Hujan, jalan rusak, dan 13 kilometer naik turun bukit —inilah cerita perjalanan menuju Kasepuhan Gelaralam di lereng Gunung Halimun Salak. Bukan sekadar jalan-jalan, tapi ritual refleksi tentang kehidupan.


Sore di lereng Gunung Halimun Salak tidak pernah kesepian. Hujan hampir selalu datang, kadang gerimis, kadang deras. Yang unik, petir jarang ikut turun. Sepi, tapi tidak sepenuhnya sunyi.

Sore itu, langkah pertamaku keluar dari Kasepuhan Sirnaresmi sudah ditemani hujan. Pukul dua siang. Perjalanan dari Jakarta ternyata menyita waktu lebih panjang dari perkiraan. Salah satu penyebabnya: jalan rusak di beberapa titik.

Berangkat dari Manggarai yang Megah

Aku berangkat dari Stasiun Manggarai dengan kereta paling pagi, sekitar pukul 05.45. Manggarai yang kini terlihat megah itu masih menyisakan “kerapuhan”—beberapa ember teronggok menampung air yang menetes dari plafon yang tampak bagus.

Di Manggarai, aku bertemu Om Franes dan Om Nic yang berjalan kaki dari Berlan. Di dalam kereta, aku berjumpa Om Joy yang semalam begadang siaran, Sony yang sering jadi sweeper dalam perjalanan kami, Max, Om Mul, Om Yupa dan istri, serta Intan. Total kami sebelas orang.

“Kita duduk di kursi khusus saja. Masih pagi. Nanti kalau ada yang butuh, kita pindah,” kata salah satu dari kami.

“Iya, harus pindah. Kalau enggak, bisa viral nanti. Tuh di atas ada CCTV,” balasku sambil menunjuk kamera yang tepat terpasang di atas kursi khusus itu.

Kereta tidak terlalu penuh. Wajar saja, hari kerja dan arah perjalanan kami berlawanan dengan arus karyawan yang harus berdesakan ke tempat kerja. Kami semua sudah purna karya—ada yang alami, ada yang modifikasi. Kami memang lebih suka bepergian di hari kerja, menghindari keramaian akhir pekan.

Perjalanan balik ke Jakarta menggunakan KRL Bogor - Jakarta Kota. Gerbongnya baru

Menuju Kasepuhan Gelaralam: 13 Kilometer yang Terasa Panjang

Tujuan perjalanan kali ini adalah Kasepuhan Gelaralam, salah satu komunitas adat di sekitar Gunung Halimun–Salak. Kami ingin menepi, meresapi kehidupan masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan alam.

Dari Bogor, perjalanan dilanjutkan dengan bus MGI menuju Palabuhanratu. Begitu keluar Tol Bocimi, laju bus mulai merayap. Keramaaan dan jalan rusak jadi penyebabnya. Di satu titik, ada jalan yang patah di salah satu sisi sehingga hanya satu lajur yang bisa dilewati. Terpaksa bergantian.

Tapi begitu tiba di Palabuhanratu dan melanjutkan ke Kasepuhan Sirnaresmi, kondisi jalan berubah drastis. Aspal mulus. Kemungkinan karena wilayah barat ini sedang dikembangkan pariwisatanya.

Berangkat dari Terminal Baranangsiang pukul delapan pagi, kami tiba di Palabuhanratu saat makan siang. Empat jam untuk jarak yang tak sampai 80 kilometer. Kami sempat makan siang di warung Padang sebelum Elf membawa kami menuju Kasepuhan Sirnaresmi.

Hujan sudah turun ketika kami tiba. Belum deras, masih gerimis. Tapi tanpa mantel hujan, tetap bisa kuyup.

Mengenang masa kecil hujan-hujanan.

Apa Itu Kasepuhan?

Kasepuhan adalah sebutan bagi komunitas adat yang tersebar di Banten Selatan dan Jawa Barat bagian selatan, terutama di sekitar Gunung Halimun–Salak. Kata “kasepuhan” berasal dari bahasa Sunda, sepuh, yang berarti tua atau sesepuh—tempat berkumpulnya para tetua adat.

Mereka hidup dalam tatanan adat yang dipimpin oleh seorang Abah atau Ayah, pemimpin spiritual sekaligus adat. Kehidupan masyarakat kasepuhan sangat terikat dengan alam. Ada aturan ketat soal hutan larangan (leuweung kolot), larangan menebang pohon tertentu, serta penentuan waktu bercocok tanam padi.

Sistem sosialnya unik. Mereka memiliki kalender Sunda kuno untuk mengatur siklus pertanian. Ritual seperti Seren Taun, Ngalungsur Pancadarma, dan berbagai upacara adat lainnya masih dijaga hingga kini.

Yang menarik, meskipun hidup sederhana dan terkesan tradisional, masyarakat kasepuhan justru memiliki kesadaran lingkungan yang luar biasa. Menebang pohon tidak bisa sembarangan—harus ada izin dari Abah. Hutan mereka menjadi paru-paru penting bagi wilayah sekitar.

Foto bersama Abah Ugi

Tiga Belas Kilometer Bersama Hujan

Jarak menuju Kasepuhan Gelaralam dari Sirnaresmi sekitar 13 kilometer. Kontur jalannya naik turun karena berada di lereng Gunung Halimun.

Dua kilometer pertama, kami masih kompak. Masih saling menunggu, masih sempat foto-foto. Jalanan aspal, meski turun curam dan naik terjal, belum membuat kaki pegal. Hujan makin deras. Jas hujan yang awalnya sekadar pelengkap kini benar-benar jadi penyelamat. Sepatuku mulai basah.

Selepas kilometer kedua, rombongan mulai terpencar. Ada yang melangkah cepat, ada yang santai. Aku termasuk yang berjalan cepat. Bukan sok kuat, tapi memang itu pace yang terasa paling nyaman. Kalau diperlambat, justru bikin capek.

Targetku: tiba sebelum gelap. Senter memang ada, tapi ransel sudah nyaman. Malas berhenti, buka mantel, dan bongkar tas.

“Mau ke mana hujan-hujan begini?” tanya beberapa warga yang berpapasan atau duduk di teras rumah.

Saat kujawab hendak ke Gelaralam, hampir semuanya menyarankan untuk berteduh dulu. Beberapa sopir pikap yang melintas juga menawarkan tumpangan, meski mereka tidak menuju Gelaralam.

Ibu-ibu bagian konsumsi. Mereka yang memberi makan para tamu.

Jalan yang Mulai Tak Ramah

Jalanan mulai terasa tak ramah. Tubuh sudah lelah, ditambah harus melewati kubangan dan aliran air yang melintasi jalan. Jalur ini membelah punggungan bukit. Di kanan kiri, selepas perkampungan, terbentang sawah berundak. Air mengalir dari sawah atas ke sawah di bawahnya.

Hujan tak juga reda. Gelap mulai turun. Karena sudah terlanjur malas mengambil senter, aku berlari-lari kecil setiap menemui turunan.

Sepatu basah, kaki mulai terasa gatal. Mungkin ada hewan kecil masuk ke dalam. Tapi tak sempat berhenti. Waktu terus berjalan.

Pukul 15.30.
Pukul 16.00.
Pukul 16.30.

Pulangnya ogah jalan kaki. Eh, ternyata sama capeknya (menurut keyakinanku)

Ritual Refleksi di Jalan Berbatu

Dalam kesendirian menyusuri jalan berbatu, aku merasa seperti sedang menjalani ritual refleksi.

Kesendirian, tubuh yang capek, alam yang sunyi, dan hujan yang terus turun membuatku bisa menengok ke belakang—merenungi apa yang sudah dijalani—sambil menata harapan ke depan.

Setiap langkah terasa berat, tapi bermakna. Seperti perjalanan hidup yang tidak selalu mulus. Ada tanjakan, turunan, jalan licin, dan hujan yang tak bisa dihindari.

Aku teringat obrolan dengan seorang warga lokal saat dulu menginap di Kampung Citorek:

“Hirup téh kawas tatanén. Kudu sabar, kudu narima, tapi tetep kudu usaha.”

Hidup itu seperti bertani. Harus sabar, harus menerima, tapi tetap harus berusaha.

Aku tak bisa menghentikan hujan. Tak bisa membuat jalan jadi lebih mulus. Yang bisa kulakukan hanya terus melangkah. Sesekali berlari menuruni makadam. Satu per satu. Sampai tujuan.

Hampir Tiba

Aku sempat mampir ke warung. Membeli roti dan minuman sambil bertanya arah. Jawabannya menenangkan, meski terasa ada “syarat dan ketentuan berlaku”.

“Sudah dekat. Habis ini tanjakan. Ikuti saja. Nanti ada pertigaan. Gelaralam sudah dekat dari situ.”

Tak lama kemudian, jalan benar-benar menanjak. Terus menanjak hingga aku menemukan gerbang bertuliskan Kasepuhan Ciptagelar. Kulirik jam tangan. Sekitar dua kilometer lagi.

Benar saja, aku tiba di pertigaan. Ke kiri menuju Gelaralam, lurus ke Ciptarasa. Aku memilih ke kiri. Keesokan harinya baru sadar jalur itu bukan pilihan terbaik. Sempat melewati longsoran dan jalan becek sebelum akhirnya sampai di Imah Gede, Kasepuhan Gelaralam.

Menanak nasi.

Tiba di Imah Gede

Aku segera membuka mantel, meletakkan ransel, lalu mengambil baju ganti dan handuk. Tujuan utama: toilet di dekat Imah Gede. Membasuh badan yang basah. Airnya dingin, tapi tak kuhiraukan.

Selesai mandi, aku merebahkan diri di dalam Imah Gede. Bangunan ini unik. Saat ada upacara adat, ia menjadi tempat sakral—tak bisa dimasuki sembarang orang. Namun ketika tak ada upacara, ia menjadi ruang netral. Pendatang bisa beristirahat. Perempuan disediakan kamar khusus. Laki-laki cukup menggelar alas di ruang tengah yang luas.

Malam itu ada beberapa mahasiswa IPB yang sedang melakukan pendadaran unit pecinta alam. Aku tak banyak bertanya. Badan sudah terlalu lelah.

Sambil menerawang sekitar, aku merebahkan tubuh yang kelelahan. Rasanya bahagia. Seperti pelari maraton yang akhirnya melihat garis finis setelah berjam-jam berlari.

Hujan benar-benar mulai reda. Tinggal gerimis tipis. Langit menggelap. Aku bersyukur masih bisa mandi dengan cahaya senja. Tak perlu pakai headlamp di kamar mandi sumbangan pejabat.

Pertigaan.

Semua Sampai dengan Selamat

Sekitar satu setengah jam kemudian, Nanang datang dengan sepeda motor. Kami sempat bertemu di perjalanan, tak jauh dari pertigaan Gelaralam–Ciptarasa. Waktu itu ia ingin melihat rombongan kami, tapi tak juga bertemu meski sudah menyusuri jalan hingga perbatasan desa. Artinya, jarak mereka memang masih jauh.

Tak lama kemudian, suara teman-teman terdengar. Aku melirik jam. Cepat juga. Kukira mereka baru tiba menjelang tengah malam. Ternyata mereka akhirnya memanggil Kang Dede untuk mengirimkan kolbak. Hanya Om Nico yang memilih tetap berjalan kaki.

Tak ada yang salah dengan pilihan itu. Kami sudah aki-aki. Sudah pensiun. Tak perlu lagi membuktikan apa pun pada siapa pun.

Yang penting, semua sampai dengan selamat.

Pelajaran dari Perjalanan ke Kasepuhan Gelaralam

Perjalanan ini bukan sekadar wisata budaya. Ini tentang belajar sabar, menerima apa yang tak bisa diubah, dan tetap berusaha dalam kondisi apa pun.

Seperti kata warga lokal yang kuingat: hidup itu seperti bertani.

Kita menanam, merawat, menunggu, dan menerima hasil—apa pun bentuknya. Kadang hujan turun terlalu deras, kadang jalan rusak, kadang kaki terasa gatal karena sepatu basah. Tapi selama kita terus melangkah, pasti ada tempat untuk beristirahat di ujung perjalanan.

Dan aku pun teringat celetukan kernet Elf yang membawa kami ke Kasepuhan Sirnaresmi:

“Kok enggak ada yang tampang pendaki.”

Mungkin memang bukan tampang pendaki yang penting. Tapi kemauan untuk tetap melangkah—hujan atau tidak, tua atau muda, viral atau tidak.

Sebuah perkampungan di Kasepuhan Gelaralam.

Tips Berkunjung ke Kasepuhan Gelaralam:

  1. Akses: Ada banyak ragam menuju Gelaralam. Kalau saya: dari Jakarta, naik kereta ke Bogor, lalu bus ke Palabuhanratu, dilanjut ke Sirnaresmi. Dari Sirnaresmi, trekking sekitar 13 km atau sewa kendaraan lokal.
  2. Waktu terbaik: Musim kemarau (April-Oktober) untuk jalan yang lebih kering, tapi hujan bisa turun kapan saja di lereng Gunung Halimun.
  3. Persiapan: Bawa jas hujan, sepatu trekking, senter/headlamp, dan makanan ringan.
  4. Penginapan: Bisa menginap di Imah Gede dengan izin ketua adat atau warga setempat.
  5. Etika: Hormati adat istiadat setempat, jangan sembarangan memotret area sakral, dan jaga kebersihan.

Kasepuhan Gelaralam bukan sekadar destinasi wisata. Ini adalah ruang refleksi, tempat belajar tentang kesederhanaan, kesabaran, dan harmoni dengan alam.

Dan kadang, itu yang paling kita butuhkan di tengah hiruk pikuk kota.

FAQ

Kasepuhan Gelaralam itu di mana?

Di peta, ia ada di lereng Gunung Halimun, di perbatasan Jawa Barat dan Banten. Tapi di kepala, ia sering terasa lebih jauh. Bukan karena jaraknya, melainkan karena cara hidup di sana berjalan dengan ritme yang berbeda dari kota.

Apakah ke Kasepuhan Gelaralam harus kuat fisik?

Iya. Tapi yang lebih sering diuji justru kesabaran. Jalan rusak, hujan, dan tanjakan akan datang berurutan. Kalau datang dengan mental ingin serba cepat dan rapi, biasanya yang capek duluan bukan kaki.

Kenapa jalan ke sana tidak pernah benar-benar mulus?

Mungkin karena memang tidak dirancang untuk terburu-buru. Jalan seperti ini memaksa orang memperlambat langkah, melihat sekitar, dan kadang—kalau hujan—berdialog dengan diri sendiri.

Apa sebenarnya arti “kasepuhan”?

Secara bahasa, ia berarti tua atau sepuh. Tapi yang terasa justru kebijaksanaan untuk tidak tergesa-gesa. Di sini, hidup tidak diukur dari seberapa cepat, tapi seberapa selaras.

Mengapa masyarakat kasepuhan begitu ketat soal hutan dan alam?

Karena bagi mereka, alam bukan objek, melainkan kerabat. Menebang pohon bukan sekadar soal kebutuhan, tapi juga soal izin—bukan hanya pada Abah, tapi pada keseimbangan hidup itu sendiri.

Bolehkah orang luar menginap di Kasepuhan Gelaralam?

Boleh, selama tahu diri. Menginap di Imah Gede bukan seperti memesan penginapan. Ia lebih mirip dititipi ruang. Dan setiap titipan selalu datang dengan tanggung jawab.

Hal apa yang perlu diperhatikan sebelum berkunjung ke wilayah kasepuhan?

Pengunjung sebaiknya menjaga sikap, berpakaian sopan, tidak sembarangan mengambil foto, dan menghormati aturan adat. Datang ke wilayah kasepuhan berarti datang sebagai tamu, bukan sebagai penonton.

Apa yang biasanya dibawa pulang dari perjalanan ke Kasepuhan Gelaralam?

Selain foto dan cerita, sering kali yang terbawa pulang justru jeda. Jeda untuk berpikir, untuk mengingat bahwa hidup tidak selalu harus cepat, rapi, dan selesai hari itu juga.