Pendakian Gunung Raung: Sihir Sang Penari dan Sirotol Mustakim

gussur.comThe summit is what drives us, but the climb itself is what matters. – Conrad Anker.

Conrad Anker adalah seorang pemanjat tebing, pendaki gunung, dan seorang penulis kelahiran California, AS, 27 November 1962. selama 26 tahun ia menjadi tim pendaki The North Face. Pada 1999, ia menemukan mayat George Mallory, yang meninggal di puncak Everest. Waktu itu ia menjadi bagian dari anggota tim pendaki yang mencari keberadaan pendaki Inggris yang sohor itu.

Jadi, aku meyakini betul apa yang diucapkan di awal tulisan ini. Itu pula yang ingin kubagi dalam blog ini sehubungan dengan pendakianku belum lama ini ke Gunung Raung di ujung timur Pulau Jawa.

Setelah gagal ke G Rinjani dan G Semeru pada akhir tahun 2021, maka G Raung via Kalibiru menjadi pembalasan dendam untuk muncak. Sebelum ke G Raung, ada ajakan ke G Latimojong. Sayang aku lupa bayar DP sehingga kesempatan itu hilang. Entah bagaimana ceritanya, ada tawaran di tanggal yang berdekatan ke G Raung, Maka langsung aku iyain. Apalagi sedang ramai film KKN di Desa Penari yang katanya lokasi kejadian di sebuah kampung di bawah G Raung.

Gunung Raung memiliki ketinggian 3.344 m di atas permukaan laut, masih di bawah Gunung Semeru sebagai atap Pulau Jawa. Namun Gunung Raung memiliki kaldera atau kawah terluas di Pulau Jawa. Hanya kalah dari G Tambora untuk ukuran Indonesia. Selain itu jalurnya ekstrem.

Aku sempat mengajak teman karena kuota masih ada. Tapi mendengar akan menggunakan ELF temenku mundur. “Capek di badan. Mengapa enggak naik kereta aja?” begitu tanya teman. (Sebagai informasi, jika ingin menggunakan jalur kereta api dari Jakarta bisa turun di stasiun Kalibaru, dan dari sini naik ojek ke basecamp di daerah Wonorejo.)

***

Mampir RS nyari surat sehat

Terus terang aku jadi kebayang juga melakukan perjalanan darat dari Jakarta ke ujung timur Jawa ini akan melelahkan. Perjalanan terjauhku via tol trans-Jawa ini hanya mentok di Solo. Bukan berarti belum pernah merasakan ujung tol trans-Jawa ini sebab sebelumnya pernah naik bus dari Jogja ke Bali yang notabene lewat separo sisi timur tol trans-Jawa ini.

Begitulah, 25 Mei 2022 sekitar jam 8.30 malam aku sudah di tempat kumpul di parkiran bus bayangan UKI Cawang Jakarta Timur. Begitu turun dari jok tukang ojek aku celingukan mencari teman seperjalanan. Ada 13 kawan seperjalanan kali ini. Beberapa aku sudah kenal dan yang lainnya baru bertemu muka kali ini. Kalau bertemu virtual sudah beberapa kali lewat grup WA yang dibikin ketua rombongan.

Melihat ada orang duduk di warung dengan keril di sampingnya aku mendatanginya. Siapa tahu teman seperjalanan. Setelah saling sapa baru tahu, dia mau naik G Rinjani lewat jalan darat. Busettt … untung temanku tadi gak denger bakal kisah epik ini. Jakarta – Lombok via jalur darat, menyeberang dua selat. Betapa kuat kali pantat kau!!!!

Di tengah obrolan sebuah pesan di WA muncul mengabari kalau ada teman yang sudah kumpul di parkiran bayangan ini. Aku pun pamit dan bergabung dengan teman-teman seperjalanan. Kali ini aku berkenalan dengan teman-teman baru. Om Asep, Om Arif, Om Avip, Om Doni. Selebihnya pernah bertemu dalam pendakian-pendakian sebelumnya. Inilah keajaiban dunia medsos. Kesamaan hobi bertemu di dunia maya dan lantas bersambung ke dunia nyata.

Telat dari jadwal, kami akhirnya meluncur memasuki tol Jakarta Cikampek sebagai awal tetirah menyusuri jalur tol sepanjang 840 km sebelum keluar di Probolinggo dan melanjutkan ke Banyuwangi lewat jalan arteri.

Aku begitu ngantuk sehingga selepas Jatiwaringin Jakarta Timur sudah lelap dalam guncangan Elf. Bangun-bangun sudah di rest area km 396 (?). Melihat jam yang sudah berganti hari kaget juga. Ternyata memang tadi terkena kemacetan di sepanjang jalan. Utamanya karena memang akhir pekan yang panjang (tanggal 26 Mei adalah libur nasional hari Kebangkitan Isa Almasih), serta Elf tidak bisa masuk jalan tol layang Cikampek.

Aku baru bisa menikmati perjalanan ketika sudah masuk wilayah Jawa Timur. Deretan gunung kembar Arjuno-Welirang melemparkan ingatan saat-saat dramatis mencari puncak sejati Welirang. Lalu terlihat G. Argopuro, salah satu daftar tunggu pendakian selanjutnya. Keunikan pendakian G. Argopuro adalah lamanya waktu serta titik awal dan akhir tidak sama, Jadi ini sebuah perjalanan mendaki dari satu sisi ke sisi yang lain.

“Di sana yang kita temui adalah pendaki-pendaki searah. Tidak ada yang papasan dengan kita,” kata Om Asep.

Masih tersisa kantuk membuat aku terkadang terlelap. Namun menjadi segar ketika laju kendaraan tidak seperti sebelumnya. Agak grusa-grusu. Ternyata sudah masuk ke jalur non-tol dan di depan banyak truk-truk berjalan lambat. Jadi sopir beraksi untuk menyalip iring-iringan kendaraan sambil berharap dapat celah untuk menyelinap ketika dari lawan arah muncul kendaraan lain. Jalur ini memang jalur menuju ke penyeberangan Ketapang – Gilimanuk.

Ada satu momen ketika aku, dan teman-teman seperjalanan, menahan napas dan (mungkin) merapal doa keselamatan. Bagaimana tidak. Saat itu Elf berusaha menyalip sebuah bus dari sisi kiri. Ada sedikit celah memang, tapi tidak merata sepanjang jalan. Sementara jalanan ramai.

“Gusti paringo slamet …” batinku ketika bus seperti tak mau mengalah sementara badan jalan tak sanggup menanggung dua kendaraan besar melintas bersama. Alhasil Elf pun turun ke jalan tak beraspal dengan guncangan yang membuat kami teraduk-aduk fisik dan jiwa. Akhirnya kami lega ketika Elf kami kembali ke jalan aspal di depan laju bus. Hanya lambaian tangan kiri sopir sebagai kode minta maaf.

Kami maafkan, tapi tak bakal kami lupakan …..

Sebelum sampai basecamp, sekira Maghrib, kami berhenti di sebuah RS untuk meminta surat sehar dari dokter. “Takut di klinik dekat basecamp sudah tutup,” kata Om Reza yang didapuk jadi ketua rombongan yang mengurusi segala administrasi pendakian ini.

Setelah entah berapa kali aku mengangkat dan memindahkan pantat di kursi yang makin lama makin tak nyaman, akhirnya kami pun tiba di base camp Pak Widi. Hampir jam 10 malam. Nyaris 24 jam kami di atas roda. Untung temanku tadi enggak ikut. Kalau ikut pasti ada rasa bersalah di diriku mengajak dia.

Selepas mandi dan beberes aku pun mencoba merebahkan tubuh. Saking penatnya, tindihan kucing di paha aku abaikan. Semoga tidak gantian ketindihan kala aku berubah posisi.

***

Foto bareng sebelum ke Sekretariat lalu hiking.

Pagi sekitar jam 5 aku bangun. Malas mandi, makanya cuma buang hajat dan cuci muka plus gosok gigi. Sarapan nasi sayur tunas kelapa dan ayam goreng plus bakwan jagung goreng menjadi pengawal pagi dan bekal tenaga untuk pendakian ke Campsite 7, tempat kami akan berkemah,

Dari basecamp kami mampir di Sekretariat Pendakian G Raung untuk mendaftar serta diberi penjelasan singkat tentang aturan pendakian. Yang perlu diperhatikan dalam pendakian ini adalah wajib ada guide. (Soal kewajiban ini baru aku mengerti setelah sampai Puncak Sejati.) Dari sini kami naik ojek menuju ke Pos 1, titik awal pendakian. Pos ini dikenal dengan Pos Sunarya. “Ada warung punya Pak Sunarya di sana. Jadi batas terakhir pemukiman,” kata petugas sekretariat saat penjelasan tadi.

Rumah Pak Sunarya ini terletak di tengah hamparan kebun kopi milik penduduk setempat. Tersedia kopi gratis di saung berukuran sekitar 3 x 6 tempat para pendaki menunggu teman-temannya untuk bersama-sama menuju ke campsite. Ada dua penamaan tempat berhenti di rute pendakian via Kalibaru ini., yakni pos dan campsite. Gara-garanya ada dua kelompok yang merasa mengklaim jalur Kalibaru tersebut, sehingga diambil jalan tengah dengan cara memberi nama berbeda tadi. Rumah P Sunarya tadi menjadi Pos 1 tapi belum jadi Campsite 1. Versi pos, jalur Kalibaru dibagi menjadi empat (Pos 1, 2, 3, 4 sebelum empat puncak G Raung). Sedangkan versi campsite lebih banyak, yakni ada 9. Masing-masing campsite ada lahan untuk mendirikan tenda namun luasnya variatif. Yang paling banyak di Campsite 7. Ini memang menjadi tempat favorit karena dari Basecamp masih bisa dijangkau, dan untuk pancatan ke empat puncak tak terlalu jauh.

Jalur pendakian G Raung via Kalibaru. (infopendaki.org)

Karena kami hanya menganggarkan waktu 2D1N untuk pendakian ini, maka dari Pos 1 tadi kami langsung ke campsite 7. Tengah malam langsung berangkat untuk summit attack. Dari sini kembali ke campsite 7, beres-beres dan isi bensin lantas turun ke basecamp lagi. “Idealnya sih sampai campsite 7 dibagi menjadi dua hari. Jadi badan tidak terlalu capek,” begitu penjelasan yang kudengar tadi.

Dari Pos 1 sampai sekitar km 3,5 kita akan disuguhi kebun kopi melalui jalan setapak sebagian berpasir dan ada juga yang sudah diperkeras dengan buis beton disambung-sambung. Selepas itu masuk ke hutan hujan tropis dengan pohon-pohon tinggi dan lingkar perut yang oversize bagi tangan manusia. Maksudnya untuk memeluknya kita butuh tangan teman. Jalur mulai mendaki tipis-tipis, dan tak jarang kita menapak ke tangga yang terbentuk dari belitan akar beberapa pohon. Di campsite 1 sampai 4 ada saung tempat berteduh melepas lelah. Menyenderkan keril, membuka bekal, dan menikmati pemandangan sekitar. Agak terhibur sedikit dari campsite 3 ke 4 karena ada bonus turunan. Selepas campsite 4 ini jalur konsisten menanjak. Bahkan di beberapa titik butuh bantuan tali untuk bisa melewatinya. Hutan begitu pepat sehingga sulit melihat pemandangan terbuka luas. Jadi, siapkan fisik tapi jangan diforsir. Summit attack dari Campsite 7 masih butuh tenaga ekstra.

Sempat kena PHP ketika bertanya ke pendaki yang turun (kayaknya akamsi kalau melihat gelagatnya) apakah di campsite 6 ada saung. “Ada,” jawabnya singkat. Aku pun semangat sebab ingin menyandarkan keril dan membuak bekal makan siang. Maklum selewat campsite 5 waktu sudah melewati angka 11. Ternyata ketika berjumpa dengan Widi yang jadi guide dan jalan duluan, dikasih tahu kalau saung hanya sampai campsite 4 saja. Woalah, tiwas ngos-ngosan aku. Akhirnya aku membuka bekal di bawah rindangnya pohon cemara sebelum sampai campsite 6.

Entah kesel kena zonk atau sudah kecapaian, pas membuka bekal, ayam gorengku jatuh menggelinding. “Belum lima menit, Ambil saja. Sini dicuci pakai air ini,” Widi memberi solusi. Ya benar juga sih. Aku butuh protein juga. Jadilah ayam goreng campur tanah itu mandi air mineral biar bersih.

Pohon-pohon cemara raksasa semakin banyak aku temukan di rute antara campsite 5 ke 7 ini. Membuat aku gatal untuk berhenti dan swafoto. Memanfaatkan batang kayu atau ranting sebagai tripod, jadilah beberapa foto narsis menjadi bukti aku pernah ke sini.

Akhirnya, sekitar 4 jam 50 menit sampailah di campsite 7. Segera mencari tenda dengan kode Pak Widi, aku pun segera merebahkan tubuh. (Demi mengurangi beban bawaan, kami menyewa porter untuk membawa tenda dan air minum. Jadi begitu sampai kami tak perlu repot-repot mendirikan tenda.)

Setelah ganti baju aku pun segera mengeluarkan kompor dan peralatan masak untuk membikin minuman dan menyeduh mi. Lumayan menghangatkan badan dan menyumpal perut yang kosong.

Selepas sore hingga tengah malam hujan turun dengan setia, Membuat malas keluar, tapi tidur pun gak bisa nyenyak karena kaki gak bisa selonjoran lurus karena tenda yang kurang lega.

***

Ada tiga tempat seperti ini di campsite 7. Lahan sempit memanjang dengan salah satu sisi jurang tertutup rerimbunan pohon.

Hujan masih turun ketika kami siap-siap summit attack. Untung saja ketika mulai jalan hujan mereda dan akhirnya benar-benar berhenti. Kali ini jalur pendakian benar-benar gak sopan. Tanjakan ngehek kalau goweser bilang. Juga karena malam, meski sudah pakai headlamp, tiba-tiba saja kepala kepentok ranting atau dahan pohon.

“Untung kita sudah pakai helm,” komentar teman. Aku juga membatin, bener juga. Coba tanpa helm, bisa benjol-benjol nih kepala.

Di campsite 9 kami kumpul kembali untuk memasang harness. Dari sini kita bisa memandang kelap-kelip lampu dari kapal yang melayani penyeberangan Ketapang – Gilimanuk. Setelah semua memakai harness, kami pun bergerak untuk menuju ke puncak. Beruntung kami rombongan pertama sehingga bisa lebih leluasa bergerak.

Puncak bendera sebagai puncak pertama dari empat puncak di G Raung kami temui tak lama dari campsite 9 tadi. Di sini area mulai terbuka. Angin mulai terasa hembusannya. Waktu menjelang sunrise.

“Ayo, kita tak berlama-lama di sini. Target sunrise di Puncak Sejati. Trekking pole taruh di sini saja,” Pak Slamet yang lebih dikenal sebagai Pak Widi menyeru-nyeru kepada kami yang sibuk foto-foto di seputar bendera merah putih. (“Di daerah kami nama orangtua diambil dari nama anak pertama. Jadi bapak dikenal sebagai Pak Widi,” kata Widi yang juga menjadi guide mendampingi bapaknya.)

Predikat gunung dengan jalur ekstrem ternyata dimulai dari Puncak Bendera ini. Pantas seperti dijelaskan di sekretariat, asuransi tidak mengcover dari Puncak Bendera sampai Puncak Sejati.

Dari puncak bendera kami menuruni jalur berbatu-batu. Melipir dalam gelap sebelum sampai akhirnya bertemu dengan jalur yang tenar dengan nama jalur sirotol mustakim. Istilah ini mengambil kiasan dari seramnya jembatan saat nanti di akhirat menurut Islam. Jalur selebar tak lebih dari semeter ini kanan kirinya jurang sedalam 20-an m. Lewat dari sini masih diuji nyali kita untuk mendaki tebing tegak lurus setingga sekitar 2 m. Di sinilah gunanya harness tadi.

Puncak 17 sebenarnya di depan mata. Tapi karena beberapa jalur longsor maka ditutup. Jadinya hanya lewat di bawahnya sebelum kemudian menuruni tebing. Kali ini melakukan rapelling tapi turun. Lolos dari sini tantangan selanjutnya adalah menuju Puncak Sejati. Melintasi dinding kaldera dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan berpijak pada batu-batu bervariatif ukurannya dan sebagian dari mereka adalah batu lepasan. Di sinilah fungsi helm yang disuruh kita bawa dari bawah.

Menuju Puncak Sejati melewati Puncak Tusuk Gigi. Hanya karena mengejar sunrise di Puncak Sejati, maka Puncak Tusuk Gigi didatangi setelah dari Puncak Sejati. Tak ada jalur resmi menuju kedua puncak ini. Hanya ada penanda beberapa patok berujungkan bendera di atasnya. Itu pun hanya memandu sampai di bawah Puncak Tusuk Gigi. Di sinilah pentingnya guide. Tanpa bantuan mereka bisa saja kita kesasar. Kalau sudah kesasar, bisa berakibat fatal. Seperti yang dialami seorang mahasiswa berikut.

Begitu sampai di Puncak Sejati, segala kepenatan dan kengerian tadi musnah. Berganti dengan decak kagum menyaksikan keindahan alam di ketinggian 3.344 m di atas permukaan laut. Kaldera sedalam sekitar 500 m ini memiliki puncak setinggi sekitar 50 m. Asap mengepul dari seputar puncak baru ini. Dari atas mengingatkan lautan pasir Bromo dengan Gunung Batoknya.

“Nanti kalau rombongan di belakang kita sampai sini, kita segera pindah ke Puncak Tusuk Gigi,” Pak Slamet kembali mengingatkan kami.

Tak seperti Puncak Sejati atau Puncak Bendera yang memiliki tanah datar, Puncak Tusuk Gigi hanya berupa susunan batu-batu besar. Beberapa batu runcing menjulang di antara susunan itu. “Ini mah bukan tusuk gigi. Malah mirip gigi taring binatang,” aku bergumam. Untuk berfoto harus antri.

Puas berfoto kami pun menyudahi summit attack ini. Kembali berhati-hati menuruni tebing, melewati bebatuan, dan menyusur jembatan sirotol mustakim. Ketika matahari mulai menampakkan diri, baru terlihat kanan kiri jurang menganga.

Ketika sedang menuruni tebing dan kemudian melihat ke bawah, selintas aku melihat sebuah ponsel di dasar jurang sana. Langsung aku cek kantung saku jaket. Ah sudah ketutup ritsletingnya. Tidak terbayang kalau jatuh. Musnah juga berpuluh-puluh gambar yang bakal menjadi saksi kita pernah ke sini.

Sampai campsite 7 kami lantas beberes. Mengisi perut, menata barang untuk dimasukkan ke keril, dan besiap-siap turun. Aku merasakan tubuh sudah lelah. Tapi jika berhenti lama, maka tambah lelah untuk memulainya. Maka aku pun turun seperti zombie. Tanpa berpikir yang macam-macam. Hanya ada satu kata, melangkah! Tak seberapa lama dari campsite 6 hujan turun. Terpaksa memakai jaket dan memasang raincover keril. Lumayan, hujan menjadi pembasuh lelah badan.

Sampai di basecamp sekitar jam 7 malam. Langsung mandi dan melakukan peregangan. Tidak sempat mengalami kram setelah itu memang, seperti yang aku alami saat tidur di tenda gegara tidak maksimal peregangannya, rasa nyeri di paha masih berasa sampai di hari kedua usai pendakian.

Kapok? Tentu tidak. Puncak gunung selalu memanggil, dan perjalanan menuju ke sana selalu menorehkan cerita yang berbeda-beda.

Track dari Pos 1 Sunarya ke Campsite 7.

Track Summit Attack.

Track Campsite 7 – Pos 1 Sunarya

(Foto-foto yang ada di blog ini hasil selain jepretan sendiri juga jepretan teman-teman seperjalanan yang sudah kumintaizinkan diunggah di sini sebagai pelengkap cerita.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s