Ada yang tidak bisa dijelaskan oleh peta tentang Kyoto pada bulan Mei. Ia harus dirasakan oleh kaki yang mengayuh pelan pedal sepeda, oleh kulit yang menerima angin dari sela-sela dedaunan, oleh mata yang terlalu sibuk membandingkan antara apa yang diharapkan dan apa yang benar-benar ada di depan. Saya berangkat pukul delapan pagi dari kawasan Higashikuijo di Minami Wardโarea yang hampir tidak pernah disebut dalam brosur wisata mana punโdengan sebuah sepeda sewaan dan tidak ada rencana yang terlalu ketat.
Tujuannya? Hutan bambu Arashimaya yang sudah terkenal itu.
Cuaca Mei di Kyoto memang seperti negosiasi yang belum selesai antara musim semi dan musim panas. Udara masih menyimpan dingin di lapisan bawahnya, namun matahari sudah naik dengan sengat yang niat. Orang Jepang menyebut periode ini sebagai masa shinryokuโhijau yang baru. Klorofil pada dedaunan sedang dalam kondisi paling segar, belum diredam oleh kelembapan terik Juli yang menyesakkan. Bagi saya, ini semacam jendela waktu yang jarang terbuka, dan saya tidak mau membuangnya untuk menunggu atau memilah rute terlalu lama.
.
Minami Ward bukan Kyoto yang ada di dalam kepala kebanyakan orang. Tidak ada kuil besar, tidak ada rickshaw yang lalu-lalang dengan sopir berbaret. Yang ada adalah deretan ruko sederhana, penginapan kelas menengah, dan ritme warga yang bergegas menuju stasiun. Namun di sinilah saya justru menemukan sesuatu yang mengejutkan: sebuah sistem parkir otomatis yang menelan sepeda ke dalam perut beton dalam hitungan detik.
Saya berdiri lama di depannya. Alat itu bekerja tanpa suara berlebihanโsepeda masuk ke atas platform, mesin bergerak, dan dalam beberapa detik kendaraan itu sudah tersimpan di suatu tempat yang tidak terlihat dari luar. Biayanya sekitar dua ratus yen sehari. Yang menarik bukan teknologinya semata, melainkan cara berpikir di baliknya: bahwa ruang adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk disia-siakan, sehingga ia harus dikelola dengan serius, bahkan untuk urusan sepeda. Saya terbiasa melihat sepeda ditumpuk sembarangan, bersandar pada tiang atau pagar dengan sistem keamanan berupa harapan. Di sini, bahkan kendaraan yang paling sederhana pun mendapat tempat yang bermartabat.
Begitu roda menyentuh jalur di tepian Sungai Katsura, semua yang bising di kepala mulai melambat. Jalur iniโbagian dari Keinawa Cycling Road yang membentang hampir empat puluh lima kilometer ke arah selatanโtidak punya lampu merah, tidak punya klakson, tidak punya tuntutan untuk bergerak lebih cepat dari yang mampu dilakukan tubuh. Sungai di sebelah kanan mengalir dengan warna kehijauan yang tenang, dan barisan pohon membentuk atap yang tidak sempurna namun cukup untuk menyaring cahaya matahari yang masih muda mengiringi kami di jalur selebar sekitar 1 m beraspal mulus.
Katsuragawa bukan sungai yang asing dalam sejarah Kyoto. Ia mengalir dalam literatur zaman Heian, disebut-sebut dalam The Tale of Genji sebagai latar dari berbagai pertemuan dan perpisahan. Ada sesuatu yang aneh, tentang fakta bahwa sungai yang sama masih ada di sini, masih mengalir ke arah yang sama, sementara manusia berganti-ganti melewatinya dalam berbagai cara: dengan perahu, dengan kaki, dengan sepeda, dengan kamera yang tidak pernah puas.
Saya menemukan ritme kayuhan yang nyaman di sini, yang pelan-pelan memindahkan pikiran dari urusan sehari-hari ke sesuatu yang lebih kosong dan lapang. Bukan kosong yang hampa, melainkan kosong yang siap diisi oleh apa pun yang hadirโseekor bangau abu-abu yang berdiri diam di tengah air dangkal, sepasang pesepeda tua yang berpapasan sambil saling mengangguk, atau sekadar suara air yang tidak pernah persis sama dari satu detik ke detik berikutnya.
Beberapa kilometer sebelum Arashiyama, rute melewati hamparan sawah yang seolah menolak untuk berubah. Di Jepang, wilayah transisi antara hutan pegunungan dan pemukiman manusia ini disebut satoyamaโzona penyangga yang dijaga bukan oleh tembok, melainkan oleh kebiasaan dan hukum agraria yang tidak banyak berkompromi dengan keinginan pengembang properti.
Pada bulan Mei, sawah-sawah itu baru saja menerima bibit padi. Warnanya hijau yang paling muda, hampir kekuningan, memantulkan langit biru yang belum terlalu tegas. Di pinggir lahan, ada tanda-tanda kehadiran manusia yang bekerja dengan waktu bukan dengan target: alat bajak kecil yang diparkir di ujung pematang, ember plastik yang sudah berubah warna karena terlalu lama di bawah matahari, dan bau tanah basah yang dicampur pupuk organikโbau yang jujur, yang tidak berusaha menyenangkan siapa pun.
Petani di sini masih menanam apa yang dikenal sebagai kyo-yasai, sayuran pusaka Kyoto yang telah diwariskan selama berabad-abad. Mizuna dengan daunnya yang bergerigi. Mibuna yang lebih langsing. Mereka tidak menanam karena sedang tren, bukan karena ada label “organik” yang bisa dijual lebih mahal. Mereka menanam karena memang begitu cara nenek moyang mereka mengerjakan tanah ini, dan cara itu masih masuk akal hingga hari ini.
Saya berhenti sejenak di situ, bukan untuk memotretโrasanya seperti menginterupsi sesuatu yang sedang berlangsung dengan tenangโmelainkan hanya untuk berdiri dan membiarkan pandangan menjangkau sampai ke kaki pegunungan Nishiyama yang mulai membesar di cakrawala.
TogetsukyoโJembatan Penyeberang Bulanโterlihat dari kejauhan sebelum saya benar-benar tiba di Arashiyama. Jembatan itu tidak terlalu panjang dan tidak terlalu megah, namun sesuatu dalam caranya berdiri di atas air, dengan latar pegunungan yang berlapis-lapis di belakangnya, membuat orang ingin berhenti dan tidak kemana-mana.
Sayangnya, pada pukul sepuluh pagi kawasan ini sudah penuh. Bus wisata datang dari arah timur, rickshaw manuver dengan percaya diri di antara rombongan yang melangkah tanpa tujuan yang jelas. Saya mengikuti saran yang sudah saya baca sebelumnya: memarkir sepeda, lalu melanjutkan dengan kaki. Ada hal-hal yang tidak bisa ditemukan dari atas sadel, dan Arashiyama adalah salah satunya.
Hutan Bambu Sagano adalah tempat yang sudah terlalu banyak difoto sehingga terasa mustahil untuk merasakannya secara orisinil. Namun begitu saya masuk ke lorong hijau ituโribuan batang bambu menjulang hingga empat puluh meter, kanopi yang hanya mengizinkan bintik-bintik cahaya jatuh ke tanahโsaya mengerti mengapa tempat ini tidak pernah benar-benar habis dibicarakan.
Suaranya bukan sekadar desis daun. Angin yang mengalir melewati batang-batang bambu menghasilkan bunyi yang terdengar seperti perpaduan kayu dan logam, sebuah nada yang sulit mencari padanannya. Terlebih aku bukanlah pemusik. Pemerintah Jepang pernah memasukkan suara ini ke dalam daftar 100 Soundscapes of Japan yang harus dilestarikan. Saya tidak tahu apakah daftar semacam itu sungguh-sungguh efektif, namun saya mengerti mengapa ada yang merasa perlu membuatnya.
Yang kemudian membuat saya berdiri lebih lama dari yang direncanakan bukan suaranya, melainkan cara bambu-bambu itu berdiri.
Jenis bambu yang mendominasi hutan ini adalah Moso-chiku (Phyllostachys edulis), yang secara botanis termasuk kelompok bambu monopodial. Akar rimpangnyaโrizomโtumbuh horizontal di bawah tanah, menjalar jauh dari tanaman induk, dan dari setiap titik di sepanjang rizom itu muncul batang yang berdiri sendiri. Tidak bergerombol. Tidak berhimpitan. Setiap batang memiliki ruangnya masing-masing, jarak yang leluasa dari tetangganya, sehingga sepertinya manusia bisa berjalan di antara mereka tanpa merasa terganggu.
Ini berbeda dengan bambu yang saya kenal di Indonesiaโbambu simpodial, yang rizomnya tumbuh melengkung kembali ke atas dan menciptakan rumpun yang padat, ratusan batang berhimpitan di satu titik. Bambu petung, bambu apus, bambu duriโsemuanya tumbuh bergerombol, saling menopang, kekuatannya terletak pada kolektivitas yang rapat.
Saya tidak ingin terlalu jauh mendramatisasi perbedaan botani ini menjadi perbandingan budaya yang terlampau rapi. Kenyataan di lapangan selalu lebih rumit dari metafora. Namun berdiri di dalam hutan bambu Arashiyama, saya tidak bisa tidak memikirkan hal itu: tentang kemandirian yang tidak memutus keterhubungan. Karena di bawah tanah, rizom bambu-bambu ini tetap terjalin. Mereka tidak terputus satu sama lain. Hanya saja mereka tidak perlu menempel untuk tetap menjadi satu hutan.
Ada sesuatu yang ingin saya bawa pulangโbukan sebagai kesimpulan yang rapi, melainkan sebagai pertanyaan yang pantas untuk dipikirkan lebih lama: apakah kita bisa berdiri dengan jarak yang cukup tanpa harus berdiri sendiri?
Perjalanan pulang ke Minami Ward dimulai ketika matahari mulai turun untuk menciptakan bayangan panjang di sepanjang Katsuragawa. Angin yang tadi terasa ramah sekarang lebih dingin, mengingatkan bahwa satu lapis kaus saja tidak cukup untuk sore hari di Kyoto bulan Mei. Saya mengayuh dengan lebih santai dari tadi pagi, karena tidak ada yang perlu dikejar dan karena tubuh sudah memiliki ritmenya sendiri setelah berjam-jam di atas sadel.
Melewati kembali sistem parkir otomatis di Higashikuijo, saya merasa sesuatu yang sulit dinamai. Bukan nostalgiaโperjalanan ini baru saja berlangsung hari ini. Mungkin lebih tepat disebut sebagai rasa bahwa sebuah lingkaran telah ditutup dengan baik. Berangkat dari teknologi manusia, masuk ke dalam alam yang dirawat dengan presisi, dan kembali ke pelukan modernitas yang tidak mengganggu. Namun ada sesuatu yang berbeda dalam cara saya memandang semuanya di akhir hari ini.
Kyoto pada bulan Mei tidak menawarkan drama. Ia menawarkan kejelasanโkejelasan tentang bagaimana sesuatu tumbuh, bagaimana sesuatu bekerja, dan mengapa keduanya tidak harus saling bertentangan. Hutan bambu Arashiyama, dengan semua misteri rizomnya di bawah tanah, mengingatkan saya bahwa kemandirian yang sejati bukan berarti tidak berakar pada siapa pun. Ia hanya berarti kita cukup yakin pada akar itu sehingga tidak perlu terus-menerus memperlihatkannya.
Setiap kayuhan meninggalkan jejak di aspal yang sama, namun tidak ada dua kayuhan yang benar-benar identik. Begitu juga dengan setiap perjalanan. Kita berangkat dengan peta yang sama, namun pulang dengan peta yang berbedaโyang kita gambar sendiri di dalam kepala, dari hal-hal yang tidak ada di brosur mana pun.
Pertanyaan yang sering ditanyakan.
Mengapa bulan Mei dianggap waktu terbaik untuk bersepeda di Kyoto?
Temperaturnya stabil ($14-24^{\circ}C$), kelembapan rendah, dan pemandangan hijau shinryoku memberikan visibilitas yang jernih tanpa risiko hujan monsun yang biasanya dimulai pada pertengahan Juni.
Apakah jalur Katsuragawa aman bagi pesepeda pemula?
Sangat aman. Jalur ini terpisah dari jalan raya utama, permukaannya aspal halus, dan elevasi tanjakannya minimal ($<40$ meter).
Apa yang dimaksud dengan bambu monopodial di Arashiyama?
Ini adalah bambu yang tumbuh secara individual dari akar yang menjalar mendatar di bawah tanah, menciptakan hutan yang teratur dengan ruang personal di antara batangnya, berbeda dengan bambu tropis yang bergerombol dalam rumpun padat.
Berapa biaya sewa sepeda dan di mana tempat terbaik untuk menyewanya di Minami Ward?
Biaya berkisar antara 1.000 – 1.900 yen. Tempat populer adalah J-Cycle atau KCTP Terminal yang lokasinya dekat dengan Stasiun Kyoto sisi selatan.
Apakah kita bisa bersepeda langsung masuk ke dalam hutan bambu?
Tidak disarankan dan sering kali dilarang saat jam ramai. Jalanannya sangat sempit dan dipenuhi wisatawan. Cara terbaik adalah parkir di luar dan berjalan kaki untuk menikmati suasananya.
Leave a Reply