Covid-19 Membuatku Pulang (1)

gussur.com – “Langsung ke Panti Rapih saja.” Begitu pesan di WAG yang aku terima begitu tiba di Bandara NYIA, Kulonprogo.

Baru sekali ini aku di NYIA. Clingak-clinguk tidak tahu harus pakai kendaraan apa ke RS Panti Rapih. Bertanya tentang DAMRI, ternyata masih lama jam berangkatnya. Ketika sedang cek aplikasi Grab, tiba-tiba didatangi seseorang. Ia menawarkan taksi dengan harga di bawah tarif Grab.

Aku mengiyakan saja karena memang diburu waktu.

Waktu itu sekitar pukul 11.00 siang. Hari Minggu 23 Mei 2021. Aku memang berencana pulang karena bapak minta operasi lagi terhadap lukanya di perut. Luka akibat pemasangan kateter yang lama tak dipindah sehingga tubuh sudah membuat perlindungan terhadap selang.

Ini akan menjadi operasi kesekian kalinya setelah sebelumnya mencoba menutup luka itu namun gagal.

Selang seharii sebelum operasi dilakukan, tersiar kabar tetangga positif Covid-19. Dari penelusuran, bapak pernah bertemu dengannya. Kami para anaknya pun sepakat untuk mengetes antigen bapak. Jadilah acara yang harusnya operasi berganti swab-antigen.

Hasilnya positif!

Jadilah acara berubah total. Apa yang kurencanakan pun ambyar semua.

***

Menuju RS Panti Rapih terasa begitu lama. Sembari melewati ruas jalan yang beberapa kali pernah kususuri dengan sepeda, aku mencoba menenangkan diri. Jika ayah positif, hampir pasti simbok juga. Aku membayangkan bagaimana jika simbok diisolasi di RS. Seumur hidupku, simbok baru sekali berkontak langsung dengan rumah sakit, itu pun hanya di IGD. Tidak sampai opname. Gara-garanya jatuh dari kursi karena ingin membetulkan sesuatu yang letaknya agak tinggi. Tulang tangannya retak. Tapi tak sampai harus operasi.

Sesampainya di Panti Rapih aku segera mengontak nomer telepon Ruang Dahlia. Sebelumnya aku dikabari bahwa di kamar itu Bapak akan dirawat.

Ternyata Bapak masih di IGD. Segera aku menuju ke IGD yang berada di sisi barat atau RS lama.

“Bapak anaknya? Kami sudah menunggu dari tadi keluarga pasien,” begitu kata suster di IGD. Lo, jadi selama tiba di RS sampai aku datang Bapak belum jelas statusnya? Aku pun segera mengurus administrasi dan menemani Bapak di kamar perawatan.

Tidak seperti IGD yang aku bayangkan, kamar luas dengan beberapa tempat tidur dipisahkan kelambu, Bapak memperoleh kamar tersendiri. Ada sekitar empat kamar seperti itu. Bapak ada di kamar kedua dari ujung kiri.

Begitu masuk kamar, aku agak kaget. Tubuh Bapak begitu kurus. Rasanya sekitar setahun sebelumnya ketika ketemu meski sebentar tidak sekurus ini. Duduk di kursi di pojokan kamar aku menunggu Bapak. Tak banyak yang bisa kami obrolkan. Aku masih mencoba jaga jarak. Beberapa kali suster masuk dan mengecek kondisi Bapak. Mencatat beberapa parameter kesehatan.

Agak sore, setelah bisa kutinggalkan Bapak, aku pergi keluar IGD mencari makan. Sedari pagi perut belum keisi nasi. Tak lama setelah aku kembali ke kamar IGD, aku dipanggil suster untuk dijelaskan hasil pemeriksaan Bapak saya oleh dokter. Kesimpulannya, pihak RS Pantirapih tidak bisa melanjutkan perawatan Bapak karena terkendala ketidaklengkapan alat dan kamar ICU, Jadi akan dirujuk ke RS yang kosong.

Aku agak was-was juga melihat penjelasannya tadi. Terutama hasil rontgen paru-paru yang mengindikasikan bahwa virus sudah menebar ancaman. Aku masih sempat makan malam,nasi goreng kambing di depan RS. Ketika menyusuri trotoar bertemu penjual wedang ronde. Aku mampir dan memberli semangkuk. Baru menandaskan suapan terakhir, telepon dari RS Pantirapih mengabarkan kalau Bapak sudah memperoleh RS rujukan: Sardjito!

Bergegas aku kembali ke IGD sampai lupa meninggalkan botol minuman di tukang ronde.

Namun kami harus menunggu cukup lama karena ambulans belum ada. Begitu siap, kami pun bergerak membelah malam yang relatif sepi. Memasuki kawasan Sardjito aku membatin, Oh ini to RS Sardjito. Sepanjang napas kuhirup, baru kali ini aku masuk Sardjito.

Bapak masuk di Ruang Gatotkaca. Tempat isolasi penderita Covid-19. Setelah masuk tidak bisa ditunggu. Komunikasi dan suplai barang atau makanan lewat suster penjaga. Begitulah aturannya. Setelah semua urusan beres aku lantas keluar ruangan. Waktu sudah beranjak ke tengah malam.

Aku lantas tersadar, mau menginap di mana? Pulang sudah terlalu larut dan aku tidak bilang kakakku yang jaga rumah untuk mau pulang. Rumah orangtua di luar kota, berjarak sekitar 20 km. Ketika bertanya ke satpam tentang penginapan di sekitar RS dikabari ada tempat di dekat masjid di kompleks RS juga. Namun ketika aku cek ternyata ngampar, bersama dengan penunggu lain. Mandi di ruang terpisah. Ribet menurutku.

Akhirnya aku tanya-tanya ke satpam tentang penginapan sekitar, dan ditunjukkan penginapan tak jauh dari Sardjito. Ternyata sudah ditutup pagarnya. Ketak-ketok enggak ada respon, akhirnya menyerah juga. Melihat jarum jam kaget juga! Sudah hampir tengah malam.

Tiba-tiba teringat dengan Wisma Kagama! Langsung googling nomernya dan meneleponnya. Ternyata masih ada. Langsung pesan Go-jek dan begitu sampai Wisma Kagama, mandi dan tidur.

Pagi harinya aku memesan Gojek untuk pulang mengambil motor. Lebih efisien dan efektif untuk mobilitas. Membeli keperluan Bapak atau sekadar muter-muter kota menggali memori.

“Kuliah jurusan apa Mas?” tukang ojek memecah kebisuan kami ketika kami sudah berjalan agak jauh. Aku masih terbenam dengan ingatan karena barusan melewati sekolah masa SMP-ku. Ingatan yang kelam dan ingin aku lupakan sebenarnya.

“Aku gak kuliah Mas. Kenapa?” kataku.

“Oh, kok badannya masih bagus,” jawab Masnya. Entah pujian itu kok seperti mengejek bagiku. Dalam bayangan Mas Ojol mungkin seumuranku sudah mapan badannya. Tidak sekerempeng diriku.

“Kalau Mas kuliah di mana?” gantian aku nanya karena di nama akun dia ada gelar ST.

Ternyata Mas Ojol ini lulusan Teknik Industri universitas swasta di Jogja. Belum lama ngojol karena di-PHK.

Sampai di rumah aku segera beberes mencari baju ganti Bapak dan juga charger, Istirahat sejenak dan kemudian kembali ke RS Sardjito. Aku juga belum check out dari Wisma Kagama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s