gussur.com – Waduh, kalau ngomongin soal ujian masuk kuliah, rasanya perut langsung mules, ya gak? (Jujur saja, saya juga begitu dulu). Tiap tahun, drama seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ini selalu jadi momok nasional. Mulai dari yang nangis bombay di pojokan kamar sampai yang sujud syukur di halaman sekolah. Tapi, pernah kepikiran gak sih, gimana nasib kakek-nenek atau bapak-ibu kita dulu pas mau jadi mahasiswa?

Apakah mereka juga harus war tiket—eh, war kursi kayak kita? Mari kita flashback sebentar, ngobrol ngalor-ngidul menelusuri jejak sejarah seleksi mahasiswa baru di negeri ini. Siapkan kopi, karena strategi jagoan tembus kampus idaman ini perjalanannya lumayan panjang, Bung!

Zaman Revolusi: Kuliah Sambil Gerilya?

Kita mulai dari fase paling hardcore: awal kemerdekaan. Bayangkan, negara baru seumur jagung, Belanda masih ngeyel pengen balik menjajah, tapi semangat belajar anak muda waktu itu… beuh, menyala abangkuh!

Di masa 1945-1950, pendidikan kita itu dualisme parah. Di satu sisi ada pendidikan republik yang dikelola kita sendiri, di sisi lain ada pendidikan di daerah pendudukan Belanda. Tapi kerennya, meski situasi politik lagi panas-panasnya, semangat patriotisme jadi landasan utama pendidikan saat itu.

Dulu, belum ada tuh sistem seleksi nasional yang njelimet. Kampus-kampus legendaris kayak UGM atau UI (yang waktu itu masih ada unsur Balai Perguruan Tinggi RI) berjalan dengan sistem masing-masing. Bahkan di UGM, tradisi penerimaan mahasiswa barunya punya istilah unik. Tahun 1954, mahasiswa baru cowok dipanggil “Plontja” dan cewek “Plontji”. Kocak juga ya? Baru tahun 1969 istilahnya jadi MAPERMA, terus berubah lagi jadi OSMA di tahun 70-an, di mana yang cowok wajib gundul. Style botak demi ilmu, Bos!

SKALU: Embrio Seleksi Massal (1976)

Nah, masuk ke era 70-an, pemerintah mulai sadar. “Ini kalau tiap kampus bikin ujian sendiri-sendiri, kasihan calon mahasiswa, dompet bapaknya bisa jebol buat ongkos sana-sini.”

Akhirnya, pada tahun 1976, lima pendekar PTN (UI, ITB, IPB, UGM, dan Unair) bikin kesepakatan, lahirlah SKALU (Sekretariat Kerja Sama Antar Lima Universitas),. Ini adalah nenek moyangnya SBMPTN zaman now. Tujuannya mulia banget: menolong calon mahasiswa menghemat waktu dan biaya biar gak usah keliling Jawa buat tes satu-satu.

Yang bikin mindblowing, di era inilah teknologi komputer mulai dipakai buat meriksa lembar jawaban. Bayangkan, tahun 1976 kita sudah kenalan sama pensil 2B dan bulatan hitam yang gak boleh keluar garis!,. Soal ujiannya? Jangan tanya. Ada soal matematika legendaris di SKALU: “2 + 2 = berapa?”. Jawabannya bikin geger karena memecah belah peserta antara yang jawab “4” sama yang jawab “tidak tahu” saking bingungnya. Busettt, nekat bener yang bikin soal.

Tahun 1979, sistem ini di-upgrade. Pesertanya nambah jadi 10 PTN dan namanya ganti jadi SKASU (Sekretariat Kerja Sama Antar Sepuluh Universitas) atau dikenal juga sebagai Proyek Perintis I. Di sini, calon mahasiswa mulai boleh milih tiga prodi di tiga kampus berbeda. Makin pusing, makin asyik!

Era Emas Singkatan: Sipenmaru dan Sang Legenda UMPTN

Masuk tahun 1983, pemerintah (Depdikbud waktu itu) mungkin mikir, “Tanggung amat cuma 10 kampus.” Akhirnya, sistem Proyek Perintis diadopsi secara nasional melibatkan semua PTN. Namanya berubah jadi Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru). Di era ini juga dikenal jalur tanpa tes yang disebut PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan).

Tapi, nama yang paling melegenda dan bikin keder anak SMA tahun 90-an pastilah UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sistem ini dimulai tahun 1989 setelah Sipenmaru dan PMDK dihapus.

UMPTN ini bertahan lama banget, sampai tahun 2001. Kelompok ujiannya dibagi tiga: IPA, IPS, dan IPC (Campuran). Buat yang pernah ngerasain UMPTN, pasti ingat betapa sakralnya Rayon A, Rayon B, dan Rayon C. Salah pilih rayon, bisa amsyong gak bisa pulang kampung!

Era Reformasi: Gonta-Ganti Nama Bikin Pusing

Milenium baru, aturan baru. Tahun 2002, UMPTN ganti kulit jadi SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Awalnya dikelola badan independen (PSPMBN), tapi lama-lama ribut juga masalah administrasi keuangan, sampai akhirnya rektor-rektor PTN pada protes.

Akibat drama ini, tahun 2008 lahirlah SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang dipegang pemerintah, sementara si SPMB berubah jadi UMB-PT (Ujian Masuk Bersama) yang dikelola swasta dan asosiasi rektor. Jadi, buat kalian yang bingung kenapa dulu ada banyak banget jalur masuk (ada SNMPTN Undangan, SNMPTN Tulis, SBMPTN, UMB), ya inilah biang keroknya. Era ini bener-bener menguji iman dan ketebalan dompet orang tua.

Merdeka Belajar: Transformasi atau “Sami Mawon”?

Sampai akhirnya kita tiba di masa sekarang. Mas Menteri Nadiem Makarim meluncurkan Merdeka Belajar Episode 22. Katanya sih, ini transformasi besar-besaran agar seleksi lebih transparan dan adil.

Apa bedanya? Kalau dulu kita mabok ngafalin rumus Fisika atau tahun sejarah buat TKA (Tes Kemampuan Akademik), sekarang di SNBT (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes), materi itu dihapus!. Gantinya? Tes Skolastik yang mengukur nalar. Fokusnya ke potensi kognitif, penalaran matematika, serta literasi bahasa Indonesia dan Inggris,.

Filosofinya dalem, Bro. Pemerintah pengen kita gak cuma jago ngafal atau ikut bimbel cara cepat (tahu sendiri kan rumus “The King” yang legendaris itu?), tapi beneran punya kemampuan bernalar dan memecahkan masalah. Jadi, calon mahasiswa yang dicari itu bukan robot penghafal, tapi problem solver.

Selain tes, ada juga SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi) yang menggantikan SNMPTN undangan. Bobotnya minimal 50% dari rata-rata rapor seluruh mata pelajaran. Tujuannya biar anak SMA gak cuma pilih-pilih mapel yang disuka doang, tapi belajar secara holistik. “Tiwas pinter Matematika tapi Bahasa Inggris jeblok, ya susah juga,” mungkin begitu pikir mereka.

Catatan Pinggir

Perjalanan seleksi masuk PTN ini panjang dan berliku, persis kayak jalur pendakian ke Rinjani. Dari zaman SKALU yang masih coba-coba, UMPTN yang killer, sampai SNBT yang katanya lebih menekankan nalar, intinya satu: kompetisi.

Akses pendidikan tinggi kita memang masih jadi PR. Angka Partisipasi Kasar (APK) kita di tahun 2021 baru sekitar 31%, kalah jauh sama tetangga kayak Malaysia atau Thailand. Makanya, persaingan masuk PTN itu brutal karena kursinya sedikit yang mau masuk se-abrek-abrek.

Tapi ya sudahlah, apapun nama ujiannya—mau Sipenmaru, UMPTN, atau SNBT—yang penting bukan cuma soal lulus atau enggak. Tapi gimana proses itu menempa mental kita. Buat yang lagi berjuang, sing tenang, ojo panik. Gusti Allah mboten sare.

Selamat berjuang, Para Pejuang Kampus!

Info Penting Buat yang Mau “Hack” SNBT

Ngomong-ngomong soal SNBT yang sekarang isinya nalar semua, belajar pake cara lama (ngafeal mati) udah nggak mempan, Sob. Kamu butuh strategi yang adaptif.

Kebetulan nih, saya nemu tools canggih yang pas banget buat zaman now. Coba deh cek MentorUTBK di tautan ini: s.id/MentorUTBK.

Kenapa saya rekomendasiin? Karena ini bukan tryout biasa. Web ini pakai AI (Artificial Intelligence) buat semuanya, termasuk evaluasinya! Jadi, habis ngerjain soal, kamu nggak cuma dikasih nilai doang kayak di sekolah dulu, tapi dikasih analisis detail: di mana kurangnya, gimana pola nalar kamu, dan apa yang harus diperbaiki. Instruksinya juga sudah disesuaikan sama standar SNBT terbaru yang menekankan logika, bukan hafalan.

Lumayan banget kan, serasa punya mentor pribadi yang pinter tapi nggak galak. Worth it buat dicoba biar persiapanmu makin mateng!

Apa sebenarnya tujuan dari transformasi seleksi masuk PTN yang baru ini?

Utamanya adalah untuk menyelaraskan perubahan yang sudah dikembangkan melalui kebijakan Merdeka Belajar dari jenjang dasar hingga menengah dengan pendidikan tinggi. Sistem ini mendorong siswa belajar secara menyeluruh dan fokus pada kemampuan penalaran.

Ada berapa jalur masuk PTN yang tersedia saat ini?

Secara umum ada tiga jalur utama:
– Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
– Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
– Seleksi Secara Mandiri oleh PTN

Apa perbedaan mendasar antara SNBT dengan ujian tertulis sebelumnya (SBMPTN)?

Pada jalur SNBT, tidak ada lagi tes mata pelajaran akademik. Fokusnya hanya pada Tes Skolastik yang mengukur empat hal: potensi kognitif, penalaran matematika, literasi Bahasa Indonesia, dan literasi Bahasa Inggris. Tujuannya agar siswa tidak hanya sekadar menghafal.

Bagaimana dengan penilaian pada jalur SNBP (Prestasi)?

Jalur ini memberikan bobot minimal 50% untuk nilai rata-rata rapor seluruh mata pelajaran agar siswa berprestasi secara holistik. Sisanya, maksimal 50%, diambil dari komponen penggali minat dan bakat.

Apakah lulusan Paket C masih bisa ikut seleksi?

Bisa. Lulusan Paket C dapat mengikuti seleksi nasional berdasarkan tes dengan ketentuan kelulusan maksimal tiga tahun terakhir (contoh: lulusan 2021, 2022, dan 2023 untuk seleksi tahun 2023).

Di mana saya bisa melaporkan jika menemukan ketidaksesuaian prosedur dalam seleksi?

Kemdikbudristek menyediakan kanal pelaporan whistleblowing system melalui Inspektorat Jenderal di laman wbs.kemdikbud.go.id.