Merapuh Merbabu: Catatan Seorang Pendaki Te(r)lat(ih)

Merbabu

gussur.com -Entah mengapa hasrat mendaki justru bergejolak ketika umur melewati kepala 5. Tidak dulu sewaktu masih muda. Padahal sempat ikut mendaftar komunitas pecinta alam waktu kuliah. Tapi nasib memang tidak pernah tertulis dalam diari kita.

Setelah gagal menuju Rinjani dan Semeru, ajakan ke Merbabu dari Wiko membuatku iyain aja. Semoga tidak zonk kayak Semeru. Iyain aja ternyata ada masalah lain yang gak bisa aku tinggalkan.

Sempat was-was ketika tiga hari sebelum hari-H tenggorokan meradang. Kugempur dengan jahe dan kumuran air garam lumayan terkendali meski tak sembuh benar.

Kali ini modal iya aja. Peralatan yang dulu sudah kususun rapi tidak terbawa kali ini. Ke Jogja sendiri tanpa rencana gegara kabar ayah yang mengalami kecelakaan. Berita itu sampai ke telingaku saat aku mendaki Puncak Manglayang karena ikut lomba lari trail di Manglayang. Usai finish aku segera istirahat sebentar dan langsung ke Jogja, ke RSKB Ringroad Selatan Yogyakarta.

Untung aku punya teman yang salahsatu bisnisnya menyewakan peralatan kemping. Belakangan setelah ketemu teryata bisnis itu sudah tak dilakoninya karena anaknya yag dulu mengelola sudah bekerja dan tidak bisa disambi.

Aku pun dapat pinjaman keril 75L, tenda kapasitas 4 orang, sleeping bag, dan misting.

Membawa keril segini sambil motoran memang jadi melatih bahu.

Tanggal 29 Oktober sore aku melajukan SupraX menuju Basecamp Thekelan. Dari Google Maps tertera jarak sejauh 90 km. Ini motoran terjauhku setelah Jakarta – Jogja beberapa waktu silam. Dengan membawa keril seberat sekira 25 kg aku menerobos kawasan kota Yogyakarta sebelum masuk Muntilan, lewat Mungkid belok ke Candimulyo dan berakhir di belakang kawasan wisata Kopeng.

Sayang, sampai Kotagede gerimis mulai menguji ketegaranku. Awalnya aku mengira hujan lewat. Tapi tambah deras saja dan membuat aku minggir dan mulai memakai mantol. Sepatu kulepas dan kugantikan sendal. Berbahaya tapi tidak ada pilihan lain. Aku cuma bawa satu sepatu. Gak kebayang kalau basah dan esoknya harus kupakai mendaki.

Berbeda dengan motor matic kekinian yang kaki bisa sedikit nyaman bersembunyi di deknya, motor bebek kopling tak memberikan perlindungan tambahan pada kaki yang nyeker. Butir air yang jatuh ke kaki aku anggap sebagai refleksi kaki.

Hujan tak reda juga sampai tiba di Mungkid, Magelang. Di Waze diarahkan ke kanan ambil jalur menuju Kawasan Pinus Kragilan. Belum hapal dengan rute itu aku minggir sebentar meneduh ke sebuah ruko yang sudah tutup.

Mengambil earphone, memasangkan ke kedua lubang telinga, dan mencolokkan ujungnya ke colokan audio ponselku. Lalu memakai kembali mantol, dan helm. Aku kemudian melajukan motorku lagi.

“300 meter di depan ambil jalur kanan menuju ke Jalan Blabak,” suara navigasi Waze terdengar jelas diantara riuh kendaraan dan senandung hujan di sore hari.

Beruntung teknologi memudahkan dalam eksplorasi kita. Begitu memasuki jalan arah Candimulyo, aku hanya menggantungkan nasib ke Waze.

Suasana sudah gelap dan aku penasaran melihat ke jam di pergelangan tangan kanan yang memegang handle gas. Entah sudah berapa ribuan titik hujan memijat punggung tanganku ini. Karena hujan sarung tangan aku lepas.

Baru jam 4.35! Tapi sudah serasa mau Maghrib saja. Jalanan menuju Candimulyo memang relatif sepi dan kanan kiri banyak pohon besar. Namun konturnya naik turun. Jadi pingin gowes ke sini kapan-kapan. Napak tilas sekaligus menengok basecamp-basecamp pendakian G Merbabu.

Ketika melewati lapak-lapak durian di kanan-kiri jalan, baru aku sadar. Oalah, ini kan sentra durian di kawasan Magelang. Aku pernah ke sini dulu. Pantas saja seperti deja vu dengan situasi jalannya. Gelap dan hujan membuatku enggan menuruti kata hati untuk mengincipi durian. Aku belum tahu lokasi basecamp Thekelan.

Sore itu benar-benar tintrim perasaanku. Baru pertama kali lewat jalur ini. Sepi. Sesekali melewati perkampungan. Sedikit bungah ketika Waze memberi tahu 300 m di depan belok kanan masuk jalan Magelang – Kopeng.

Nyatanya perjalanan masih jauh dan mulai menanjak konsisten. Kabut mulai bermain-main dengan hujan yang tak mau berhenti juga. Jadi teringat ketika melewati jalur ini naik mobil dari Magelag ke Salatiga.

Waze masih memandu ketika memberi aba-aba untuk belok kanan selepas plang “Kawasan Wisata Kopeng”. Agak gedandapan aku karena jalurnya ramai dan aku masih di sisi kiri. Akhirnya pelan-pelan bergeser sambil melihat spion motor. Tepat di ujung pertigaan aku arahkan motor ke kanan.

Kembali aku deg-degan melihat suasana jalanan. Sekitar 500 m dari pertigaan tadi jalanan sudah sepi dari kehidupan. Benar-benar mengandalkan arahan Waze dan berdoa semoga batere tidak habis. Aku bawa powerbank sih. Tapi mesti minggir mencari tempat teduh yang tak tahu ada di mana.

Cukup jauh sebelum akhirnya menemukan pemukiman, kemudian sepi lagi memasuki pinggiran hutan, sebelum sumringah diberi tahu basecamp tidak jauh lagi.

Sekitar pukul 18.30 akhirnya sampai di Basecamp Thekelan. Memarkir motor dan kemudian lapor ke petugas, lantas mencari tempat kosong. Dari pintu masuk, tempat menginap para pendaki ada di sisi kanan dan kiri. Di sisi kiri sudah ada rombongan, dan di sisi kanan baru sebagian. Kebetulan bagian pojoknya kosong. Segera aku menaruh keril dan mengecek barang-barang. Niat mandi kalah dengan hawa dingin. Jadi ke belakang cuma pipis saja.

Aku sedikit heran bahwa punggungku tidak merasa pegal setelah sekitar 3 jam mengendarai motor sembari menggendong keril. Setelah mengiyakan ikut aku memang mulai berlatih penguatan core lagi. Membuka apps Freeletics dan Madbarz yang lama menganggur. Tapi hanya melihat jenis-jenis latihan saja Tidak menjajal menunya.

Karena tak ada gangguan di punggung itu aku lantas mencari warung buat ganjel perut. Tak jauh dari basecamp ternyata.

Perut terisi, saatnya merebahkan tubuh yang lelah. Sempat tidur lelap sampai akhirnya terbangun karena mendengar suara riuh. Dengan enggan aku membuka masker (karena tidak terbiasa tidur dengan lampu menyala aku memakai masker untuk menutup mataku) dan kaget. Ternyata ruangan sekretariat basecamp sudah penuh dengan pendaki. Sebelahku yang tadinya kosong sudah berjejer-jejer tubuh terlelap. Keriuhan terjadi di tengah ruangan yang tadinya tempat kosong sekarang dikasih alas tidur. Bedanya dengan di sisi kiri-kanan tidak adanya alas kayu. Jadi langsung ke ubin. Enggak terbayang bagaimana dinginnya alas itu. Apa karena itu mereka pada enggak tidur?

Ah, aku jadi beruntung datang kepagian yang sudah sore. Ternyata semakin malam semakin banyak saja yang datang.

Aku lihat jam di tangan menunjukkan waktu sudah lewat tengah malam. Untuk membunuh waktu aku membaca-baca sambil diselingi main game.

***

Pagi bangun ternyata rombongan dari Jakarta belum tiba. Semalam memang ada kabar kena macet di Tol Cikampek. Sekitar jam 7 baru tiba di Basecamp. Setelah beberes, kami pun mulai mendaki pada pukul 8.40.

Jalanan langsung menanjak, memasuki perkampungan Thekelan. Sekitar satu kilo kemudian baru keluar perkampungan. Kiri kanan berganti dengan kebun penduduk.

Jalur Thekelan merupakan jalur tertua di antara jalur lain menuju Merbabu. Jalur ini ada di sisi utara Merbabu. Geser sedikit ke Barat ada jalur Cunthel dan Wekas. Ke Barat lagi ada jalur Swanting. Sementara di sisi Selatan ada jalur Selo. Jalur Thekelan, Cunthel, dan Wekas nanti akan bertemu di sekitar Pemancar.

Keistimewaan jalur Thekelan adalah akan melewati Watu Gubug. Sebuah batu besar dengan rongga sempit di dalamnya. Cukup untukberlindung seorang diri dari terjangan badai. Konon kabarnya ruangan ini bisa menjadi jalan menuju dunia lain. Aku mencobanya masuk. Agak susah dengan menggendog keril.

Kami memutuskan buka tenda di Pemancar. Dari Watu Gubug tadi jarak ke Pemancar sudah dekat. Sekitar 500 m namun menanjak.

Sebelum sampai ke Watu Gubug, kita akan melewati empat pos. Pos 1 Pending (1.922 mdpl), Pos 2 Pereng Putih (2.200 mdpl), Pos 3 Gumuk Menthul (2.361 mdpl), Pos 4 Lempong Sampan (2.525 mdpl). Menuju Pos 1 dan Pos 2 kita akan melewati hutan tutupan yang cukup rapat. Di sepanjang jalur ini kita terkadang bisa melihat aktivitas penduduk membuat arang. Di Pos 1 dan 2 ada keran jika ingin mengisi persediaan air.

Selepas pos 2 baru tutupan hutan mulai terbuka digantikan sabana sampai ke puncak. Kita akan melewati Akasia Kembar dan Akasia Tunggal. Pohonnya sudah meranggas. Sepertinya bekas terbakar. Jalur setapak sudah dominan tanah gembur. Jadi, siap-siap saja kalau hujan bakalan licin.

Dari pos 4 ke Watu Gubug kita akan melewati sabana dengan jalur setapak meliuk-liuk. Jika cuaca cerah Pemancar sudah terlihat dari sini. Begitu dekat tapi cukup melelahkan untuk mencapainya.

Beristirahat di Watu Gubug menjadi pilihan menarik. Toh Pemancar tinggal sejengkal lagi. Menuju Pemancar jika tidak mau mendaki di antara bebatuan, pilihlah jalur kanan.

Sekitar lima jam aku sampai di Pemancar, dengan jarak tempuh sekitar 6,4 km.

Setelah makan, mendirikan tenda, dan beberes lainnya kami pun meriung menunggu matahari terbenam.

Malam harinya, hampir semua dari kami masuk tenda. Angin berhembus cukup kencang. Dalam hal ini persiapanku kurang. Hanya membawa sweater tipis dan kaos kaki dobel. Aku pun memutuskan masak di dalam tenda. Sempat keluar sebentar buat melihat suasana dan kencing, lantas masuk tenda lagi. Kepala pusing karena telat makan.

Namun semakin malam semakin ramai saja camping ground Pemancar. Malah kemudian tenda sebelah pada ngobrol dengan suara yang keras. Tak bisa tidur tapi coba kupaksa. Terkadang membuka buku-el membaca-baca beberapa lembar.

Lewat tengah malam, obrolan tenda sebelah meredup. Sayangnya, diganti dengan suara ngorok. Waduh, tidak terbayangkan mereka yang setenda dengan sumber pengorok ini. (Ketika aku keluar lagi, ternyata tenda sebelah adalah dua tenda ramai-ramai yang digabung jadi satu. Pantas tadi ramai banget. Kuperkirakan ada enam orang di dua tenda itu.)

***

Pagi hari berharap dapat matahari terbit ternyata gagal juga. Mendung hitam menggumpal menutupi matahari terbit. Tak apalah. Jika berhubungan dengan alam kita sepertinya tak punya kuasa untuk mengatur.

Pagi ini acaranya muncak! Gunung Merbabu memiliki tiga puncak: Puncak Syarif (3.137 mdpl), Puncak Kenteng Songo (3122 mdpl), Puncak Triangulasi (3142 mdpl). Jika naik dari sisi utara maka akan bertemu dengan Puncak Syarif dulu, kemudian baru ke Kenteng Songo melewati Ondorante (plus Geger Sapi jika mau menjajal sensasi berjalan di jalur setapak dengan kanan kini jurang tanpa pepohonan), dan terakhir Puncak Triangulasi.

Kami ke Kenteng Songo dulu sebab kalau ke Puncak Syarif harus ambil jalur kiri di pertigaan dari Menara Pemancar. Dinamakan Kenteng Songo karena di puncak ini ada kenteng (lumpang) berjumlah sembilan dalam terawangan paranormal. Kalau wujud fisiknya sendiri ada sekitar 5. Dari sini ke Puncak Triangulasi hanya seperti pindah bukit saja.

Yang menggelitik dalam benak tentu Puncak Syarif. Mengapa disebut Syarif? Dari pencarian Mbah Google, salah satunya, dulu ada buronan Belanda yang bernama Syarif melarikan diri ke puncak ini dan mendirikan gubug. Nah, soal keberadaan makamnya masih simpang siur. Ada yang bilang di dekat puncak situ, yang lain bilang di pemukiman dekat Desa Thekelan.

Menuju ketiga puncak itu kita akan melewati kawah candradimuka, dan sumber air jika persediaan air kita habis. Menuju sumber air ini harus waspada membaca petunjuk plang tulisan “Air” karena posisinya menghadap saat kita mau ke puncak. Aku sempat kelewatan saat turun dari puncak dan kembali ke tenda. Penanda yang jitu ya patok oranye bikinan TN Gunung Merbabu.

Sumber air di sini bukan model keran seperti di Pos 1 atau 2. Hanya menyabot pipa pralon yang melintasi area ini. Jadi setelah selesai ambil air, jangan lupa disambungkan kembali pralonnya.

Sampai tenda langsung bikin mi rebus. Serbuan ke tiga puncak memang menguras tenaga. Apalagi belum sarapan. Hanya dijejali kurma dari Daru.

Habis makan, langsung bongkar tenda. Foto-foto keluarga di dekat Pemancar dan langsung pada bubar turun. Rombongan terpencar dalam beberapa grup. Aku ternyata di rombongan kedua, sendiri. Mencoba nonstop turun, akhirnya sampai juga di basecamp setelah 1,5 jam kemudian.

Keinginan pertama begitu sampai basecamp adalah mandi. Terus makan. Lantas ngepak barang, cusss … pulang. Kali ini keril aku taruh di boncengan motor setelah sebelumnya membeli tali rafia.

Kembali aku kehujanan dari basecamp sampai Muntilan. Di Yogya kadang terkena gerimis. Sampai rumah sudah menjelang sore. Takut kena masuk angin aku minum antangin dan teh pahit hangat. Lumayan membuat tubuh nyaman. Hanya batuk yang makin menggila.

Malamnya baru terasa tubuh seperti remek. Merapuh. Entah bagaimana ceritanya jika sebelumnya aku tak latihan core lagi. Bisa jadi tubuh hancur. Beginilah nasib pendaki telat yang mengaku terlatih. Tertatih-tatih dan telat.

O ya, sewaktu briefing sebelum mendaki, ada catatan dari pihak TN G Merbabu soal pantangan bagi pendaki. Yakni tidak buang air di Watu Gubug dan sekitar Kawah. Juga tidak diperkenankan mengenakan pakaian warna merah dan hijau pupus.

https://youtu.be/yeEPUzjQquo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s