Ke Citorek Belajar Lagi Naik Sepeda (MTB)

gussur.com – Tanpa penderitaan, bagaimana kita bisa tahu kebahagiaan? Kalimat bijak itu selalu menjadi penyemangat kala badan terasa capai, pantat terasa panas, dan kaki terasa kelu untuk melajukan sepeda.

Dan begitulah, ketika sampai di Citorek, Lebak, Banten, kebahagiaan itu membuncah. Terlebih setelah mandi dan makan nasi merah plus lauk-pauknya yang sudah disiapkan oleh keluarga Jajang, kades setempat. Badan segar dan makanan pedesaan dengan bumbu “lapar” membuat nafsu makan bangkit tanpa terkendali. Dua porsi makan pun tandas.

Waktu yang merambat ke pergantian hari – ya, saya sampai Citorek hampir jam 12 malam – tak lantas membuat kantuk memeluk tubuh. Meski badan remuk redam, tapi kesegaran udara di ketinggian sekitar 850 mdpl itu menahan kantuk untuk sementara. Hanya karena besok harus bangun pagi untuk melanjutkan kayuhan ke Ciptagelar – Pelabuhan Ratu membuat saya segera mencari tempat untuk merebahkan tubuh.

***

Kasepuhan Ciptagelar menjadi madu bagiku untuk memutuskan ikut gowes bareng K-Night. Komunitas penggowes “kelas berat” ini bisa menjadi ajang untuk menakar seberapa kuat tubuh kita beradaptasi dengan tantangan alam, khususnya dalam dunia pergowesan.

(Banyak interpretasi soal nama K-Night ini. Bisa dibaca sebagai Knight yang berarti Ksatria. Bisa juga dibaca ke-naɪt, yang artinya kemalaman. Soalnya kalau ikut gowes mereka, sampai tempat tujuan dijamin kemalaman hehe …)

Berangkat dari PLTA Karacak menuju Citorek untuk bermalam dan dilanjutkan menuju Kasepuhan Ciptagelar sebelum akhirnya berakhir di Pelabuhanratu untuk diangkut kolbak menuju PLTA Karacak kembali. PLTA Karacak sendiri mengingatkan diriku saat awal-awal main MTB bersama komunitas Sacyc (Sawangan Cyclists).

Belakangan saya jarang main MTB karena susahnya memperoleh waktu. Sebagai gantinya lari, yang tak banyak membutuhkan waktu untuk membakar kalori yang setara. Gowes masih juga, tapi sekadar ke kantor atau minituring dengan ngaspal saja. Makanya, kali ini saya benar-benar belajar main MTB. Terlebih bareng dengan pada gendruwo.

Meski saya baru sekali ikut gobar dengan K-Night saat Songo G (keliling sembilan gunung di seputaran Malang, Jawa Timur), namun saya sudah paham dengan rute yang biasa mereka lahap. Nah, untuk hari pertama Karacak – Citorek, rute kasarnya seperti ini: Karacak , Kampung Cengal (offroad), New Genjlong (offroad), Kampung Antam (beton offroad), Kampung Urug (aspal, beton), Sarongge (makadam), Kampung Soka (makadam), Wates via Siberani (makadam), Citorek (makadam, beton). Jaraknya hanya 80km!

Tak perlu panjang bercerita soal kondisi treknya, foto-foto berikut bisa mewakili. Ini hanya sebagian sebab kadang saya malas motret.

Belum terlalu jauh dari PLTA Karacak sudah disuguhi tanjakan seperti ini. Tapi di sini terhibur dengan pohon manggis yang habis berbuah. (Apa hubungannya coba)

Makadam seperti ini masih termasuk sopan. Di beberapa lokasi batu-batunya lepas dan lebih besar bentuknya. Padahal ini masih di Kabupaten Bogor lo. (Nah, apa hubungannya lagi coba …)

Jika makadam gak bisa digowes masih bisa berkilah. Tapi kalau sepeda gak bisa dikayuh secara penuh sampai puncak tanjakan di jalan tanah seperti ini, ya karena memang dengkulnya gak kuat haha …

Apalagi sampai TTB berjamaah. Kalau begini bisa berkilah tanjakannya terlalu curam. Iya, tanjakannya. Bukan dengkulnya.

Meliuk-liuk melewati perkampungan. Tapi jangan khawatir ada larangan untuk turun dari kendaraan seperti “di perkampungan kota”, di sini sepanjang bilang permisi atau senyum ke warga setempat silahkan saja. Malah anak-anak ramah menyapa.

Melihat pemandangan seperti ini, hati rasanya damai. Mata menjadi cerah. Bayangkan jika padi sudah menguning dan semburat sinar matahari sore menerobos dedaunan. (Abaikan tanjakan di ujung sana!)

Teringat dengan jembatan gantung di Condet. Pas lewat sini ada di barisan belakang, awal lewat jembatan nggak masalah. Namun pas ke tengah goyangannya makin tak terkendali. Akhirnya berhenti dan tuntun sepeda dari pada kecebur.

Main sepeda adalah main keseimbangan. Hidup pun perlu keseimbangan. Dan fokus! Jangan sampai ada “handuk” menggoda matamu. Lebih baik lihat atau lupakan! Eh, tapi kawan bilang lebih baik melihat dan jatuh daripada tidak jatuh tapi menyesal tak lihat.

Lewat jembatan gantung lagi sebelum masuk Kampung Urug. Kalau punya banyak waktu, bisa dieksplor nih Kampung Urug. Soalnya,  masyarakat Kampung Urug merupakan keturunan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran. Menurut catatan, Prabu Siliwangi beberapa kali “tilem” atau menghilang, dan berakhir muncul di Kampung Urug ini.

Istirahat cukup lama di salah satu gazebo Kampung Urug. Di depan gazebo ada makam yang terkunci. Sayang tak banyak penduduk sekitar yang bisa ditanya soal makam lebih detail.

 

Menjelang sore, kami regrouping di Kampung Wates. Tempat ini adalah relokasi dari tempat lama yang terkena longsoran bukit. Makanya rumah-rumah yang ada seragam. Dingin mulai terasa.

Hujan juga mulai turun di sini. “Sebulan lebih belum hujan di sini,” kata seorang penduduk.

Berhenti sejenak, masih di Kampung Wates karena ada sepatu peserta yang jebol. Dari tempat regrouping terakhir sampai ke sini memang jalannya makadam gak sopan. Belum lagi sudah gelap dan gerimis. Banyak yang TTB.

Kembali kami merasakan keramahan penduduk. Begitu mendengar ada suara di luar, beberapa orang keluar rumah. Salah seorang dari mereka kemudian mengeluarkan gelas dan air.

“Silakan diminum,” kata seorang Bapak sambil bertanya ke mana tujuan kami.

“Citorek?” Bapak itu seperti berkata dengan nada heran.

Turunan tak selalu menggembirakan. Sudah gelap karena malam hari, gerimis, plus makadam lepas.

Akhirnya keluar juga dari jalan makadam dan beton dengan jalur yang naik turun. Sudah hampir pukul 21.00. Perjalanan menuju Kampung Adat Citorek masih sekitar 10-an km melintasi jalan raya Cipanas – Warungbanten.

Saya akhirnya sampai Citorek tengah malam.

***

Satu hal yang wajib diingat jika ikut K-Night, harus punya gpx-nya. Entah diinstall di alat navigasi macam Garmin, atau di aplikasi macam GPX Viewer. Kalau tidak ya membuntuti terus yang memiliki gpx tersebut.

Saya sempat tercecer dan kemudian keasyikan di turunan makadam sehingga akhirnya keluar jalur. Alias nyasar. Soalnya sudah terlalu jauh kok belum lihat punggung teman.

Akhirnya terpaksa mengeluarkan ponsel dan buka GPXViewer. Itu pun masih kesasar lagi. Nyasarnya bisa dilihat di gambar berikut yang saya kasih lingkaran merah.

Lantas, mengapa saya kasih judul “Belajar Lagi Naik MTB”? Karena saya sempat terjatuh gara-gara kurang sigap melepas cleat. Pas turunan makadam dan kemudian melewati genangan air lalu mulai menanjak, tiba-tiba saja ban depan terpeleset.

Ilmu melepas cleat secepat bayangan sudah memudar sehingga akhirnya pasrah saja terjerembab di bebatuan dengan beberapa luka di sekujur tubuh. Yang parah tentu di bagian dengkul dan tangan kiri (karena jatuh ke arah kiri).

Jadi teringat dengan awal memakai cleat saat ikut Jelajah Sepeda Surabaya – Jakarta. Entah berapa kali jatuh bego karena kurang sigap melepas cleat.

Memasuki Citorek semua derita itu serasa sirna. Serasa saja sebab perihnya luka masih terasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s