Tips Berlari Ketika Cuaca Ekstrem

Pukul 06.30 WIB. Hari masih pagi. Namun bendera risiko panas di Jakarta Running Festival 2026 sudah berubah menjadi oranye. Cuaca memang terasa berbeda saat itu.

Di hari pertama, banyak pelari tumbang dan dirawat di tenda medis. Ini pesan dokter untuk peserta hari kedua.

Apa itu WBGT? Ukuran tekanan panas real-time yang menggabungkan suhu udara, kelembapan, panas radiasi, dan pergerakan angin.

Angka di termometer saja tidak cukup. Yang menentukan adalah seberapa mudah tubuh membuang panas lewat keringat.

Arti warna bendera di JRF 2026:

🟢🟡 Hijau/kuning: berlari sesuai rencana
🟠 Oranye: perlambat pace, dengarkan tubuh
🔴 Merah: lepaskan target waktu; yang tidak fit atau belum aklimatisasi diharapkan berhenti di WBGT 30
⚫ Hitam: sekitar 32,3°C, lomba dihentikan

Medical Director JRF, dr Andi Kurniawan, SpKO: cuaca lembab membuat banyak peserta tumbang, dan banyak kasus heatstroke harus direndam es.

Ia menduga korban datang bersamaan dari kelompok yang memaksakan tempo: tidak terlalu kencang, tetapi terus menekan.

Mengapa lembab berbahaya? Pendinginan terbaik terjadi saat keringat menguap dari kulit. Pada kelembapan tinggi, penguapan menurun, sehingga keringat hanya menetes tanpa mendinginkan.

Panas menumpuk, bahkan di cuaca yang tampak tidak terlalu terik.

Panas juga memperlambat. Analisis Ely dkk. (2007) atas 140 race-year dari tujuh marathon besar Amerika Utara menunjukkan waktu finis melambat progresif saat WBGT naik dari 5 hingga 25°C.

Pelari yang lebih lambat terkena dampak lebih besar daripada pelari elite.

Heatstroke adalah kondisi darurat: suhu inti tubuh di atas 40°C disertai gangguan fungsi otak.

Gejala yang dikenali antara lain bingung, bicara pelo, limbung, kolaps, hingga kejang. Pelari yang masih berkeringat pun tetap bisa mengalaminya.

Pesan dr Andi untuk peserta Full Marathon dan 10K hari kedua: selama masih bisa berpikir dan mendengarkan tubuh, perlambat. Kalau perlu, berjalan dulu. Jangan dipaksa.

Jika tidak, panas tubuh terus naik, kesadaran menurun, lalu kolaps.

Penanganannya berpacu dengan waktu. ACSM menyebut rendam air dingin sebagai cara paling efektif untuk pelari yang kolaps karena hipertermia.

Studi J Emerg Med (2025): 36 pelari dengan heatstroke di lomba lari turun di bawah 40°C dalam 30 menit berkat handuk berendam es.

Kiat singkat di cuaca panas:
• Baca bendera WBGT, jangan hanya mengejar pace
• Lepaskan target waktu saat oranye atau merah
• Berjalan itu sah, bukan kegagalan
• Teman bingung atau kolaps? Segera panggil petugas medis

Sumber: detikHealth (24/10/2026), wawancara dr Andi Kurniawan, SpKO; Ely dkk., Med Sci Sports Exerc 2007; Montain dkk., Sports Med 2007; J Emerg Med 2025;71:44-53; ACSM position stand, Heat and Cold Illnesses During Distance Running; NAEMSP; panduan ICF.

Medali bisa dikejar di lomba berikutnya. Tubuh yang sehat tidak bisa diganti.

Ikuti @gussur untuk sains dan budaya berlari, dan bagikan utas ini ke temanmu yang berlari besok.

 


Diimpor otomatis dari Utas Threads (12 bagian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link