Menanti Maraton di Bawah 2 Jam Selanjutnya

Selama puluhan tahun, maraton di bawah 2 jam dianggap mustahil. Lalu pada 26 April 2026, angka 1:59:30 tercatat di London.

Besok, Chicago Marathon dimulai. Mungkinkah rekor itu diserang lagi? Kita hitung dulu angkanya.

Di London, Sabastian Sawe (Kenya) finis dalam 1:59:30, memangkas 65 detik dari rekor dunia lama milik Kelvin Kiptum (2:00:35, Chicago 2023).

Yomif Kejelcha (Etiopia) menyusul 11 detik kemudian, 1:59:41, pada debut maratonnya. Itu debut tercepat sepanjang sejarah.

Di posisi ketiga ada Jacob Kiplimo (Uganda) dengan 2:00:28, juga 7 detik lebih cepat daripada rekor lama Kiptum.

Artinya, tiga orang berlari lebih cepat daripada rekor dunia sebelumnya dalam satu lomba. Dua di antaranya menembus 2 jam.

Bagaimana lomba itu berjalan? Kelompok depan melewati setengah jarak dalam 1:00:29. Setelah kilometer 30, Sawe dan Kejelcha melepaskan diri dari Kiplimo, lalu Sawe memisahkan diri di dua kilometer terakhir.

Babak kedua Sawe: 59:01. Lebih cepat daripada babak pertama (negative split).

Sejak London, ada dua kabar penting. Sawe mundur dari Berlin Marathon karena cedera (menurut pelatihnya, stress fracture di tulang kering kanan).

Kejelcha mencetak rekor dunia half marathon 56:51 pada 23 Agustus (menunggu ratifikasi) dan dijadwalkan turun di Valencia, 6 Desember.

Lalu apa urusannya dengan Chicago? Jacob Kiplimo kembali sebagai juara bertahan (2:02:23 tahun lalu) dan satu-satunya pelari di lapangan elite yang pernah berlari di bawah 2:01.

Sawe dan Kejelcha tidak berada di daftar. Target rekor dunia belum dinyatakan, tetapi angkanya menarik untuk dihitung.

Untuk memecahkan 1:59:30, seseorang harus finis di 1:59:29 atau lebih cepat.

Itu berarti rata-rata sekitar 2:50 per kilometer (4:33 per mil), atau kira-kira 21,2 km/jam. Setiap 5 km sekitar 14 menit 10 detik, dan harus bertahan sampai kilometer 42,195.

Selisihnya dengan Kiplimo? Dari 2:00:28 menjadi 1:59:29 berarti memangkas 59 detik.

Dibagi 42,195 km, itu hanya sekitar 1,4 detik lebih cepat per kilometer dibanding pace London-nya. Kecil di atas kertas, tetapi di kilometer ke-40, 1,4 detik itu terasa sangat besar.

Faktor kedua: rute dan cuaca. Chicago dikenal datar dan cepat. Kiptum memecahkan rekor dunia di sana pada 2023, dan rekor lintasan 2:00:35 itu kini sudah dilampaui personal best Kiplimo.

Namun angin dari Danau Michigan dan suhu hari lomba bisa mengubah segalanya. Cuaca sejuk dan angin tenang akan sangat membantu.

Faktor ketiga: pacer dan drafting. Berlari di balik pacer mengurangi hambatan udara, sehingga tenaga tersimpan untuk fase akhir.

Di Berlin 2025, Sawe berlari sendirian sejak kilometer 24 dalam panas dan lembap, lalu finis 2:02:16. Contoh nyata bahwa kondisi dan pacer ikut menentukan waktu.

Jadi, bisakah Kiplimo mengubah 2:00:28 menjadi 1:59:29 besok?

Kemungkinan besar sulit, karena semuanya harus selaras: cuaca, pacer, kondisi tubuh, dan keberanian di kilometer-kilometer akhir. Namun rekor lintasan 2:00:35 tampak berada dalam jangkauan.

Sumber: World Athletics, Athletics Weekly, AFP (via Al Jazeera), AP/NPR, Marathon Handbook, Chicago Marathon.

Menurutmu, berapa waktu juara besok? Tulis tebakanmu di balasan, lalu ikuti @gussur untuk ulasan hasilnya setelah lomba.


Diimpor otomatis dari Utas Threads (12 bagian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link