gussur.com – Jeff Galloway adalah mantan pelari Olimpiade Amerika Serikat (Munich 1972) yang kemudian menjadi pelatih lari dan penulis buku best-seller. Ia bukan hanya atlet cepat—ia adalah pemikir. Ia melihat satu masalah besar di dunia lari: banyak orang ingin berlari, tapi gampang cedera atau menyerah karena terlalu berat.

Dari pengalaman pribadinya sebagai pelari dan pelatih, ia menemukan sebuah insight sederhana namun brilian:

Tubuh manusia tidak harus terus berlari tanpa berhenti. Berjalan sejenak justru membuat kita bisa berlari lebih jauh, lebih cepat, dan lebih aman.

Dari pemikiran itu, lahirlah Metode Run-Walk-Run.

Sekitar tahun 1970-an, Jeff menguji hal ini pada peserta kelas lari yang ia latih. Banyak dari mereka bukan atlet, bahkan sebagian besar “bukan pelari sama sekali.”

Ia lalu memberi instruksi:

  • lari 1 menit
  • jalan 1 menit

Hasilnya mengejutkan. Mereka bisa menempuh jarak jauh tanpa kelelahan ekstrem. Minggu demi minggu, interval itu bisa diubah sesuai kemampuan.

Dari sinilah lahir metode run-walk-run, yang kini menjadi ciri khas Jeff.

Metode ini bukan strategi pemula semata
— Jeff sendiri, seorang Olimpians dan maratoner cepat, juga menggunakannya untuk lomba jarak jauh. Banyak pelari berhasil mencetak PR (personal record) dengan metode ini.

Filosofi Jeff Galloway

Jeff percaya bahwa:

  • Berlari harus menyenangkan, bukan menyiksa.
  • Semua orang bisa berlari, dari anak muda sampai usia 70–80 tahun.
  • Jalan kaki bukan tanda kelemahan—itu strategi.

Ia sering mengatakan:

“Walking breaks are not a sign of giving up. They’re a tool to help you go farther and finish strong.”

Banyak pelari yang merasa lebih cepat ketika memakai metode run-walk-run, karena tubuh tidak pernah “masuk ke zona kelelahan” terlalu dalam.

Indomaret Run 2025

Aku tak pernah benar-benar merencanakan metode lari-jalan. Ia datang begitu saja, seperti cara tubuh memberi isyarat halus: “istirahatlah sebentar, nanti kita lanjut lagi.”

Dulu di Toba–Medan aku memakai tiang listrik sebagai kompas kecil. Berlari dari satu tiang ke tiang berikutnya, lalu berjalan sejenak untuk meredakan desir di dada. Pola sederhana itu justru menuntunku melewati ratusan kilometer, seakan tiang-tiang itu adalah teman yang berdiri diam tapi setia, memberi jeda, memberi ruang napas.

Bahkan menjelang garis akhir, ketika cut off time mengejar dari belakang, tubuh yang sudah jauh dari utuh itu masih sempat memaksakan lari kecil—bukan karena kuat, tapi karena tekad ingin tiba sebelum semuanya selesai.

Di lomba-lomba berikutnya ritme itu tetap datang, meski sering saya abaikan. Kadang terlalu percaya diri, kadang terlalu ingin cepat, kadang hanya ingin merasa “normal”. Sampai suatu hari saya mengenal nama Jeff Galloway—dan saya tersenyum kecil. Ternyata ritme yang dulu saya kira kebiasaan pribadi, sudah lama punya rumah sendiri. Ada nama, ada metode, ada cerita. Saya hanya terlambat membacanya.

Sydney Marathon 2025 menjadi titik awal saya belajar patuh. Setiap water station saya melambat, meneguk minum, berjalan sejenak, lalu kembali berlari. Bukan karena lelah, tapi karena ingin memberi tubuh jeda yang layak. Target memang berantakan waktu itu, tapi justru di situlah saya melihat efektivitas ritme kecil itu: pelan tapi teratur; sederhana tapi bekerja.

Lalu datang Indomaret Run 2025. Pagi lembap PIK 2, jembatan-jembatan membentuk gelombang panjang seperti napas yang naik turun. Ada sebelas jembatan jika tak salah hitung—cukup untuk membuat langkah terus berubah tempo. Cuaca pesisir juga tidak pernah sepenuhnya jinak. Tapi justru di medan seperti ini metode Galloway terasa paling jujur. Setiap water station menjadi oasis kecil, tempat saya merapikan napas, menurunkan ego, dan mengingat bahwa tubuh ini sudah berjalan lima puluh lima tahun—ia perlu didekati dengan hormat, bukan dengan paksaan.

Setelah Sydney saya tidak banyak berlari. Lebih sering berjalan bersama Jack family: Jack, Amanta, dan dua anak mereka—Obi dan Onyx—yang lahir di tengah segala perpindahan dan kesibukan hidup. Mereka membuat langkah-langkah kecil saya tetap hidup, meski bukan dalam bentuk kilometer yang tercatat.

Pagi lomba itu saya ikut terbawa arus: dari rumah dekat, tapi memilih naik shuttle karena melihat bus terparkir manis. Akhirnya saya start di satu wave yang semestinya. Membutuhkan dua menit lebih untuk mencapai garis start, dan beberapa menit lain untuk keluar dari kerumunan. Tapi begitu ritme ditemukan, semuanya kembali tenang.

Setiap WS saya berhenti sebentar, meski tenaga masih utuh. Di kilometer 10 masih aman, tapi selepas 15 tubuh mulai berbicara jujur. Matahari pesisir semakin tinggi, angin panas datang dari samping, dan pace runtuh perlahan, seperti pasir yang lepas di sela jari.

Saya finish di 2 jam 4 menit. Target sub 2 terlewat, tapi anehnya tidak ada kecewa yang menggumpal. Tubuh masih ringan, napas masih bersahabat. Bahkan saya masih kuat membawa goodie bag penuh barang—sekitar tujuh kilogram—menyusuri jalan pulang hampir dua setengah kilometer.

Ada lomba yang membuat kita merasa kuat. Ada juga yang membuat kita merasa cukup.
Indomaret Run 2025 termasuk yang terakhir itu.

Di setiap jeda kecil di water station, saya merasa diajak mengingat: bahwa kecepatan bukan lagi bahasa utama tubuh saya. Yang tersisa sekarang adalah ritme. Ketekunan. Kesediaan untuk berhenti sejenak agar bisa terus melangkah lebih jauh.

Dan mungkin, justru di sanalah puisi lari itu tinggal. Bukan pada angka finish, tapi pada jeda-jeda kecil yang membuat perjalanan tetap mungkin.

You might also enjoy:

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link