkak.

Semua karena “tanaka”. Toh kami hanya ketawa-tawa saja membahas soal itu.

Ada kisah misteri yang diceritakan Arinta saat sarapan pagi. Malam sebelumnya, ketika perutnya lapar, ia dan Mimma keluar tenda menuju warung. Meninggalkan Lisa sendirian di tenda yang tertidur pulas.

Sewaktu di warung itu, Arinta melihat cahaya lampu dari tendanya. Pagi harinya, ketika dikonfirmasi ke Lisa, ia tidak menyalakan lampu.

Apa Lisa gak sadar mencari sesuatu dan menyalakan lampu?

Gunung memang menyimpan banyak misteri. Namun bagiku gunung itu menenangkan, sementara pantai menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s