GUSSUR.COM– Saya selalu punya kelemahan pada pasar ikan. Entah di mana pun berada, kalau mencium aroma laut bercampur suara hiruk-pikuk pedagang, rasanya seperti pulang ke sebuah ruang yang pernah saya kenal. Dan ketika akhirnya menjejak Sydney Fish Market, sensasi itu muncul lagi—walaupun bentuknya berbeda.

Pasar ini tidak besar. Aku membandingkan dengan Muara Karang di Jakarta Utara atau Pantai Depok, Bantul, Yogyakarta. Ukurannya seperti versi mini dari dunia yang kuakrabi di Indonesia. Tapi entah kenapa, kekecilannya justru membuatnya terasa akrab. Seperti rumah sendiri.

Begitu masuk, aku langsung tahu ke mana harus melangkah, apa yang akan saya lihat, dan kira-kira makanan apa yang mesti kuburu tanpa perlu menunggu (lama). Tidak ada lorong tak berujung, tidak ada rasa tersesat seperti di pasar-pasar besar.

Sydney Fish Market itu seperti buku tipis yang isinya padat, bukan ensiklopedia tebal yang membuat kita letih sebelum membacanya.

Dari Dermaga Lama ke Ikon Baru Kota

Kalau kita tarik garis ke belakang, tempat ini dulunya hanya dermaga ikan biasa—sebuah titik pertemuan antara kapal nelayan dan pedagang grosir. Barang datang, ditimbang, dilelang, selesai. Lalu tahun berganti, restoran mulai berdatangan mencari bahan segar, turis ikut penasaran, dan kios-kios makanan bermunculan. Sampai akhirnya, pasar ini berubah menjadi semacam “taman bermain bagi pecinta seafood.”

Yang menarik, pemerintah setempat sekarang sedang membangun versi barunya—lebih modern, lebih besar, dan lebih ramah dikunjungi. Seperti seseorang yang sedang berbenah rumah, memasang teras baru, memperluas dapur, tapi tetap mempertahankan aroma lamanya.

Kita seperti menyaksikan pasar yang sedang tumbuh, tanpa kehilangan jati diri.

Kesan Pertama: Ramai, Tapi Tertib

Begitu aku masuk, dunianya langsung terasa lain. Ada sesuatu yang membedakannya dari Muara Karang atau Pantai Depok. Ada beberapa pintu masuk (dan keluar) di sini. Pintu utama, dan pintu samping. Pintu utama langsung terlihat dari halaman parkir tempat kita masuk ke area ini. Pintu samping berada di sisi dermaga dan tempat makan terbuka berpelindung payung taman.

Di Muara Karang, setiap sudut hidup. Pedagang memanggil, wajan panas mengepulkan asap, pembeli menawar sambil memegang ember. Ada kehangatan di sana.

Di Pantai Depok, laut lebih dulu menyapa. Kita makan di warung sederhana, ditemani angin selatan yang kadang ganas, kadang lembut. Menunya tidak rumit, tapi rasa yang terhidang dari ikan bakar yang diletakkan di atas piring melamin sulit dikatakan.

Di Sydney Fish Market, suasananya lebih tenang. Ramai, iya. Tapi tertib. Lantainya bersih, kiosnya tersusun rapi model blok. Di luar dekat pintu masuk samping tadi, burung camar menunggu kesempatan dengan sopan. Sesopan burung yang bisa tentunya. Aku sempat menyaksikan, ketika ada pengunjung yang meninggalkan begitu saja remah-remah makanan di meja luar ruangan ini, seketika burung camar menyerbu remah-remah tadi.

Kita bisa makan di pinggir dermaga tanpa merasa harus waspada pada keriuhan pengunjung.

Dan entah kenapa, rasa lautnya tetap sama. Hanya penyajiannya saja yang lebih efisien. Kita order, kalau makanan sudah siap tinggal ambil, kalau belum ya menunggu atau beranjak ke tempat lain memesan makanan atau minuman lain. Nanti kita tinggal kembali sembari menunjukkan struk pembayaran.

Ragam Ikan yang Tidak Ada di Indonesia

Saya suka duduk sejenak, memperhatikan meja-meja kaca berisi ikan-ikan yang nama Indonesianya saja saya tidak hafal. Kingfish yang tubuhnya kokoh, southern calamari yang bentuknya tampak mulus meskipun baru beberapa jam lalu berenang, dan si bintang pasar: Sydney Rock Oyster.

Oyster-nya seperti punya bahasa sendiri—lembut, sedikit manis, tanpa rasa logam. Sulit menemukan karakter semacam itu di Indonesia, kecuali kalau kita sedang beruntung.

Kalau kita mengumpulkan semua ragam seafood Australia dan Indonesia di sebuah meja besar, mungkin akan terasa bahwa laut memang punya “dialek” yang berbeda-beda.

Tips yang Tidak Terasa Seperti Tips

Sebenarnya, ada beberapa cara agar pengalaman di Sydney Fish Market menjadi lebih nikmat. Tapi saya tidak ingin menyebutnya sebagai “tips”—lebih seperti bisikan kecil dari seseorang yang sudah pernah nyasar di sana.

Datanglah pagi.
Pagi itu sesuatu sedang terjadi: ikan baru tiba, pedagang lebih ramah, dan keramaian belum sepenuhnya hidup.

Tanyakan apa yang terbaik hari itu.
Kalau kita bertanya “What’s your best catch today?” rasanya seperti mengetuk pintu rahasia. Mereka sering menunjukkan sesuatu yang belum dipajang.

Cobalah oyster-nya.
Saya tidak akan menjelaskan panjang-panjang. Cobalah, dan biarkan lidah yang bercerita.

Kalau bisa, luangkan waktu lebih lama.
Pasar ini paling nikmat kalau kita tidak diburu jadwal.

Bagaimana Menuju Ke Sana Tanpa Drama

Sydney Fish Market ini seperti teman yang mudah ditemui. Tidak perlu strategi rumit.

  • Dari CBD, naik Light Rail L1 dan turun di “Fish Market”. Tinggal jalan kaki sebentar.
  • Dari Darling Harbour, bahkan bisa ditempuh sambil santai miringkan badan karena angin.
  • Dari Circular Quay, naik kereta sebentar ke Town Hall lalu sambung L1.
  • Dari Bandara, tinggal dua langkah: train → light rail.

Tidak ada cerita tersesat yang menimbulkan sesal berkepanjangan. Sebab kalau tersesat pun, kota ini cukup ramah untuk membiarkan kita menikmati kesasar itu. Aku merasakan hal itu. Salah naik kereta dan terdampar di kota kecil.

Sekadar Membanding: Tiga Pasar, Tiga Watak

Setiap pasar punya kepribadiannya sendiri.

Muara Karang itu seperti teman lama yang cerewet, riuh, tapi selalu punya makanan enak di dapurnya. Pantai Depok itu saudara yang tinggal di dekat laut: tidak ribut, sederhana, tapi hatinya lapang. Sydney Fish Market adalah sepupu yang merantau, menetap di kota lebih rapi, tapi tetap membawa ingatan aroma laut ketika pulang kampung.

Menikmati ketiganya adalah cara yang baik untuk memahami bahwa laut punya banyak wajah—dan semuanya tak ada yang salah.

Penutup: Laut Adalah Rumah yang Kita Temukan Di Mana Saja

Saat duduk di dermaga Sydney, memegang kotak kertas berisi sashimi yang dinginnya menembus jari, saya teringat pantai-pantai Indonesia. Teringat juga pada suara gaduh Muara Karang dan sore yang tenang di Depok.

Aneh, ya. Kita bisa berada ribuan kilometer dari rumah, tapi begitu ada bau ikan, angin asin, dan suara air memukul dermaga, ingatan tentang kampung halaman tiba-tiba hidup kembali.

Sydney Fish Market bukan tempat paling wah di dunia. Tapi bagiku ia berhasil melakukan sesuatu yang jarang: membuat saya merasa berada di rumah, sambil tetap menjaga jarak yang jauh, yang ingin saya kunjungi lagi.

Entah kapan!

You might also enjoy:

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link