Yuk, Merakit Sepeda Touring

Bagi sebagian orang, touring adalah candu. Bersepeda jarak jauh dan berhari-hari dilakoni dengan semangat dan motivasi yang tak terhenti. Tak jarang menimbulkan keheranan banyak orang. Mengapa harus susah payah menuju suatu tempat jika sudah banyak alternatif angkutan di masa modern ini?

Jawabannya ada di setiap kayuhan itu sendiri.

Di Indonesia kegiatan ini belum seramai di luar negeri. Semisal di Eropa atau Amerika Serikat. AS memiliki rute touring sepeda legendaris, Trans AM, yang merentang dari ujung timur ke ujung barat negara AS. Begitu pula dengan Eropa yang memiliki rute-rute touring klasik.

Begitu memasyarakatnya touring sepeda membuat di sana sudah diciptakan sepeda khusus untuk jarak jauh. Geometri sepeda dan asesoris pendukung tersedia untuk kebutuhan bersepeda jarak jauh selama berhari-hari. Nah, di Indonesia sepeda khusus seperti itu masih jarang. Alhasil, penyuka touring pun mengakali dengan merakit sepeda sendiri khusus untuk touring.

Beberapa orang yang melakukan touring akhirnya menggunakan sepeda yang ada di pasaran. Bahkan ada yang menggunakan sepeda onthel dengan satu gigi. Sebagian besar menggunakan sepeda gunung (MTB) karena fleksibilitasnya. Mau di jalan mulus masih bisa meski butuh tenaga ekstra untuk mengayuhnya. Sementara di jalan rusak oke-oke saja.

Seiring maraknya touring atau sepeda jarak jauh, sepeda lipat dan bahkan fixie pun digunakan untuk touring. Tentu dari segi fungsi sudah jelas salah kaprah dan menyiksa diri. Sepeda touring memang dikhususkan untuk perjalanan jarak jauh sehingga rancang bangunnya sudah memasukkan faktor kenyamanan. Juga sudah siap untuk membawa barang pribadi.

Apa saja plus minusnya sepeda-sepeda non-touring saat digunakan touring? Dengan pengalaman minim, plus bahan-bahan tambahan dari Internet, tulisan ini mencoba menguraikan beberapa alternatif yang bisa digunakan untuk touring.

MTB atau Sepeda Gunung

Sepeda ini mirip dengan SUV di dunia permobilan. Tangguh untuk melewati jalan berkeriting atau berlubang di sana-sini. Meski ada yang bilang tidak cocok untuk dijadikan sepeda toruing, namun harus diingat bahwa esensi touring adalah kesenangan, olahraga, dan pengalaman. Tak ada hal khusus soal tunggangan.

Akan tetapi, kesenangan bisa ternodai oleh ketidaknyamanan tunggangan. Oleh karena itu, beberapa tambahan atau perubahan bisa dilakukan demi memperoleh rasa touring di sepeda gunung.

  • Rak.
    Hampir semua MTB tidak dilengkapi dengan rak. Karakter sepeda gunung memang minimalis untuk memperoleh bobot yang minimal sehingga efisiensi kayuhan tercapai. Oleh karena itu rak tidak dipasang.Jika sepeda gunung ini mau dipakai untuk touring, kebutuhan akan rak mutlak.Memang ada yang menggunakan ransel punggung, namun hal ini tidak disarankan. Sangat tidak bagus buat punggung Anda sebab memberi beban pada punggung dalam jangka lama rentan cedera. Jika punggung sudah cedera maka acara touringbisa batal.

    Beban di punggung juga membuat gerakan mengayuh menjadi terganggu, terutama untuk melakukan manuver.

    Untuk keseimbangan, lebih bagus jika memasang rak depan dan belakang. Namun jika dana terbatas bisa saja memasang rak belakang terdahulu.

    Jangan lupa membeli pannier untuk membawa barang-barang selama touring. Pasanglah pannier di kiri dan kanan serta kantung antiair di atasnya. Dalam memilih rak pertimbangkan apakah rem yang Anda gunakan jenis cakram atau bukan.Untuk rak depan di Indonesia jarang ditemui sehingga harus dilakukan modifikasi. Jika masih membutuhkan kompartemen bisa dipertimbangkan pannier yang dipasang di setang. Hanya saja daya angkutnya terbatas dan tidak bisa menahan beban yang terlalu berat.

  • Setang/handlebar
    Perbedaan besar antara sepeda gunung dan sepeda touring adalah posisi Anda. Sepeda gunung dirancang untuk posisi yang lebih banyak berdiri sedangkan sepeda touring perkawinan antara sepeda gunung dan sepeda jalan raya. Setang sepeda gunung yang lurus memang tidak banyak memberikan alternatif posisi saat berkendara.Saat touring yang membutuhkan waktu berjam-jam di atas sepeda, posisi monoton bisa menimbulkan kelelahan pada punggung dan dengkul. Jika Anda memiliki permasalahan dengan punggung, maka mengganti setang sepeda gunung adalah wajib. Jika belum ada dana untuk mengganti setang, cobalah dengan memasang tanduk setang (end bar) agar memiliki variasi memegang setang.

    Ada tiga alternatif setang untuk touring ini: drop down (setang model balap), bull-horn (setang model fixie), atau butterfly. Masing-masing orang memiliki kesukaan masing-masing. Ada yang suka drop-down karena ingin merasakan sensasi membalap saat jalanan mulus dan lengang. Ada yang ngebet model kupu-kupu karena memberikan banyak tempat untuk menaruh gadget atau peralatan pemandu. Sedangkan yang suka minimalis bisa memilih setang tanduk.

  • Ban
    Sepeda gunung kebanyakan menggunakan ban pacul atau profil kasar agar memperoleh daya cengkeram saat melaju di jalan tak rata. Nah, touring yang lebih banyak melaju di atas jalan raya justru membutuhkan ban gundul atau slickagar gesekan ban dengan jalan berkurang. Otomatis kayuhan menjadi enteng dan menghemat tenaga.Sayangnya, jalan raya di Indonesia tidak selamanya mulus. Penggunaan ban gundul dengan tapak kecil kadang bisa menimbulkan masalah. Saat terperosok di lubang yang agak dalam ban bisa bocor. Maka gunakan ban gundul dengan lebar tapak yang medium.
  • Spion
    Harganya murah tapi sangat berguna. Bahkan ada yang bilang lebih penting daripada helm. Sepele, tapi tak bisa disepelekan fungsinya. Sangat berguna saat mau belok ke kanan atau menyalip angkutan kota yang berhenti seenaknya. Di Indonesia memang belum banyak spion model ini meski beberapa sudah menjualnya.Bermacam-macam bentuk spion: untuk setang tanduk (kiri), setang lurus (tengah) dan setang balap (kanan).

    Kelebihan spion yang dicantolkan ke setang ini adalah kokoh, memiliki bidang pandang yang lebar, dan mudah diatur. Namun saat parkir atau tersenggol spion ini bisa berubah posisi. Juga butuh dicek setelah beberapa bulan dipakai agar pengaitnya tetap kuat. Dalam beberapa kasus membuat lebar sepeda bertambah.

    Selain spion untuk setang, ada lagi jenis spion yang dipasang di helm atau kaca mata. Tentu saja cerminnya tidak besar namun cukup membantu untuk melihat objek di belakang. Spion ini memiliki kelemahan dalam hal bidang pandang dan pemasangan yang agak ribet. Karena menempel di kaca mata atau helm, maka Anda harus memakai kaca mata atau helm jika ingin menggunakan spion.

  • Gear/gir
    Penggunaan gearsangat tergantung medan yang akan Anda lalui. Sepeda gunung dirancang untuk menaklukkan medan yang ekstrem dan tidak rata. Oleh karena itu digunakan pasangan gir yang kecil di depan dan besar di belakang. Kombinasi ini menghasilkan kayuhan yang ringan demi menaklukkan medan yang berat.

    Berbeda dengan touring yang kebanyakan onroad. Kalaupun offroad lebih ke arah jalan rusak. Oleh karena itu, agar tenaga efisien maka lebih baik kombinasi gir diubah. Yang umum orang menggunakan kombinasi 48-36-24 atau 46-34-22 dengan kaset 12 – 32 atau 11 – 30. Kini bahkan ada kaset yang lebih besar, 34, untuk medan yang penuh tanjakan.

  • Sadel
    Sadel sangat penting dalam sepeda touring karena di sinilah berat badan bertumpu. Meskipun semua setelan sudah cocok, tapi kalau sadelnya kurang pas kayuhan pun menjadi tak maksimal. Untuk itu diperlukan sadel yang pas buat pe-touring.Bagaimana mencari sadel yang pas?Pada intinya sadel harus bisa menopang tulang pantat dengan maksimal sehingga pantat tidak sakit. Nah, beberapa toko sepeda memiliki alat untuk mengukur berapa ukuran sadel yang Anda butuhkan. Jika memiliki dana berlebih bisa coba sadel merek Brooks yang sudah dikenal kenyamanan dan ketangguhannya. Sadel ini akan mencetak pantat Anda sehingga pas. Memang, untuk sampai tahap pas di pantat ini butuh jarak yang lama.
  • Spakbor/fender
    Dalam melakukan touring, tak jarang hujan menghadang perjalanan. Jika tak ada jadwal yang ketat, bisa saja Anda berteduh. Namun kalau rencana sudah tersusun dengan ketat dan meleset sedikit bisa mengacaukan semua, mau tak mau hujan harus “dilawan”. Nah, salah satu senjata untuk melawan hujan adalah spakbor atau fender ini. Alat ini berfungsi melindungi batang sepeda dan komponen FD dari cipratan air hujan yang membawa lumpur. Juga mata dari cipratan air hujan yang terlontar saat roda berputar.

    Namun, kalaupun berhenti saat hujan, Anda tetap butuh spakbor sebab sehabis hujan, jalan masih becek dan beberapa genangan bisa saja Anda temui. Ini malah lebih menyusahkan sebab cipratan itu akan menetap sebab tidak terguyur oleh air hujan dari atas. Jadi, menerobos hujan atau tidak spakbor tetap dibutuhkan.

    Masalahnya, kebanyakan sepeda gunung tidak dirancang untuk dipasangi spakbor. Fork misalnya, tidak ada lubang baut untuk memasang pemegang spakbor. Alhasil, di pasaran muncul spakbor minimalis yang hanya bertumpu pada satu titik. Yang depan dikaitkan ke fork (dan belum tentu semua fork ada lubang untuk baut fender ini sehingga jika tidak ada terpaksa hanya bisa memasang pelindung lumpur di rangka). Sementara yang belakang dikaitkan ke tiang sadel (seat post). Sekadar menghindari cipratan air ke mata dan punggung.

  • Pelek/rim
    Bukan persoalan yang penting tapi bisa saja menimbulkan masalah. Pelek berkaitan dengan beban yang kita angkut. Pelek dengan lubang 36 buah lebih bagus berkaitan dengan kekuatan angkut beban.
  • Lampu
    Terkadang jadwal yang sudah disusun meleset di lapangan. Bisa jadi karna ada masalah atau keasyikan menikmati pemandangan. Tahu-tahu sore sudah menjelang dan penginapan masih jauh. Berhenti tidak mungkin karna jauh dari pemukiman. Alhasil, mengayuh di kegelapan harus dijalani.

    Di sinilah pentingnya lampu. Di kegelapan, seberkas lampu begitu berarti. Sebanyak mungkin pasang lampu di depan dan belakang. Untuk depan minimal dua lampu: satu menyala terus untuk melihat jalan di depan dan satunya berkedip-kedip untuk menarik perhatian kendaraan dari arah depan. Sedangkan yang belakang pasang lampu berkedap-kedip untuk menarik perhatian kendaraan dari belakang.

Road bike atau sepeda balap

Sepeda balap untuk touring bisa saja meski banyak hal yang harus diubah. Tipikal sepeda jalan raya tentu untuk kecepatan. Seatstay atau rangka yang menjepit ban belakang yang pendek membuat sulit untuk kestabilan dan memasang pannier. Lalu jarak seatstay yang pendek juga menyulitkan jika harus memakai ban tapak lebih lebar. Padahal, touring dengan beban banyak dan ban tapak kecil lebih rentan memperoleh masalah seperti ban bocor. Untuk pengereman juga kurang menggigit.

Kelemahan lain sepeda balap adalah banyak yang tidak dilengkapi dengan lubang baut (eyelets) untuk memasang fender atau rak pannier. Padahal dua alat ini sangat penting dalam touring. Crank yang double dan cassete yang rapat dengan ukuran kecil tidak cocok untuk touring yang variasi medan bisa sangat bervariasi.

Jadi, untuk memperoleh kenyamanan touring ada beberapa bagian yang perlu dibenahi.

  • CrankSekarang ini kebanyakan sepeda road memakai crank double. Jika terbiasa tidak masalah. Namun karena variasi jalan touring lebih banyak, semisal dari Jakarta ke Yogyakarta melewati Purwokerto, maka saat menuju Purwokerto dari Cirebon akan melewati beberapa tanjakan. Nah, crank yang terbatas membuat upaya menaklukkan tanjakan juga terbatas. Butuh tenaga berlebih untuk mengayuh dengan crank yang besar. Soalnya, semakin besar diameter cranksemakin berat mengayuhnya.

    Selain itu, diameter crank sepeda jalan biasanya besar-besar karena untuk mengejar kecepatan. Nah, untuk touring terkadang menyiksa sebab touring tidak mengejar kecepatan, lebih ke arah kenyamanan. Semisal melihat pemandangan di perbukitan dan ingin mengabadikan dalam gambar, terpaksa kita berhenti meski sedang menanjak. Nah, jika tidak ada alternatif untuk kayuhan enteng (kombinasi crank kecil dan cassetebesar) maka ketika akan melanjutkan perjalanan butuh tenaga lebih untuk menaklukkan tanjakan.Solusinya mengganti crank triple atau double tetapi beda kombinasinya jauh sekali. Bisa juga menggantinya dengan crank MTB yang memiliki kombinasi angka lebih kecil.

  • Fender/spakbor
    Sepeda balap sekarang ini kebanyakan tidak menyediakan lubang baut untuk memasang fender atau spakbor. Meski sepele, namun fungsi fender baru terasa saat hujan. Kalau pun kita meneduh saat hujan, tak mungkin meneruskan perjalanan menunggu jalanan kering. Begitu hujan selesai maka perjalanan dilanjutkan. Padahal jalanan masih basah. Sisa air bercampur dengan tanah jalanan ini membuat komponen sepeda, terutama front derailleur(FD), kurang maksimal.Solusinya menggunakan pelindung lumpur yang dicantelkan di downtube(rangka bagian bawah). Setidaknya ini menghindarkan muka dari cipratan lumpur saat menerjang genangan air atau permukaan jalan yang becek sehabis hujan.

    Sedangkan untuk fender belakang bisa menggunakan fender yang dicantolkan ke batang seatpost. Kelemahannya bisa bergeser sehingga tidak sejajar dengan roda belakang lagi. Alhasil, setelah sekian lama gowes harap dicek kelurusan fender ini. Atau cek juga klem yang memegang batang seatpost. Apakah sudah kuat atau masih longgar.

  • Rak pannier
    Rata-rata sepeda balap saat ini tidak dilengkapi dengan lubang baut untuk memasang rak pannier. Berbeda dengan sepeda balap lawas yang sudah menyiapkan lubang untuk memasang rak pannier dan juga fender. Nah, jika lubang baut tidak ada, maka untuk melengkapi sepeda balap dengan rak pannierada dua penyelesaian.

    Pertama memasang rak yang dikaitkan dengan seatpost. Tentu saja memiliki kelemahan dari sisi kekokohan. Juga rentan goyang. Daya angkutnya juga terbatas. Juga menyulitkan saat mau mengubah ketinggian sadel.

    Alternatif lain menggunakan rak universal. Hanya saja di Indonesia jarang yang jual karena budaya touring belum marak.Rak Universal (workbicycle.com)

Perubahan lain yang harus dilakukan demi kenyamanan touring adalah cassete. Sepeda balap umumnya antar girnya rapat. Untuk touring yang medan jalannya tak semuanya datar kombinasi itu agak merepotkan. Terlebih membawa muatan. Makanya perlu diganti crank model triple (48-38-26) dan cassete menggunakan kombinasi sepeda gunung (11-32) yang lebih mumpuni untuk melewati jalan menanjak.

Sepeda lipat

Ada beberapa orang yang menggunakan sepeda lipat untuk touring. Hanya saja untuk dimuati beban yang berat, terutama pada touring jarak jauh dan membawa peralatan camping, sepeda ini tidak mumpuni.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada sepeda lipat untuk touring.

  • Pada umumnya sepeda lipat hanya memiliki chainring satu. Chainring double atau triple hanya terdapat pada sepeda lipat premium. Bisa saja memodifikasi namun karena dasarnya tidak dipersiapkan untuk double atau triple, maka pemasangan kadang kurang presisi karena dudukan RD bukan permanen
  • Rak untuk pannier terkadang terlalu mepet ukurannya sehingga jika tidak dimodifikasi akan mengganggu kayuhan. Mengatasinya ganti rak yang fleksibel.
  • Ban sepeda lipat pada umumnya bertapak sempit karena lebih banyak diperuntukkan di jalan mulus. Touring tentu tak semua jalanannya mulus sehingga rentan bocor.

Terus terang saya tidak banyak pengalaman menggunakan sepeda lipat untuk touring. Setidaknya ke Bandung via Subang. Jadi, ada yang mau menambahkan informasi ini?

Advertisements

46 thoughts on “Yuk, Merakit Sepeda Touring

  1. Sepeda saya Frame Mosso 791Tb7 fork full carbon berat 1,04 kg. Sproket Recon Gold 10 speed berat 0.4 gram. Crank shimano 105 double, FD shimano 105, Wheelset RS 20 Shimano, Ban luar Xenith 2x, Ban dalam CST, Stang Amoeba, Stem Trutative, Seatpost Amoeba, Sadle Velo Senso Miles, Rantai Yaban Gold self lubricant 10 Speed, Handle Rem Tiagra, Shifter Deore 3×10 speed, RD Shimano XT 10 speed. Mohon pencerahan kira2 apa yg salah ya om. trims

    • masbro tuh u bike udh oke tinggal pasang rak depan belakang dan, cranknya ganti pake three ring deore xt supaya ringan saat tanjakan berat, bannya make super moto schwalbe 26×2.35 ringan gede asiklah pokoknya segitu aja weleh2 met turing ….. bandung jogja buat yg mojalan juni 2013 nanti siapin aja ciennya okey salam

    • Sudah dinaikin belum. kalau sudah rasakan semua bagian mana yang kurang sreg dengan misi : Nikmatilah sepeda ..jangan menikmati harga sepeda …hemat di kantong dan sehat di badan ….semua akan ketemu.

    • wah, turut prihatin. semoga dapat gantinya. menurut saya touring bukan persoalan sepeda tapi sepedaannya. jadi tak usah terpaku dengan sepeda sebab di jalan saya bertemu dengan beberapa petouring dengan sepeda yang beragam. dari yang khusus untuk touring sampai yang seadanya.

      yuk touring!

      Melewati kesulitan kita akan jaya. (Evelyn – Pearl Harbor)

  2. weleh2 panjang nih, mantap turing bandung – jogja dua hari, walau jalanan rusak, tetep asik, bagi rekan yg suka turing gwes ehem… saran jangan bergadang sebelum pergi, jangan minum air soda, dan dingin… serta pedes2, pengalaman bikin tenggorokan kering dll, saran kedua, kosumsi nutrisi energi saat gwes seperti madu, vit b,c,e, pisang, coklat batangan, dan air bening (aqua), bila kelelahan segera berhenti itu menunjukan kondisi stamina perlu sesuatu, nasi Padang Bagus buat energi, disantap saja saat etape awal, segera isi ulang hehehe emang galon bro…. yg penting kebersamaan brangkat bareng pulang sama-sama,, selamat Gwes dan ber Turingria Ctt. jarak tempuh dalam sehari yang aman kata ahli kesehatan bule adalah 100km, alasanya karena endurance manusia sangat berpengaruh dg bobot total 100-199kg (sepeda, rangsel dan bobot biker..), tp tolak ukur tsb melalui penelitian, akurasinya aman bagi tubuh, hehehe boleh juga 100-200km dg beban minimal, bersepedalah untuk sehat bukan sebaliknya, salam Gwes Turing

    • makasih tambahan informasinya. kalau seorang teman patokannya waktu dalam turing. sebelum senja ia akan menghentikan gowesnya dan menginap di pemukiman terakhir jika tempatnya sepi. jadi, bisa saja sehari menggowes 100 km lebih karena jalanan rata dan sepi. di lain waktu, bisa saja hanya bisa menambah jarak tak sampai 50 km karena medan menanjak.

      yang penting nikmati setiap kayuhan

  3. sepeda lipat juga mumpuni buat touring kok om.
    banyak selier (pengguna seli) yang menggunakan seli untuk tourig berhari2. Saya pernah mencoba keliling lombok, bali and finish di malang (bahkan lewat kaldera bromo) selamma 12 hari .

    Tidak ada trouble. malah sebenarnya di tanjakan lebih enak selli , karena lingkar roda lebih kecil, jadi lebih ringan di gowesnya.

    Salam

    • Yup… di artikel lain saya juga sudah membahas soal itu. Saya pun mulai menjajal sepeda lipat untuk turing. Namun belum sampai 12 hari seperti om black kuwahara. Maklum masih kuli jadi gak bisa foya2 turing hehe…. Untuk melahap tanjakan juga lebih nyaman. Masih belum nyoba untuk di jalan rusak parah, terutama makadam batu besar.

      Salam turing

      • Baru nyoba tanjakan solo ke tawangmangu pakai sely, ampun broo kayak e roda ga mw berputar, bisa jadi krn 7speed. Tapi sensasi berbeda dengan sepeda touring beneran dan sepeda balap. Klo saya cuma modal nekat, prinsipnya “ora edan ora tekan” pakai sepeda apapun asal ada kemauan dan niat pasti tercapai. Aminnnn

  4. Sedikit menmbahkan dari sedikit pengalaman dan pendpat subjektif saya touring dg seli trnyt lebih enjoy selain krn geometri ny enak utk santai dan juga mumpuni melibas tanjakan.. Tapi sepedaan itu ttg dengkul. Jdi nikmati aja sepedaany bkn sepedanya. Cmiiw

    • Setuju yang soal sepedaan itu tentang dengkul. Turing adalah penjelajahan (personal), sehingga esensinya di jelajah, perjalanan. Bukan alatnya. Nikmati setiap kayuhan. Enggak kuat nanjak ya tuntun hehe..

  5. Om, ane baru beli rak pannier buat touring. Karena belinya keburu2, ane gk sadar klo di sepeda ane (polygon xtrada 4.0) enggak ada eyeletnya. Kira2 biar bisa dipasang, ada saran gk om?

    Atau, klo saya mau ganti frame, kira2 dominate 011 ada giant atx ltd ada eyelet nya gk om?

    Haturnuhun salam gembira. 🙂

  6. Kerenn gan ane baru dapet Hibah MTB Aleoca Tourney, ane mau jadiin touring tapi dengan budget anak sekolah gan.

    Ada 1 kerusakan yang krusial gan, Shifter ane Shimano SIS 6S rusak gak mau ganti speed entah patah/apa pokoknya stay di S6 berat banget.

    Mautanya, dengan budget ane anak sekolah.. lebih baik dibenerin atau ganti shifter gan atau sekalian upgrade speed ke 7/8 ?
    Terimakasih

  7. Benar2 telat saya baca artikel ini.

    Saya dg BB 85kg, TB 160cm.
    Sepeda:
    Wimcycle RC-DX, Hi Ten
    Frame 16″
    Stang XC 700mm, stem zoom, bar end tanduk kecil
    Crank 48-38-28, 170mm
    Cassette 14-28T, 7 speed
    Hub 36

    Minggu lalu nekat nyoba gowes Jakarta-Bandung via Purwakarta. Tital jarak 161,7 km. Moving time 10 jam, total waktu 17 jam 30 menit. Bawaan sih gak terlalu banyak, cuma pakaian ganti 1 stel, 2 botol minum ukuran sedang, tools, dan patch kit. Semuanya saya bawa pake ransel alias tas punggung. Sementara HP, powerbank, dan counterpain, saya bawa pake tas paha yg saya lilit di top tube.

    Keluhan:
    1. Membawa ransel dg berat minimal sekalipun, lama2 memang menyiksa.
    2. Gear kurang mumpuni untuk melibas tanjakan, apalagi dg kemampuan dengkul saya yg memang pas-pasan.
    3. Sadel bawaan walau sudah ditambah bungkus gel, tetap menyiksa. Bokong panas dan sakit.
    4. Posisi tangan gampang bosan.

    Dengan dana pas2an,kira2 apa yg urgent saya benahi untuk keperluan touring lagi? Terima kasih. Salam gowes.

    • wah, saya dulu pernah jakarta bandung lewat cariu dengan tas ransel. dan memang enggak nyaman.

      Kalau soal melibas tanjakan, sangat personal. Tapi bisa coba cassete diganti dengan yang megarange. Ada yang 7 speed juga kok. Megarange itu 34T kalau gak salah. Lumayan membantu. Namun tetap saja upgrade dengkul menjadi prioritas utama menurut saya. Coba latihan ngicik setiap hari.

      Sadel, menurut saya juga cocok2an tuh. Bungkus gel tidak banyak membantu karena keempukan sadel bukan jaminan. Sadel kulit tentu menambah kenyamanan tanpa harus pakai celana padding. Saya sudah mencoba turing ribuan km hanya menggunakan celana sekali pakai nyaman2 saja.

      Setang flatbar untuk turing memang membosankan. Makanya, kalau perlu pasang tanduk. Kalau punya modal pakai setang balap hehe…

      • kalau suka agresif ya dropbar. eh tapi harus ganti shifter juga ya. cukup menguras isi dompet.

        kupu2 lebih santai dan banyak posisi tangan. juga banyak cantelan kalau mau pasang lampu atau bel.

        oke om, happy touring ya…

    • Oke saja sepanjang dipakai hanya untuk turing. Untuk offroad kalau tangan masih lentur dan kuat gak masalah hehe… Tapi berbahaya. Tanggung jawab sendiri kalau kena cedera hehe…. (moga2 saja tidak ya)

      Tapi, pengalaman saya b2w di Jakarta kok enakan pakai shock absorber ya? karena kebiasaan naik trotoar kali ya hehe …. *jangan ditiru saya ….

  8. Selamat malam om.. saya mau cerita pengalaman pertama saya touring.
    Kebetulan SOLO BIKE…
    Beberapa minggu lalu saya touring DEPOk Jabar – Cikajang, Garut jabar (via puncak bogor, cianjur, cipatat, padalarang, cimahi, cileunyi, rancaekek, garut kota, samarang, dan finish di desa cipangramatan kecamatan cikajang).
    Start dari margonda pukul 19.30, tiba di gunungmas bogor pukul 3.15 pagi.. istirahat di warung kopi sampai pukul 7 .00 pagi, lanjut lagi ke punjak menempuh waktu sekitar 20menit.. pukul 9.00 start lagi.. sampai cileunyi pukul 22.20. Makan malam, start lagi sampai terminal guntur subuh (istirahat) start lagi pukul 10.00 pagi.. tiba di desa cipangramatan pukul 18.00 wib.
    Sepedah yg saya pakai XC Hard Trail merk Wimcycle Hotroad 2.1..
    -TANPA: toolkit, pompa ban, tambal ban,.

    Di ransel saya hanya ada : sleeping bag, raincoat, 1 jersey untuk ganti, pakaian untuk salin, sikat-pasta gigi + kanebo (pengganti handuk). Logistik hanya: sari kurma, permen karet, vitamin, beserta air minum.

    Waktu tempuh sekitar 46,5jam .
    Start margonda depok : Sabtu 6 februari 2016 pukul 19.30 wib.
    Finish di cikajang, garut : Senin, 7 februari 2016 pukul 18.00 wib.

    Alhamdulillah selamat sampai tujuan, halangan dijalan: hujan sepanjang jalan dari Cipatat(jbandung barat) – cileunyi..
    Serta ban bocor 300m sebelum garis finish..

    Sekian pengalaman pertama saya. Terimakasih banayak atas perhatianya..
    M Suta Salaka..

    • salut om. tanpa rak dan pannier tentunya. saya turing bawa ransel terjauh cuma ke bandung.
      tapi ya menurut saya lebih nyaman jika punggung tanpa beban. terus toolkit menurut saya perlu juga karena trouble kadang tidak diduga.
      salam turing om

  9. Om mau tanya untuk soal gear untuk touring yang cocok berapa speed ? atau gimana dengkul hehe
    nuhun
    maklum masih pemula pindah ke kelas touring

    • Saya pake 7 speed, masih nyampe sih Jakarta-Bandung, Om. Hehehehe….

      Tapi ganti sproket/Cassette megarange sangat dianjurkan. Saya juga telat, sekarang baru ganti.

    • Saya lebih mengamini kata2 teman saya om. Invest ditubuh daripada invest di alat hehe…
      Sering2 latihan menguatkan otot kaki sama napas. Di youtube banyak caranya.
      Salam turing

  10. bro…saya dirumah ada dan satu Wim Cycle Road-champ ( Uk 16 “).spek masih bawaan (rem v-break , 21 speed )kecuali shock depannya sudah sya ganti yang travel 100 ( aslinya travel 80 )dan stang ganti united XC.Saya pengin rubah jadi sepeda touring….kira2 part mana yang perlu dirubah ya..( rencana mau saya pakai solo touring dari Kalimantan tengah ke Yogya)-tinggi saya 171cm dan bb 83 kg.
    Thanks…

    • jika sudah nyaman dengan ukuran itu, paling tinggal masang rak buat pannier saja. ban ganti tapak yang lebih lebar agar tidak bermasalah saat menghadapi kondisi jalan yang tak rata. saya tak tahu apakah ada lubang baut untuk pemasangan rak. jika tidak ada beli atau modifikasi adaptor untuk memasang rak.untuk sprocket, jika dengkul kuat untuk melahap tanjakan, tak masalah. jika tidak cobalah ganti yang megarange. agar tak banyak mengganti cukup tetap 21 speed saja. selebihnya sih menurut saya menikmati setiap kayuhan dan jangan ngoyo. belajar menangani kerusakan2 kecil seperti menambal ban, mengganti rantai, menyetel rem, menyetel RD dan FD. selamat turing om … Melewati kesulitan kita akan jaya. (Evelyn – Pearl Harbor) gussur.com

  11. Ijin om mau nanya bisa gak ya speda onthel tua di jadiin sepeda tour dan pemasangan untuk gearnya bisa kasih saran om..pencerahannya om please sy baru dan jatuh cinta dengan tour sepeda

    • Onthel agak maksa kalau mau dipasang “gigi”. Paling pakai internal gear. Kecuali beli Onthel moderen yang sudah kekinian. Gazelle termasuk pabrikan sepeda yg masih eksis sampai sekarang.

      Tapi balik esensi turing yang menitikberatkan perjalanan dengan sepeda, ya nikmati saja perjalanannya. Teman2 komunitas Onthel biasa turing dengan sepeda mereka tanpa ribet “gigi”. Gak kuat nanjak ya tuntun. Jadi lama memangnya.

      Selamat berturing ya… Saya juga belum sempat2 turing dengan Onthel. Sampai berdebu onthelnya.

  12. Om..sepeda saya polygon heist 4.0 standard pabrik..kira2 untuk touring yg perlu di tambah apa aja ya dengan budget anak kuliah..makasih

  13. Wah, tinggal nambahi rak saja. Sama pannier. Cari yang bekas kalau dana belum cukup. Akan lebih nyaman lagi kalau pasang tanduk di handlebar. Sama fender supaya nyaman nrabas hujan.
    selamat turing …

  14. Om, ada yg bs ksh info, bengkel sepeda turing sekitar Ciledug n Graha Raya ? Dulu ada 1 di Mencong, tp sdh tutup & ga tau kemana. Trims & salam turing!

    • Wah saya bukan fanatik merek om. Apa yang ada ya saya pakai. Yg jelas ada harga ada rupa. Saya cuma usul utk turing pakai grupset MTB aja. Lebih fleksibel untuk segala kondisi. Sesuaikan dengan budget aja. Cari yang bekas juga gak apa2 kok.
      Selamat turing

  15. I came across your Yuk, Merakit Sepeda Touring | Gussur Ngeblog website and wanted to let you know that we have decided to open our POWERFUL and PRIVATE web traffic system to the public for a limited time! You can sign up for our targeted traffic network with a free trial as we make this offer available again. If you need targeted traffic that is interested in your subject matter or products start your free trial today: http://priscilarodrigues.com.br/url/v

  16. Hello admin, i must say you have very interesting content
    here. Your page can go viral. You need initial traffic only.
    How to get it? Search for: Mertiso’s tips go viral

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s