Tentang gerak, waktu, dan arti yang tertinggal

Category: Touring Page 3 of 7

Perjalanan Penuh Warna ke Ujung Peradaban (4)

Hujan turun menemani santap siang kami. Wah, apakah berperahu sambil hujan-hujanan? “Perahunya ada ruangan tertutup kok,” kata Ibu penjaga penginapan. Ah, seperti bisa membaca keraguanku. Untung saja di sisa-sisa suapan terakhir hujan mulai mereda. Bau tanah basah mengiringi suara-suara kekenyangan perut kami semua. Omega langsung segera ke dermaga untuk menemui tukang perahunya. Sementara yang lain […]

Baca Selengkapnya →

```

Perjalanan Penuh Warna ke Ujung Peradaban (3)

Pagi-pagi pintu Alfamart belum dibuka. Namun kesibukan di dalam toko sudah berdetak dinamis. Ada yang sembahyang, ada yang senam habis bangun tidur, ada yang memilih makanan. Omega kembali memasak air. Tak seberapa lama seduhan kopi memenuhi ruang teras toko. Beberapa keluar menyelinap melalui pintu yang dibuka sedikit. Hari sudah terang tanah. Aktivitas penduduk sudah terlihat. […]

Baca Selengkapnya →

```

Perjalanan Penuh Warna Ke Ujung Peradaban (2)

Sebelum pukul 07.00 kami sudah meninggalkan Wisma Sugri di Jln R. Td. Hardi Winangun No. 5, Rangkasbitung, Banten 42312. Menuju Alun-alun, lalu belok kanan menyusuri Jalan Jendral Ahmad Yani menuju Pandeglang. Pagi itu beberapa anak sekolah mulai masuk sekolah. Setiap bersua, mereka selalu berteriak “Halo Mister!” Entah, tak hanya di Banten, di daerah Cianjur pun […]

Baca Selengkapnya →

```

Dari Sengkan ke Sukuh: Sebuah Pertarungan Batin

Sengkan merupakan sebuah pedukuhan yang berada di Kelurahan Condongcatur , Sleman, DI Yogyakarta. Lokasinya tak jauh dari Ringroad, sekitar 5 km ke arah Kaliurang. Pedukuhan ini kental dengan aura agama Katolik. Makanya, jangan heran dengan nama-nama jalan yang menggunakan nama-nama kota di dalam sejarah agama Katolik. Misalnya Jalan Nazareth, Jalan Betlehem, Jalan Yerusalem, dll. Sedangkan […]

Baca Selengkapnya →

```

Perjalanan Penuh Warna ke Ujung Peradaban (1)

Sungguh tak terbayangkan bahwa perjalanan sejauh itu terbungkus dalam kurun 3 malam dua hari. Beragam moda transportasi aku jalani. Semua meninggalkan kesan, ironi, tragedi, sekaligus optimisme. Ada sepuluh pesepeda, 7 dari KGC – Kompas Gramedia Cyclists, sisanya adalah teman2 yang sudah akrab dengan KGC. Hanya saja tidak semua berangkat barengan. Dua pesepeda berangkat menyusul via […]

Baca Selengkapnya →

```

Cinomati, Nanjak dalam Sepi

Lama tak bersepeda nanjak, tawaran itu datang dari Cak Kris, sesama goweser dari Kompas Gramedia Cyclists. Rute yang diusulkan adalah Jogja – Wonosari – Klaten. Langsung aku mencari rute alternatif dan ketemu dengan rute Jogja – Pleret – Dlingo – Playen – Wonosari. Jika dilihat di peta rute ini ada di bawah rute utama Jogja […]

Baca Selengkapnya →

```

Menyapa Dieng: Mie Ongklok

Setiap gowes di daerah, cobalah makanan khasnya. Tak penting tidak enak di lidah, sepanjang itu tak bertentangan dengan beberapa kondisi seperti kepercayaan dan kesehatan, mengincipi makanan khas daerah di sela-sela istirahat saat menggowes adalah sebuah kesempatan langka. Begitu juga dengan diriku saat gowes Wonosobo – Dieng. Mi Ongklok sudah diwanti-wanti oleh para sanak kadang untuk […]

Baca Selengkapnya →

```

Menyapa Dieng: Dari Atas Sadel

Beruntung ke Dieng menggunakan sepeda. Beberapa lokasi yang berjauhan serasa dekat tanpa perlu naik ojek. Kontur jalan relatif datar serta cuaca yang sangat mendukung membuat menggowes di Dieng begitu menyenangkan. Sayangnya, waktu terbatas. G Sikunir adalah tujuanku ke Dieng. Objek wisata ini menjadi primadona bagi pemburu matahari terbit. Posisinya mirip Sawarna Banten, Kiluan Lampung, Pulau […]

Baca Selengkapnya →

```

Menyapa Dieng: Menggigil Tieng

“Wah, gak bisa pakai sepeda beginian ke Dieng. Tanjakannya begini,” begitu kata seorang sopir truk yang bertemu di sebuah warung makan di sisi luar Terminal Mendolo, Wonosobo. Telapak tangan sopir itu menggambarkan tanjakan Dieng yang begitu terjal. Saya pun menjawabnya dengan guyon. “Jangankan yang begitu. Yang begini pun teman saya bisa menaklukkan kok,” kata saya […]

Baca Selengkapnya →

```

Menyapa Dieng: Janji Setia Pantura

Pantura, sepanjang yang saya lalui, selalu macet. Padahal hanya sebentang Pantura antara Cikampek sampai Cirebon. Soalnya, sebelum Cirebon sudah masuk Tol Kanci, lanjut Pejagan dan menyusur kali di wilayah Ketanggungan. Kurang dari 200 km menurutku. Namun, di sepanjang jalan itu perbaikan senantiasa tak kenal waktu. Janji setia Pantura makanya adalah kemacetan.

Baca Selengkapnya →

```

Page 3 of 7

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén