gussur.com – Bagi sebagian orang, touring adalah candu yang sulit dijelaskan. Berhari-hari di atas sadel, menembus desa dan kota, merayapi tanjakan, lalu disergap sepi di jalan panjang—semuanya seperti ritus yang memanggil kembali. Orang luar sering heran: “Ngapain susah-susah naik sepeda? Kan ada bus, ada kereta.”

Jawabannya sederhana: ada sesuatu yang hanya muncul saat pedal berputar. Seolah setiap kayuhan membuka pintu kecil menuju diri sendiri.

Di Indonesia, budaya touring belum semasif Eropa atau Amerika Serikat. Di AS, rute legendaris Trans AM membelah negeri dari timur ke barat. Di Eropa, rute-rute klasik melewati desa tua, kastil, garis pantai, dan pegunungan. Di sana, touring adalah tradisi; di sini, ia masih bertumbuh.

Plus minus sepeda non-touring

Karena itu pula, sepeda touring “asli” masih langka di Indonesia. Di luar negeri, sepeda touring lahir dari kebutuhan: geometri rangka dibuat nyaman jarak jauh, posisi lebih santai, tersedia dudukan rak, dan komponennya siap memanggul beban berhari-hari. Kita? Kebanyakan merakit sendiri. Yang penting bisa jalan, bisa memuat barang, dan bisa diajak jauh tanpa drama besar.

Akhirnya, apa pun sepedanya, touring tetap jalan.

Ada yang melaju dengan MTB standar. Ada yang pakai sepeda lipat, bahkan onthel satu gigi. Ada juga yang tak patah semangat menggantungkan pannier di fixie. Salah kaprah dari sisi teknis? Iya. Tapi namanya juga touring—kadang yang dicari bukan kesempurnaan, tetapi perjalanan itu sendiri.

Berikut ini rangkuman plus-minus beberapa jenis sepeda yang sering dipakai touring, sekaligus apa saja yang perlu dipoles agar lebih ramah jarak jauh.

MTB: Sang SUV Dunia Sepeda

MTB itu seperti SUV: bisa ke mana saja, tahan banting, dan kerap jadi pilihan pertama pemula.

Secara esensi, MTB bisa untuk touring. Tapi kenyamanannya berbeda. Posisi berkendara lebih agresif, bobot lebih berat, dan komponennya dirancang untuk off-road. Untungnya, banyak hal bisa disesuaikan.

Perlu Rak dan Pannier

MTB biasanya polos tanpa dudukan rak. Padahal, touring dengan ransel punggung itu hukuman—capek, bikin keringat menggenang, dan berpotensi cedera punggung.
Rak belakang wajib; rak depan lebih bagus kalau ada. Perhatikan jenis rem (v-brake atau cakram) supaya rak cocok.

Setang: Cari Variasi Posisi

Setang lurus MTB nyaman untuk jalur pendek, tapi menyiksa untuk perjalanan 6–8 jam. Tanduk setang bisa jadi solusi murah. Kalau mau lebih serius, ganti ke dropbar, bullhorn, atau butterfly.

Ban: Ganti Profil untuk Jalan Raya

Ban pacul boros tenaga di jalan halus. Ban slick dengan lebar medium lebih cocok. Jangan terlalu tipis—jalan Indonesia suka iseng menyembunyikan lubang.

Spion: Sepele, Tapi Penting

Touring tanpa spion ibarat lari tanpa melihat jam. Bisa saja, tapi bikin cemas setiap ingin menoleh ke belakang. Spion setang adalah opsi terbaik.

Gir dan Crank

MTB default dibuat untuk tanjakan ekstrem, bukan efisiensi jarak jauh. Banyak pe-touring mengganti ke kombinasi:

  • Crank: 48-36-24 atau 46-34-22

  • Cassette: 11–30, 11–32, atau 11–34

Kayuhan lebih enteng, tenaga lebih hemat.

Sadel

Sadel touring harus menopang tulang duduk, bukan sekadar “tidak sakit”. Brooks sering jadi favorit, tapi mahal. Yang penting ukur dulu lebar tulang duduk.

Spakbor dan Lampu

Jalan basah dan touring adalah pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Pasang spakbor minimalis yang cukup menahan cipratan.
Jangan lupa lampu depan & belakang yang terang—touring sering berakhir di senja yang kebablasan jadi malam.

Road Bike: Cepat, Tapi Banyak PR

Sepeda balap dirancang untuk kecepatan dan efisiensi, bukan membawa “rumah berjalan”.

Masalahnya:

  • Seatstay pendek, kurang stabil saat diberi beban.

  • Tidak ada eyelet untuk rak & fender.

  • Ban tipis rentan bocor.

  • Crank dan cassette untuk kecepatan, bukan tanjakan berat.

Tetap bisa touring? Bisa. Tapi ada beberapa hal yang harus dirombak.

Crank & Cassette

Crank double bawaan road bike terlalu berat untuk tanjakan panjang yang membawa beban.
Solusi:

  • Ganti ke crank triple

  • Atau pakai crank MTB

  • Pasangkan cassette MTB 11–32 atau 11–34

Rak & Fender

Karena tidak ada dudukan, solusinya:

  • Rak seatpost (kurang stabil kalau membawa banyak barang)

  • Rak universal (jarang di Indonesia)

  • Fender klip kecil untuk mengurangi cipratan

Road bike cocok buat touring ringan, bukan ekspedisi berat penuh perlengkapan camping.

Sepeda Lipat: Bisa, Tapi Jangan Harap Banyak

Sefleksibel-fleksibelnya sepeda lipat, tetap ada batasnya.

Kelemahannya:

  • Kebanyakan hanya pakai chainring satu.

  • Ruang untuk pannier kecil, rawan mengganggu kayuhan.

  • Ban kecil cepat “ditelan” lubang.

  • Stabilitas kurang jika membawa beban terlalu banyak.

Tapi untuk touring jarak menengah, atau rute kota–kota, sepeda lipat masih bisa menyenangkan.

Kalau digunakan untuk camping dan membawa banyak perlengkapan? Itu tantangan besar.

Penutup: Touring Adalah Cerita, Bukan Kompetisi

Pada akhirnya, touring bukan soal sepeda apa yang kamu pakai. Bukan soal komponen termahal atau setingan sepeda tersempurna. Touring adalah soal perjalanan: siapa yang kamu temui, apa yang kamu lihat, dan percakapan diam dengan diri sendiri di antara deru napas.

Mau pakai MTB, road bike, lipat, bahkan onthel, semua sah. Yang penting kamu siap menerima segala kejutan di jalan—dari hujan mendadak, tanjakan tanpa akhir, sampai warung kecil yang terasa seperti oasis.

Kalau kamu punya tambahan pengalaman, terutama soal sepeda lipat atau setup unik lainnya, ayo tambahkan. Touring selalu lebih kaya ketika diceritakan bersama.

You might also enjoy:

58 Comments

  1. Sepeda saya Frame Mosso 791Tb7 fork full carbon berat 1,04 kg. Sproket Recon Gold 10 speed berat 0.4 gram. Crank shimano 105 double, FD shimano 105, Wheelset RS 20 Shimano, Ban luar Xenith 2x, Ban dalam CST, Stang Amoeba, Stem Trutative, Seatpost Amoeba, Sadle Velo Senso Miles, Rantai Yaban Gold self lubricant 10 Speed, Handle Rem Tiagra, Shifter Deore 3×10 speed, RD Shimano XT 10 speed. Mohon pencerahan kira2 apa yg salah ya om. trims

    1. masbro tuh u bike udh oke tinggal pasang rak depan belakang dan, cranknya ganti pake three ring deore xt supaya ringan saat tanjakan berat, bannya make super moto schwalbe 26×2.35 ringan gede asiklah pokoknya segitu aja weleh2 met turing ….. bandung jogja buat yg mojalan juni 2013 nanti siapin aja ciennya okey salam

    2. Sudah dinaikin belum. kalau sudah rasakan semua bagian mana yang kurang sreg dengan misi : Nikmatilah sepeda ..jangan menikmati harga sepeda …hemat di kantong dan sehat di badan ….semua akan ketemu.

      1. Selamat pgi mas… mau tanya nih… aku punya frame sepeda federal jika di jdikan sepeda touring kira2 apa saja yang hars di beli? Belinya di mana?dan bajetnya kira2 habis berapa?

        1. Maaf telat jawab. Pada intinya sepeda turing itu kan sepeda beban karena dalam turing kita membawa banyak beban. Terlebih jika ingin menyatu dengan alam maka tidurnya pun di tenda. Nah, untuk itu perlu rak dan pannier. Ban juga dipilih yang ukuran sedang untuk mengantisipasi kondisi jalan di Indonesia yang tak semua beraspal mulus atau berbeton halus.

          Soal tempat beli bisa di olshop seperti Bukalapak atau Tokopedia. Tapi kalau mau rajin dan lebih mengenal dunia sepeda ya nyari bengkel2 di sekitar tempat tinggal. Kadang memperoleh parts murah meriah. Tentu jika Anda tak mempermasalahkan merek. Dengan begitu dana yang diperlukan bisa fleksibel.

          Sebagai gambaran, saya memiliki Federal CityCat yang saya cat ulang. Saya pasang dropbar dengan sprocket 8 speed. Sudah mumpuni untuk dibawa turing.

    1. wah, turut prihatin. semoga dapat gantinya. menurut saya touring bukan persoalan sepeda tapi sepedaannya. jadi tak usah terpaku dengan sepeda sebab di jalan saya bertemu dengan beberapa petouring dengan sepeda yang beragam. dari yang khusus untuk touring sampai yang seadanya.

      yuk touring!

      ? Melewati kesulitan kita akan jaya. (Evelyn – Pearl Harbor)

  2. weleh2 panjang nih, mantap turing bandung – jogja dua hari, walau jalanan rusak, tetep asik, bagi rekan yg suka turing gwes ehem… saran jangan bergadang sebelum pergi, jangan minum air soda, dan dingin… serta pedes2, pengalaman bikin tenggorokan kering dll, saran kedua, kosumsi nutrisi energi saat gwes seperti madu, vit b,c,e, pisang, coklat batangan, dan air bening (aqua), bila kelelahan segera berhenti itu menunjukan kondisi stamina perlu sesuatu, nasi Padang Bagus buat energi, disantap saja saat etape awal, segera isi ulang hehehe emang galon bro…. yg penting kebersamaan brangkat bareng pulang sama-sama,, selamat Gwes dan ber Turingria Ctt. jarak tempuh dalam sehari yang aman kata ahli kesehatan bule adalah 100km, alasanya karena endurance manusia sangat berpengaruh dg bobot total 100-199kg (sepeda, rangsel dan bobot biker..), tp tolak ukur tsb melalui penelitian, akurasinya aman bagi tubuh, hehehe boleh juga 100-200km dg beban minimal, bersepedalah untuk sehat bukan sebaliknya, salam Gwes Turing

    1. makasih tambahan informasinya. kalau seorang teman patokannya waktu dalam turing. sebelum senja ia akan menghentikan gowesnya dan menginap di pemukiman terakhir jika tempatnya sepi. jadi, bisa saja sehari menggowes 100 km lebih karena jalanan rata dan sepi. di lain waktu, bisa saja hanya bisa menambah jarak tak sampai 50 km karena medan menanjak.

      yang penting nikmati setiap kayuhan

  3. sepeda lipat juga mumpuni buat touring kok om.
    banyak selier (pengguna seli) yang menggunakan seli untuk tourig berhari2. Saya pernah mencoba keliling lombok, bali and finish di malang (bahkan lewat kaldera bromo) selamma 12 hari .

    Tidak ada trouble. malah sebenarnya di tanjakan lebih enak selli , karena lingkar roda lebih kecil, jadi lebih ringan di gowesnya.

    Salam

    1. Yup… di artikel lain saya juga sudah membahas soal itu. Saya pun mulai menjajal sepeda lipat untuk turing. Namun belum sampai 12 hari seperti om black kuwahara. Maklum masih kuli jadi gak bisa foya2 turing hehe…. Untuk melahap tanjakan juga lebih nyaman. Masih belum nyoba untuk di jalan rusak parah, terutama makadam batu besar.

      Salam turing

      1. Baru nyoba tanjakan solo ke tawangmangu pakai sely, ampun broo kayak e roda ga mw berputar, bisa jadi krn 7speed. Tapi sensasi berbeda dengan sepeda touring beneran dan sepeda balap. Klo saya cuma modal nekat, prinsipnya “ora edan ora tekan” pakai sepeda apapun asal ada kemauan dan niat pasti tercapai. Aminnnn

  4. Sedikit menmbahkan dari sedikit pengalaman dan pendpat subjektif saya touring dg seli trnyt lebih enjoy selain krn geometri ny enak utk santai dan juga mumpuni melibas tanjakan.. Tapi sepedaan itu ttg dengkul. Jdi nikmati aja sepedaany bkn sepedanya. Cmiiw

    1. Setuju yang soal sepedaan itu tentang dengkul. Turing adalah penjelajahan (personal), sehingga esensinya di jelajah, perjalanan. Bukan alatnya. Nikmati setiap kayuhan. Enggak kuat nanjak ya tuntun hehe..

  5. Om, ane baru beli rak pannier buat touring. Karena belinya keburu2, ane gk sadar klo di sepeda ane (polygon xtrada 4.0) enggak ada eyeletnya. Kira2 biar bisa dipasang, ada saran gk om?

    Atau, klo saya mau ganti frame, kira2 dominate 011 ada giant atx ltd ada eyelet nya gk om?

    Haturnuhun salam gembira. 🙂

  6. Kerenn gan ane baru dapet Hibah MTB Aleoca Tourney, ane mau jadiin touring tapi dengan budget anak sekolah gan.

    Ada 1 kerusakan yang krusial gan, Shifter ane Shimano SIS 6S rusak gak mau ganti speed entah patah/apa pokoknya stay di S6 berat banget.

    Mautanya, dengan budget ane anak sekolah.. lebih baik dibenerin atau ganti shifter gan atau sekalian upgrade speed ke 7/8 ?
    Terimakasih

    1. wah, coba dibeneri shifternya di bengkel biasa saja. Kalau upgrade ke 7/8 kan harus ganti cassete (gir belakang)nya juga. Belum lagi RD-nya cocok enggak nanti.

  7. Om mo nanya klo rack panir untuk sepeda mtb fullsus (giant yukon.adrenaline tr1) emang beda ya dengan rack panir mtb non fullsus. Mksh.

  8. Benar2 telat saya baca artikel ini.

    Saya dg BB 85kg, TB 160cm.
    Sepeda:
    Wimcycle RC-DX, Hi Ten
    Frame 16″
    Stang XC 700mm, stem zoom, bar end tanduk kecil
    Crank 48-38-28, 170mm
    Cassette 14-28T, 7 speed
    Hub 36

    Minggu lalu nekat nyoba gowes Jakarta-Bandung via Purwakarta. Tital jarak 161,7 km. Moving time 10 jam, total waktu 17 jam 30 menit. Bawaan sih gak terlalu banyak, cuma pakaian ganti 1 stel, 2 botol minum ukuran sedang, tools, dan patch kit. Semuanya saya bawa pake ransel alias tas punggung. Sementara HP, powerbank, dan counterpain, saya bawa pake tas paha yg saya lilit di top tube.

    Keluhan:
    1. Membawa ransel dg berat minimal sekalipun, lama2 memang menyiksa.
    2. Gear kurang mumpuni untuk melibas tanjakan, apalagi dg kemampuan dengkul saya yg memang pas-pasan.
    3. Sadel bawaan walau sudah ditambah bungkus gel, tetap menyiksa. Bokong panas dan sakit.
    4. Posisi tangan gampang bosan.

    Dengan dana pas2an,kira2 apa yg urgent saya benahi untuk keperluan touring lagi? Terima kasih. Salam gowes.

    1. wah, saya dulu pernah jakarta bandung lewat cariu dengan tas ransel. dan memang enggak nyaman.

      Kalau soal melibas tanjakan, sangat personal. Tapi bisa coba cassete diganti dengan yang megarange. Ada yang 7 speed juga kok. Megarange itu 34T kalau gak salah. Lumayan membantu. Namun tetap saja upgrade dengkul menjadi prioritas utama menurut saya. Coba latihan ngicik setiap hari.

      Sadel, menurut saya juga cocok2an tuh. Bungkus gel tidak banyak membantu karena keempukan sadel bukan jaminan. Sadel kulit tentu menambah kenyamanan tanpa harus pakai celana padding. Saya sudah mencoba turing ribuan km hanya menggunakan celana sekali pakai nyaman2 saja.

      Setang flatbar untuk turing memang membosankan. Makanya, kalau perlu pasang tanduk. Kalau punya modal pakai setang balap hehe…

        1. kalau suka agresif ya dropbar. eh tapi harus ganti shifter juga ya. cukup menguras isi dompet.

          kupu2 lebih santai dan banyak posisi tangan. juga banyak cantelan kalau mau pasang lampu atau bel.

          oke om, happy touring ya…

    1. Oke saja sepanjang dipakai hanya untuk turing. Untuk offroad kalau tangan masih lentur dan kuat gak masalah hehe… Tapi berbahaya. Tanggung jawab sendiri kalau kena cedera hehe…. (moga2 saja tidak ya)

      Tapi, pengalaman saya b2w di Jakarta kok enakan pakai shock absorber ya? karena kebiasaan naik trotoar kali ya hehe …. *jangan ditiru saya ….

  9. Selamat malam om.. saya mau cerita pengalaman pertama saya touring.
    Kebetulan SOLO BIKE…
    Beberapa minggu lalu saya touring DEPOk Jabar – Cikajang, Garut jabar (via puncak bogor, cianjur, cipatat, padalarang, cimahi, cileunyi, rancaekek, garut kota, samarang, dan finish di desa cipangramatan kecamatan cikajang).
    Start dari margonda pukul 19.30, tiba di gunungmas bogor pukul 3.15 pagi.. istirahat di warung kopi sampai pukul 7 .00 pagi, lanjut lagi ke punjak menempuh waktu sekitar 20menit.. pukul 9.00 start lagi.. sampai cileunyi pukul 22.20. Makan malam, start lagi sampai terminal guntur subuh (istirahat) start lagi pukul 10.00 pagi.. tiba di desa cipangramatan pukul 18.00 wib.
    Sepedah yg saya pakai XC Hard Trail merk Wimcycle Hotroad 2.1..
    -TANPA: toolkit, pompa ban, tambal ban,.

    Di ransel saya hanya ada : sleeping bag, raincoat, 1 jersey untuk ganti, pakaian untuk salin, sikat-pasta gigi + kanebo (pengganti handuk). Logistik hanya: sari kurma, permen karet, vitamin, beserta air minum.

    Waktu tempuh sekitar 46,5jam .
    Start margonda depok : Sabtu 6 februari 2016 pukul 19.30 wib.
    Finish di cikajang, garut : Senin, 7 februari 2016 pukul 18.00 wib.

    Alhamdulillah selamat sampai tujuan, halangan dijalan: hujan sepanjang jalan dari Cipatat(jbandung barat) – cileunyi..
    Serta ban bocor 300m sebelum garis finish..

    Sekian pengalaman pertama saya. Terimakasih banayak atas perhatianya..
    M Suta Salaka..

    1. salut om. tanpa rak dan pannier tentunya. saya turing bawa ransel terjauh cuma ke bandung.
      tapi ya menurut saya lebih nyaman jika punggung tanpa beban. terus toolkit menurut saya perlu juga karena trouble kadang tidak diduga.
      salam turing om

  10. Om mau tanya untuk soal gear untuk touring yang cocok berapa speed ? atau gimana dengkul hehe
    nuhun
    maklum masih pemula pindah ke kelas touring

    1. Saya lebih mengamini kata2 teman saya om. Invest ditubuh daripada invest di alat hehe…
      Sering2 latihan menguatkan otot kaki sama napas. Di youtube banyak caranya.
      Salam turing

  11. bro…saya dirumah ada dan satu Wim Cycle Road-champ ( Uk 16 “).spek masih bawaan (rem v-break , 21 speed )kecuali shock depannya sudah sya ganti yang travel 100 ( aslinya travel 80 )dan stang ganti united XC.Saya pengin rubah jadi sepeda touring….kira2 part mana yang perlu dirubah ya..( rencana mau saya pakai solo touring dari Kalimantan tengah ke Yogya)-tinggi saya 171cm dan bb 83 kg.
    Thanks…

    1. jika sudah nyaman dengan ukuran itu, paling tinggal masang rak buat pannier saja. ban ganti tapak yang lebih lebar agar tidak bermasalah saat menghadapi kondisi jalan yang tak rata. saya tak tahu apakah ada lubang baut untuk pemasangan rak. jika tidak ada beli atau modifikasi adaptor untuk memasang rak.untuk sprocket, jika dengkul kuat untuk melahap tanjakan, tak masalah. jika tidak cobalah ganti yang megarange. agar tak banyak mengganti cukup tetap 21 speed saja. selebihnya sih menurut saya menikmati setiap kayuhan dan jangan ngoyo. belajar menangani kerusakan2 kecil seperti menambal ban, mengganti rantai, menyetel rem, menyetel RD dan FD. selamat turing om … Melewati kesulitan kita akan jaya. (Evelyn – Pearl Harbor) gussur.com

  12. Ijin om mau nanya bisa gak ya speda onthel tua di jadiin sepeda tour dan pemasangan untuk gearnya bisa kasih saran om..pencerahannya om please sy baru dan jatuh cinta dengan tour sepeda

    1. Onthel agak maksa kalau mau dipasang “gigi”. Paling pakai internal gear. Kecuali beli Onthel moderen yang sudah kekinian. Gazelle termasuk pabrikan sepeda yg masih eksis sampai sekarang.

      Tapi balik esensi turing yang menitikberatkan perjalanan dengan sepeda, ya nikmati saja perjalanannya. Teman2 komunitas Onthel biasa turing dengan sepeda mereka tanpa ribet “gigi”. Gak kuat nanjak ya tuntun. Jadi lama memangnya.

      Selamat berturing ya… Saya juga belum sempat2 turing dengan Onthel. Sampai berdebu onthelnya.

  13. Om..sepeda saya polygon heist 4.0 standard pabrik..kira2 untuk touring yg perlu di tambah apa aja ya dengan budget anak kuliah..makasih

  14. Wah, tinggal nambahi rak saja. Sama pannier. Cari yang bekas kalau dana belum cukup. Akan lebih nyaman lagi kalau pasang tanduk di handlebar. Sama fender supaya nyaman nrabas hujan.
    selamat turing …

  15. Om, ada yg bs ksh info, bengkel sepeda turing sekitar Ciledug n Graha Raya ? Dulu ada 1 di Mencong, tp sdh tutup & ga tau kemana. Trims & salam turing!

    1. Wah saya bukan fanatik merek om. Apa yang ada ya saya pakai. Yg jelas ada harga ada rupa. Saya cuma usul utk turing pakai grupset MTB aja. Lebih fleksibel untuk segala kondisi. Sesuaikan dengan budget aja. Cari yang bekas juga gak apa2 kok.
      Selamat turing

  16. I came across your Yuk, Merakit Sepeda Touring | Gussur Ngeblog website and wanted to let you know that we have decided to open our POWERFUL and PRIVATE web traffic system to the public for a limited time! You can sign up for our targeted traffic network with a free trial as we make this offer available again. If you need targeted traffic that is interested in your subject matter or products start your free trial today: http://priscilarodrigues.com.br/url/v

  17. Hello admin, i must say you have very interesting content
    here. Your page can go viral. You need initial traffic only.
    How to get it? Search for: Mertiso’s tips go viral

  18. Salam, saya sudah rubah mtb gary fisher saya ke arah hybrid. Fork saya ganti rigid, rem saya ganti u-brake, wheelset saya pake 700C, groupset deore bawaan 3×8. Handdle bar saya masih pake yang flat bawaan cuma saya potong kanan kiri 4cm. Sejauh ini sudah terasa nyaman saya pake buat onroad jarak jauh. Cuma faktor posisi yang monoton jadi cenderung cepat pegal. Saya mohon saran, sekiranya saya ganti flatbar jadi dropbar, apakah saya perlu ganti keseluruhan groupset? atau cuma ganti shifter saja? kalau ganti shifter dan handel rem, kira-kira model dan merk apa yang cocok? Terima Kasih…:)

    1. Coba pasang tanduk dulu. baik yang lurus atau melengkung. Sayang sudah dipotong 4 cm ya. gak tahu kalau pasang tanduk jadi mepet banget enggak tuh.

      Turing dengan posisi yang monoton memang bikin pegal dan gak nyaman. Makanya setiap dua jam atau sekitar 50 km berhenti melakukan peregangan. Bukankah turing itu esensinya perjalanan? Bukan kebut2an. Jadi ya nikmati saja. Kecuali ada target harus sampai tujuan karena beberapa alasan.

      Ganti dropbar gak perlu ganti semua groupset. Paling shifter ganti dengan brifter (brake and shifter). Kalau ada sedikit persoalan dalam shifting ya bisa dimaklumi karena gak sepaket GS-nya.

      Bisa pula ganti dengan setang kupu2 (butterfly).

  19. Mohon pencerahan, sepeda lama (Le Run Falcon Star 3 yg rencananya mau pasang rack pannier buat B2W krn ringan) hilang dicuri dan gantinya dapat lungsuran United Fullsus, apakah bisa dimodif untuk touring?. Yang saya dengar fullsus sangat menyiksa untuk jalan rata jarak jauh krn momen kayuhnya gak dapat (akibat dual shock nya). Atau saya harus beli baru? Kalau pun beli baru yg direkomendasi merk apa? Budget maksimal 5 jt, kecuali kalau sdh keracunan touring gak tahu lagi…he he he

    1. iya. fullsus tidak bagus buat turing karena efek bumping membuat kayuhan tidak efisien. jika tidak mementingkan merek, 5 juta sudh bisa dapat sepeda untuk turing kok. yang penting cek bisa dipasangi rak pannier. pilih bahan cromoly atau malah besi sekalian karena lebih tangguh dibawa jarak jauh dengan beban tak biasa. selamat berburu dan salam aspal gronjal.

  20. Sepeda saya federal, tapi lupa typenya. kalau di daerah kami biasanya disebut sepeda perempuan karena batang horizontalnya tidak ada tapi miring. bisakah itu disulap menjadi sepeda touring?

  21. Salam kenal mas,

    Saya punya sepeda dominate 088 ukuran 26, gear depan 3 x belakang 9, rem cakram biasa belum hidrolik dan rencananya mau di ubah menjadi sepeda touring.

    Mohon sarannya apa saja yang perlu saya tambahkan dan saya ganti agar sepeda menjadi nyaman untuk touring.

    Terima kasih

    1. sudah siap tuh. tinggal pasang rak pannier. saya gak paham ada eyelet gak di seat stay buat masang dak belakang.

      tapi sekarang tas buat touring sudah berkembang kok. gak perlu pasang rak juga bisa. ada tas yang dicantolkan ke sadel (saddlebag) dengan kapasitas beragam. lalu tas yang dicantolkan di setang (handlebag), tas di bawah toptube (ada yang nyantol toptube saja, ada pula yang sampai ke downtube. tapi jadi gak bisa pasang bidon).

      selamat turing om…

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link