Kapok? Enggaklah!

Ini kejadian yang kesekian kali, namun paling parah. Ban bocor. Kali ini bukan bocor lagi, tapi sobek tepatnya. Luar dalam.

Kejadian ban sobek pernak aku alami beberapa bulan silam. Kejadiannya pas hujan lebat. Naik sepeda lipat menerjang genangan di sekitar Volvo Pasar Minggu. Tahu-tahu ban langsung kempes. Setelah minggir dan mengecek, ternyata ban sobek. Berhubung sudah dekat, ya langsung nuntun saja ke Condet.

Semalam hal sama terulang. Kali ini pakai sepeda ban 26″. Hujan tidak lebat. Kejadian persis juga tidak tahu, namun saya menduga karena tergores ujung plat baja yang sering digunakan untuk menutup saluran air yang melintang jalan. Kali ini lokasinya di dekat Plaza Kemang, Jalan Kemang Raya. Tidak langsung kempes namun saya merasakan ada yang aneh dengan ban belakang. Jalannya goyang-goyang. Belum sempat meminggirkan, tiba-tiba terdengar suara letusan dan ban langsung kempes.

Mencari taksi tidak ada yang kosong. Mau menambal tidak membawa pompa. Lagi pula dengan sobeknya ban luar pasti ban dalam akan menggelembung keluar dan riskan bocor lagi. Menuntun sambil mencari tukang tambal ban ke arah Pejaten tidak bersua juga. Jalanan kebetulan macet sampai pertigaan Pejaten. Ya sudah, tanpa terasa menuntun sepeda sampai di Jln. Pejaten Barat.

Mencoba menelepon teman yang tinggal di sekitar ternyata mailbox melulu. Ya sudah, tanggung sudah berjalan sekitar 1 km saya mencoba peruntungan ke sebuah kios tambal ban. Ternyata tidak sanggup meski saya sudah memberi saran. Lalu dia memberi tahu bahwa ada tukang tambal ban yang biasa menambal ban luar. Lokasinya tak jauh dari perempatan Pejaten Village. Naas, ternyata tutup.

Akhirnya kepalang basah, tuntun saja sampai rumah. Gerimis masih menetes. Saya cuek saja mendorong sepeda dengan memegang sadel. Beberapa sepeda motor membunyikan klakson minta diberi ruang menyalip saat kendaraan roda empat hanya bisa mengantri untuk melaju. Saya cuek saja. Sejak dari Kemang, banyak pengendara motor yang mau bersabar kok.

Tanpa terasa, jarak sekitar 6 km itu aku tempuh dalam waktu sekitar 1 jam. Jika melihat layar GPS sih memang kecepatan jalan sekitar 5 km/jam. Jadi teringat waktu ikut longmarch Bandung – Malabar pp. Hitung-hitung buat persiapan hiking atau naik gunung.

Kapok ber-b2w? Tentu tidak. Meski di grup Whatsapp komunitas jadi bahan olok2 dan candaan, saya mencoba menikmati itu semua. Sampai lupa untuk ngojek seperti disarankan teman saya. Paginya ketika mencoba menambal ban dalam, hasilnya begini ini:

ban dalam robek

Setelah saya pompa dan dirambang di air tidak ada lagi gelembung-gelembung udara yang berarti tambalan sudah rapat. Sayang, ban luar terlalu kecil dibandingkan ban dalam sehingga ada bagian yang terlipat. Saya pun tidak berani menggunakan untuk bersepeda ke kantor.

Pelajaran yang bisa saya ambil: selalu siap “perang” jika bersepeda, sekalipun hanya rumah – kantor pp. Semalam saya hanya membekal peralatan untuk menambal ban dalam saja. Ban dalam sendiri tersimpan di tas sepeda lain. Jika tidak mau repot ya bongkar dan naik taksi atau tarik dengan ojek. Cuma bilang ke tukang ojeknya untuk berhati-hati. Saya sendiri membayangkan kalau semalam mengojek agak kerepotan juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s